
Shayu membuang muka saat Satria tiba-tiba datang dengan memejamkan mata karena pisang yang Shayu lempar mengenai keningnya. Sedikit pusing, beruntung yang dilempar itu pisang emas bukan pisang raja.
"Istrimu loh Mas, bukan aku. Hanya salah sasaran saja." Cakra meringis melihat kening Satria terlihat memerah. Dia memilih kabur dari pada kena amuk karena telah membuat huru hara di kamar pasutri yang sedang dilanda merana.
Sementara Satria hanya bisa menekan sabar, lagi dan lagi dia tak bisa marah karena yang membuat ulah adalah istri tercinta. Belum bisa berbaikan apa lagi mendekat. Anggap saja tadi balasan akan sikapnya yang tak jujur.
Satria melirik ke arah nakas, makanan tak berkurang sedikitpun, kemudian menoleh ke arah sang istri yang masih enggan menatapnya. Satria menghela nafas berat seberat rindunya pada Shayu. Terbiasa mendengar ocehannya dengan tingkah nakal yang membuat jatuh cinta. Kini sang istri hanya diam dengan tatapan sendu dan murung.
"Mau Mas suapi?" tanya Satria dengan lembut. Dia mencoba mendekat setelah menutup pintu. Biarlah dia yang menghadapi kemarahan sang istri sendiri. Tak lagi melibatkan orang tua dan juga adiknya yang malah menambah emosi Shayu.
Shayu tak menjawab, dia bungkam dan memilih tidur memunggungi Satria. Hal yang tak pernah gadis itu lakukan. Meskipun dulu belum ada cinta, tetapi Shayu tak terus cuek padanya. Gadis periang itu selalu ada saja tingkah yang menarik perhatian. Namun, kini dia begitu tak bergairah.
"Maafkan Mas, Mas melakukan ini karena Papah yang meminta. Papah tidak mau membuat kamu sedih, terlebih sudah tidak ada Mamah lagi. Papah tidak mau membuat kamu terpuruk terlalu dalam. Tempo hari Papah menjalani operasi cangkok jantung dan cuci darah karena ginjalnya pun sudah bermasalah. Mas sudah sempat menawarkan diri untuk menemani, tapi lagi-lagi beliau memikirkan kamu. Tidak ingin kamu disini sendiri."
"Awalnya Mas pun keberatan dengan keputusan Papah yang tidak menyertakan kamu ikut andil dalam sakitnya. Namun, Papah tetap tak ingin melihat putri semata wayangnya bersedih. Penyakit ini sudah lama beliau simpan sendiri. Jauh dari kamu mengenal Mas dan kita menikah. Ini juga yang menjadi alasan kamu ingin dijodohkan, karena beliau ingin pergi dengan tenang setelah benar-benar memastikan kamu ada yang menjaga."
Shayu kembali meneteskan air mata, bantalnya basah karena air mata yang begitu deras. Tubuhnya pun bergetar, dengan isakan yang mulai Satria dengar. Sedih sekali saat sang Papah begitu menyayangi dan memikirkan masa depannya tetapi dia sering sekali mengecewakan. Terlebih waktu bertemu yang jarang karena Papah sibuk bekerja. Itu membuat dada Shayu semakin sesak.
__ADS_1
"Untuk kemarin, Papah benar-benar tidak mau mengganggu ujian kamu. Beliau tidak ingin membuat kamu kepikiran dan tidak fokus mengerjakan. Mengertilah Sayang! Mas terpaksa melakukan ini."
Satria mendekat dan mulai naik ke atas ranjang. Tak tahan rasanya mendengar suara tangis sang istri pecah tanpa dekapan sama sekali. Biarlah dia mendapatkan penolakan, dari pada tak sama sekali berusaha.
Perlahan Satria menarik tubuh Shayu kedalam pelukan, tak ada penolakan dan itu membuat Satria tersenyum melihatnya. Dia mendekati tubuh sang istri, mengeratkan dengan penuh kelembutan dan menyisipkan kecupan-kecupan yang seharian ini harus ia tahan.
Tak lama dari itu, keduanya terlelap dalam damai. Masih ada bulir air mata yang terlihat jelas di mata Shayu, tetapi pelukan Satria mendamaikan hatinya hingga keduanya mengabaikan makan malam.
