
"Duduk!" titah Satria setelah selama hampir sepuluh menit sang istri diam saja berdiri dengan mengamati ruangannya.
Shayu tak menghiraukan, langkah kakinya perlahan mengitari ruangan itu dengan melihat pernik-pernik koleksi motor kecil yang diletakkan di atas meja kerja Satria dan setiap sudut rak yang menempel di dinding.
"Pak Satria suka mengkoleksi miniatur motor seperti ini?" tanya Shayu tanpa menoleh ke arah pria itu.
"Hmm... Aku suka mengkoleksi barang-barang lucu dan unik, khususnya motor."
"Aku pun lucu, mungkin sama uniknya, tapi tidak ada niatan mengkoleksi_"
"Kamu bicara apa?" Satria beranjak dari duduknya dan beralih ke meja kerja. Dia terus menatap Shayu yang kini melangkah mendekati.
Shayu tertawa kecil, "ini bengkel Pak Satria?" tanya Shayu dengan terus melangkah mendekati Satria. Namun, tubuhnya tersentak saat tiba-tiba tangan pria itu menarik pinggulnya hingga ia terduduk di pangkuan Pak suaminya.
Jarak keduanya begitu dekat, hingga Shayu bisa merasakan hembusan nafas pria itu. Wangi mint aroma yang keluar dari mulut dan wangi maskulin dari tubuh pria itu merusak otak anak gadis SMA dengan segala pikiran kotornya.
"Kenapa, hhmm?' tanya Satria yang terus menatap wajah merona Shayu yanga hanya berjarak sejengkal saja dari wajahnya.
"Bapak tidak ada cita-cita melepaskan saya?" tanya Shayu dengan terus menatap wajah tampan Satria. Dalam hati ia memuji pria dihadapannya yang memang sangatlah tampan. Tatapan mata Shayu turun ke jakun pria itu yang perlahan terlihat naik turun. Rasanya ia ingin mengusap lembut dengan bergelendot manja.
"Aish buang pikiran kotormu itu Shayu!"
"Justru saya mau tanya sama kamu, tidak adakah cita-cita ingin memutuskan pacar kamu itu? Apa harus aku membuat kamu sadar akan status kamu, hhmm?"
Pembicaraan mendadak serius, dapat Shayu lihat Satria sedikit menahan kesal saat memberikan pertanyaan itu. Tangannya yang singgah di pinggul pun semakin kencang hingga Shayu sadar jika pria ini tengah menahan emosi.
"Ehemm..." Shayu berdehem menormalkan debaran jantungnya yang kuat kemudian kembali menatap Satria dengan menyunggingkan sedikit senyuman. "Kenapa Pak Gamon? Bapak cemburu?" tanya Shayu dengan mengusap rahang tegas Satria dengan ujung jemari lentiknya.
__ADS_1
"Jika iya kenapa?" Shayu tersentak saat tiba-tiba Satria mencekal tangannya. Dia menelan kasar salivanya menatap tatapan mata pria itu yang tiba-tiba begitu menggetarkan hati. "Jangan lagi memanggil saya Gamon!" tegas Satria. Dia mengecup jemari Shayu membuat gadis itu tercengang melihatnya.
"Bisa konslet hati aku kalau begini."
Satria mengulurkan tangannya yang masih menggenggam jemari Shayu dan menutupi mulut gadis itu.
Sontak mulut Shayu tekatup dengan bibir mengerucut. Namun, Satria mengulanginya lagi dengan menahan punggung tangan pria itu di bibir Shayu.
"Ini tangan yang harusnya kamu genggam, dan kamu cium setiap akan berangkat ke sekolah." Kemudian Satria mengangkat jemari Shayu hingga tatapan gadis itu beralih melihat tangannya sendiri. "Lalu ini jemari yang hanya boleh disentuh oleh suaminya, bukan pria lain!"
Sahyu menghela nafas berat, ia sadar saat ini Satria tengah mengajarkannya tentang batasan dalam berhubungan dengan pria lain.
Satria melepaskan jemari Shayu, dia meraih dagu gadis membuat pandangan keduanya bertemu. Tatapan kekesalan yang tadi terlihat jelas di kedua mata Satria beralih teduh. Dia menyunggingkan senyum setelah sadar jika sang istri mendadak tegang.
"Nafas! Saya tidak gigit loh!" ledek Satria membuat Shayu ingin membuang muka tetapi dengan cepat pria itu menahannya.
