Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Ngerepotin!


__ADS_3

Pagi ini Satria siap berangkat ke kantor. Shayu pun telah menyiapkan semua keperluan dan bekal untuk suaminya makan siang. Kebetulan Shayu tidak bisa datang karena akan berkunjung ke rumah mertua untuk membahas acara nujuh bulan.


"Berangkat bareng aku dan nanti sore kamu aku jemput. Jangan capek-capek di sana! ingat kamu harus tidur siang. Jangan rusuh juga dengan Cakra!"


"Banyak sekali," sahut Shayu kemudian menghela nafas berat. "Aku nanti mau ketemu Arita dan Topan juga, Mas. Kebetulan mereka pulang siang jadi bisa mampir sekalian. Hitung-hitung temu kangen."


"Ya sudah yang penting tidak kecapekan ya! Ayo berangkat! Nanti aku usahakan pulang cepat."


"Iya Papah Satria. Harus dan wajib. Boleh sibuk tapi jangan dengan pekerjaan. Bojomu ki aku loh, Mas! Itu laptop tidak bisa memberi susu," sahut Shayu yang kini memeluk lengan suaminya melangkah menuju mobil.


"Tau Sayang, ya kali aku mut-mut itu keyboard satu persatu." Satria menggelengkan kepala kemudian membukakan pintu mobil untuk sang istri. Keduanya segera berangkat menuju rumah Ibu dilanjut Satria yang berangkat menuju kantor. Namun ia menyempatkan diri mampir bengkel terlebih dahulu untuk melihat data yang direapet oleh karyawannya.


"Mas tidak mampir dulu? Nanti ditanya Ibu Bapak loh," ucap Shayu setelah keduanya sampai di depan rumah orang tua mereka.


"Salam saja, Mas harus ke bengkel dulu karena hari ini mau ada kirim barang. Nanti sore kan Mas kesini lagi. Kamu jangan nakal ya! Jaga anak kita Baik-baik."


"Hhmm... Iya Mas. Mas hati-hati ya!"


"Iya Sayang," sahut Satria yang kini mengecup kening dan bibir sang istri lalu tak lupa turun ke perutnya yang buncit.


"Papah berangkat ya. Kalian jangan nakal!" Satria mengusap perut Shayu setelah mengecupnya hingga membuat sang istrinya kegelian.


"Sudah Mas, pamitnya lama sekali. Sama Mamahnya saja buru-buru. Pantes kalau nengokin maunya lama dengan tempo yang lambat. Jago betah ya ngobrolnya sampai tak ingin pulang."


"Sayang, jangan menyinggung jago di saat aku ingin berangkat bekerja begini! Nanti dia mendengar bisa-bisa bangun akunya yang repot karena kamu tidak ada."


"Dasar culametan!"


Shayu tertawa lalu segara turun dari mobil. Dia melambaikan tangannya dan menatap mobil Satria yang semakin lama semakin menjauh.

__ADS_1


"Assalamualaikum Bu, Pak, Cakra ... Neng Shayu datang..."


"Wa'alaikumsalam...CK, hebohnya mengalahkan tukang sayur keliling," sahut Cakra yang kebetulan akan berangkat ngampus.


"Eh adik ipar, mau kuliah ya? Belajar yang giat ya, kalau sudah sukses jangan lupakan Mbakmu yang suka kasih jajan!" Shayu melepas sepatunya lalu masuk ke dalam rumah untuk menemui Ibu dan Bapak.


"Kasih jajan sekali saja dihitung," gumam Cakra.


"Aku dengar, Cak!" seru Shayu yang sudah melangkah masuk ke dalam rumah.


"Baguslah berarti aku tidak jadi bicara di belakang karena kamu sudah mendengarnya. Biar sadar diri jadi tidak pelit!" celetuk Cakra yang kemudian segera naik ke atas motornya.


Mendengar suara motor Cakra, Shayu melangkah kembali keluar rumah. Mendadak dia ingin sekali makan serabi yang dijual di depan kampus Cakra.


"Kenapa?" ketus Cakra saat melihat Shayu yang kembali menampakkan diri.


"Kamu tuh ngidam apa memang sengaja minta gratisan?"


