Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Sakit Jago!


__ADS_3

Satria terdiam dengan wajah datar, dia melirik tangan sang istri yang begitu erat memeluk tubuhnya. Ada rasa entah yang membuat Satria menghela nafas berat. Satria sengaja diam mendengarkan apa yang akan istrinya bicarakan.


"Mas, maaf... Masa begini sampai tidak pulang? Aku takut bobo sendirian. Jangan pergi lagi ya?" ucap Shayu dengan manja. Jurus kenakalannya mulai ia mainkan. Namun, tentu saja Satria tak mudah luluh begitu saja. Terlebih dirinya yang sudah paham akan sikap istrinya.


Sedikit tidak tega, apa lagi merasakan ada sesuatu basah yang menempel di punggungnya. Shayu kembali menangis, entah mengapa mellow sekali dia hingga begitu mudah mengeluarkan air mata.


"Mas!"


"Sudah ada pilihan?" tanya Satria datar. Sikapnya begitu dingin, padahal Shayu sudah menekan malu melihat penampilan Satria yang begitu fulgar.


"Belum, Mas lihat aku!" rengek Shayu minta diperhatikan. Rasanya sakit sekali saat diabaikan seperti ini.


Satria menoleh sedikit ke belakang saat tangan Shayu sudah mulai terlepas. Melirik istri kecilnya yang merengut dengan wajah lugu, kemudian mengangkat kepalanya menarik nafas banyak-banyak sebelum membalikan tubuhnya.


"Kenapa belum ada pilihan? Kamu mau menggantung hubungan ini?" Satria kini sudah berbalik dan menatapnya begitu dalam.


"Bukannya rumah tangga harus memiliki keputusan yang diambil bersama. Kenapa tidak musyawarah? Jangan begini Mas, aku bingung!"


Gemas sekali Satria rasanya, pilihan sudah jelas. Mau lanjut atau berpisah. Mengapa masih memusingkan akan itu. Sebenarnya istrinya itu sayang atau tidak dengannya.


"Kamu yang membuat acara, kamu juga yang harusnya memutuskan! Jika kamu meminta pendapatku, aku hanya ingin kamu tetap tinggal. Menjadi istri yang baik tanpa banyak ini itu yang jelas-jelas akan beresiko dan merusak rumah tangga kita. Aku ingin kita terus, sementara kamu masih bingung. Apa disini belum ada aku?" tanya Satria dengan menyentuh dada Shayu. Sedikit gagal fokus saat dia sadar sesuatu yang menyembul.


Shayu terdiam, dia memikirkan semua ucapan Satria. Berat, hanya itu yang ia rasakan. Begitu sulit sekali hingga membuatnya takut untuk memilih.


"Sekali lagi aku tanya, tetap disini dan menjadi nyonya Satria atau pergi dan kita akan berpisah?" tanya Satria dengan tegas membuat kedua mata Shayu mengerjap berulangkali.


"Mau pergi tapi tidak mau pisah," lirihnya dengan mata sembab. Sebenarnya Satria tidak setega ini, ingin sekali memeluk sang istri setelah dua hari tidak mendekapnya saat tidur. Namun, dia harus tegas. Hidup itu pilihan dan istrinya bukan anak kecil yang harus diceramahi dengan banyak kalimat.


"Tidak ada pilihan seperti itu!"


"Tapi maunya begitu," sahut Shayu yang membuat Satria semakin geregetan.

__ADS_1


"Oke, kamu memilih itu? Tetap pergi tetapi hubungan kita masih utuh?"


Shayu menganggukkan kepalanya dengan wajah polos. Dia melangkah mundur saat Satria perlahan mendekati. Pria itu melangkah maju dengan tatapan berbeda. Tatapan menutut sesuatu hingga Shayu semakin ketakutan.


Brugh


Tubuh Shayu terjatuh di atas kasur, dia yang terus menghindar tak lagi bisa bergerak karena begitu cepat Satria merangkak naik dan mengukung tubuhnya.


"Mas," lirih Shayu dengan jantung bertalu-talu melihat Satria yang terus mengikis jarak hingga kedua hidung mereka bersinggungan.


"Sudah mantap dengan pilihanmu?" tanya Satria lagi.


Shayu buru-buru menganggukkan kepalanya mengiyakan. Keputusan diluar pilihan, tak peduli dibilang curang. Memang ia tidak ingin berpisah tetapi memutuskan untuk tetap pergi.


