
Setelah ritual pagi, Satria terlihat segar dengan senyuman mengembang. Begitu terlihat sumringah hingga wajahnya berseri-seri. Sementara sang istri begitu terlihat lelah menempel di dadanya dengan kedua tangan dan kaki melingkar di tubuhnya.
"Mau duduk di kasur atau di kursi, hhmm?"
"Depan meja rias aja Mas, mau pakai baju dan rapi-rapi sekalian. Tolong ambilkan pakaian aku ya, Mas! Masih ngilu sekali rasanya."
"Kamu mau kemana, Sayang?" tanya Satria dengan memicingkan kedua matanya.
"Mau nyari kebaya Mas, pergi sama Arita. Ada cakra dan Topan juga. Boleh?" tanya Shayu dengan memasang puppy eyes membuat Satria gemas. Pria itu mengecup pipi Shayu dengan merusuh. "Mas," rengek Shayu dengan memukul dada Satria.
"Boleh Sayang, tapi malem lagi ya!"
"Mas tidak capek to? Kuat banget, aku aja sampai ngilu semua loh!" Shayu melirik Satria yang kini berlalu melangkah mengambilkan pakaiannya, lalu kembali dengan senyum bahagia. Tidak ada kata capek baginya, paling juga si jago tidur bentar tidak lama kembali terjaga karena melihat siluet istrinya sedikit saja serasa gairah cepat sekali memuncak.
"Tidak ada kata lelah selama bersama kamu," jawab Satria yang kemudian memerankan tangannya dengan baik karena begitu gemas hingga membuat Shayu memekik.
"Isengnya!"
.
.
Sesampainya disalah satu butik sederhana Shayu dan ketiga sahabatnya mulai mencari kebaya yang akan dipakai untuk hari kelulusan dan perpisahan besok sedangkan Cakra dan Topan mencari kemeja dan jas sebagai outfit mereka.
Memilah memilih, mencoba dan saling memberi pendapat hingga keempatnya mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Keluar dari butik dan lanjut beli apapun yang kurang kemudian singgah di salah satu cafe untuk makan siang terlebih dahulu.
"Shay, kamu jadi sekolah di negara orang? Kenapa tidak di negara sendiri saja sih Shay? Sama-sama mendapat ijazah kan?" tanya Arita membuka obrolan mereka.
__ADS_1
"Aku tau, tapi itu merupakan cita-citaku sejak dulu!"
"Pak Satria gimana?" sahut Topan yang kepo juga.
"Kalian tanyakan saja pada adiknya," sahut Mashayu yang kemudian menyantap makanan yang sudah datang.
Merasa ditunggu jawabannya, Cakra yang sedang menyantap mie ayam seafood segera menghentikan pergerakan tangannya yang akan menyuap lalu menatap Topan dan Arita dengan tatapan jengah.
"Merusak kenikmatanku saja kalian. Menurut kalian gimana jika suami ingin ditinggal pergi jauh oleh istrinya? Terlebih tidak ada pembicaraan dulu sebelumnya. Nah kalian simpulkan sendiri, aku mau makan!"
"Pelit! Kasih informasi kok setengah-setengah," celetuk Arita yang kemudian menoleh ke arah Topan. Keduanya saling menatap hingga mereka mendadak heboh melihat Shayu yang menguncir rambutnya. "Widih, Pak Satria ganas yo. Sampe hitam loh, wah sepertinya ada yang habis ncak ncuk. Makin penasaran to, Pan? Sama aku juga!"
"Eh, kalian ini. Wis mbuh lah. Terserah kalian, pikir sendiri saja!" sahut Shayu berusaha untuk cuek.
"Pantes aku mau satu kamar fitting dia menolak. Owh aku paham jika di tempat lain banyak. Padahal biasanya jika sudah kebelet dan buru-buru. Satu toilet pun jadi."
Keluar dari cafe, mereka melewati toko jam tangan. Entah mengapa Shayu ingin sekali mampir, terlebih ada satu jam tangan pria yang menarik sekali perhatiannya.
"Kalian duluan saja! Aku mau mampir kesini dulu. Besok berangkat pagi kan?" tanya Shayu.
"Iya, persiapan dulu. Semoga lulus kita ya. Ya sudah aku duluan ya, Ibuku sudah menelpon," ujar Arita yang kebetulan membawa motor sendiri, sedangkan Cakra dan Topan sudah ngacir lebih dulu.