"Hhmm?"
"Bisa tidak suasananya diganti gitu, kok jadi horor sekali," keluh Shayu kemudian menghela nafas berat. Dia kembali menatap Satria yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangannya. "Bapak meminta saya meninggalkan Arta, memangnya Bapak sudah benar-benar melupakan Ibu Kinayu? Memikirkan masa lalu sama juga berselingkuh, Pak! Dan saya tidak mau dimadu dengan bayangan sang mantan terindah. Jika Bapak ingin menyadarkan saya dengan status saya sebagai istri dari Bapak guru matematika Panca Darma. Bapak pun harus sadar jika Bapak ini suami dari sisiwi tercantik di Panca Darma!" ucap Shayu mendadak sewot.
Satria menghela nafas kasar, memang menghadapi istrinya harus banyak-banyak membaca istighfar. Kadang menggemaskan, kadang membuat hampir kehabisan nafas mendengar ocehan Shayu yang membuatnya pusing kepala.
"Harus dengan cara apa meyakinkan kamu? Tidak mungkin bisa melupakan seseorang yang pernah ada dalam hidup kita, tapi hati aku sudah berlabuh pada kamu. Kita mulai dari awal, saling belajar menerima dan mencintai. Belajar saling menghargai dan menghormati, bukan perkara aku gurumu, tapi karena aku suamimu!" sahut Satria gemas. Posisi keduanya masih begitu dekat. Sahyu masih anteng di atas pangkuan Satria. Begitupun dengan pria itu yang belum ingin melepaskan sang istri.
"Jadi benaran udah bucin sama saya?" tanya Shayu dengan mengulum senyum.
"Ntah apa istilahnya..."
__ADS_1
"Oke, deal!" sahut Shayu dengan mengulurkan tangannya.
Satria menggelengkan kepala melihat tingkah sang istri. Sulit di ajak serius dan masih harus diajarkan untuk bersikap romantis. Dalam masalah ini, tanggapannya seperti sedang memainkan kuis. Satria pun segera membalas jabatan tangan gadis itu.
"Jangan ada dusta diantara kita ya, Pak!"
"Begini menikahi murid sendiri, harus mengikuti gayanya. Sabar Sat, masih banyak waktu untuk membuatnya belajar menjadi istri sungguhan. Setidaknya setelah hari kelulusan gadisku sudah bisa menjadi milikku seutuhnya."
"Kamu yang banyak berdusta gadis nakal!" celetuk Satria kemudian melepaskan genggaman tangan Shayu. Dia meraih tengkuk sang istri dan kembali mengecup bibir tipis yang sejak tadi begitu menguji.
Beberapa kali mendapatkan serangan dari Satria membuatnya tak heran. Namun, debaran jantungnya semakin kencang. Shayu mencengkeram kemeja Satria saat pria itu semakin mengeratkan pelukannya. Bahkan Shayu dibuat sulit bernafas.
Satria nampak sabar, sang istri belum bisa membalas dengan aktif. Masih butuh dilatih dan dipancing agar mau menggerakkan lidah mengimbangi.
Suara ketukan pintu tak membuat Satria melepaskan, padahal Shayu sudah berulang kali menepuk dada pria itu yang terus memberikan kecupan-kecupan lembut. Sampai dimana pintu terbuka membuat kedua mata Shayu terbelalak dan bergerak cepat turun dari pangkuan Satria.
Dugh
"Auwh," keluh Shayu yang terjatuh ke lantai.
Satria tercengang melihat Shayu terjun bebas dan kini mengaduh kesakitan. Dia menoleh ke arah karyawannya yang mendadak tegang di ambang pintu.
"Maaf Bos, hanya mengantarkan minuman. Mungkin mbaknya haus. Monggo..." Pria itu meletakkan minuman di atas meja sofa dan segara melangkah cepat keluar ruangan.
Satria menggelengkan kepalanya melihat ke arah pintu dan segera membantu sang istri untuk bangun. Namun, tatapan Shayu begitu tajam membuat Satria menelan salivanya.
"Tidak ada cium-cium sampai aku lulus sekolah!" sentak Shayu dengan bibir mengerucut. Dia meringis merasakan lututnya yang sakit. "Sungguh anda ini meresahkan! Main sosor hingga lupa daratan!" sewot Shayu yang tertatih melangkah menuju sofa.
__ADS_1