"Dua-duanya, nanti aku penuhin tangki bensin kamu. Oke! Jangan lupa, nanti keponakan kamu ileran!" celetuk Shayu yang kemudian masuk kembali.


"CK, baru satu nich, belum yang ke dua atau ke tiga. Pak Lik iso stres Le..." Cakra segera berangkat sebelum Shayu kembali keluar rumah.


Sementara Sahyu kini sudah berada di dapur mencicipi masakan Ibu. Baru datang saja dia sudah dijamu dengan masakan Ibu yang wanginya saja sudah membuat perut lapar.


"Enak Bu, Shayu ambil nasi ya."


"Dinginin dulu nasinya, Nduk. Jangan makan panas-panas!" ucap ibu mengingatkan. Shayu pun segera mendinginkan nasinya lalu menunggu masakan Ibu tanak.


"Bapak mana, Bu? Sudah sarapan? Itu tadi Cakra juga, ini makanan Ibu kan baru matang."

__ADS_1


"Bapak dan adik kamu sudah sarapan roti, ben kayak wong bule katanya. Aneh-anehlah, Bapak juga tumbenan minta direbuskan kentang. Katanya biar tidak sakit gula maklum sudah tua, Nduk."


Shayu tertawa kecil lalu kembali mendekati Ibu dan memijit pundak beliau. "Ibu Bapak harus sehat terus. Ada Shayu dan Mas Satria, juga Cakra yang sayang kalian dan akan menjaga. Kan kami masih mau membuat Ibu Bapak bangga. Jadi harus sehat dan jangan banyak pikiran. Oke Bu?"


"InsyaAllah... Doakan Ibu dan Bapak ya, Nduk!"


"Siap!" Shayu mengangkat tangannya seolah-olah sedang hormat membuat Ibu tertawa. Mereka memutuskan untuk sarapan padahal tadi Shayu sudah sarapan di rumah dengan Satria, tetapi melihat masakan Ibu hawanya ingin makan lagi.


Setelah sempat mengobrol dengan Ibu dan Bapak membahas acara nujuh bulan. Siangnya Shayu kedatangan ketiga sahabatnya yang membawakan pesanannya tadi pagi. Sebelum keluar kamar dia lebih dulu ke dapur mengambil piring dan mangkok untuk tempat soto.


"Waaaahhhhh kalian memang best friend forever. Aku jamin nanti anakku akan sayang dengan kalian semua." Mata Shayu berbinar sedangkan ketiga sahabatnya menatap jengah bumil yang sedang mengeksekusi makanan yang mereka bawa.


"Kalau bukan kamu aku tidak mau beli itu," ucap Arita dengan wajah bete.


"Sama aku juga, mana digodain sama Mak Denok lagi. Mau dijodohkan dengan putrinya yang seperti buntelan begitu," sahut Topan.


"Kan aku sudah bilang, ketemuannya nanti saja kalau dia sudah lahiran. Kalau itu anak belum launching dijamin ngerepotin!" celetuk Cakra.


"Eh kalian ini, baru begini saja sudah mengeluh. Belum aja aku ngidam cabe dan minta kalian semua yang makan. Mau?"


"Wegah!" sahut ketiganya dengan berbarengan sedangkan Shayu hanya mengangkat kedua bahunya lalu menikmati makanan yang mereka belikan.


"Shay, kamu tidak mau kuliah? Cowoknya ganteng-ganteng loh. Ikh dijamin kamu pasti suka."


"Hay Arita, ingat dia Kakak Iparku. Jangan kamu ajak yang tidak-tidak! Awas saja main gila, aku yang akan memberantas pria-pria itu duluan sebelum kalian goda."


"Kamu macam hulk, mau jadi bodyguard aku, Cak?" tanya Shayu dengan mengulum senyum. "Lagian aku tuh sudah mau punya anak.Tidak mau aneh-anehlah. Kalian tidak tau apa jika aku sebucin itu sama mantan guru kalian."


"Belum lihat saja, nanti kalau tau damagenya cowok kampus kita bisa mati gaya dia. Aku saja baru dilirik sudah kebelet pipis. Gimana kalau dijadiin pacar ya, bisa-bisa aku pakai pempers setiap hari."

__ADS_1


__ADS_2