Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Bab 97 Boneka


__ADS_3

"Mas aku kapan boleh pulang sich? Sudah nggak betah banget. aku sudah sembuh kok, Mas."


Sudah dua malam Shayu menginap di rumah sakit dan pagi ini dia sudah tidak betah. Ingin sekali pulang lalu rebahan di rumah. Namun, dokter tak kunjung membahas kepulangannya.


Belum lagi dia tak tega melihat Ibu mertuanya bolak balik rumah sakit untuk membantu momong Biru. Kekhawatiran beliau karena Shayu yang masih sangat muda membuat beliau mengalahkan semuanya. Padahal Shayu tau jika Ibu mertuanya lelah. Terlebih masih mengurus rumah.


"Iya nanti Mas tanyakan, Ya. Memang kamu sudah enakan? Sudah tidak sakit lagi itunya?"


"Masih sich, Mas. Perih, ngilu, tapi sudah tak seperti kemarin, Mas. Pokoknya kalau bisa sore ini pulang, Mas. Kalau disini tuh tidak bebas. Cuma bisa rebahan saja."


"Memangnya kamu mau ngapain?" tanya Satria. Pria itu menatap awas istrinya. Paham sekali jika sang istri terkadang suka ngadi-ngadi. Namun bersyukur karena setelah melahirkan Shayu sedikit demi sedikit terlihat dewasa. Meski mulutnya yang terkadang ceplas-ceplos.


"Memang kamu tidak merindukan aku, Mas?" Shayu mengerlingkan sebelah matanya pada Satria.


Satria tercengang mendengar pertanyaan Shayu yang mengandung arti peranjangan. Paham sekali apa lagi tatapan Shayu yang membuat Satria harus menahan sabar.


"Bukan gitu, Yank. Masalahnya tuh aku tidak mungkin minta itu sama kamu sekarang. Aku kan harus puasa, Yank. Lagian kamu bilang sakit. Mana tega aku tuh? Portal juga masih ditutup kan? Jangan menerjangnya, Yank. Bisa bahaya!"


"Ikh Mas, nggak gitu juga. Aku juga tau banget kok. Paham. Memang kalau rindu harus ncak ncuk? Nggak kan, Mas. Pikiran kamu saja. Padahal inginnya tuh disayang, dimanja, peluk-peluk sambil tengokin jago masih hidup atau sudah tidak kerena harus puasa. Atau jangan-jangan pingsan setelah tau kandangnya dapat jahitan banyak."


"Jago aman, Sayang. Kan bisa seperti dulu. Sementara kandangnya belum bisa beroperasi, masih bisa pakai ilmu yang pertama aku ajarkan. Kamu sudah lihai kan? Jadi tidak masalah meski harus puasa.


...****************...

__ADS_1


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Apa sudah boleh pulang?" tanya Satria. Dia harap-harap cemas menunggu jawaban dari Dokter yang sedang memeriksa sang istri. Pasalnya Shayu sejak tadi rewel meminta pulang hari ini juga. Satria tak ingin membuat istrinya terus-menerus merengut karena sudah tak nyaman.


"Karena kondisi Mbak Shayu yang sudah berangsur pulih. Kami mengijinkan Mbak Shayu pulang. Semoga lekas sembuh dan dedek bayinya semakin sehat. Jangan lupa makan sayur ya agar asinya banyak dan debaynya tambah gemoy."


"Baik Dok, terimakasih."


Shayu begitu senang bisa pulang, akhirnya bisa bebas dari ruangan berbau obat itu.Satria pun segera berkemas, membereskan semua barang-barang yang harus dibawa pulang.


"Kita pulang... Kita pulang... Kita pulang.... "


Shayu menimang Biru dengan berdendang dan menggoyang tubuhnya membuat Satria ngeri melihatnya. Shayu seperti sedang menimang boneka. Sebenarnya Satria sedikit ragu putranya diurus dengan sang istri tanpa bantuan orang lain. Terlebih melihat istrinya tanpa beban dan begitu santai. Ada tanda tanya besar di hati Satria. Bisakah istrinya mengurus anak? Atau benar-benar menganggap putra mereka seperti boneka.


"Sayang yang benar dong gendongnya. Yang serius gitu loh!"


"Ini sudah serius banget, Mas. Siapa juga yang lagi bercanda. Ya sayang ya... Biru gemoy anak Macan. Senang kan bisa pulang? Nanti sampai di rumah kita main di kamar Biru yang lucu. Oke?"


"Mas anak kita senang sekali loh di ajak pulang. Lihat senyum-senyum kan?" Shayu memamerkan wajah putranya yang senyum-senyum menggemaskan. Matanya tertutup karena memang sendang tidur tetapi bibirnya senyam-senyum bahkan terkadang tertawa membuat Shayu girang.


"Jagoan Papah suka ya bisa pulang? Tunggu ya Papah selesaikan ini dulu."


"Eh iya Mas, Ibu tidak kesini?"


"Ibu tidak jadi kesini. Tau kamu boleh pulang Ibu langsung belanja terus ke rumah mau buat mongmongan. Bikin nasi urapan gitu loh Yank. Nanti di kirim ke tetangga kamu. Oh iya Sayang, kamu bisa kan bawa anak kita? Aku nyetir soalnya."

__ADS_1


"Bisa Mas, jangan menyepelekan aku. Biasanya juga tak gendong kemana-mana. Jadi biar aku yang gendong Biru, Mas."


Satria sebenarnya tak sampai hati, apa lagi Shayu yang masih merasakan sakit. Belum sembuh benar tetapi apa boleh buat. Harus bisa karena diwajibkan untuk berbagi waktu.


"Ayo Sayang! Pakai kursi roda saja ya ke mobilnya Lumayan jalannya ke depan." Satria bergegas mengambil kursi roda yang Shayu butuhkan lalu membantu istrinya untuk duduk. Keduanya menuju mobil.


"Hati-hati Sayang!" Satria membantu Shayu untuk masuk ke dalam mobil, memastikan anak dan istrinya aman. Barulah dia masuk ke dalam.


...****************...


Mobil sudah memasuki pagar rumah. Terparkir rapi di halaman kemudian Satria bergegas turun untuk membantu sang istri turun.


"Bisa tidak, Sayang? Sama Mas dulu Biru nya. Kamu keluar dulu, Sayang!"


"Iya Mas." Shayu memberikan Biru pada Satria. Setelah itu barulah dia turun dari mobil dengan perlahan.


"Sini Mas Birunya!"


"Duh tidak mau banget ya jauh dari Biru?"


"Hehehe lucu Mas. Berasa lagi main anak-anakan. Cuma bedanya kali ini yang aku asuh harus makan minum sungguhan. Tidak seperti boneka yang makan daun dan air mentah."


Satria tersenyum mendengar celotehan dari istrinya. Dia pun segera memberikan Biru kembali Shayu lalu melangkah menuju pintu dan mempersilahkan Shayu masuk.

__ADS_1


"Selamat datang Banyu Biru!"


Shayu tercengang melihat ketiga sahabat menyambut kedatangannya dengan penampilan yang aneh-aneh. Arita mengalungkan diapers, topan dengan botol susu yang dijadikan tanduk sedangkan Cakra membawa semua bumbu dapur. Katanya untuk penolak bala tetapi wanginya malah membuatnya ingin pingsan.


__ADS_2