
Setiap kali bangun tidur tubuh Shayu rasanya seperti tertindih truk tronton. Efek suami yang mulai menggerayangi setiap malam membuat badan Shayu serasa remuk redam. Padahal hanya meminta jatah susu sebelum tidur. Namun karena Satria yang enggan beranjak dari atas dadanya membuat Shayu seperti ibu menyusui sepanjang malam.
"Mas, kepala kamu saja sudah berat loh. Ditambah badan dan kaki kamu yang semalaman tidak mau beranjak dari tubuh aku. Sepertinya aku butuh pijat refleksi, sakit sekali badan aku," keluh Shayu saat keluar dari kamar mandi. Sudah berendam tetap saja tubuhnya serasa pegal-pegal. Mungkin belum terbiasa, ditambah rasa nikmat semalam berganti dengan sensasi panas dan perih setiap pagi.
"Mau aku pijat?" tanya Satria yang mendekat dan lekas mengangkat kedua tangannya.
"Eits, apanya yang mau kamu pijat, Mas? Dadaku sudah membesar setelah semalaman kita menginap disini. Puas sekali sepertinya kamu Mas. Enak ya bisa mendengar lenguhan aku setiap malam?" tanya Shayu dengan mata awas dan menghindari Satria. Dia segera duduk di depan meja rias untuk menyamarkan bekas merah yang setiap malam selalu bertambah.
"Bukan hanya enak, aku pusing mendengarnya. Kamu membuat kepala si jago berdenyut. Cepat lulus Sayang, rasanya sudah ingin meledak."
"Apanya yang mau meledak? Atas atau bawah?" tanya Shayu dengan membalikan tubuhnya dan menatap kepala serta bagian bawah Satria secara bergantian.
"Mulai nakal ya, tuh ngerti banget kayaknya. Semangat ya belajarnya, biar cepat jadi istri aku seutuhnya."
"Kan semalam sudah kenalan sama si jago makanya mulai mengerti. Cuma aneh saja Mas, kok bisa keras. Memangnya bertulang?" tanya Shayu dengan mengerutkan keningnya. Nampaknya pagi-pagi dia sudah membuat Pak guru matematika merasa gemas dan ngilu. Apa lagi tatapan Shayu yang mengarah pada si Jago. Ingin rasanya dia mengurung murid yang berstatus istri itu di kamar sepanjang hari. Agar lebih akrab dengan si jago merah yang mulai resah.
"Kamu anak IPA, masa' tidak tau daging berotot!"
"Aku taunya daging berurat Mas. Lagian baru salaman belum bertemu langsung, tapi aku merinding rasanya. Si jago berkedut gitu, apa itu cara dia berkenalan dan menyapa?"
Satria menarik nafas dalam dan mengeluarkan dengan perlahan. Percakapan model apa pagi-pagi sudah membuat hati tidak tenang. Tubuhnya pun merespon dengan baik karena Shayu membuatnya mengingat kegiatan mereka semalam. Jika begini terus bisa-bisa Satria khilaf dan membuat Shayu gagal ujian karena sulit berjalan.
"Sayang, lebih baik cepat berdandan! Mas mau turun dulu menemui Papah. Jangan sampai kita telat mengantar Papah ke bandara!"
"Mas, tapi kamu belum jawab pertanyaanku loh!"
__ADS_1
"Nanti malam kita menginap lagi disini. Akan aku kenalkan kamu bagaimana bentuk si jago sebenarnya. Agar kamu bisa bermain-main dengan dia," sahut Satria sebelum keluar kamar.
"Oke, biar nggak slek ya Mas."
Satria menghela nafas berat, bukan apa makin kesini ucapan sang istri semakin membuat pikirannya kacau. Satria tidak menjawab, lebih baik segera keluar dari kamar dari pada terus mendengarkan ocehan sang istri yang membuatnya berfantasi liar.
"Ikh, malah dikacangin. Memangnya apa yang salah jika memberi teori terlebih dahulu? Katanya biar aku pintar, dan tak kenal maka tak sayang. Ditanyain kok seperti menahan pusing gitu," gumam Shayu tanpa berdosa. Dia tak tau saja jika telah membuat Satria menahan sesuatu yang berat dalam hidupnya. Sesuatu yang harusnya dilampiaskan tetapi harus terhalang waktu.
Satria menemui Pak Danuaji yang telah menunggu anak dan menantunya di meja makan. Dia tersenyum melihat wajah Satria yang kusut. Beliau tau, ini pasti ulah putrinya yang menguji kesabaran.
