
Satria menarik pinggul Shayu hingga tubuh gadis itu terjatuh di atasnya. Dia menatap gemas wajah sang istri kemudian memperlihatkan layar ponsel yang masih berkedip dengan menampilkan foto seorang pemuda.
"Pacarmu yang menelpon," lirih Satria.
Shayu menatap biasa saja, dia lebih fokus dengan jantungnya yang berdegup kencang. Ini posisi yang sangat mendebarkan sampai gadis itu merasa kesulitan untuk menelan salivanya. Nafasnya pun mendadak berat saat ia merasakan sesuatu sekeras batu.
"Abaikan dan saya ingin turun!" ucap Shayu mendadak gugup.
"Kenapa buru-buru sekali?" tanya Satria kalem dengan terus menahan tubuh Shayu. "Bukannya katamu naik lebih enak, hhmm?"
Mashayu menelan kasar salivanya. Wajahnya semakin merona melihat Satria menatap begitu lekat. Sementara di bawah sana semakin mengusik kedamaian gadis itu.
"Pak tapi... Belalai gajah yang sudah tua memang sealot ini rasanya? Seperti balok kayu yang besar dan panjang. Sungguh meresahkan!" ucap Shayu asal. "Lepas Pak! Saya mau turun sebelum terjadi sesuatu pada diri saya," lanjut Shayu, gadis itu berusaha untuk melepaskan diri tetapi begitu sulit.
Satria masih begitu menahan, dia sadar akan reaksi pada tubuhnya saat Shayu jatuh ke pelukan. Belum lagi melihat pakaian tidur Shayu yang minim. Namun, sekuat tenaga dia berusaha menghalau rasa agar tidak menyentuh tubuh sang istri sebelum lulus sekolah.
"Kamu pikir aku akan berbuat apa?" tanya Satria balik. Dia menjatuhkan tubuh sang istri di sampingnya sehingga gadis itu kembali bernafas lega. "Ternyata istriku sudah paham, jadi tidak perlu banyak materi yang harus diajarkan dan setelah lulusan kita bisa langsung praktek lapangan," ucap Satria dengan memiringkan tubuhnya menatap sang istri yang tiba-tiba menyorot dirinya dengan tatapan tajam.
"Nampaknya anda sudah tidak sabar, tapi bagaimana jika saya lulusnya dua tahun lagi? Apa anda mau terus menunggu?"
Satria menghela nafas berat, dia kembali merentangkan tubuhnya dengan menggelengkan kepala. Wajahnya terdiam pasrah memandang langit-langit kamar.
Hal itu membuat Shayu mengulum senyum. Dia merasa menang dan aman. Namun, sedetik kemudian gadis itu dibuat kelabakan dengan Satria yang tiba-tiba menindih dirinya.
"Bapak mau apa?" tanya Shayu gugup.
"Berani lulus dua tahun lagi, malam ini juga kamu harus memberikan hakku sebagai suami!" ancam Satria lirih dengan tatapan tajam dan itu sukses membuat Shayu ketakutan.
Baru kali ini ia melihat wajah Shayu memucat menahan rasa takut. Biasanya selalu ada saja tingkah yang membuat Satria menggelengkan kepala dalam menghadapi gadis itu. Rasanya Satria tidak tega melihatnya. Namun, tidak mungkin juga membiarkan sang istri sengaja mengulur hari kelulusan.
__ADS_1
Shayu menelan kasar salivanya, bagaimana wajahnya tidak kaku jika yang bawah terasa seperti kayu. Shayu pun mengalah, dia menganggukkan kepala hingga Satria melepaskan dan kembali ke posisi semula.
Merasakan Satria yang sudah turun dari tubuhnya, dengan cepat gadis itu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. "Dasar Bapak guru mesum! Jika kelak ingin mengeksekusi, saya sarankan Bapak ukur dulu luas dan kelilingnya agar saya mundur alon-alon jika dirasa tidak cukup menampung!" ucap Shayu kemudian memilih tidur memunggungi pria itu.
...****************...
Pagi ini Satria dibuat kebingungan, pasalnya dia tidak menemukan istri kecilnya di dalam kamar. Dia segera mencari keluar setelah membersihkan diri dan menanyakan keberadaan sang istri pada anggota keluarga yang lain.
