Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Suami Apa Zombie


__ADS_3

"Maaaasss!"


Satria yang masih rebahan menunggu giliran mandi dibuat terkejut dengan teriakan Shayu dari kamar mandi. Dia segera turun dari tempat tidur dan berlari menggedor pintu tatapi Shayu tiba-tiba keluar dengan hanya memakai handuk.


"Kamu kenapa, Sayang? Pagi-pagi sudah teriak-teriak. Mas sampai mau jatuh gara-gara terkejut. Ini lagi, kamu mau menggoda Mas?" tanya Satria dengan mata menggoda.


"Lihat ini!" Shayu menunjuk beberapa tanda merah di lehernya. Dia ingin bersiap sekolah malah menemukan jejak drakula disana. Mungkin hisapannya begitu kuat hingga warnanya terlihat pekat. Bukan lagi merah, tapi sudah hampir membiru.


Satria menggaruk tengkuknya setelah melihat perkara dan masalah yang ada. Semalam dia begitu bergairah hingga merusuh dan membuat banyak tanda di leher dan dada sang istri. Begitu menahan rasa di bawah sana yang memberontak hingga hisapan swmakin kuat.


Shayu merengut kesal, bagaimana dia ingin berangkat ke sekolah jika begini jadinya? Meski semua warga Panca Darma sudah tau akan statusnya yang sudah menikah. Namun, begini membuatnya malu sekali.


"Maaf Sayang, Mas terlalu bersemangat semalam. Habis rasanya enak, legit, manis, wangi, bikin betah. Janji nanti malam tidak meninggalkan jejak," ucap lirih Satria dengan lembut. Dia meraih tangan sang istri tetapi malah mendapat tamparan keras dari pintu yang tertutup kencang.


"Untung tidak kena hidung," keluh Satria dengan mengacak rambutnya. Dia melihat bagian inti yang diam-diam bereaksi karena melihat penampilan sang istri.


"Kamu jangan celamitan! Tidak tau gara-gara kamu istriku merajuk. Kalau sampai ngambeknya lama, terpaksa nanti malam kamu aku ikat pakai karet gelang!" ancamnya yang kemudian melangkah menuju kamar sebelah untuk menumpang mandi.


"Ngapain mandi disini? Setelah membuat aku tidak bisa tidur, sekarang numpang mandi dikamarku? Situ waras Mas?" celetuk Cakra yang baru bangun karena semalaman sulit tidur. Dia uring-uringan karena mendengar suara di kamar sebelah.


Semalam mulut Shayu sempat ditutup oleh Satria, tatapi bukan diam malah mengeluarkan suara yang semakin membangkitkan gairah. Tentunya Cakra semakin tidak bisa tidur. Dia bolak balik mengganti posisi di atas kasur karena merasa tubuhnya panas sendiri.


Bahkan sampai kamar sebelah sudah tak lagi mengeluarkan suara, sunyi dan senyap, dia masih tak bisa memejamkan mata karena tubuhnya menolak untuk terlelap. Lebih tepatnya si jago minta di Nina bobo dulu karena otaknya yang terkontaminasi.


Satria tak menghiraukan racauan Cakra, dia melenggang masuk kamar mandi tanpa peduli pertanyaan adiknya.


"Jangan habiskan sampoku, Mas! Aku tau bukan cuma kepala atas saja yang kamu keramasin bawah pun juga," seru Cakra yang dijawab dengan suara pintu kamar mandinya.


Dia terjingkat karena Satria menutupnya dengan sangat kencang. Pemuda itu menghela nafas kasar dan memilih untuk sarapan terlebih dahulu seraya menunggu Satria selesai mandi.

__ADS_1


"Sayang, kenapa leher kamu..."


"Sudah biarkan saja, anggap saja habis main cakar-cakaran semalam jadi harus banyak yang dipasang hansaplas. Maklum, tokonya diserbu banyak pelanggan. Jadi babak belur begini," jawab Shayu santai dan segera melenggang keluar kamar. Beruntung pagi ini Bapak dan Ibu sedang ada acara di kelurahan. Jadi dia aman karena akan sangat mencurigakan sekali jika kedua mertuanya melihat leher yang banyak sekali tambalan.


Namun, kelegaan itu beganti dengan rasa jengkel saat mata Cakra menyipit menatapnya dan sedetik kemudian tertawa terbahak.


"Berisik kamu!" Shayu tau, Cakra pasti menggodanya. Dia jelas mendengar suara Cakra yang menggedor pintu kamar semalam.


