
Shayu terdiam di tempat, sahabatnya sungguh kepo sekali membuatnya gemas ingin mencubit kedua pipi Arita. Shayu menghela nafas berat lalu menoleh ke arah Arita dengan tatapan geregetan.
"Ini memang bukan rumahku Arita, tapi kan Cakra sahabat kita. Jadi anggap saja rumah sendiri. Tuan rumahnya saja diam kok kamu repot sekali!" sewot Shayu kemudian mendengus kesal dengan melempar tatapan tajam. Jari telunjuk dan tengah dia arahkan ke kedua matanya dan kedua mata Arita.
Arita pun sama, dia mengerucutkan bibirnya dengan helaan nafas kasar. Kedua tangannya bersedekap dengan wajah ditekuk. "Jadi aku salah tanya begitu?" tanya dengan polos.
"Sa_"
"Eh ada tamu to, sudah lama Nak?" tanya Ibu yang tiba-tiba datang bersama Bapak. Mereka yang ramai sendiri sampai tak mendengar suara motor Bapak yang sudah pulang.
Shayu mendadak bungkam, dia melirik Cakra yang menyeringai tipis menatapnya. Jika dia saja kena amuk kedua sahabatnya karena tidak jujur, Shayu pun harus merasakan. Biarkan saja mereka tau akan status pernikahan Shayu dan Kakaknya. Toh mereka sahabat sejak lama dan pastinya akan merahasiakannya.
"Iya Bu, main sekalian belajar," jawab Topan yang kemudian mendekati dan menyalami Ibu juga Bapak. Diikuti dengan Arita dan Cakra, sedangkan Shayu melangkah perlahan dengan jantung berdegup kencang.
"Jangan bongkar ya Bu, Shayu mohon. Setidaknya sampai waktunya pas."
Shayu menarik nafas dalam-dalam, sebelum akhirnya meraih tangan Ibu dan menyalami tangan beliau.
Ibu memperhatikan Shayu yang memberi kode dengan kedipan mata sebelahnya dan itu membuat Ibu jadi ikut-ikutan. Shayu menghela nafas berat melihat Ibu yang berusaha mengedipkan mata merespon dirinya.
"Ibu dan Shayu kenapa to? Mata kalian gatal sebelah? Kok begitu?" tanya Bapak dengan mengerutkan keningnya.
Deg
__ADS_1
Shayu memejamkan mata, dia menggigit bibir bawahnya kemudian meraih rambutnya untuk menutupi wajah. Ibu paham, Bapak malah menggagalkan. Bubrah sudah, kedua sahabatnya pun perlahan menoleh ke arahnya dengan mata menelisik tajam.
"Sudah, tidak perlu lagi kamu menutupi! Biar saja mereka tau dari pada kamu capek sendiri," celetuk Cakra. Ucapannya semakin membuat Topan dan Arita curiga. Sedangkan Shayu menunduk dengan wajah tertutup rambut.
Melihat suasana genting begini Ibu menyenggol lengan Bapak dan menatap tajam ke arah beliau. Jika bukan gegara Bapak yang membuka suara tak akan mungkin menjadi seperti ini. Beliau tau saat ini Shayu tengah bingung. Merasa kasihan juga dengan menantu kesayangannya yang kini memilih diam.
"Model piye to, Nduk? Habis kedip-kedip kok sekarang malah seperti Kunti?" tanya Bapak lagi.
Ibu tercengang mendengar pertanyaan Bapak pada Mashayu. Nampaknya memang sang suami sedang tidak fokus. Mungkin karena kurang minum membuat otak beliau kusut.
Cakra menahan tawa begitupun dengan kedua sahabatnya yang lain. Meski Arita dan Topan sedang diliputi rasa penasaran dan curiga. Namun, mendengar ucapan Bapak membuat mereka ingin ngakak. Sedangkan saat ini wajah Shayu begitu merona dibalik rambutnya.
"Sebenarnya ada apa sich, Shay? Ada hubungan apa kamu dengan Cakra? Kok sama orang tuanya terlihat akrab?" tanya Arita dengan menatap Cakra dan Shayu bergantian. Hal itu malah membuat Cakra terbelalak. Dia tidak habis pikir mengapa jadi dirinya lagi yang kena. Begitupun dengan Shayu malah seakan sesak nafas saat dia dianggap ada hubungan dengan Cakra.
