
"Aku tidak pikun kok, inget banget malahan. Tapi itu ma_"
Ghem
Shayu menoleh ke arah pria yang kini berdiri tidak jauh dari Arta. Pria itu melangkah tegap dengan santai tetapi justru membuat jantung Shayu jedag-jedug. Alamat cemburu lagi, padahal baru semalam pria itu kesal dengan orang yang sama. Kini kepergok Pak suami lagi ngobrol berdua. Mana tangan masih dalam genggaman pria lain.
Shayu buru-buru melepaskan tangannya membuat pemuda itu tersenyum kecut. Arta menatap jengah Satria yang kini berdiri di sebelahnya.
"Sepertinya acara reuni belum diadakan di sekolah ini. Kenapa sudah mendahului?" tanya Satria dengan kalem membuat Shayu menggigit bibir bawahnya. Gadis itu meringis dengan melirik wajah Satria yang menatapnya tajam.
"Tunggu aku di kantin Sayang, dua jam lagi kita pulang!"
Shayu menganggukkan kepalanya, dia melangkah pergi meninggalkan dua pria yang kini tak saling menatap tetapi pancaran emosi sangat terlihat.
"Sadar posisi! Tidak pantas mengajak bicara mantan, terlebih itu istri orang," ucap Satria sebelum akhirnya melangkah meninggalkan Arta yang kini mendengus kesal dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Siap-siap anda ditinggalkan oleh istri anda, karena dia lebih memilih pendidikan dan karirnya dari pada harus diam menjadi istri seorang guru!"
Langkah Satria terhenti, tetapi dia enggan untuk berbalik. Dia hanya menghela nafas berat mendengar ucapan Arta yang terkesan memprovokasi, lalu kembali melangkah membawa hati yang terusik.
Sementara di kantin, Shayu yang baru sampai memasang wajah ditekuk membuat para sahabatnya bingung. Baru beberapa menit begitu terlihat bersemangat, tetapi cepat sekali berubah.
Gadis itu duduk dan meraih minuman milik Arita yang baru saja mendarat dari tangan bapak kantin ke atas meja.
"Minumanku! Pesan sendiri to, main minum aja!" kesal Arita menatap iba es jeruknya yang tersisa setengah.
"Pesan lagi! Aku haus habis kepergok Pak suami," sahut Shayu yang tampak lega setelah meminum es jeruk segar. Tenggorokannya yang tadi tercekat sudah normal dan licin kembali.
__ADS_1
"Kenapa? Arta lagi?" tanya Cakra dengan santai kemudian menyuap bakso yang masih mengepul asap.
"Siapa lagi yang buat cemburu Mas mu itu."
Setelah dari kantin Shayu melipir ke perpus karena masih ada satu jam menunggu sedangkan semua sahabatnya sudah pulang duluan, termasuk Cakra yang nunut motor Topan.
Dia menyibukkan diri dengan membaca buku hingga tak terasa tertidur disana. Efek semalam tidak bisa tidur jadi sulit menahan kantuk. Entah sudah berapa lama tertidur begitu nyanyak sampai tidak tau jika ada seseorang yang duduk di sampingnya.
Shayu terusik saat pipinya tiba-tiba ada yang mengusap manja. Terasa lembut hingga membuatnya terbuai tetapi cukup resah karena suara yang mulai terdengar rusuh.
"Mas..."
"Hhmm... Ayo pulang! Kita tidur di rumah," ajak Satria yang tadi sempat mencari, menghubungi tetapi tak kunjung ada hasil. Hingga entah mengapa ia ingin sekali melangkah menuju perpustakaan setelah mencari di kantin dan kelas tetapi tak menemukan istrinya.
Shayu mengucak mata, menatap beberapa siswa yang kini tengah melihatnya dan ada juga yang menghibah di balik buku yang mereka baca. Namun, Shayu tidak peduli. Mereka manatap aneh ya diemin bae. Nanti kalau capek ya berhenti sendiri. Yang terpenting sudah selesai ujian dan tinggal menunggu hasil.
Satria pun tak canggung lagi mendekati sang istri. Semua sudah tau jika mereka berdua telah sah menjadi suami istri. Jadi lebih leluasa bergerak dan harus ingat jika mereka tengah berada di area sekolah.
