Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Mencari


__ADS_3

Satria mencari ke tempat-tempat yang mungkin dikunjungi oleh Shayu. Setelah mendapatkan kabar dari rumah jika siang ini Shayu belum pulang juga, jelas membuat Satria semakin resah. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan istrinya? Mana hati masih berduka. Sungguh Satria benar-benar merasa lalai.


Satria sampai di rumah tepat pukul tiga. Dia yang diminta Ibu untuk makan dan beristirahat sejenak seperti tak ada gairah hidup. Tak menemukan istrinya membuat Satria kalang kabut. Entah dimana Shayu berada, padahal dia pun sudah meminta Cakra untuk mencari tetapi belum ada hasil.


"Bu aku mau mencari istriku lagi, maaf jika tidak bisa membantu untuk persiapan acara tahlilan malam ini. Shayu belum pulang Bu, aku khawatir terjadi apa-apa padanya."


Ibu mengerti betul dengan kegelisahan putranya. Terlebih hubungan mereka yang sedang hangat-hangatnya tetapi tiba-tiba dilanda duka yang menyebabkan keduanya merana.


"Pergilah Nak! Cari istrimu sampai ketemu. Kasihan dia, batinnya belum bisa menerima."


"Nggih Bu, doakan aku cepat menemukan Shayu ya Bu. Kabari juga jika dia sudah pulang."


"Iyo Le, sing sabar yo!"


Satria bergegas melangkah ke motornya. Senja sudah ingin berganti malam tetapi sang istri belum kunjung pulang. Satria tak bisa menutupi gurat kecemasan dan kepanikan membayangkan andai istrinya benar-benar tidak pulang.


"Dimana kamu Sayang? Mas harus mencari kamu dimana lagi?" Satria terus melajukan kuda besinya. Mencari sang istri dengan kesabaran yang semakin menipis. Hingga dia memutuskan untuk sejenak menepi, membeli rokok di warung tepi jalan.


Bukan kebiasaannya, dan itu ia lakukan hanya saat dia frustasi saja. Terakhir saat dia patah hati karena sang mantan. Kini ia kembali menghisap nikotin saat hati semerawut karena Shayu yang tak kunjung ditemukan.


Satria mengepulkan asap dengan ditemani secangkir kopi yang masih panas. Rasanya sedikit menenangkan meski tidak menyurutkan rasa kekhawatiran. Setidaknya bisa memberikan sedikit sensasi di otak yang terasa begitu pening.


Ponselnya berdering, Satria dengan cepat meraihnya berharap ada kabar dari rumah.


"Halo Cakra, bagaimana apa Shayu sudah pulang?"

__ADS_1


"Belum Mas, ini aku dan sahabatku ada di rumah. Kami baru pulang mencari Shayu hingga kepelosok negeri tetapi tidak kunjung menemukan kekasih hatimu."


"CK, jangan bercanda kamu! Aku serius!"


"Aku dua rius! Aku sampai mencari ke rumah mantan kekasih juga tidak menemukan Shayu. Dia malah terkejut dan ikutan mencari istri orang."


Satria menghela nafas berat, dia memijit pelipisnya. Andai ponsel Shayu tidak ditinggal di rumah. Pasti sudah ia lacak keberadaan istrinya. Agaknya memang gadis itu tidak ingin keberadaannya ditemukan. Entah apa yang ia rencanakan, tetapi ini sudah bada isya. Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan istrinya?


"Ya sudah, terimakasih sudah membantu."


Satria mematikan sambungan teleponnya. Dia menghisap sekali dan mematikan rokoknya kemudian kembali mencari. Tidak, dia tidak boleh pulang sebelum bisa bertemu Shayu dan membawa gadis itu untuk kembali.


Untuk apa dia pulang kalau sampai rumah malah tidak tenang dan terus kepikiran. Satria sampai tak memikirkan kondisi tubuhnya. Belum makan dan hanya dihajar rokok serta kopi. Sementara besok pun dia sudah harus kembali mengajar.


"Bodoh kamu Satria! Aku tidak akan memaafkan diriku jika istriku sampai terluka!"


Dia tak tau lagi kemana harus mencari disaat hujan seperti ini. Kecemasan dan kekhawatiran berubah menjadi rasa takut yang mendalam. Dia takut andai Shayu benar-benar pergi.


