Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Dibalik Digeser Digoyang-goyang


__ADS_3

Kedua tangan Shayu terkepal dan meninju Cakra jarak jauh. Mungkin jika pemuda itu dekat sudah dia pelintir telinganya.


Kedua mata Shayu terbelalak saat Satria semakin mendekat. Dia menelan kasar salivanya menatap tatapan tajam penuh kemarahan.


"Hukuman apa yang pantas untuk istri nakal, hhmm?"


"Ini di rumah Pak bukan di sekolah, ayolah jangan kaku-kaku sampai menghukum segala. Nanti tumbuh keriput loh wajahnya karena marah-marah, tapi terserah sich. Anda tua saya masih bisa ca...."


"Ca apa?" tanya Satria dengan mengikis jarak, bahkan hembusan nafas Shayu begitu terasa. Gemas sekali dia dengan sang istri yang malah mengoceh seperti beo.


"Ca..." Satria mengulinya lagi dengan menunggu Shayu melanjutkan kata itu.


"Cari pacar lagi, jeng jeng jeng jeng..." Setelah menjawab dengan lirik lagu Shayu segera berlari masuk. Bahaya jika ia terus menanggapi kemarahan Satria. Bisa-bisa kena hukum beneran.


Satria memijit pelipisnya mendengar jawaban dan tingkah sang istri. Dia menggigit gigi atas dan bawah karena begitu gemas menghadapinya.


"Sabar! Namanya punya istri masih muda. Tapi kan masih seger to rasanya?" tanya Bapak yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya.


"Seger apane to, Pak?"


"Ya seger polahe, bikin merem melek to?" Goda Bapak yang kemudian mendekati burung beonya.


"Uwalah dikasih perempuan polahe sampe bulu rontok semua. Seger yo? Kawin wae, bertelur yang banyak ya bestie!" ucap Bapak dengan kedua burung Beo yang kemudian saling berkicau.


"Jangan kalah sama bestinya Bapak! Lihat tuh bulunya sampai brondol gara-gara gaspol terus."


Satria menggelengkan kepala mendengar ucapan Bapak. Dia tau jika Bapak saat ini sedang gencar menggodanya. Satria menghela nafas berat, dia melirik Bapak yang malah ikut-ikutan nyanyi seperti menantunya.


"Manukke-manukke cucak rowo ...."

__ADS_1


Satria segera berlari masuk ke kamar. Dia tak menghiraukan Bapak dari pada ikut pusing nantinya. Sedangkan Bapak saat ini tengah tertawa melihat putranya yang justru memilih menghindar.


Setelah mandi dan sudah rapi Shayu keluar dari kamar mandi dengan mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk. Dia mengerutkan keningnya menoleh ke arah Satria yng kini memasang wajah ditekuk.


"Bapak kenapa? Masih galau gara-gara ditinggal pacaran, hhmm?" tanya Shayu yang kemudian duduk santai di depan meja rias. Dia melihat dari pantulan cermin Satria yang diam enggan menoleh. "Ngambek, seperti anak kecil yang ditinggal Ibunya pergi ke pasar." Shayu membalikkan tubuhnya menatap Pak guru yang sedang merajuk.


"Sebenarnya males menjelaskan, karena pasti nanti Bapak besar kepala. Tapi saya tidak bisa melihat orang galau gegara saya. Sudah bucin ya dengan istri nakalmu ini, Pak guru?" tanya Shayu dengan menaik turunkan alisnya. Dia segera beranjak dari sana dan menyampirkan handuk ke tempatnya.


Satria masih diam, masih enggan menoleh ke arah sang istri dan lebih memilih untuk mengambil ponselnya melihat laporan pekerjaan.


"Saya itu sadar status, makanya bertemu Arta pun hanya untuk mengakhiri bukan untuk pacaran seperti yang Bapak pikirkan," ucap Shayu yang kini melangkah keluar kamar untuk membantu ibu beres-beres rumah sekalian belajar banyak dari Ibu tentang tugas seorang istri.


Satria terdiam, dia tersadar saat suara pintu kamar tertutup rapat kemudian menoleh ke arah pintu tersebut.


"Mengakhiri, berarti mereka sudah..." Satria mengusap kasar wajahnya karena sudah salah paham. "Kenapa dengan diriku ini? Mengapa jadi berbalik baper begini?" Satria menggelengkan kapala dengan merutuki diirnya sendiri. Malu rasanya dengan Shayu, akibat kesal dirinya malah seperti bocah.


