Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Geli Mas!


__ADS_3

"Kenapa diam saja, hhmm?" tanya Satria dengan memeluk tubuh Shayu dari belakang. Gadis itu tersentak mendapat pelukan mendakak. Jiwanya diam ditempat tetapi pikirannya melalang buana entah kemana.


Sejak pulang sekolah hingga malam Shayu nampak diam. Ucapan Arta tadi di sekolah membuatnya kepikiran. Shayu yang terkenal cuek begitu terpengaruh dengan ucapan Arta yang seakan mengancam. Padahal tak ada kata ancaman atau kata ingin menyakiti. Hanya saja pemuda itu serius jika menunggu jandanya tiba dan akan merebut kembali posisi yang seharusnya menjadi miliknya.


"Mas..."


Satria membalikkan tubuh Shayu dan memegang kedua pundak gadis itu. Dia menatap lekat wajah Shayu yang tiba-tiba berubah sendu.


"Kenapa, hmm?"


"Takut," jawab Shayu singkat. Gadis itu segera memeluk Satria membuat pria itu semakin curiga. Tak biasanya Shayu memeluk duluan dan tak pernah kata takut keluar dari mulut gadis itu. Namun, malam ini gurat ketakutan di wajahnya begitu ketara.


"Jelaskan sama Mas, apa yang kamu takutkan?" tanya Satria dengan lembut. Dia curiga ada sesuatu yang sejak tadi dipikirkan oleh sang istri. Biasa di jam segini Shayu anteng di meja belajar, tapi ini hanya diam menatap luar jendela.


"Takut pisah," lirih Shayu membuat Satria tersenyum mendengarnya. Dia memang belum tau gimana hati Shayu sebenarnya. Namun mendengar jawaban Shayu, dapat Satria pastikan gadis itu sudah jatuh hati padanya.


"Kamu mencintai aku?"


Shayu menggelengkan kepala, membuat Satria mengerutkan keningnya tetapi dengan cepat gadis itu meralat dan menganggukkan kepalanya membuat Satria semakin bingung.


"Yang benar mana? Cinta atau tidak?" tanya Satria dengan melepaskan pelukannya dan mengangkat dagu Shayu. Dia kembali menatap lekat wajah sang istri dengan ibu jarinya yang mengusap lembut air mata Shayu.


"Belum tau, tapi takut kehilangan. Eh cinta sich, tapi takut jadi janda."


Satria yang gemas dengan jawaban Shayu segera menarik hidung gadis itu membuat istrinya melenguh kesakitan. Bagaimana tidak gemas jika jawaban sang istri semakin tidak jelas. Ditambah lagi membawa-bawa kata janda. Satria sangat tidak suka dengan kata itu.


"Sakit ikh!" keluh Shayu yang kemudian memukul dada Satria.

__ADS_1


"Lagian kamu tuh bicara apa? Tidak akan pernah jadi janda. Aku tidak akan menceraikan kamu. Mengerti!" tegas Satria menciptakan senyuman di wajah Shayu. "Entah sejak kapan Mas mencintai kamu dan tidak ingin kehilangan kamu. Meski harus banyak sabar menghadapi istri nakal!"


Shayu memasang wajah sengit, dia bersedekap dada dengan helaan nafas kasar. Sebenarnya dia tersanjung dengan pernyataan Satria. Dengan begini dia yakin jika suaminya benar-benar sudah move on. Namun, kata nakal selalu mencuri hati. Dia sedikit tersentil dengan itu.


"Kenapa? Bukannya apa yang aku katakan itu benar? Coba aku tanya, memang benar jika Bu Resti setiap pagi datang untuk mengintai kita? Kamu tau dari mana? Setau Mas kamu tidak pernah keluar rumah. Opo meneh nonggo."


"Ngarang! Ha ha ha ha...."


Satria menggelengkan kapala, beruntung ucapan sang istri tepat sasaran. Jika tidak sudah pasti akan menimbulkan masalah baru.


"Pintar kamu ya!"


"Jika tidak pintar, tidak akan menjadi istri guru," celetuk Shayu membuat Satria gemas dan mengacak rambut gadis itu.


Satria segera mengambil laptopnya untuk mengecek keuangan dan Shayu mengikuti dengan membawa buku pelajaran. Duduk di atas tikar bersama dengan Shayu bersandar di punggung Satria.


Shayu yang sedang menghafalkan rumus mendadak diam. Dia menoleh ke arah Satria yang masih sibuk laptopnya. Shayu menghela nafas berat dan menceritakan semuanya.