Memutuskan untuk tidak pulang dan memilih untuk meninggalkan dirinya yang dianggap telah berdusta dan mengecewakan. Rasanya Satria kapok dan tak akan lagi melakukan kesalahan itu. Meskipun itu ia lakukan demi Shayu tetapi setelah tau hasilnya begini. Satria enggan untuk mengulangi.


"Kapok aku Dek, Mas janji tidak akan membuat kamu kecewa lagi. Pulang Dek! Jangan hukum Mas seperti ini, Sayang!"


Satria dirundung gelisah dan penyesalan, tanpa ia tau jika seharian sang istri berada di pusat perbelanjaan terbesar dikotanya. Shayu menghabiskan waktu di dalam pusat permainan dilantai paling atas. Bermain hingga puas untuk mengalihkan semua kesedihan.


Saat lelah, dia melipir ke gedung bioskop. Menonton film yang bergenre horor agar bisa berteriak kemudian beralih ke genre romantis yang mengundang air mata hingga ia pun bisa puas menumpahkan kesedihan.

__ADS_1


Tak cukup di situ saja, dia benar-benar ingin mengalihkan dunianya yang sedang berduka dengan melakukan aktivitas yang membuatnya bisa melupakan sejenak masa kelam.


Shayu masuk ke toko es krim dan makan banyak es krim dengan variasi rasa. Semua ia coba dan habis tak tersisa. Emosi ia tumpahkan disana hingga lupa akan kondisinya yang masih dalam pantauan dokter.


Habis eskrim semua dia nikmati, Shayu masuk lagi ke tempat arena bermain. Memukul kepala buaya yang keluar membuat jengkel. Mainan masa kecil yang sampai sekarang masih disediakan di setiap arena permainan.


Bukan pakai pemukul lagi, dia menggunakan tangannya untuk memukul kepala-kepala buaya itu. Mengeluarkan segala kekesalan hati hingga diulang beberapa kali. Shayu tak menghiraukan tangannya merah bahkan terluka. Yang ia tau semua unek-unek yang mengganjal di hati sudah terlampiaskan.


Jalan tanpa teman untuk mencari ketenangan. Melupakan suami dan orang-orang yang sangat menghawatirkannya seharian.


Shayu keluar dari arena permainan tepat di malam hari. Dia mengabaikan makan dan hanya mengenyangkan perutnya dengan minum eskrim. Namun, dia serasa masih belum puas. Sebelum memutuskan untuk pulang Shayu mampir ke toko coklat. Menghabiskan hampir empat gelas coklat hangat yang mendamaikan pikiran.


Barulah setelah itu ia memutuskan untuk pulang. Shayu keluar dari mall tepat pukul sepuluh berbarengan dengan ditutupnya rolling door. Dia mengerutkan keningnya saat tau di luar ternyata hujan deras.


Ada rasa entah yang membuatnya teringat akan seseorang. Siapa lagi jika bukan Papah. Shayu menyempatkan diri untuk terdiam di depan lobby. Mengulurkan kedua tangannya menengadah air hujan yang turun deras.


Sepi, tapi berisik. Hanya tinggal dia seorang yang berada disana. Bahkan lampu mall sudah dimatikan.


Senyumnya terukir saat air hujan mengguyur tangannya. Langkah kaki perlahan maju mendekati hingga tubuhnya basah. Dia mengangkat kepalanya, merasakan air hujan yang turun begitu tajam menerpa wajah.


"Aku mencintaimu Papah... Susah payah aku melupakan apa yang telah terjadi, tapi nyatanya bayangan akan kehilangan tak kunjung lenyap. Aku kembali keduniaku. Pedih, tapi nyatanya pergi dari kenyataan tak menyurutkan kesedihan."


Kedua mata Shayu terbuka saat ia merasakan ada seseorang yang tiba-tiba menarik tubuhnya dan memeluk dengan erat. Dapat ia rasakan jantung orang itu berdegup kencang. Nafasnya tersengal dengan suara lirih yang membuatnya kembali terpejam.


"Aku mencarimu Sayang, kamu hampir membuatku gila. Maaf... Maafkan Mas yang sudah sangat-sangat mengecewakan."

__ADS_1


__ADS_2