"Sepertinya sudah tidak ada lagi, Bu."


"Yang benar Nduk? Satria itu tidak bisa kegigit batu sekecil apapun. Dia akan berhenti makan jika menemukan itu. Makanya Ibu benar-benar harus memastikan jika beras ini sudah bersih," sahut Ibu yang membenarkan kaca matanya meneliti betul-betul beras yang sedang dibersihkan.


"Seperti itu Bu..." Shayu menganggukan kepalanya dan ikut kembali meneliti.


"Iya, sama dengan sifatnya yang tak bisa mendapatkan kebohongan dan pengkhianatan sedikit saja. Dia agak sensitif orangnya, apa lagi jika sudah sayang. Tapi ya memang begitu, seperti nila setitik rusak susu sebelanga. Sama seperti makan nasi yang putih bersih dan manis, tapi akan menghancurkan semua rasa saat ditemukan kerikil kecil yang tergigit dan menyakiti gigi."


"Maka dari itu suatu hubungan harus saling mengerti satu sama lain. Jangan hanya karena kesalahan sedikit merusak seluruh kebaikan dari pasangan kita! Ibu harap Shayu sabar menghadapi anak Ibu ya!"


Shayu tersenyum dan menganggukkan kepala mendengarkan setiap nasihat Ibu. Dia yang haus akan kasih sayang sang mamah, nasihat ibu sangat menghangatkan kalbu.


Malam ini Shayu nampak serius belajar, bukan di atas ranjang lagi tapi di meja belajar milik suaminya. Satria membiarkan Shayu belajar disana agar tidak ketiduran karena besok sudah mulai diadakan tryout.

__ADS_1


"Jika sudah lelah, jangan dipaksakan! Besok pagi bisa dilanjutkan lagi setelah subuh." Satria mendekati Shayu dan meletakkan kedua tangannya dipundak gadis itu. Sontak Shayu melirik tangan Satria hingga matanya yang mulai mengantuk tiba-tiba segar kembali.


Shayu menarik nafas dalam dan segera membereskan meja belajar. Dia tersenyum tipis lalu beranjak dari kursi. Namun tiba-tiba Satria menarik pinggul dan memeluk tubuhnya dengan erat hingga membuat kedua mata Shayu terbelalak.


Satria mengecup leher jenjang Shayu dan berbisik ditelinga gadis itu. Dia tau Shayu tegang saat ini, tatapi sejak kejadian pagi tadi mendadak hati Satria tidak tenang.


"Maaf telah salah sangka dan terimakasih telah memilih hubungan kita."


Shayu menarik nafas dalam mengatur jantungnya yang seperti sedang berada di pacuan kuda. Dia tak membalas tetapi sedikit rileks hingga Satria merenggangkan pelukannya.


"Kanapa? Baru pertama ya dipeluk pria selain Papah?"


Shayu menganggukkan kepala, pelukan Satria membuatnya tak banyak bicara. Namun, mambuat pria itu menahan tawa karena ekspresi kalem Shayu sungguh lucu.


"Berarti bisa donk ketahap selanjutnya?" tanya Satria yang mulai memanfaatkan situasi. Mumpung sang istri mode kalem, ia akan meminta sesuatu yang sejak kemarin belum terlaksana.


"Apa?" lirih Shayu. Ini benar-benar bukan gadis nakal yang Satria temui dan nikahi. Dia tak menyangka pelukannya bisa merubah bocah banyak tingkah menjadi putri solo yang lemah lembut begini.


"Ubah panggilan kamu pada saya ya! Jika di sekolah boleh tapi jika di luar sekolah jangan panggil saya Bapak! Begitupun dengan saya, yang akan membiasakan menyebut aku kamu. Karena ketika di rumah, kamu istri bukan murid."


Shayu terdiam, ekspresi kalemnya masih terlihat tetapi membuat Satria penasaran. Hingga pria itu terus manatap lekat wajah sang istri yang menatapnya lembut.


"Suami memang begini ya? Banyak maunya?" tanya Shayu masih dengan mode kalem tetapi membuat Satria geregetan dengan pertanyaannya.


"Auwh... Sakit," lirih Shayu dengan suara mendayu. "Kok Mas Satria menggigit saya?"


"Kerena kamu mengerjai saya Shayu!"


Hal itu membuat Shayu tertawa sehingga keduanya terlibat aksi kejar-kejaran di kamar dan berakhir di peraduan.

__ADS_1


__ADS_2