
Satria tersenyum bahagia melangkah keluar dari kamar mandi. Dia membawa kain basah untuk membersihkan tangan dan mulut sang istri. Setelah perjalanan panjang mengajarkan, dengan lika-liku rintangan dan segudang pertanyaan dari sang istri, akhirnya dia bernafas lega setelah si jago berhasil muntah.
Kali pertama pengalaman yang tak pernah ia rencanakan dan bayangkan sebelumnya. Bisa mengajari muridnya sendiri tutorial memberi sentuhan yang asyik dan melenakan diri demi memanjakan hati. Meski baru sebatas itu saja tetapi sudah cukup membuat kewarasannya terjaga, karena menahan itu tidak enak.
"Yang bersih, Mas! Baunya seperti ini, lebih enak sabun cair meski sama-sama kental." Shayu menggerutu dengan wajah ditekuk.
Tadinya Shayu enggan menuruti kemauan gila sang suami, tetapi kok kasihan ya. Bagaimana tidak, jika suaminya tadi mengeluarkan peluh dengan nafas menggebu. Belum lagi seperti menahan sakit yang sangat tak tertahan. Bantuan pun ia lakukan dengan tutor Pak guru matematika yang biasa menghitung kini justru di suruh bergerak maju mundur. Aish... Otak Shayu sudah tak sepolos dulu.
"Ini sudah Sayang, makanya ke kamar mandi saja sana! Mas gendong ya."
"Nggak mau, kamu kok malas tanggung jawab. Pegal semua rasanya, tangan, mulut, tengkuk. Ikh bagaimana besok mengerjakan soal-soal. Jangan sampai yang ada dipikiranku si jago yang ternyata bisa tidur dan mengecil seketika. Sungguh kejadian langka." Tak lama Shayu bersendawa dengan cukup kencang.
"Ups... Sampai kenyang aku. Maem opo to, manusia dimakan ya gini. Kenyangnya bikin malu!" celetuk Shayu.
Satria menarik hidung Shayu dengan gemas setelah mendengar ocehannya. Maklum saja, yang ia ajari anak sekolah. Andai wanita dewasa mungkin tak perlu ia panjang lebar menjelaskan hingga menghabiskan malam. Namun, keahlian Shayu cukup membuatnya puas, karena sekali diberi contoh langsung jago.
"Sakit ikh!"
"Sudah ayo kita tidur! Lihat sudah jam berapa! Hanya ada beberapa jam saja untuk kita beristirahat." Satria segera menarik tubuh sang istri ke pelukan agar cepat mengistirahatkan diri, karena besok tidak boleh bangun telat bangun terlebih besok adalah ujian pertama.
Shayu pun menurut, tak lama keduanya tertidur dengan damai. Jika Shayu begitu lelah berkutat dengan si jago. Beda dengan Satria, malam ini begitu indah dari malam-malam sebelumya.
Ujian dimulai dengan murid-murid yang begitu semangat. Begitupun dengan Shayu dan kawan-kawan. Semangat mengerjakan soal-soal, dengan doa yang sebelumnya sempat mereka panjatkan.
Selama tiga hari semua murid Panca Darma mengarungi ujian nasional dengan penuh drama. Ada yang merasa kesulitan, ada juga yang santai mengerjakan. Semua keluar dari kelas dengan perasaan lega. Begitupun dengan Shayu dan ketiga sahabatnya.
__ADS_1
"Berasa baru keluar dari penjara. Bebas..." Topan tersenyum lega dengan merentangkan kedua tangan keluar dari kelas.
"Bukan! Lebih tepatnya seperti ayam baru habis dikawini. Pok pok pok goyang-goyang badannya. Bebas lepas, kucel wajahnya tetapi senang hatinya," sahut Cakra dengan mempraktikkan tubuhnya seperti ayam betina.
"Haish... Kalian ini bicara apa? Intinya tuh kita tinggal menunggu hasil. Belum plong-plong banget gitu loh," timpal Shayu.
"Lebih tepatnya kentang, Pan." Cakra kembali menyahut dengan jawaban yang membuat Shayu dan Arita mengerutkan keningnya. "Sudah tidak perlu tau kentang tuh apa! Kalian cukup mencari tau mengapa terong bisa perkasa."
"CK, omongan kalian tak berbobot. Sudah, ayo kita pulang Shay! Pusing mendengar ocehan mereka," ajak Arita. Keduanya melangkah lebih dulu menuju parkiran. Namun, langkah Shayu harus terhenti saat Arta berlari mendekati.
