Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Ngeteek Ibu Terus!


__ADS_3

Ketukan pintu menghentikan ucapan Shayu. Suara Cakra yang menggema dibalik pintu membuat Satria melepaskan pelukan ditubuhnya dan segera membuka pintu kamar.


Shayu terdiam, dia menghela nafas berat kemudian duduk di kursi meja rias. Rasanya tidak tega tetapi cepat atau lambat dia harus memberitahu pada suaminya akan kepergiannya untuk menimba ilmu.


Shayu melirik ke arah pintu, dia melihat suaminya kembali masuk tak lupa menutup pintu kamar.


"Kenapa Mas?"


"Tidak apa-apa, Cakra ingin datang ke bengkel. Motornya minta jajan katanya, aku mandi dulu ya Sayang."


"Hhmm, iya Mas."


Shayu tersenyum saat tangan Satria singgah di pipinya. Mencubit gemas dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Tidak ada rengekan atau penolakan. Gadis itu terlihat banyak sekali yang dipikirkan, hingga memilih rebahan setelah pintu kamar mandi tertutup rapat.


"Gimana caranya memberitahu dia?" Shayu memilih untuk memejamkan matanya. Pusing sekali dia memikirkan cara untuk memberitahu Paksu agar tetap tenang dan tidak ribut.


Setelah lima belas menit di kamar mandi, Satria keluar dengan wajah segar. Dia menoleh ke arah ranjang kemudian menggelengkan kepala melihat Shayu yang malah tidur.


"Sayang, magrib loh. Sholat dulu baru nanti tidur lagi," ucapnya lembut membangunkan Shayu yang hanya melenguh manja. Rasanya tidak tega tatapi kasian jika tidak kebagian waktu sholat.


Satria memutuskan untuk duluan baru nanti kembali membangunkan sang istri. Memberi waktu sedikit dan membangunkannya kembali.


Setelah salam dan sejenak menggumamkan doa. Satria kembali membangunkan istri nakalnya yang mendadak ngebo. Dia sengaja merusuh dengan mengecup dan memainkan peran tangannya agar sang istri cepat bangun.


"Mas, ngantuk banget aku. Kamu tuh rusuh banget. Awas tangannya Mas! Remasanmu bikin geli!" rengek Shayu yang menyingkirkan tangan Satria. Gadis itu menatap sengit suaminya yang malah memasang wajah jail.


"Tanganmu nakal, Mas! Mana ada begitu, habis sholat kok malah *****-***** ndak jelas!"


"Kamunya yang susah bangun, sholat dulu nanti kehabisan waktunya."


Shayu melirik ke arah jam dinding. Kedua tangannya ia rentangkan meminta Satria untuk membantu.


Satria pun tidak keberatan, dia mengangkat tubuh sang istri dengan menggendongnya seperti koala lalu menurunkan Shayu di ambang pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Sana wudhu dulu, Sayang!" titah Satria dengan gemas. Sedikit mendorong tubuh sang istri agar segera masuk ke dalam kamar mandi.


"Iya-iya Mas," jawabnya malas. Rasanya baru banget tidur sudah dipaksa bangun. Nyawa belum kumpul jadi berasa masih mimpi.


Shayu segera mengambil wudhu dan melaksanakan kewajibannya. Dia kembali ke kasur setelah salam. Matanya masih sangat lengket sekali. Tidak menunggu lama Shayu pun kembali terlelap.


Satria yang tadi sempat ke bawah melihat persiapan acara tahlilan, kini kembali ke kamar untuk mengajak istrinya bersiap. Namun, Satria kembali menggelengkan kepalanya melihat Shayu melanjutkan tidur masih dengan menggunakan mukena.


"Ya Allah Sayang, segitu ngantuknya kamu. Apa nanti tengah malam bangun ya? Mau dibangunin sekarang kok kasihan. Biarkan saja dech, nanti malam kita main-main lagi ya Sayang." Satria mengecup kening Shayu. Menatap sejenak wajah cantik sang istri kemudian turun ke bawah untuk siap-siap tahlilan.


"Loh Shayu mana, Sat?"


"Tidur Bu, mau dibangunin tapi aku ndak tega. Biarin ya Bu, tidak apa-apa to?" tanya Satria yang tidak enak pada Ibunya. Terlebih Shayu yang sejak awal tidak membantu dan absen dari acara tahlilan Papahnya.


"Ya biarin, dari pada sedih terus. Lebih baik tidur biar hati dan pikirannya aman. Yang penting sudah sholat to?"


"Sudah Bu," jawab Satria dengan lega.


Setelah acara tahlilan, sejenak Satria kumpul dengan Ibu, Bapak dan Cakra. Mereka mengobrol ringan sambil ngopi dan makan cemilan.


