Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Aamiin...


__ADS_3

Shayu dan Arta bersiap masuk ke dalam pesawat saat pengumuman terdengar. Shayu tersenyum melihat Arta gerak cepat membantunya membawa koper. Keduanya sama-sama melangkah dengan Shayu yang mencoba untuk fokus. Sebelum benar-benar melangkah jauh Shayu sempat menoleh ke belakang. Dia tersenyum getir kemudian meneruskan langkahnya.


"Kamu kenapa? Wajahnya pucat gitu? Apa perlu obat sebelum naik pesawat?"


"Eh tidak, aku sehat kok. Kamu suruh aku minum obat mabuk? Ngece kamu!" ujar Shayu yang kemudian melangkah lebih dulu. Entah mengapa gamang sekali rasanya. Ada hati yang ragu dan sesuatu yang membuat bingung.


Arta pun kembali melangkah mengikuti Shayu dengan membawa dua koper sekaligus. Dia ingat betul akan pesan dari Satria. Mulai paham jika Shayu bukan miliknya meski sulit untuk menerima. Mencoba ikhlas meski ada hati yang terluka. Sikapnya memang masih terlihat angkuh urusan Shayu, tetapi melihat Shayu yang begitu mencintai Satria membuatnya sadar jika ia tak bisa memaksakan kehendaknya.


Sementara di belakang sana Satria berusaha keras untuk bisa menerobos masuk. Dia ingin menggagalkan kepergian istrinya, hingga menarik perhatian orang lain dan membuat sedikit keributan.


"Pak saya hanya ingin masuk sebentar. Ada barang istri saya yang tertinggal di dalam."


"Tapi Pak, sudah ada aturannya jika tidak bisa sembarangan orang masuk selain penumpang pesawat. Sebelumnya pasti sudah pamitan kan Pak? Kami menyediakan tempat untuk keluarga mengantar. Jika ada yang ingin diberikan bisa dititipkan kepada kami."


"Tapi Pak, ini penting dan tidak bisa diwakilkan. Harus saya Pak. Tolong sekali Pak, kali ini jangan halangi saya. Saya janji tidak akan lama." Satria bersikeras untuk masuk tetapi petugas tetap tidak mengijinkan. Matanya memerah dan terus memberontak beberapa petugas yang terus menghalanginya, hingga ia tercengang saat mengetahui pesawat yang ditumpangi Shayu telah lepas landas.


Shayu telah pergi, tak ada lagi kesempatan untuknya menghalau dan memohon untuk tetap tinggal. Satria melepaskan diri dari petugas yang masih mencekal tubuhnya. Dia menunduk melihat hadiah yang Shayu berikan. Khawatir, panik, dan cemas seketika menyelimuti. Namun, kekecewaan lebih mendominasi dari segala rasa.


Satria terdiam, dia melangkah mundur dengan hati berantakan. Mengusap kasar wajahnya dan tak lama tubuhnya luruh ke lantai. Lemas, seakan tak ada daya. Harapannya mendadak sirna, bahkan tubuhnya seakan tak bertulang. Pupus sudah, doanya terkabul tetapi takdir tak menginginkan mereka untuk kumpul.


Satria kembali bangkit dan berjalan gontai. Melangkah menjauh lalu duduk dikursi yang tadi ia tempati. Air matanya menetes melihat isi kado dari sang istri. Dadanya sesak, rasa hati tak karuan. Dia terisak dalam diam. Menundukkan kepala dengan tubuh bergetar. Mendekap erat benda kecil yang memiliki arti begitu besar dalam hidupnya.


"Sayang, kenapa baru bilang? Kenapa kamu nekat pergi? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana aku? Bagaimana anak kita? Hiks... Hiks..." Satria tak peduli banyak yang memperhatikan. Dia tak peduli dirinya menjadi tontonan. Hari ini hari terberat dalam hidupnya sampai dia tak peduli dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Entah sudah berapa jam Satria duduk disana. Menumpahkan kesedihan hingga matanya sembab. Hari sudah senja saat ia keluar dari bandara kemudian melangkah menuju mobil sang istri. Sejenak dia menoleh ke arah pintu masuk. Diam memperhatikan dengan asa yang sudah hampir tak tersisa hingga dia memutuskan untuk benar-benar pergi dari sana.


"Hati-hati kalian..."