"Mas tau dari mana Arta menemui aku?"


"Dari mata kamu yang tak bisa membohongi Mas. Kamu menyesal?" tanya Satria yang kemudian menutup laptopnya dan berbalik menatap sang istri. Dia memperhatikan wajah Shayu mencari jawaban akan pertanyaannya.


Shayu menggelengkan kepala, dia membalas tatapan Satria dengan wajah polosnya. Tak ada yang ia sesali. Shayu masuk ke pelukan Satria dan menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. Mulai menggerakkan jemarinya di dada Satria dengan bibir mengerucut.


"Di sini sudah full nama Mashayu Rengganis?" tanya Shayu dengan mengetuk dada Satria, sedangkan pria itu menghela nafas berat karena Shayu masih mempertanyakan akan hatinya.


Satria enggan menjawab, dia mengangkat dagu Shayu dan menyatukan bibir mereka. Menyesap dan memberikan gerakan lembut yang mulai diimbangi oleh Shayu. Istri kecilnya mulai memberikan gerakan kecil yang membuat Satria semakin gemas.

__ADS_1


"Mulai pandai, aku suka!" lirih Satria yang kembali menyatukan benda kenyal itu hingga entah sudah berapa kali dia mengulangi sampai dimana keduanya telah berada di atas peraduan dengan Satria mengukung tubuh sang istri.


"Mas..." Shayu menghentikan pergerakan tangan Satria. Jantungnya sudah memburu terlebih nafasnya yang mulai tersengal tetapi gerakan di kedua bibir mereka semakin memburu.


"Perkenalan Sayang, besok Mas ada jadwal sampai siang. Butuh vitamin penyemangat. Sekalian menguji kandungannya, siapa tau cocok," lirih Satria dengan suara berat. Dia terus menatap lekat mata Shayu memberikan pancaran cinta yang menghipnotis sang istri.


"Nanti kalau cocok nagih, terus minta setiap hari macam bayi. Katanya kecil tapi kok minta terus!" Memiliki suami pria dewasa sungguh meresahkan. Shayu mesti waspada, sekali dikasih pasti keterusan. Berawal dari cium, mulai ngadi-ngadi minta susu, terus lanjut apa lagi setelah ini.


"Kan belum dicek, lagian pakaian kamu selalu membuat gelisah dan mengundang hasrat. Mas ini pria dewasa yang butuh perhatian dan kehangatan. Apa lagi jika setiap malam dijamu dengan penampilan kamu yang membuat Mas semakin tidak tahan. Sudah cukup kamu buat Mas haus setiap malam. Mulai malam ini toko resmi dibuka."


Satria kembali menyatukan bibirnya, menyesap manis dan kembali menciptakan suasana panas yang baru akan dimulai. Decapan begitu terdengar merdu dengan tangan yang kembali bergerak meraih benda kenyal yang membuat penasaran. Maklum perjaka, sekalinya mendapatkan istri, eh masih bocah. Masih harus belajar bagaimana melayani dan mengimbangi.


"Tunggu Mas!"


"Apa lagi Sayang?" tanya Satria dengan gemas. Pergerakannya terhenti kembali saat tangannya mulai meraih pengait yang masih membungkus rapat dada sang istri.


"Potong pita dulu Mas, kan peresmian buka toko," jawab Shayu membuat Satria memijit pelipisnya. Banyak sekali ritual yang hendak dilakukan. Padahal baru ingin mencoba dan merasakan susu murni. Dia tak menyangka jika alurnya akan serumit ini.


"Tidak perlu pakai gunting, nanti saja aku gigit biar ada sensasinya."


Shayu tercengang mendengar jawaban Satria. Tubuhnya semakin meremang dengan jantung yang hampir lepas. Terlebih pergerakan sang suami sudah tak bisa lagi dihentikan. Pria itu menyerang leher jenjangnya membuat mata Shayu terpejam dengan suara merdu yang mulai terdengar.


"Geli Mas, enak tapi awh... Jangan digigit, Mas!" keluh Shayu tetapi tangannya terus mencengkeram rambut Satria dengan kuat. Gadis itu bukan melepas malah terus membusungkan dada.


"Pelan-pelan hisapnya Mas!"


Satria menutup mulut Shayu yang semakin tak terkendali. Baru begini sudah heboh sekali. Terlebih kamar mereka tak kedap suara hingga membuat penghuni kamar sebelah menggedor pintu kamar mereka.

__ADS_1


"Woy jangan berisik! Kalian seperti ayam, kawin teriak-teriak!"


__ADS_2