
Bukan lupa atau sengaja, nyatanya memang Shayu sudah merasa nyaman. Melangkah santai ke lemari pakaian dan mengambil dengan pose yang membuat jantung pria berdegup kencang.
Padahal pernah begini, tetapi efeknya tidak sekuat itu. Nampaknya Pak guru kali ini sudah memiliki sinyal yang kuat semenjak Shayu sudah bisa memanjakan si jago.
"Eh, apa sich Mas? Aku cuma mau ambil pakaian ganti bukan niat ingin menggoda kamu. Aku nich masih ngambek loh Mas sama kamu. Lagian baru dua malam sudah minta lagi. Tangan aku saja masih berasa pegel Mas!"
"Ya kan bisa pakai yang lain, banyak cara Sayang. Tinggal pilih mau yang mana, aku manut. Lagian jangan ngambek terus dong, aku kan sudah minta maaf. Tidak kasihan sama aku, nyariinnya seharian. Belum lagi kehujanan, masih banget mau ngambek gitu?"
Shayu menghela nafas berat, dia manatap suaminya yang kini terduduk di pinggir ranjang dengan memasang wajah memelas. Sementara dia masih dengan lilitan handuk memeluk pakaian ganti.
"Tapi jangan gutu lagi ya? Dibohongi pas sayang-sayangnya sakit loh Mas. Seperti makan ikan kena duri. Rasanya mau nangis berhari-hari, makan tidak enak, tidurpun tidak nyaman. Kamu sudah membuat kecewa mendalam."
Tercipta senyum di wajah tampan Satria mendengar kata sayang yang terucap dari bibir mungil yang membuat rindu setiap detik. Satria beranjak dari sana dan melangkah mendekati Shayu. Menarik pinggul sang istri hingga mendapatkan tatapan awas dari pemiliknya.
"Aku juga sayang sama kamu, sudah cinta malahan. Makasih ya atas sayang dan pengabulan maafnya."
Shayu menoleh ke sembarang arah saat pipinya terasa panas. Tepatnya saat ini wajahnya mulai merona. Kelepasan atau keceplosan, niat menjelaskan malah mengungkapkan rasa. Membuat debaran jantung semakin tidak kondusif saja.
"Mas aku mau pakai baju dulu. Sepertinya bukan hanya jago yang terasa kencang. Bapaknya jago juga pelukannya membuat dada aku sesak. Kamu sungguh membuat gelisah, Mas! Jangan terus menempel begini, ingat aku belum lulus sekolah!"
Shayu mencoba untuk melepaskan diri dari Satria dan berlari masuk ke kamar mandi. Pak guru yang satu ini benar-benar membuatnya seperti sedang uji nyali. Apa banget harus dekat-dekat terus, meskipun nyaman tapi jantung terasa mau perang.
"Jangan lama-lama Sayang!" seru Satria dari balik pintu. Bukan berniat ingin menggoda tetapi khawatir sang istri kedinginan. Mengingat pulang basah-basahan. Namun agaknya membuat Shayu geregetan dan semakin enggan keluar kamar mandi. Satria yang mulai mesum, membuat gadis itu jadi takut menghadapi.
"Mengerikan sekali, itu si jago bangun tidak dibangunin tapi tidur minta ditidurin. Bikin Bapaknya makin meresahkan. Ini aku masih berduka, tapi Mas Satria malah terus ngejar. Apa aku tidur dikamar tamu saja ya?"
__ADS_1
Keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan tetapi cukup menarik perhatian. Ternyata dia telah ditunggu-tunggu oleh Satria untuk diajak makan malam yang sudah kemalaman.
"Lama sekali di dalam, kita makan dulu ya sebelum istirahat. Kamu belum makan kan?" Satria segera mendekat dan menuntun Shayu untuk duduk di sofa. Menggeser piring yang hanya ada satu tetapi isinya pas untuk dimakan berdua.
"Aku masih kenyang, Mas. Males makan juga, tadi aku sudah menghabiskan banyak es krim dan coklat. Makan malam bisa membuat aku semakin melar nanti.
"Ndak pa-pa ginuk-ginuk makin ayu."