"Shayu, tunggu!" Arta sedikit ngos-ngosan karena kwvat yang ada saja sudah membuatnya tercengang
 Sementara Shayu bingung dengan sikap Arta, terlebih pemuda itu saat ini begitu sibuk mengatur nafas dengan tangan memberi kode agar dirinya menunggu terlebih dahulu.
"Kamu kenapa?"
"Ikut kamu? untuk apa?" tanya Shayu lagi. Dia tidak mengerti apa yang Arta inginkan. Hingga membuatnya harus ikut.
"Ikut aku sekarang juga!" Arta segera menarik tangan Shayu, sempat dihentikan oleh Topan dan Cakra tetapi Arta malah menyerang keduanya, sedangkan Shayu berusaha memberontak agar bisa lepas dari Arta.
"Masuk Shay!" titah Arta yang membuat Shayu menolak. Gadis itu tidak bisa sembarangan ikut, apa lagi tidak jelas Arta mau mengajaknya kemana. "Ayo Shay!"
Shayu menatap garang Arta dengan bersedekap dada. Dia meminta penjelasan tentang alasannya untuk ikut pulang. Shayu tidak ingin Arta memanfaatkan keadaan dan membuat masalah. Terlebih Arta yang pernah memberi ultimatum padanya.
"Ini menyangkut Papah kamu, aku tidak mungkin menjebak kamu Shay. Aku sayang sama kamu, dan sekarang pun karena aku masih cinta sama kamu maka dari itu aku mau membawa kamu menemui Papah kamu!"
__ADS_1
Shayu tak mengerti dengan apa yang Arta ucapkan. Bagaimana bisa tau Arta mengenai Papahnya. Padahal beliau masih berada di Singapura, tetapi jika dilihat dari raut wajah Arta, pemuda itu jujur.
"Ayo Shay!"
"Tapi Mas Satria..."
"Percuma, pria itu tidak berguna. Ikut aku sekarang!" titah Arta kemudian memaksa Shayu untuk masuk ke dalam mobilnya hingga Shayu pun terpaksa menurut.
Mobil melaju begitu kencang menembus panasnya kota Semarang. Tak ada pembicaraan diantara keduanya tetapi suasana mobil terasa terik sama halnya matahari saat ini. Shayu menatap jalanan dengan tajam. Dia mengamati dan mengingat ingat kemana arah Arta membawanya.
"Ini kan jalan ke rumah..."
Shayu menoleh ke arah Arta yang nampak fokus dengan kendaraannya. Dia tidak mengerti mengapa Arta membawanya pulang. Jika memang menyangkut Papah, dia bisa pulang sendiri atau menunggu suaminya selesai mengajar.
Arta pun tak banyak bicara, dia hanya diam dan tak menoleh ke arah Shayu. Namun, diamnya Arta dengan wajah dingin malah mambuat perasaan Shayu semakin tidak enak. Membuatnya merasa ada yang tidak beres saat ini.
Mobil mulai memasuki pelataran rumahnya, tak ada yang berbeda. Hingga dia turun pun tak ada sesuatu apapun yang menjadi masalah. Shayu menoleh ke arah Arta. Dia tak mengerti dengan apa yang Arta maksud. Bahkan Papahnya belum pulang.
"Kamu mau mengerjai aku? Tidak ada siapapun di rumahku, bahkan Si Mbok sejak pagi sudah minta ijin untuk pulang. Maksud kamu apa sich, Ar?" tanya Shayu dengan begitu sewot. Namun, Arta malah diam dan duduk di kursi terasnya dengan tatapan datar.
"Kamu akan tau siapa yang lebih peduli sama kamu. Yang lebih mencintai kamu, aku atau guru gadungan itu."
"Tutup mulut kamu, Ar! Mas Satria bukan seperti yang kamu pikirkan. Justru aku yang takut sama kamu. Apa yang kamu rencanakan, hah? Jangan mengada-ada sesuatu yang tidak berguna.
Satria menatap Shayu dengan diam, dia bangun dari duduknya dan melangkah mendekati gadis itu. "Kamu lihat setelah ini, dan aku jamin kamu akan kecewa," lirih Arta dengan terus menatap mata Shayu begitu dalam.
__ADS_1
Suara sirine mobil tak lama terdengar, dengan cepat shayu menoleh ke arah pagar. Tatapan kesal dengan Arta berubah menjadi emosi. Bahkan air matanya tak mampu lagi dikondisikan. Hancur...