
"Mas aku masih capek banget loh, sakit, panas, perih. Begitu bikin nagih, eh..." Shayu segera menutup mulutnya. Kedua mata yang tadi masih tertutup rapat seketika terbuka lebar karena ucapannya yang semakin membuat Satria mengusel gemas.
Hari merangkak siang tetapi kedua pasutri yang masih bergumul di dalam selimut enggan beranjak. Jika Shayu sudah sempat terlelap setelah dibuat lemas, berbeda dengan Satria yang marasa tubuhnya masih on saja. Merusuh sang istri dengan peluk-peluk manja dan cium-cium gemas. Terlebih keduanya yang masih polos dengan pakaian yang teronggok mengenaskan di lantai.
"Nagih? Kalau nagih jangan pergi! Tetap disini dan kapan pun bisa," lirih Satria dengan suara berat. Rasanya semakin tidak ingin jauh dari istrinya. Terlebih sudah merasakan surga dunia yang begitu melenakan. Betul-betul dibuat mabuk kepayang dan enggan berjauhan. Bahkan hanya ingin ke kamar mandi saja serasa enggan. Betah sekali Satria menempel manja dengan Shayu.
"Mana bisa begitu. Aduh Mas tangan kamu! Nanti aku balas baru tau rasa."
"Kamu menantang aku?" tanya Satria dengan semangat. Wajahnya berbinar, berseri-seri, dan tampak segar.
"Eh kok semangat bener, aku becanda. Beeecaandaaaa!"
"CK, sekali lagi boleh? Please, si jago belum mau bobo. Katanya buat loyo dulu baru mau bobo. Ya? Lihat saja jika tidak percaya!" Satria membuka selimutnya dan meminta Shayu menengok sendiri keadaan di bawah sana.
Wajah Shayu seketika merona dengan rasa yang entah. Begini ternyata rasanya menikah dan memberi hak pada suami. Jantungnya semakin tidak aman. Malu tapi mau, suaminya pun terus saja merusuh dengan tangan yang sibuk sendiri.
"Mas, aduh aku masih tidak nyaman banget tapi boleh dech, asal temani aku buat pasport ya!"
Satria menghela nafas berat, menimang dan menimbang. Namun, nafsu harus segera disalurkan. Pikiran yang menggangu sepertinya dipikir nanti saja. Yang penting kembali berkunjung dan mengulang kembali sesuatu yang membuat hari ini terasa indah.
"Hhmmm." Satria kembali menyatukan bibir mereka. Kembali meraih manisnya candu dengan tangan tak mau diam. Jangan ditanya bagaimana Shayu sekarang! Sudah pandai membalas dengan tubuh meliuk-liuk menggoda.
Bagaimana Satria tidak minta tambah jika lawannya memainkan peran dengan baik. Membalas setiap sentuhan dan tak malu mengusap, membelai dan mengajak si jago bermain-main.
__ADS_1
"Jago, jalannya yang lurus! Pelan-pelan ya. Itu kiri kanan masih perih."
Satria pun paham, dia bergerak lembut di awal sampai Shayu benar-benar nyaman barulah mengeksekusi sesuai irama hingga suara manja sang istri mengiringi setiap gerakannya yang membuat hawa semakin panas.
Satria memejamkan mata merasakan hal yang luar biasa menembus cakrawala menuju surga dunia. Menikmati setiap pahatan yang tertata rapi dengan begitu indah. Menatap wajah sang istri yang semakin cantik dan membuatnya tambah bergairah. Hingga peluh menetes di tubuh indah itu semakin membuat fantasi membumbung tinggi.
"Sayang..." Satria pun terus bergumam menyapa telinga. Membuat Shayu semakin tak kuasa menahan. Hingga perpindahan posisi membuat Shayu ambruk lebih dulu. Namun, dengan cepat Satria kembali mengambil alih dan kembali berpacu membuat Shayu semakin kewalahan.
Racauan indah semakin terdengar saat semua serasa ingin sampai dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tubuh Satria ambruk setelah mengerang dan menyebut nama istrinya. Untuk kedua kali rasanya masih sangat luar biasa. Mungkin malam nanti kembali minta jatah dan tak akan membuat Shayu nganggur lalu tidur nyenyak.
