Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Modusmu Le


__ADS_3

Gemas sekali melihat sang istri yang sejak pagi sudah membuat pusing. Wahyu mendekati lalu mengecup gemas pipi Shayu dan Biru. Dua orang yang sangat ia cinta. Berharap Biru tak bersikap bar-bar seperti Mamahnya.


"Sudah tinggalkan itu kepala kambing. Kita siap-siap sebelum acara dimulai. Dan kamu Cak, kasih kepala kambing ini pada Ibu. Biar dimasak di belakang."


"Geli Mas, berasa diajak perang. Mas aja ya." Cakra meringis lalu melangkah masuk tetapi buru-buru Wahyu menarik kaos bagian belakang adiknya.


"Mau kemana?"


"Masuk."


"Aku bilang apa tadi?"


"Masukin kambing, kasih Ibu ke belakang," jawab Cakra dengan memamerkan wajah polosnya. "Tapi geli, Mas."


"Ck, aku tau kamu. Kecilnya suka main sama kambing kok. Cepet! Kalah kamu sama Biru."


Cakra tercengang mendengar ucapan Satria. Kalah dengan Biru? Gemas sekali rasanya. Dia menghela nafas lalu melangkah mendekati kepala kambing itu.


"Ojo dibanding-bandingke, Mas! Anak bayi saja sudah nyari masalah. Gedenya bikin perkara. Aku kasih makan ikan sapu-sapu baru tau rasa kamu!"


"Haish hadapi dulu Macannya sebelum kamu mau apa-apakan anakku." Shayu merengut dengan mata menatap sengit wajah Cakra. Wanita itu segera membawa putranya masuk sebelum berdebat terlalu jauh dengan Cakra.


Sementara Satria hanya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka lalu melangkah menyusul sang istri.


"Aku lagi aja yang kena. Wis.... Tumbal!" celetuk Cakra lalu membawa kepala kambing itu ke dalam.


Acara aqiqah digelar dengan suasana yang khidmat. Shayu tampil menggunakan balutan pakaian muslim lengkap dengan hijabnya yang membuat pangling. Bahkan sejak tadi suaminya terus menatap dengan tatapan takjub.


Para tamu menikmati hidangan yang telah disajikan. Shayu pun asyik mengobrol dengan para sahabatnya dan teman-teman sekolahnya dulu, sedangkan Satria dan Biru sibuk menerima tamu yang ingin memberikan doa pada mereka.


"Eh aku ke Paksu dulu ya. Kalian nikmati hidangannya. Jangan sungkan-sungkan! Mau bungkus juga boleh kalau tidak malu," celetuk Shayu. Dia segera mendekati suaminya yang begitu menikmati kebersamaannya dengan sang buah hati.


"Duh anaknya ganteng banget, jadi gemes sama bapaknya." Shayu menyek-menyek manja kemudian mencubit pipi Satria. "Seneng ya Mas dari tadi pada gemas sama kamu. Didekati Ibu-ibu betah banget."

__ADS_1


"Kamu sendiri malah kemana? Mas kan nggak bisa ngelawan, lagi gendong Biru begini. Kalau nggak mau suami kamu digemesin sama ibu-ibu. Makanya jangan ngabur, Sayang!" Satria tau betul istrinya dalam mode cemburu. Salah siapa malah asyik dengan temannya dan dia menerima tamu berdua saja dengan putranya. Sudah pasti anak dan bapak yang sama tampan menjadi incaran.


Shayu menghela nafas kasar lalu meraih Biru. "Sudah Biru sama aku saja. Sama kamu tuh nggak aman, Mas! Wajah kalian sebelas dua belas. Eh tapi masih tampan Biru. Kalau begini sudah tak ada alasan mereka gemesin kamu."


Satria mengulum senyum mendapati sang istri yang merajuk. Sebenarnya cemburu istri itu suatu ancaman tetapi kali ini Satria tenang karena memang istrinya belum bisa dijamah dan ada Biru. Shayu tak mungkin memilih tidur hanya berdua saja.