"La wong istrimu tadi sudah pergi bersama Cakra pagi-pagi sekali. Kamu terlalu nyenyak sampai tidak dengar dipamiti istri," ucap Ibu.
"Enak ya Sat tidur meluk istri sampai tidak berasa jika diganti dengan guling!" lanjut Bapak membuat Satria menggaruk tengkuknya.
Sementara di alun-alun kota Semarang, Shayu tengah menyantap bubur ayam setelah tadi sempat berlari bersama sahabat-sahabatnya. Seperti tak ada beban dan tak ingat akan seseorang yang menunggu di rumah. Gadis yang berstatus istri itu tampak have fun hingga siang menjelang.
"Shayu," panggil seseorang yang tiba-tiba datang membuat Shayu berdiri dan mendekat.
"Hhmm, semalam aku hubungi kenapa tidak diangkat? Setelah itu ponsel kamu seperti sengaja dimatikan."
"Oh, itu... Aku sudah tidur Ar, mungkin setelah kamu menghubungi ponsel aku mati karena baterai habis," jawab Shayu berbohong. "Ya sudah, mau kumpul dengan teman-teman aku atau mau kembali sama teman kamu?" tanya Shayu yang merasa tak nyaman dekat dengan Arta. Entah mengapa setelah ditemui Arta dia mendadak ingin pulang.
"Maunya sama kamu," jawab Arta singkat.
"Aku? Tapi ..."
"Ingat Shayu, kamu masih pacaran aku," sahut Arta lirih membuat Shayu menatap wajah Arta dengan mengerutkan dahi. Sikap Arta mendadak dingin seperti menahan amarah tetapi tak ingin ada yang tau.
Shayu menarik nafas dalam-dalam dengan menundukkan kepala, kemudian kembali menatap Arta dengan tatapan serius.
"Maaf Arta, dari pada sikap aku membuat kamu tidak nyaman lebih baik kita sudahan saja," lirih Shayu membuat kedua tangan Arta terkepal kuat. "Kamu pria baik, sangat baik. Kamu hampir sempurna bagi aku, tapi aku tidak mau terus mengecewakan kamu dengan sikapku yang tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan."
__ADS_1
"Apa karena ada orang ketiga?" tanya Arta dengan menatap lekat wajah Shayu. Gurat kekecewaan begitu terlihat, bahkan amarah yang tadi sempat tertutup perlahan ketara.
"Ada atau tidaknya, sejak awal sampai sekarang aku memang sulit untuk bisa mencintai kamu Ar. Maaf, jika ini menyakitkan, tapi lebih baik dari pada hubungan ini berlanjut dan kamu akan lebih sakit nantinya."
Shayu meraih tangan Arta dengan manatap lekat wajah pemuda itu. Dia mengukir senyum berharap Arta mau menerima dengan ikhlas.
"Semangat belajar ya, jangan jadikan ini sebagai beban pikiran! Semoga kita lulus sama-sama. Sekali lagi aku minta maaf," ucap Shayu sebelum akhirnya dia kembali melangkah menuju teman-temannya.
Arta tak menahan, dia diam dengan menatap nanar punggung Shayu yang semakin menjauh. Kedua tangan Arta semakin mengepal kuat dengan terus berdiri disana sampai Shayu tak lagi terlihat.
"Shay, dari tadi Mas Satria hubungi aku loh nanyain kamu," seru Cakra dalam perjalanan pulang.
"Kamu tidak bilang aneh-aneh kan?" tanya Shayu dengan suara yang tak kalah kencang.
"Aku tidak angkat, aku hanya mengirimkan foto kamu dengan Arta tadi. Terus aku kasih caption, mengantar ipar bertemu dengan pacar."
"Owh minta dihajar kamu ya!" Shayu memukul tubuh Cakra hingga menimbulkan keributan sampai mereka tiba dihalaman rumah.
Shayu segera turun dari motor Cakra dan melempar helm yang ia pakai ke arah pemuda itu, hingga menimbulkan umpatan kasar.
Shayu melangkah masuk rumah tetapi baru sampai di ambang pintu, langkahnya kembali mundur melihat tatapan Satria dengan langkah pria itu yang terus maju.
"Dari mana?"
"Olahraga."
"Olahraga atau pacaran?"
Shayu melirik Cakra yang kabur masuk ke dalam rumah dengan kedua jari di angkat sebagai permintaan maaf.
__ADS_1