"Makasih Sayang," ucap Satria yang kemudian mengecup pundak polos sang istri dan turun ke perut yang masih rata dengan sedikit merusuh membuat Shayu yang lemas dengan mata terpejam. Melenguh dan mengerang karena kegelian.
"Mandi yuk Sayang! Aku mandiin, gimana? Setelah ini kita makan siang. Sudah hampir jam tiga loh, Sayang! kasihan perutnya lapar. " Begitu lembut sikap dan perlakuan Satria membuat hati Shayu menghangat. Shayu tersenyum dengan menatap sayu sang suami yang kini mendekapnya dengan erat.
"Hhmm, tapi malu, tapi pengen pipis. Gendong ya!"
"Kamu mikir apa Sayang, hhmm?" tanya Satria dengan menarik hidung Shayu.
"Sakit Mas, kamu ini!" Shayu mengusap hidungnya yang terasa panas. Bibirnya merengut mengundang lebah datang menghisap sari manisnya. Tatapan mata yang menyipit membuat Satria semakin ingin menghujani dengan banyak kecupan. Namun akan jadi bahaya jika diteruskan. Bisa-bisa Shayu merajuk karena tubuhnya layu setelah dihisap habis-habisan.
"Keluar Mas!"
"Aku pikir bersedia aku bantu, Sayang?"
__ADS_1
"Bantuin apa? Jangan lagi, aku capek sekali. Tubuhku rasanya tidak nyaman Mas. Kamu sungguh keterlaluan!"
Satria mengulum senyum melihat tangan Shayu yang masih bergelendot mesra di lengannya. Menyuruh keluar dengan segala keluhan tetapi seperti enggan ditinggal. Sungguh membuatnya tak tahan ingin tertawa.
"Aku atau kamu? Lihat tangan kamu masih begini."
Sontak Shayu melihat tangannya yang masih memeluk lengan Satria. Membuat Shayu buru-buru melepaskan dan membuang muka. Belum lagi tubuhnya yang tak berbalut apapun. Ini memalukan sekali, dia memutuskan masuk ke dalam bathtub dan bersembunyi di dalam air yang sudah terisi kemudian meraih sabun dan aroma terapi.
Melihat gerakan sang istri yang kerepotan dengan sigap Satria membantu. Namun lagi-lagi ia mendapatkan protes dari Shayu yang tiba-tiba memekik terkejut.
"Jago! Mas kamu tuh, pede banget sich. Mau bantu aku tuh gimana gitu loh posisinya. Ambil handuk atau tutupi dulu pakai apa gitu. Itu si jago di depan muka aku. Minta dicaplok apa gimana? Kok ngece!" sewot Shayu yang kini sudah masuk ke dalam bathtub dan Satria yang masih berdiri dengan pede sekali mengambilkan sabun dan kebutuhan mandinya.
Mendengar ocehan sang istri dengan cepat Satria menyambar handuk. Memberikan kembali sabun dan piranti mandi sang istri kemudian memutuskan untuk mandi dibawah guyuran shower
Setelah selesai, Shayu kembali digendong oleh Satria untuk kembali ke kamar. Maklum pagi pertama jadi sulit berjalan. Sebenarnya jika tidak terlalu menggila tidak segitunya juga.
"Makan di kamar saja ya, aku ambilkan. Kasihan kamu jalannya masih sakit gitu!"
"Iya Mas, sama mau susu. Aku butuh banyak asupan untuk menambah tenaga."
"Siap Sayang, tunggu ya!"
Sementara menunggu Satria, Shayu bergerak perlahan memakai pakaian. Dia berulang kali berdecak dan menggelengkan kepala melihat banyak sekali tanda yang dibuat suaminya.
__ADS_1
"Ini sich borongan namanya. Banyak sekali sampai tak terhitung." Shayu kembali duduk kemudian iseng-iseng membuka medsos tetapi tak lama dia terdiam mengingat sesuatu setelah melihat satu gambar yang menarik perhatiannya terlihat jelas di layar ponselnya.
"Bagaimana jika aku..." Shayu menutup mulutnya dengan kedua mata membola sempurna.