Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Aku Mau Di atas


__ADS_3

Mood bumil naik turun membuat Satria harus banyak-banyak bersabar. Tiga hari merajuk perkara si jago yang kelihatan kegagahannya oleh mata kaum hawa. Hari ini sang istri begitu manja. Bahkan membuatnya semakin gemas dengan tingkah Shayu yang suka menggoda.


Tak hanya itu, Shayu pun mengenakan pakaian yang mengundang iman. Satria yang sudah dua hari mulai bekerja di kantor selalu disambut dengan penampilan istrinya yang membuat mata kembali segar. Belum lagi wangi tubuh sang istri yang membuat gairah semakin membara.


"Sayang ini kode kah? Aku mandi dulu ya, sudah berapa hari tidak memanjakan si jago. Malam ini boleh kan?"


"Boleh, tapi makan malam dulu. Makan malam romantis di balkon kamar ya, Mas. Lesehan saja, nanti aku yang gelar karpetnya."


"Boleh, Mas saja Sayang. Kamu terima beres. Mau pakai lilin tidak, Sayang? Eh tapi pakaian kamu begini?"


"Memangnya kenapa?" tanya Shayu dengan polos. Bukan apa, Satria mana mungkin mau bagi-bagi. Bagaimana jika nanti ada yang melihat penampilan istrinya. Lebih baik istrinya memakai baju karung dan hanya dia yang bisa melihat isinya. Dari pada memakai baju sexy kurang bahan tetapi mengundang tatapan mata para tetangga.


"Sayang pakaian kamu begini bagaimana mungkin aku rela bagi-bagi. Buat sendiri saja maunya nambah terus, lagi dan lagi. Tidak, kita makan malam romantis di kamar saja. Jadi kalau sudah siap tinggal naik ke atas ranjang. Bagaimana?"


"Sakarepmu Mas!" ucap Shayu dengan gemas. Jadilah mereka makan romantis di kamar dengan menggelar karpet. Satria pun mematikan lampu kamar dan hanya menyisakan lampu tidur.


Beruntung Shayu dalam mode manja. Makan dengan tenang dan mulai berani menggoda si jago. Mungkin bumil satu ini sedang gemas hingga lupa akan rasa malunya. Terus merusuh hingga Satria tak fokus.


Satria yang sedang makan kini lebih memilih menghentikan makannya dan meladeni sikap sang istri yang begitu agresif. Nakalnya Shayu kembali terlihat membuat Satria semakin gemas. Dia yang sudah tak tahan akhirnya meraup bibir manis sang istri.


"Kok bibir kamu tumben pedes, Sayang?" Satria kembali melepaskan kecupannya dan menatap bibir sang istri dengan seksama.


Shayu malah meringis menatap suaminya. Dia mengambil kentang dan menyodorkannya pada Satria.


"Saos?"

__ADS_1


"Hhmm .... Makanya pedas, ya jago ya. Pemilikmu tidak sabaran sich. Mending ciuman sama si Jago. Tidak banyak komplain," sahut Shayu yang membuat Satria terperangah. Dia semakin dibuat gemas dengan tingkah Shayu yang semakin tak terkendali. Mengeluarkan si jago tanpa ijin membuat tubuh Satria panas dingin.


"Sayang..."


"Awas tangannya Mas, aku sedang manjain si Jago! Lutuna... Sini tium-tium.."


Satria menahan nafas, sang istri benar-benar meresahkan. "Kamu nakal Sayang. Jangan salahkan aku jika si jago ngadi-ngadi." Satria sudah ingin mengangkat tubuh sang istri tetapi Shayu justru menghentikannya.


"Mas, malam ini aku sedang ingin main dengan jago. Aku mau di atas dan kamu diam!"


Satria tercengang mendengar ucapan sang istri. Dia tak menyangka Shayu bisa seagresif ini. Apa katanya? Mau di atas. Tentu saja Satria senang. Namun dia harus diam bahkan tangannya tak boleh ikut bergerilya.


"Diam ya Mas, ini urusan aku dan si jago. Kamu tidak boleh ikut campur!"