"Masih ngantuk, Dek?"
"Lumayan Mas, sampai tidak sadar. Kamu sudah lama, Mas?"
"Banguninnya baru sebentar, tapi nyariinnya lumayan lama. Aku pikir kamu diculik lanangan. Sudah mau ngamuk aku."
"Pantas saja tandukmu sudah mau keluar, Mas. Jangan kebanyakan marah! Ingat umur, kamu sudah dewasa mengarah ke tua. Jangan sampai jarak kita begitu ketara! Nanti di kira ponakan dan pakdenya," ucap Shayu yang segera berlalu meninggalkan Satria yang tampak terpaku.
"Pakdhe? Sembarangan!" Satria menghela nafas kasar kemudian melangkah mengejar sang istri yang kini sudah siap naik ke dalam mobil.
__ADS_1
Sampai di rumah, Shayu lanjut ganti pakaian dan makan. Kebetulan Ibu ikut memasak hari ini dan masih menginap hingga acara tahlilan ke tujuh hari selesai.
"Alhamdulillah, anak Ibu sudah lahap lagi makannya. Jangan terus bersedih ya, Nduk!" ucap Ibu dengan lembut, sontak membuat Shayu menghentikan kunyahannya. Dia menatap wanita paruh baya yang sangat menyayanginya dan sudah menganggapnya sebagai anak sendiri.
Shayu menganggukkan kepala dan tersenyum tetapi entah mengapa matanya terrsirat kesedihan. Dia melirik ke arah Satria yang diam memperhatikan.
Setelah makan dan kembali beristirahat, Shayu memutuskan untuk mandi. Sejak tadi tidak ada obrolan antara Shayu dan Satria. Pria itu nampak sibuk di depan laptop sedangkan Shayu terlihat melamun memikirkan sesuatu.
Kamu tidak mandi Mas?" tanya Shayu yang kemudian mendekati Satria yang sejak tadi nampak anteng sekali.
"Hhmm... Wangi," gumam Satria tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Pria itu benar-benar sibuk sekali hingga mengabaikan mandi sore. Padahal sudah menjelang magrib tetapi masih saja enggan beranjak.
"Mas kamu kalau tidak mau mandi nanti aku paksa loh!"
"Enak donk Sayang, mauuuu..." Satria segera beranjak dan mendekati Shayu yang sedang mengeringkan rambutnya. Pria itu tiba-tiba menubruk hingga handuk yang Shayu pegang terlepas.
"Mas kamu nich!" sewot Shayu. Namun pria itu tak menggubris, malah semakin mengeratkan pelukannya. Entah mengapa Shayu semakin merasa disayang tetapi geregetan juga jika suaminya semakin berani saja.
"Ayo!"
"Kemana?" tanya Shayu yang menatap Satria dari pantulan cermin.
"Katanya mau mandiin? Ayo!" rengek Satria. Sontak membuat Shayu menoleh menatap wajah tampan itu dan memastikan jika yang menempel dengannya kini benar suaminya. Terkejut sekali rasanya mendengar rengekan Paksu dengan bermanja-manja ria.
"Mas kamu nich kenapa? Manjanya..." Shayu menggelengkan kapala melihat suaminya yang begitu manja hingga terus menempel seperti cicak.
"Manja sama istri memangnya kenapa? Sayang, mau nerusin kuliah dimana? Tidak usah jauh-jauh ya. Nanti biar bisa Mas antar jemput. Siapa tau nanti pas kuliah kamu hamil, jadi kan tenang akunya."
__ADS_1
Shayu terdiam mendengar ucapan Satria. Dia melirik kepantulan cermin. Menatap wajah tampan yang kini tengah merusuh padanya. Rasanya tak tega, tapi impiannya sejak dulu bisa kuliah di Harvard university. Sampai dia ikut jalur beasiswa yang kala itu hanya ada dua bangku kosong saja. Untuknya dan Arta.
"Tapi aku akan kuliah ke..." Shayu memejamkan matanya dengan kuat. Tidak tega rasanya tetapi impiannya tidak mungkin disiakan. Apa lagi setelah mengikuti tes yang tak mudah.