"Sudah-sudah, kalian jangan ribut! Ayo dilanjut lagi! Kalian anak Ibu semuanya, jadi ya akrab sama Ibu dan Bapak. Ayo dilanjut belajarnya! Ibu siapkan makanan dulu untuk kalian ya!" ucap Ibu dengan tulus. Beliau membuat situasi kembali terkendali, kemudian menarik tangan Bapak untuk segera masuk dari pada tetap disana dan kembali membuat situasi tambah runyam.
Shayu menghela nafas lega, sementara Arita terus menatapnya dengan tatapan menyelidik membuat Shayu muak.
"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Cakra! Pikiranmu itu loh, lagian mana mungkin aku mau sama dia. Tidur saja masih ngompol!" celetuk Shayu membuat Cakra mendelik tak terima.
"Itu bukan ngompol, tapi mimpi basah!" ketus Cakra membela diri. Hal itu justru membuat ketiga sahabatnya tercengang dengan mulut menganga.
"Tapi Ibu kemarin bilang kasurmu bau pesing! Bukan bau pe_"
__ADS_1
"Kalian?" sahut Arita dan Topan dengan menatap keduanya bergantian.
Sontak Shayu membungkam mulutnya. Dia baru sadar, jika perdebatannya dengan Cakra justru memberitahukan jika mereka memiliki hubungan. Sedangkan Cakra merutuki kebodohan Shayu yang malah kembali membuat ribut.
"Kapokmu kapan!" ledek Cakra dengan kesal. "Sudah cepat jelaskan!" Baginya rahasia sekecil apapun akan terbongkar walaupun sudah menutupinya serapat mungkin. Jujur lebih baik dari pada membuat kedua sahabatnya terus bingung. Apa lagi Arita yang sangat mengagumi sang Kakak, setidaknya dengan dia tau hubungan Shayu dan Kakaknya membuat Arita lebih jaga sikap dan ucapan.
Wajah Shayu merona, dia memijit pelipisnya dengan tubuh mendadak lemas. Mungkin benar kata Cakra, kini saatnya ia jujur dari pada dicurigai memiliki hubungan dengan adik ipar.
"Kalian pacaran? Dan kamu selingkuh dari Arta?" tanya Arita mencecar Shayu dengan pertanyaan-pertanyaannya. "Lalu kamu diam-diam sering kesini? Pantas saja kamu hafal dengan rumah ini. Sikap kamu beda, tidak seperti Shayu yang dulu. Owalah ternyata kalian, kenapa tidak jujur dari awal? Kita tidak masalah kalian ada hubungan, ya kan Pan?" Arita menoleh ke arah Topan dan dianggukki dengan pemuda itu. Sedangkan Shayu semakin sesak nafas mendengar pertanyaan yang terus mendesaknya Arita.
Cakra sepertinya tidak bisa tinggal diam, dia berlari ke atas untuk menghadirkan tokoh utama dalam permasalahan yang ada.
"Iya Shay, kita akan menutupinya kok. Tapi ya lebih baik jujur dengan Arta dan minta putus dari dia. Dari pada kamu menyakiti, malah doble masalahnya. Sudahlah besok aku temani kamu untuk jujur dengan Arta ya. Aku mendukung kalian saja. Aku team kamu dan Cakra, pokoknya!"
"Stop!" teriak Shayu dengan memejamkan mata dan kedua tangan meminta untuk Topan dan Arita menghentikan statement yang tidak benar. Kepala Shayu pusing sendiri mendengar ucapan mereka.
Seruan Shayu yang kencang itu membuat langkah ibu tetiba terhenti saat membawakan makanan untuk cemilan. Bapak yang sedang dikamar tiba-tiba keluar dan Cakra serta Satria yang menuruni tangga tiba-tiba berlari mendekati.
Shayu membuat geger seisi rumah, sementara topan dan Arita menutup telinga dengan meringis menatap Shayu. Mereka tau kali ini Shayu tidak baik-baik saja. Wajahnya merona dengan manahan kesal.
Shayu menarik nafas dalam, dia menatap Arita dan Topan dengan wajah sengit lalu menoleh ke arah Ibu dan Bapak dan berakhir di Satria yang sudah berada di sampingnya dengan wajah khawatir.
"Mas, masa' aku dikira selingkuh sama Cakra!"
__ADS_1
Semua tercengang melihat Shayu merengek pada Satria dan melepaskan wajah kesalnya dengan mengganti wajah menyek-menyek manja. Terlebih Arita dan Topan, kedua mata mereka mendelik melihat sikap manja Shayu. Bukan hanya itu, sahabatnya pun dengan leluasa memeluk guru mereka.