"Kamu mencintaiku?" tanya Satria lagi dengan nafas yang menyapu wajah cantik Shayu. Bahkan kini tangan Satria sudah meraih kedua tangan Shayu dan mengangkatnya ke atas kepala hingga Shayu tak lagi bisa bergerak.


"A... Aku... Me... Mencintaimu, Mas." Shayu semakin tak bisa mengendalikan diri saat Satria mulai mendekatkan kedua bibir mereka. Nafas keduanya pun beradu dengan jarak yang begitu dekat membuat suasana pagi ini mendadak panas.


Satria mengecup bibir Shayu dengan lembut, menyatukan indra perasa yang sudah beberapa hari tidak bersua. Bergerak lembut mengobrak abrik sesuatu yang membuat candu. Hingga Shayu mulai terbuai dan kembali membalas setiap gerakan yang semakin panas.


Perasaan Shayu tidak tenang, meski ia begitu agresif melawan tatapi otaknya bekerja dengan cepat.


"Apa yang kamu inginkan, Mas?" tanya Shayu dengan nafas tersengal saat Satria memberi kesempatan untuknya mengambil nafas sebanyak-banyaknya.


Namun, Satria tak berhenti begitu saja. Kecupannya turun ke leher jenjang sang istri yang terbentang saat Shayu justru memberi peluang. Mengangkat kepalanya dan memamerkan keindahan yang mampu membuat Satria semakin tak tahan.


"Aku akan meminta hakku pagi ini," lirih Satria dengan nafas berat tepat di telinga Shayu DNA menggigitnya dengan nakal.


Deg


Jantung Shayu seperti terhenti sesaat. Namun, setelah itu degupannya semakin kencang tak terkendali. Satria benar-benar membuatnya tak mampu menahan rasa hingga suara manja lolos begitu saja.

__ADS_1


"Tapi Mas_"


"Akan menjadi sama saja andaipun aku menunggu kamu selesai pengumuman. Hal ini akan tetap aku lakukan. Hanya waktunya saja yang aku percepat dan kamu akan semakin berdosa andai menolak."


Shayu menelan kasar salivanya. Dia memejamkan matanya dengan bayang-bayang sakitnya bercinta. Jujur meski tubuh menginginkan tetapi hatinya belum siap.


"Tapi itu menyakitiki Mas."


"Cukup rasakan sensasinya, dan aku akan membuat kamu terbang ke nirwana."


Otak Shayu seketika ngeblank, rasanya tak percaya jika semua begitu cepat terjadi. Diapun sudah ingin menangis tetapi sentuhan yang Satria berikan membuat tubuhnya merespon lain.


"Tapi Mas, aku... " lenguhan Shayu kembali terdengar saat Satria semakin memainkan perannya dengan baik. Ini keputusan yang harus ia ambil karena sang istri begitu sulit menentukan dan malah menjawab seenaknya. Jangan salahkan jika dia pun harus cepat bertindak.


"Mas, astaghfirullah geli Mas. Eh sakit, Ya Allah Gusti anakmu Bu."


Ucapan Shayu mulai tak terkontrol setelah semua yang menempel ditubuhnya, Satria lepas begitu saja. Bahkan dia melihat si jago begitu perkasa dan menyeramkan.


"Jago, kita sudah cs lho, sudah berteman baik. Kamu jangan dendam denganku, oke!"


Satria tak menggubris ucapan sang istri, dia tidak ingin gagal menjadikan Shayu miliknya seutuhnya. Rasanya baru mengetuk pintu saja sudah membuat Satria on fire. Bagaimana jika si jago sudah masuk dengan sempurna? Sudah pasti dia berkokok kegirangan di dalam sana.


"Mas hiks... Hiks..."


"Maaf," lirih Satria yang kemudian mengecup kening, pipi, dan bibir Shayu berulang kali. Mengusap air mata sang istri dan kembali mengecup kedua mata yang terus mengeluarkan air mata.


"Sakit Jago! Sakit!" lirih Shayu dengan mencengkeram kuat sprei dengan mengigit kuat bibirnya.


"Jangan kamu gigit bibir kamu, Sayang!"


"Dari pada aku gigit kepala si jago?" rengek Shayu dengan memukul dada Satria. " Kamu jahat Mas! Sakit! Kenapa menghukumku seperti ini?"

__ADS_1


"Ini maumu, Sayang!" Satria kembali menyatukan bibir mereka.


__ADS_2