Pagi ini Shayu lebih dulu bangun, dia mengangkat kepalanya menatap pria yang masih terlihat nyenyak memeluknya. Tak tega rasanya menjadikan Satria kambing hitam dari musibah yang ada. Padahal jelas suaminya hanya menjalankan amanah. Namun, hati Shayu masih begitu sedih dan sakit.
"Maaf Mas... "
Shayu melangkah perlahan keluar dari kamar. Dia tak ingin mengusik tidur Satria dan membuat pria itu banyak melayangkan pertanyaan.
Tak ada yang tau kepergian Shayu pagi ini. Mertuanya dan Cakra yang sengaja menginap sampai acara tahlilan selesai pun tak tau jika pagi-pagi sekali Shayu sudah meninggalkan rumah. Begitupun dengan si Mbok yang saat itu sedang sibuk di belakang mencuci pakaian.
Satria yang baru bangun pun dibuat kelimpungan mencari. Dia segera bergegas turun untuk menanyakan keberadaan sang istri. Mobilnya tak ada diparkiran membuat Satria semakin cemas.
__ADS_1
"Istriku pergi Bu, kemana dia pagi-pagi begini?" tanya Satria dengan wajah frustasi. Bapak guru yang satu ini mendapati banyak sekali ujian. Baru semalam bisa memeluk sang istri hingga begitu damai dan membuatnya kesiangan. Pagi-pagi sudah dibuat kerepotan dengan mencari gadis cantik yang tengah tak baik-baik saja kondisinya.
"Coba kamu tanyakan pada teman atau mungkin sedang berada di pemakaman. Jangan panik dulu, InsyaAllah Shayu bisa menjaga diri! Dia tidak mungkin melakukan hal-hal yang merugi. Shayu anak baik, tau norma dan status yang sudah mengikat. Mandi dan makan, setelah itu baru mencari istrimu!" ucap Ibu dengan tenang.
Beliau yakin Shayu hanya butuh sendiri, mungkin di rumah tak mambuatnya bisa merenungi apa yang telah terjadi, hingga membuat gadis itu memilih untuk menepi.
"Papah... Shayu datang membawa bunga untuk Papah." Shayu mengukir senyum dan meletakkan bunga yang tadi ia beli di dekat nisan sang Papah. Dia terduduk sejenak dengan air mata tak lagi menggenang. Shayu tak ingin menangis didepan rumah Papah. Dia ingin datang membawa senyum dan pulang membawa ikhlas meski sulit digapai.
Tak mudah untuknya memahami keadaan dan menerima kenyataan. Dia hanya butuh waktu untuk mengubur kesedihan. Meskipun hari kemarin menoreh bekas yang tak akan terlupakan.
"Papah begitu sayang ya sama Shayu, sampai semua yang Papah lakukan hanya untuk Shayu. Tapi anak nakalmu ini kadang tak tau di untung, Pah. Belum bisa membuatmu bahagia dan tertawa lepas. Maaf Pah, tapi Shayu janji akan menjadi anak yang dibanggakan untuk Papah."
"Papah... Pasti Papah sudah bahagia ya sekarang. Bisa bertemu Mamah dan memeluk Mamah kembali. Titipkan salam Shayu untuk Mamah ya Pah. Katakan jika Shayu rindu dan juga ingin bertemu."
Satu kecupan Shayu sematkan di nisan yang masih berpapan. Sesak tetapi enggan meninggalkan air mata. Shayu tetap menyematkan senyuman terbaiknya yang terlihat begitu memilukan.
Sementara Satria melangkah panjang setelah turun dari motornya. Tujuannya saat ini adalah ke pemakaman Papah mertua yang masih basah. Langkahnya terhenti dengan uluran tangan meraih buket bunga yang masih baru. Jelas ini dari Shayu, dan dia yakin itu tetapi kemana gadis itu sekarang?
__ADS_1
"Pah, Satria mencari Shayu. Maaf jika Satria membuat putri Papah kecewa." Satria menghela nafas berat, dia melangkah meninggalkan gundukan tanah dengan meninggalkan doa dan untaian ayat Al-fatihah.
"Kemana kamu, Sayang?"