Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Lemas


__ADS_3

Satria memeluk erat tubuh sang istri. Memastikannya berulangkali bahwa apa yang ia lihat benar dan bukan halusinasi belaka. Bahkan sengaja merusuh dengan mengecup bibir Shayu dengan panas hingga mendapat balasan.


"Sayang ini benar kamu?" Satria merangkum kedua pipi Shayu dan menatapnya begitu lekat.


"Hhmm..." Shayu menganggukkan kepala bahkan baru berdeham Satria kembali menghujaninya dengan kecupan sampai Shayu tak bisa memberontak karena dekapan sang istri yang begitu erat hingga ia sulit bergerak.


Satria masih tak menyangka jika istrinya tiba-tiba ada di rumah. Ingin rasanya berteriak setelah seharian dibuat galau. Rasa syukur menggebu dalam hati, lega membuncah membuatnya meneteskan air mata.


"Sayang kamu beneran istriku kan? Mashayu Rengganis?"


"Iya Mas, ini aku. Lihat koper itu!" Shayu menunjuk kopernya yang teronggok di depan kamar sebelah.


Satria melihat benda persegi tersebut, kini ia yakin jika yang ia lihat adalah istrinya lalu menoleh ke arah kaki seseorang yang berdiri tak jauh dari koper. Satria melihat ada Cakra yang bersedekap dada bersandar kusen. Adiknya menyugar rambut dengan tatapan meledek.


"Bojomu lho Mas yang mau buat kejutan. Bukan ide aku. Bikin susah tuh! Sudah mau terbang minta turun lagi, untung Pak pilotnya belum tancap gas." Cakra mendadak sewot jika teringat akan kejadian tadi di bandara.


Setelah mendapatkan panggilan dari Shayu, Cakra yang akan menaiki mobil akhirnya meminta Ibu dan Bapak untuk pulang lebih dulu. Sementara dia kembali masuk ke bandara.


Di tangga pesawat, Shayu buru-buru meminta Arta untuk mengantarnya kembali ke pintu keluar. Padahal keduanya baru akan naik, tetapi Shayu tiba-tiba mengurungkan niatnya. Awalnya Arta sempat bingung, tetapi setelah Shayu mengatakan akan kondisinya barulah Arta paham dan segera mengantar Shayu.


Semua terjadi begitu cepat, bahkan Satria tak tau karena Shayu melewati pintu lain yang sudah ditunggu oleh Cakra. Shayu pun tidak lupa mengucapkan terimakasih pada Arta sebelum pria itu berlari kembali untuk masuk pesawat.


Cakra mengurus semua pembatalan keberangkatan Shayu. Memesan taksi untuk keduanya kembali pulang. Sebelumya pun Cakra sudah mengingatkan jika Satria masih ada di dalam tetapi Shayu enggan. Bukan karena tega, tetapi belum sanggup kembali bertemu. Hatinya masih tak karuan hingga Cakra membawanya pulang.


Kembalinya Shayu membuat geger Ibu dan Bapak, bahkan tak menyangka jika Shayu dibawa pulang oleh Cakra. Namun, rasa terkejut berubah menjadi rasa syukur dan hari setelah Ibu Bapak tau jika mereka akan memiliki cucu. Bahkan Cakra memiliki tugas tambahan karena Shayu yang mendadak ingin makan rujak buatan Ibu.

__ADS_1


Satria kembali menoleh ke arah sang istri, dia menatap dengan penuh tanda tanya. Jika tau begitu mengapa bukan dirinya yang dihubungi. Kenapa harus Cakra?


"Maaf Mas, aku takut kamu marah. Sekalian juga mau buat kejutan. Habis dedeknya seperti menolak naik pesawat. Ya sudah aku ajak turun lagi saja. Padahal Arta bersedia menjadi bapak sambungnya."


"Sayang!"


"Sementara saat di sana Mas, aaaakkkhh," pekik Shayu saat tiba-tiba tubuhnya diangkat oleh Satria dan dibawanya masuk. Suaminya begitu gemas dan tak terima dengan ucapannya yang mengundang api cemburu.