"Hati-hati!" seru Shayu, kemudian segera masuk ke dalam toko jam tangan tersebut. Lumayan terkenal mahal tetapi bagus dan Shayu tertarik ingin membelikan untuk suaminya. Masuk ke dalam dengan disambut beberapa pelayan, kemudian lanjut memilih milih hingga ia memutuskan untuk meraih salah satunya.
"Eh..." Shayu terkejut saat tiba-tiba ada tangan lain yang lebih dulu mengambil jam tangan tersebut. Dia menoleh dan melihat seseorang yang ia kenal berdiri di sampingnya. "Silahkan!" ucap Shayu mengalah dan memilih untuk mengambil yang lain. Tak ingin ada perdebatan atau terlibat pembicaraan. Shayu memutuskan untuk segera membayar lalu pergi dari sana.
Sampai di rumah, Shayu tersenyum melihat motor suaminya sudah terparkir rapi di garasi. Buru-buru turun kemudian melangkah masuk ke dalam rumah dengan menenteng kantong belanjaan.
__ADS_1
"Mas!" seru Shayu yang sudah tidak sabar ingin memberikan jam tangan juga kemeja yang senada dengan kebayanya. "Aduh masih naik tangga lagi, kenapa harus ada tangga sich di rumah ini? Aku mager sekali, tubuhku sudah lemas rasanya." Shayu menghela nafas berat tetapi tetap memaksakan diri menaiki tangga dengan perlahan.
"Mas!" seru Shayu lagi saat di undakan pertama. Dia tersenyum lebar melihat Satria yang keluar kamar dengan bertelanjang dada dan rambut yang basah. Sudah dipastikan baru pulang dan mandi.
"Kenapa Sayang? Mas baru keluar dari kamar mandi, untung pintunya tidak rapat."
"Bawa aku ke atas Mas! Capek," keluhnya dengan manja.
Satria tersenyum melihat tingkah istrinya yang semakin lama semakin manja. Dia dengan senang hati melangkah turun. Namun, masih satu undakan lagi untuk meraih tubuh Shayu tetapi istrinya dengan cepat melompat hingga tubuhnya hampir oleng.
"Sayang! Aku hampir jatuh," ujarnya begitu terkejut. Beruntung buru-buru mencekal pegangan tangga. Satria menghela nafas lega lalu melangkah menaiki anak tangga dengan perlahan.
"Tidak jatuh donk Mas, kan kuat."
Sampai di kamar, Satria perlahan menurunkan tubuh istrinya di atas tempat tidur. Dia membantu Shayu meletakkan semua belanjaannya lalu mengikat rambut istrinya.
"Mas aku belikan kamu sesuatu. Besok dipakai ya!" ucap Shayu begitu antusias kemudian memindahkan kantong belanjaannya ke atas kasur. "Nah ini Mas, kemeja buat kamu. Warnanya matching sama kebaya aku."
Satria meraih kemeja itu lalu mencobanya. Melihat dari pantulan cermin, memantaskan diri. Sementara Shayu sibuk mengeluarkan kotak jam tangan dari dalam paper bagnya.
"Sama ini Mas, keren dech kamu pakai ya. Sebenarnya sich tidak begitu bagus. Ada yang lebih bagus dan pasti sangat cocok untuk kamu. Apa lagi mirip yang biasa kamu pakai. Tapi... "
"Sudah! Ini sudah sangat bagus, Sayang. Mas suka, besok Mas pakai semuanya ya. Makasih sudah ingat dan membelikan ini semua." Bukan hanya itu saja, Shayu pun membelikan sepatu baru untuk Satria. Terlebih dia melihat sepatu suaminya yang semenjak menikah belum ganti-ganti. Mungkin terlalu cuek hingga menunggu rusak dulu lalu beli baru.
"Ugh, paling pintar menyenangkan hati istri," goda Shayu dengan mencubit pipi Satria.
"Sebagai imbalannya malam ini aku akan membuat kamu bahagia. Puas lahir batin dan tambah senang. Siap-siap ya Sayang! Pokoknya kamu cukup diam dan biar aku yang bertugas menyenangkan hati kamu."
__ADS_1
Shayu terdiam mencerna apa yang dikatakan oleh Satria, lalu berdiri menatap wajah suaminya. "Tunggu, iki piye to konsepnya? Salah mendapat hukuman, menyenangkan pun masih tetap mendapatkan hal yang sama. La kamu tuh curang namanya, Mas!