"Kenapa kusut begitu? Murid nakal itu kembali membuat ulah?" tanya Pak Danuaji dengan santai.
"Tidak Pah, hanya ada sesuatu saja. Maaf jika wajah Satria membuat Papah kepikiran. Oh iya Pah, pagi ini Papah jadi tebang ke Malaysia dulu?"
"Iya, Nak. Malamnya baru ke Singapura. Jangan lupa pesan Papah ya. Titip anak nakal Papah!" ucap beliau yang mendadak sendu. Tatapannya mulai kabur karena air mata yang mulai timbul.
Pak Danuaji menyurut air mata, beliau tak ingin sampai Shayu melihat jika dirinya tengah bersedih. "Tidak usah Nak, kasian Shayu! Dia akan menghadapi ujian dan butuh support dari kamu. Hanya kamu yang ia miliki saat ini."
Satria menghela nafas berat. Rasanya tak tega membiarkan Papah mertua berjuang sendirian. Sementara istrinya pun sangat membutuhkan dirinya.
"Satria hanya bisa mendoakan agar semua diberi kelancaran. Papah bisa sembuh dan..."
"Sembuh, siapa yang sakit, Mas?"
Deg
__ADS_1
Satria menelan kasar salivanya. Dia menatap Pak Danuaji dengan menarik nafas dalam. Begitupun dengan Pak Danuaji yang khawatir jika putrinya mendengar semua pembicaraan mereka.
Keduanya bungkam, sulit untuk Satria berkelit dan membohongi sang istri. Lidahnya kelu hanya untuk memberi alasan yang menjadi penenang kerisauan.
Shayu terduduk dengan mata penuh selidik. Dia menoleh ke arah Satria dan Pak Danuaji secara bergantian. Ada yang aneh, dan itu membuatnya curiga. Siapa yang sakit? Mengapa suaminya mengatakan kata sembuh?
"Ini loh Sayang, tadi Papah cerita sama Satria, jika pagi ini akan menjenguk teman Papah di rumah sakit Malaysia, sebelum Papah pergi ke Singapura untuk perjalanan bisnis."
Shayu kembali menoleh ke arah Satria, dia menatap suaminya begitu dalam hingga seulas senyum dari pria itu terbit tetapi terkesan kaku.
"Benar begitu, Mas?" tanya Shayu memastikan.
"Iya Sayang, pagi-pagi tidak boleh banyak curiga!" sahut Satria kemudian mengusap kepala Shayu dengan lembut. Pemandangan itu membuat Pak Danuaji menghela nafas lega. Terlebih melihat menantunya memperlakukan putrinya dengan lembut.
"Jika bohong, kamu aku sapih Mas!" bisik Shayu dengan penuh ancaman yang membuat Satria mendadak gelisah. Ternyata makin kesini dia semakin mati kutu jika istri kecilnya sudah mulai memberi ultimatum. Benar-benar the power of istri.
"Sudah, ayo sarapan dan antar Papah! Jangan sampai nanti telat sampai bandara!" ucap Papah menyelamatkan Satria.
Sampai di bandara, entah mengapa Shayu begitu enggan melepas pelukannya. Sejak tadi dia terus menempel di tubuh sang Papah. Shayu seakan melarang Papahnya untuk pergi tetapi tak sampai hati mengutarakan isi hati.
"Papah tidak lama kan? Cepat kembali ya! Shayu pasti akan merindukan Papah." Shayu yang tak pernah menangis setiap kali Papahnya akan melakukan perjalanan bisnis, kini begitu sedih hingga sulit manahan air mata. Mungkin karena tak biasanya sang Papah pergi keluar negeri. Biasanya hanya luar kota dan itu pun hanya sebentar. Namun sekarang Shayu merasa sang Papah akan lama kembali pulang ke negeri tercinta.
"Jangan cengeng calon Ibu. Pokoknya setelah ujian dan lulus sekolah kalian tidak boleh menunda lagi. Buatkan Papah cucu yang banyak. Satu lagi, apapun masalahnya dengan suami. Jangan pernah berpikiran untuk pisah, mengerti!"
Shayu hanya menganggukkan kepalanya. Dia mengusap air mata dan berpindah kepelukan Satria.
__ADS_1
Keduanya melambaikan tangan saat Pak Danuaji melangkah menjauh. Beliau ditemani asistennya membuat Satria sedikit lega.
"Jangan sedih Sayang! Papah akan cepat kembali."