Tak ada penyesalan saat memutuskan untuk kembali turun dan menggagalkan rencana yang ada. Shayu berpikir ini adalah jawaban dari keraguannya. Dititipkan nyawa tepat pada saat dirinya akan berangkat. Sungguh manusia hanya bisa berencana.


Satria menurunkan Shayu di belakang pintu dan mendorong istrinya hingga pintu kamar tertutup rapat. Tak lupa juga mengunci pintu membuat jantung Shayu seketika tidak aman.


"Mas.."


"Kepergianmu membuatku hampir gila. Aku pikir kamu tega, pergi dengan kondisi berbadan dua. Bahkan kamu hanya meninggalkan bukti kehadirannya tanpa memberi kesempatan untukku berpamitan. Kamu tau betapa hancurnya aku saat tau kamu benar-benar meninggalkanku?"


"Mas, maafkan aku. Aku tidak setega itu. Maaf jika aku membuatmu begini. Sayang banget ya Mas sama aku?"


"Masih perlu dipertanyakan? Bahkan aku belum makan seharian karna menangisi kalian. Aku cemas Sayang, aku tidak bisa membayangkan bagaimana hari-hari kamu di sana. Please jangan begini lagi, tetap di sisiku apapun yang terjadi. Aku tidak akan memohon untuk kedua kalinya. Aku harap kamu paham dan mengerti," lirih Satria.


Shayu tak menjawab, air matanya mengalir deras dan dadanya begitu sesak. Malam ini ia melihat sendiri begitu lemah suaminya. Entah terbuat dari apa hatinya hingga tega dan hampir meninggalkan pria yang betul-betul sangat mencintainya hanya karena ingin mengejar cita-cita.


Shayu memeluk Satria dengan erat. Dia menyesal dan tak akan egois lagi. Mengerti jika keluarga nomor satu. Terlebih dia hanya memiliki Satria dan keluarganya. Kapok sudah membuat hati suaminya gelisah sampai terlihat tak berdaya.


"Maafkan aku Mas, aku tidak akan pernah pergi lagi. Sungguh, ini yang terakhir aku membuat kamu kecewa."

__ADS_1


Satria tersenyum dengan menyurut air mata. Membalas pelukan sang istri tak kalah erat. Bahagia memang tak mudah, tinggal bagaimana kita bersikap, karena sekeras apapun usaha kita. Semua kembali lagi pada sang ilahi. Yang terpenting bersyukur dan ikhlas, karena kedua itu adalah tahapan teratas setelah sabar.


"Mas mandi ya, biar aku siapkan makan dan baju gantinya."


"Sebentar Sayang, aku mau menyapa malaikat kecilku dulu."


Keduanya masih terduduk di lantai dengan Shayu yang melipat kakinya. Dia menyunggingkan senyum saat Satria ingin mengusap lembut perutnya yang masih rata.


"Aku nggak nyangka akan hamil secepat ini. Kamu senang, Mas?"


"Tentu saja Sayang, hay anak Ayah. Assalamualaikum, maaf Ayah baru tau kehadiran kamu. Sehat terus ya Sayang di perut Bunda sampai nanti kita bertemu. Eh mau dipanggil Bunda apa Mamah?" tanya Satria yang mendongakkan kepalanya menatap wajah sang istri.


"Apa ya Mas? Pantasnya saja dech, kalau Mocan gimana?"


"Mocan?"


"Mommy Cantik," Shayu dengan tersenyum lebar.


Satria menggelengkan kapala, dia begitu gemas dan kembali mencium perut sang istri. Geregetan sekali rasanya, terus merusuh hingga Shayu kegelian.


"Stop Mas! Geli," rengek Shayu tetapi Satria enggan melepaskan. "Mas kamu meresahkan sekali!"


"Kangen Sayang, aku gemas bengat sama kamu." Enggan rasanya melepaskan istrinya bahkan gerakannya semakin nakal hingga Shayu merengek manja.


"Woy, bisa pelan tidak? Kalian membuat tetangga lain tidak bisa tidur. Jika ingin adu body jangan berisik! Bikin iri orang aja!" seru Cakra membuat pergerakan Satria terhenti.

__ADS_1


"Tuh kan Mas jadi ganggu tetangga sebelah. Mandi sana, Mas!"


__ADS_2