Acara berlangsung sampai sore hari sebelum Magrib. Cukup melelahkan bagi Shayu yang baru melahirkan terlebih sejak pagi dia sudah menghilang. Begitupun dengan yang lainnya termasuk Ibu. Beliau sejak kemarin tak bisa diam. Sibuk mempersiapkan semuanya hingga acara selesai.


"Istirahat Bu!" ucap Satria setelah mengantar anak dan istrinya ke kamar.


Ibu masih sibuk di dapur membungkus makanan yang masih tersisa banyak. Dibantu juga dengan si Mbok dan beberapa tetangga.


"Tanggung, ini mau ibu bagi ke para tetangga biar nggak buang-buang makanan. Cakra mana?"


"Sepertinya dia ada di luar, Bu. Kenapa Bu?"


"Ini biar dibawa dia pulang, dibagikan ke para tetangga di sana. Sini kan sudah semua tadi datang. Kalau disana belum. Biar kebagian dan merasakan berkahnya."


"Ya sudah aku cari Cakra dulu, Bu." Satria melangkah menuju halaman depan. Mencari keberadaan Cakra yang ternyata sedang bersih-bersih di sana.


"Bentar Mas." Cakra sedang memasukkan sampah ke dalam kantung sampah setelah itu barulah masuk ke dalam rumah.


"Ini Mas kantong sampahnya, teruskan ya!"


"Hhmm..."


Tak lama Satria kembali melihat Cakra membawa kantong kresek besar yang diduga makanan yang akan dibawa pulang.


"Ck, seksii wira wiri yo ngene. Kerjaane mondar mandir."


"Jangan mendumel begitu, kasihan ibu juga capek. Aku mau mengantar tapi takut Shayu mencari kalau-kalau Biru rewel. Sudahlah terima nasib. Motor aman sudahku isi bensin tadi."


"Bulan depan servis gratis loh, Mas."

__ADS_1


"Siap asal manut." Satria tersenyum melihat adiknya yang penurut. Bersyukur juga karena ada Cakra yang membantu.


"Ra sah mesem-mesem, Mas! Aku baik karena ada maunya."


"Terserah kamulah, tapi makasih ya."


Cakra tak menjawab, dia bergegas menancap gas menuju rumahnya yang berjarak lumayan. Sekitar 20 menit dia sampai di desanya. Itupun dengan laju sedang cenderung cepat.


"Eh ada Mas Cakra, ada apa?" tanya tetangganya yang tadi rumahnya Cakra ketuk.


"Ini Bu, mau antar sego berkat aqiqah ponakan. Anaknya Mas Satria," jawab Cakra kalem.


"Owalah iya, salam sama Ibu ya. Maaf nggak sempet ke rumah. Jauh le, motornya dipakai Rindu tadi. Ayo masuk dulu! Ada Rindu di dalam."


"Tapi Cakra tidak rindu. Jadi langsung pulang saja, Bu. Lagian masih banyak yang harus Cakra kasih. Permisi," ucap Cakra pamit. Dia kembali melajukan motornya menuju rumah selanjutnya sampai selesai dan semua kebagian.


"Haish, maklum tampan. Jadi semua Ibu-ibu nyuruh mampir buat kenalan sama anaknya. Sayangnya cintaku mentok buat satu orang gadis." Cakra tersenyum geli mengigat semua memintanya mampir. Berasa laku dan tambah percaya diri. Setelah itu Cakra kembali melajukan motornya menuju rumah kakak ipar.


"Sudah semua, Le?"


"Sampun Bu, beres!"


"Pintar anak Ibu, ya sudah makan dulu terus istirahat. Ibu mau ngecek Biru. Takut rewel."


"Nggih Bu."


Ibu segera melangkahkan menaiki undakan tangga menuju kamar menantunya. Memastikan jika Biru aman sebelum beliau masuk kamar untuk beristirahat.


"Ealah Satria, ngapain itu tangannya? Istrimu bukan sapi yang menyusui pakai diperah begitu."


Satria tercengang saat aksinya ketahuan Ibu. Dia segera melepaskan genggamannya dan mundur menjaga jarak dari sang istri. Sementara Shayu meringis melihat tatapan Ibu pada suaminya.


"Modusmu Le."

__ADS_1


"Bantu Biru tadi Bu, biar air susunya cepat mancur."


__ADS_2