"Ish, nanti orang-orang tidak percaya jika aku tengah berduka. Ditinggal Papah kok badan makin melebar. Aku emoh maem Mas, bobo saja ya," ucapnya manja membuat Satria semakin gemas. Dia bersyukur sekali hanya dua hari satu malam mendapat jatah uring-uringan karena Shayu yang tengah kecewa. Sekarang sudah bisa kembali melihat wajah cantik yang merengut tapi malah geregetan pengen cium.
"Sedikit aja Sayang, biar Mas suapin ya! Kamu habis hujan-hujanan kalau hanya makan itu nanti malah masuk angin. Jangan menyiksa diri! Gemuk juga mas mau."
Satria menyuapi Shayu yang tak sepenuhnya ingin makan. Rasanya masih enggan dan malas tapi berhubung rayuannya masuk ya sudah akhirnya dia membuka mulut.
"Baru tiga suap loh Sayang, kenyang dari mananya? Habis ini kita bobo, ayo makan lagi!" Satria kembali menyodorkan sendok berisi makanan untuk Shayu tetapi gadis itu menggelengkan kepala kemudian meraih gelas.
Satria hanya bisa menghela nafas pelan melihat Shayu yang masih kehilangan selera makan. Bisa masuk tiga suap saja sudah Alhamdulillah. Sisanya Satria yang menghabiskan. Beruntung mood sudah kembali terjaga dan bisa makan dengan tenang.
Setelah makan dan duduk sejenak membiarkan nasi turun ke tempatnya. Kini kedua pasutri itu sudah menempati ranjang dengan saling merapat. Efek kehujanan baru terasa saat malam sudah semakin larut.
Bukan hanya Satria yang kedinginan tetapi Shayu pun merasakan. Bahkan saat ini malah gadis itu yang lebih dulu menelusup masuk ke dadanya.
"Temperatur AC nya dikecilkan ya," ucap Satria dengan sedikit merenggangkan pelukannya dan meraih remot AC.
Shayu yang merasa enggan melepaskan karena akan terasa udara yang menelusup ke kulit segera merapatkan selimut hingga menutupi pundak.
__ADS_1
"Hanya sebentar Sayang, sini masuk lagi tangannya!"
Shayu tak banyak berbicara, dia merapatkan kembali tubuhnya ke dada bidang Satria dengan tangan masuk ke dalam piyama pria itu. Mengusap lembut hingga menemukan kehangatan.
"Bagaimana bisa Arta yang membawa kamu pulang kemarin? Gak bahaya ta bawa istri orang tanpa ijin?" tanya Satria sebelum keduanya terlelap. Tangannya mengusap punggung Shayu dengan lembut menambah kehangatan dan menciptakan kenyamanan yang Shayu butuhkan.
Cup
"Jawab Dek!" titah Satria dengan gemas.
"Aku baru sadar jika ada panggilan khusus untukku. Dek? Iya Mas Satria," sahut Shayu dengan manja. Bukannya menjawab malah meledek Satria yang membuat pria itu justru menghujaninya dengan banyak ciuman.
"Tangannya Mas!"
"Kamu sudah mulai menggoda, berarti sudah bisa dikondisikan."
"Apa sich Mas, jangan nakal aku ngantuk!" Shayu merapatkan lagi pelukannya agar tangan Satria tak semakin bergerilya. "Arta menemuiku selesai ujian. Awalnya aku menolak, tapi sedikit paksaan dan aku yang penasaran karena dia membawa-bawa nama kamu juga Papah. Ya sudah aku ikut. Ternyata, dia ingin memberitahu aku jika Papah sudah tiada," ucap Shayu lirih. Wajahnya kembali sendu mengingat hari kemarin yang menjadi sejarah besar dalam hidupnya.
"Mas ada rencana lain, Mas tidak mungkin membiarkan kamu terus tidak tau apa-apa. Akan Mas jemput kamu di sekolah. Ternyata kamu malah sudah pulang. Beruntung kemarin Mas tidak menghajar dia, masih bisa menjaga emosi di saat dia dengan leluasa memanipulasi keadaan."
"Justru aku malah mau menemui dia besok, ingin mengucapkan terimakasih pada sang mantan yang masih perhatian. Sepertinya akan lebih baik berdamai, aku juga masih sa_"
"Sa apa, hhm?"
"Sa... Sakit Mas! Kenapa kencang sekali memerahnya? Kamu pikir aku sapi!"
__ADS_1