Satria mengusap air matanya lalu fokus ke jalan. Berusaha kuat meski raganya lemah. Shayu membawa sesuatu yang ia impikan, pergi meninggalkan kenangan yang memilukan.


Satria menepikan mobilnya di depan masjid besar, dia turun tepat adzan berkumandang. Masuk dan segera bersuci untuk melaksanakan kewajibannya. Sepanjang ayat ia lantunkan, air matanya terus runtuh tak tertahan. Tetasan demi tetesan jatuh hingga di akhir rakaat.


Langit sudah mulai gelap tepat dia bermunajat. Menengadah kedua tangan meminta kebaikan untuk keluarga kecilnya. Terutama sang istri yang pergi dengan membawa makhluk kecil yang baru tumbuh. Tak lupa ia mengucapkan kata syukur setelah doanya diijabah dan kehadiran makhluk kecil itu membuat ikatan pernikahan semakin kuat meski harus terpisah jarak.


"Aamiin..."


Satria meninggalkan masjid tepat bada isya. Dia melajukan mobilnya menuju rumah besar peninggalan mertuanya untuk menukar mobil dengan motor miliknya. Tak lupa juga mengambil barang-barang pentingnya untuk dibawa pulang.


"Loh Mas Satria baru pulang? Mau makan? Si Mbok kebetulan masak Mas."


"Tidak Mbok, saya hanya mau numpang bersih-bersih terus pulang," sahut Satria.


"Tidak tinggal di sini to, Mas?"


"Tidak Mbok, nanti saja jika Shayu sudah pulang. Saya ke atas dulu ya, Mbok. Permisi," ucap Satria lalu segera berlari menaiki tangga sedangkan Si Mbok mengerutkan keningnya memperhatikan. Beliau iba melihat wajah sembab Satria dengan mata memerah.


"Kasian Mas Satria, pasti sedih sekali."

__ADS_1


Sebelum masuk ke dalam kamar Satria lebih dulu menarik nafas dalam-dalam. Di dalam sana banyak kenangan bersama sang istri. Tentu saja semakin membuat hatinya lemah. Tatapan pertama jatuh pada foto Shayu yang terpajang rapi di dinding, kemudian foto keduanya yang belum lama dibuat.


"Mas harus gimana, Sayang?" Bukan Satria tak ingin menyusul, tetapi keputusan Shayu yang tetap pergi itu sudah mewakili keinginannya yang begitu kuat dan tak dapat diruntuhkan oleh apapun. Itu yang membuat Satria begitu kecewa.


Satria segera membersihkan diri setelah itu mengemas barang-barangnya untuk dibawa pulang malam ini. Membawa beberapa pakaian sang istri untuk pengobat rindu, lalu segera pergi dari sana. Dia tak sanggup jika harus berlama-lama, terlebih kenangan malam-malam indah begitu kuat diingatan.


"Malam panas itu akan terulang lagi nanti setelah kamu pulang Sayang dan kamar ini akan kembali dingin sampai kita kembali."


Hampir larut malam Satria baru sampai di rumah. Dia melangkah masuk saat Bapak kebetulan baru ingin mengunci pintu.


"Kamu kok baru pulang? Dari mana saja to, Le?" tanya Bapak menatap penuh selidiki.


"Habis mengemas barang-barangku Pak. Aku tinggal di sini lagi ya Pak," lirih Satria.


"Kamu tuh bicara apa? Sana masuk! Makan dulu jika belum makan, seperti di rumah siapa saja," sahut Bapak yang kemudian mengunci pintu.


"Aku masuk ke kamar dulu Pak, nanti jika lapar aku pasti makam."


"Jangan mengabaikan kesehatan, kamu ini baru begitu sudah galau. Makanya jadi suami harus bisa memutuskan, yang tegas! Gayane mengikhlaskan tetapi baru begitu sudah menangis sesegukan. Matamu besar-besar seperti digigit gajah!"


Satria tak menjawab, dia segera melangkah menuju kamar dengan perasaan yang entah. Membuka pintu kamar lalu meletakkan tasnya di atas meja belajar. Namun, tak lama dari itu suara ketukan dari luar menarik atensinya lalu segera melangkah untuk membukakan pintu.


"Makan Mas, seharian belum makan kan?"

__ADS_1


__ADS_2