"Segitunya sampai ditambal sana sini. Katanya enak, geli Mas, auwh, akh... Pagi-pagi kok merengut. Kamu seperti anak kecil baru diajak naik odong-odong. Histeris tapi setelahnya ngambek mau lagi. Tidak usah masuk saja, sana balik kamar! Kali ini Mas Satria pasti mau diajak membolos. Apa lagi jika disuguhkan dengan yang gurih-gurih. Mumpung Ibu dan Bapak tidak ada di_ mmmmpppp."


"Kamu berisik! Makan tuh tempe biar mulut kamu tidak lemes!" celetuk Shayu yang menyumpal mulut Cakra dengan tiga tempe sekaligus, kemudian melenggang dengan mengambil apel yang tersedia di meja.


"Dimakan, jangan dibuang! Aku adukan Ibu kalau kamu buang," seru Shayu membuat Cakra yang akan mengeluarkan tempe dimulutnya auto memasukkannya kembali hingga kedua matanya mendelik.


"Lain kali jangan buat macanku ngereog pagi-pagi!" Satria menepuk pundak Cakra yang sedang bersusah payah mengunyah. "Galon habis, kamu naikkan dulu jika ingin minum!" ucapnya lagi mengingatkan adiknya yang kesulitan menguyah lalu melangkah menyusul Shayu.


Sementara di luar, Satria dengan perhatian memasangkan helm untuk sang istri. Dia mengulas senyum melihat bibir Shayu yang terus manyun karena moodnya yang anjlok pagi ini.


Cup


Satria dengan gemas mengecup bibir itu, biasa pagi-pagi mendapat ciuman hangat, tapi malah mendapat ocehan. Kini saatnya ia meminta jatah dari pada di sekolah tidak konsen dan dibuat gersang.


"Senyum!"


"Eugh!" Shayu membuang muka dengan wajah merona. Rayuan sang suami tak ada duanya. Bukannya melantunkan kata-kata manis malah cium-cium gratis.


Satria mengecup lagi tapi kali ini ia memberikan hisapan kuat dan yang membuat Shayu memukul dadanya.


"Mas, nanti bengkak loh. Kamu nich dari semalam tidak berhenti menghisap. Sampai pagi masih saja menempel di dada aku seperti bayi, tapi pagi ini masih kuat saja menghisap bibir aku! Kamu ini suami apa zombi sich?" kesal Shayu dengan mengusap bibirnya yang basah. Dia mendengus kesal karena Satria yang terus saja merusuh. Tanpa Shayu sadar semakin ia marah justru membuat pria itu semakin gemas.

__ADS_1


"Dari pagi kamu sudah marah-marah terus, nanti malam tidak aku buat kegelian lagi loh!" ucap Satria mengancam tetapi justru membuat Shayu senang.


"Bagus dong, setidaknya aku tidak merasa pedas dan toko aku liburkan!"


Satria menghela nafas kasar, ancaman yang malah berbalik kepada dirinya. Dengan cepat Satria melajukan motornya dan tak lagi ingin membahas tentang toko susu. Dia berharap Shayu lupa dan malam nanti bisa kembali mendapat jatah.


Melihat reaksi Satria membuat Shayu ingin tertawa. Dia tau Satria takut, dia menutup mulutnya takut tawanya meledak.


"Pak guru takut tidak dikasih susu. Ternyata sereceh ini cara membuat suami takut. Berarti semua istri di dunia bisa menutup toko susu mereka jika suami macam-macam."


Shayu tak menyangka, efek susu ternyata besar. Rasanya ia mulas menahan ketawa, tetapi tak lama ia berpikir keras dan tiba-tiba mengeratkan pelukannya hingga membuat Satria meliriknya dari kaca spion.


Pria itu mengusap lembut tangan sang istri, hingga sampai di parkiran sekolah Satria segera melepas helmnya dan menelisik wajah istrinya.


"Kamu kenapa?"


Shayu menarik dalam nafasnya, dia menatap Satria dengan lekat kemudian mendekati telinga pria itu.


"Awas kalau sampai Mas punya pikiran minta susu murni dengan yang lain. Aku daftarkan kamu sunat masal, Mas!"


Satria tercengang mendengar bisikan sang istri, dengan cepat dia menggelengkan kepalanya lalu mengangkat jari kelingking.


...****************...


Sampai di Bab ini, kalian masih gemas tidak dengan pasangan guru dan murid ini? Angkat tangan yang masih gemas.


Jangan lupa follow Ig aku weni0192


Makasih atas dukungannya, terus pantengin mereka sampai memiliki generasi yang lucu-lucu ya.🤗🤗🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2