"Sebenarnya Satria sudah menyiapkan rumah untuk keluar kecil kami, Pak. Tidak tau jika akan seperti ini, tapi semua gimana Shayu saja Pak. Mau dimana aku manut. Aku juga belum membicarakan ini dengannya. Belum bilang juga kalau sudah mempersiapkan rumah. Tadinya mau buat hadiah kelulusan dia, tapi tidak jadi. Jika dia betah disini ya yang baru Satria kontrakin saja."


"Dibicarakan dulu, siapa tau Shayu mau. Oh iya istrimu mau meneruskan kuliah dimana? Cakra sepertinya keterima di UNES. Lumayan lah tidak jauh-jauh dari Ibu dan Bapak."


Tatapan Satria beralih ke Cakra yang sedang sibuk dengan gawainya. Dia tersenyum melihat adiknya yang sudah beranjak dewasa.


"Belajar yang bener! Tidak ingin kuliah di Jakarta to? Ngeteek ibu terus!" celetuk Satria dengan melempar kulit kacang ke arah adiknya.


"Jail! Ngeteek piye to? La timbang Mas, bentar lagi galau!" sahut Cakra asal kemudian kembali ke layar ponselnya. Dia tidak sadar jika apa yang ia ucapkan dicerna betul-betul oleh Satria.


Paginya Satria dibuat mesam mesem tidak jelas saat melihat Shayu pagi-pagi sudah mandi, rapi dan membuatkan kopi untuknya. Dia yang baru bangun disuguhkan kecantikan sang istri yang aduhai. Tumbenan juga Shayu memakai dress selutut dengan rambut di kepang dua. Tampak ayu seperti gadis desa.


"Kembang desanya Mas Satria, mau kemana to Dek pagi-pagi sudah rapi?"

__ADS_1


"Mau pergi ke makam terus lanjut main ke rumah Arita, Mas. Ada persiapan buat acara perpisahan nanti di sekolah. Rencananya aku sama dia mau nyanyi gitu. Biar seperti band-band terkenal. Cakra yang gitar, Topan yang main drum."


"Bisa?"


"Bisa, bisa ngasal. Hehehehe.... Mandi Mas, sudah aku siapkan pakaian ngajarnya. Tuh!" ucap Shayu dengan tersenyum manis.


Satria menoleh ke samping, tepat di sebelahnya sudah ada kemeja, celana kerja dan segitiga bermuda. Dia heran, ada apa gerangan dengan sang istri. Baru kali ini menyiapkan segala keperluannya.


"Tumben, biasanya ambil sendiri. Ada angin apa?"


"Angin khasmaran," jawab Shayu dengan memberikan dua jemari berbentuk love ke arah Satria, membuat pria itu semakin gemas saja dengan istrinya yang mulai belajar apa-apa tugas istri.


Mood booster sekali untuk mengajar pagi ini. Satria memakai pakaian yang telah disediakan dan segara menyusul Shayu yang telah menunggu di meja makan.


"Berangkat bareng Mas saja gimana?"


"Bareng Cakra saja, nanti Mas telat. Ada jam pagi kan?"


"Ya sudah, hati-hati kalian ya!" ucap Satria. Seperti istri yang pamit dengan suaminya. Shayu pun tidak lupa cium tangan Paksu dan di balas ciuman kening, bonus juga di pipi."


"Lama sekali ritual kalian!" celetuk Cakra yang menatap jengah keduanya.


"Iri to? Nikah sana biar bisa gini gitu," sahut Shayu. Dia berjinjit memeluk Satria dan mengecup pipinya.


"Aish pamer! Aku tinggal nich!"


"CK, sabar!" Shayu melangkah menuju motor Cakra dan buru-buru naik. "Dadah Mas bojo!" seru Shayu dengan melambaikan tangannya. Cakra pun segera melajukan motornya dengan memberi klakson tanda pamit lebih dulu pada Satria.


Sampai di sekolah, Satria mengajar seperti biasa. Terhitung tinggal sebulan lagi dia menjadi guru di Panca Darma. Mengajar dengan sepenuh hati sampai dimana Pak kepala sekolah memanggilnya.


"Bapak memanggil saya?" tanya Satria yang kini sudah berada di ruang kepala sekolah.


"Oh iya Pak Satria. Saya hanya ingin menanyakan kepada anda tentang Mashayu. Masih ada waktu kurang lebih dua bulan lagi untuk dia berangkat ke Amerika. Bagaimana dengan persiapannya, Pak Satria? Jika Arta tadi sudah saya tanyakan katanya sedang membuat paspor."

__ADS_1


"Amerika?"


__ADS_2