Satria mengangguk pasrah, sebenarnya tak rugi juga. Hanya saja bingung kenapa istrinya berubah. Apa mungkin karena faktor kehamilan? Jika iya, mungkin Satria akan meminta Shayu hamil setiap tahunnya.


Pagi ini Satria terbangun karena merasakan tangan lembut sang istri yang mulai masuk menyapa si jago yang sudah bangun lebih dulu. Cukup terusik meski rasanya tak menentu. Dia membuka mata menatap wajah sang istri dengan heran.


Mata Shayu masih terpejam tetapi tangan sudah tak bisa diam. Padahal sejak semalam Shayu yang mengambil alih semuanya. Entah ada apa dengan sang istri yang tak seperti biasa. Cukup menikmati meskipun dia dibuat kebingungan.


"Apa setiap bumil begini? Ya tuhan ini godaan atau ujian. Ingin kembali mengeksekusi takut kena pinalti, tapi jika diam si jago sudah kembali ingin membuang bisanya."


Satria memijit pelipisnya. Dia frustasi karena Shayu yang semakin menjadi. Mencoba mengeluarkan tangan Shayu tetapi gadis itu enggan melepaskan si Jago dan membuat Satria mengaduh karena tanpa sengaja si jago tercekik oleh tangan sang istri.


"Mas kamu nich mau apa? Jangan mengusik kesenanganku. Aku lagi cs sama si Jago."

__ADS_1


"Tapi kamu membuat aku mendadak demam, Sayang!"


"Jika tidak kuat harap lambaikan tangan, Mas. Aku siap menolongmu," lirih Shayu yang membuat Satria semakin gemas. Jangan salahkan dirinya yang pagi ini tak bisa menahan dan mulai mengeksekusi. Istrinya terlalu meresahkan hingga membuat Satria kembali tak tahan. Menghabiskan pagi yang indah bersama sang istri tercinta.


"Sarapan dulu Sayang, mau Mas suapi? Sebentar lagi Mas berangkat ke kantor."


"Boleh, tapi pulangnya jangan kemalaman ya, Mas. Takut rindu sama Jago," rengek Shayu dengan bergelayut mesra di meja makan.


"Rindunya sama Jago saja? Sama aku tidak?"


"Sama kamu juga," tambah Shayu yang kemudian mendapat ciuman dari Satria. Sampai pagi ini Satria masih bingung dengan sikap istrinya yang berubah. Sampai di kantor Satria browsing-browsing mencari tau tentang keanehan yang ditunjukkan oleh setiap Ibu hamil.


Namun, ketukan dari luar menarik atensinya. Satria segera mempersilahkan orang tersebut untuk masuk dan kebetulan adalah klien dari perusahaan yang hari ini akan bekerjasama dengannya.


"Siang Pak," sapa seorang wanita yang datang dengan sekretarisnya.


"Siang, silahkan duduk Bu!" Satria mempersilahkan kedua wanita itu untuk duduk di sofa. Tak lupa meminta OB untuk membuatkan minuman.


Meeting segera dimulai setelah berbasa-basi sebentar. Ketampanan dan sikap ramah Satria membuat kliennya betah. Namun, Satria yang paham mencoba tenang dan mempersilahkan kliennya untuk segara menjelaskan tentang kerja sama yang akan mereka lakukan.


Meeting berlangsung dengan lancar sampai di mana pintu ruangan Satria terbuka. Namun naas, Satria yang kala itu sedang menjelaskan materi dengan menunjukkan berkas yang ia buat justru membuat Shayu salah paham. Posisi keduanya yang terlihat begitu dekat membuat bumil itu mendekat dengan menghentakkan kakinya.


Sontak Satria yang tidak tau dengan kedatangan istrinya segera menoleh ke belakang. Begitupun dengan wanita yang ada di sebelahnya sedangkan sekretaris kliennya tersebut sedang keluar untuk fotocopy beberapa berkas.


"Sayang.."

__ADS_1


"Kamu pamitnya kerja loh Mas, tapi kenapa malah berduaan sama perempuan? Kamu lupa jika sebentar lagi mau punya anak?"


__ADS_2