Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Ngambek!


__ADS_3

BRAK


Satria dibuat kalang kabut karena sang istri yang merajuk. Perkara nasi pecel Pak Tarno membuatnya harus tidur di luar. Untuk pertama kalinya Satria diusir oleh sang istri dari kamar. Sungguh sangat nelangsa.


"Sayang, jangan gini donk. Besok pagi ya, adanya kan besok. pak Tarno nya sudah tidur. Besok pagi baru jualan. Lebih baik kita goreng bubur ayam aja yuk. Tuh aku sudah beli buburnya, tinggal digoreng saja."


"Nggak mau, kamu makan sendiri saja Mas! Aku mau ngambek sama kamu! Jangan ganggu aku, kamu tidur sana! Jangan lupa pakai selimut karena aku tidak akan keluar untuk membenarkan selimut kamu!"


Lucu sekali istrinya, ngambeknya minta ijin dan tetap perhatian. Satria menghela nafas berat. Pasrah dan segera melangkah menuju sofa. Sial memang, hanya karena istri ngidam di jam kunti membuatnya harus tidur sendiri. Beruntung tadi sudah mendapat jatah. Jika belum pasti sangat tersiksa.


Pagi ini Satria kembali dibuat repot dengan hilangnya sang istri. Masih di jam pagi buta kamar sudah terbuka tetapi istrinya entah kemana. Satria panik, dia menanyakan keberadaan Shayu pada si Mbok tetapi beliau tidak tau. Begitupun dengan penjaga keamanan di pos. Tidak melihat Shayu lewat membuat Satria frustasi. Pasalnya sang istri tengah merajuk. Takut saja istrinya membuat ulah yang bisa membahayakan.


"Ya Allah Sayang kenapa pagi-pagi sudah membuat huru hara sich?"


Satria kembali masuk ke kamar dan mengambil kunci motor. Dia tak peduli dengan penampilannya, muka bantal dengan rambut acak-acakan. Belum lagi dengan pakaian yang ia kenakan. Yang menjadi fokusnya saat ini hanya Shayu, istri tercinta yang pagi-pagi sudah membuatnya khawatir.


Satria melajukan motornya dengan alon-alon. Melipir ke warung-warung makan yang mungkin Shayu kunjungi. Bahkan dia sudah berada di warung pecel yang istrinya inginkan. Namun, tidak menemukan Shayu di sana.


Satria membeli dua bungkus nasi pecel. Dia teringat Shayu yang sangat menginginkan itu sampai dia harus tidur di luar, kemudian kembali melajukan motornya mencari keberadaan wanita hamil itu.


Satu jam muter-muter tidak ketemu, sedangkan Satria yakin jika Shayu pergi tak jauh dari rumah. Mobilnya masih ada di parkiran bahkan di dalam garasi. Terakhir dia yang memarkirkannya di sana.


Berjarak tiga rumah dari kediaman istrinya Satria seperti mendengar suara Shayu. Dia menepikan motornya kemudian segera turun. Satria mencari keberadaan Shayu dengan menatap sekelilingnya tetapi tak dia temukan sang istri.


"Itu suaranya, tapi orangnya kemana?"


"Tangkap Bu, jangan sampai jatuh ke tanah!" teriak Shayu.

__ADS_1


"Nah tuh kan suaranya, tapi kok orangnya nggak ada. Satria melongok ke dalam pintu gerbang tetapi tak ia temukan Shayu di sana. . Satria hanya melihat ada ibu-ibu yang sedang mendongak ke atas dengan tangan siap menangkap sesuatu.


"Astaghfirullah Shayu!" Satria terkejut melihat istrinya sedang berada di atas pohon mangga milik tetangga. Pria itu segara masuk dan mendekati sang istri yang pagi-pagi merusuh di rumah Bu orang.


"Sayang kamu ngapain begitu? Duh Gusti bahaya sekali sich mainnya!" teriak Satria dari bawah. Hatinya ketar ketir sendiri melihat istrinya yang malah tersenyum dan kembali mencari pijakan untuk mengambil mangga yang ia inginkan.


"Mas dari tadi tuh saya capek menangkap mangga yang istri anda jatuhkan. Lihat tuh yang jatuh di tanah. Dia tidak mau, maunya harus jatuh tepat di tangan. Padahal saya tadi mau ke pasar, tidak jadi karena kasihan pas dia bilang jika sedang ingin makan mangga milik saya. Benar Mbak Shayu lagi hamil, Mas?"


"Iya Bu, maaf ya Bu karena ulah istri saya ibu jadi rugi. Ini semua akan saya ganti," ucap Satria yang kasihan pada tetangganya. Dia berjanji akan mengganti kerugian tersebut dan segera meminta Shayu untuk turun.


"Iya Mas, sekalian dibersihkan ya Mas. Ini halaman saya jadi korban. Saya tinggal ke pasar dulu ya," pamit Ibu itu lalu pergi ke pasar meninggalkan Shayu yang masih berada di atas pohon.


"Tangkap Mas!" teriak Shayu membuat Satria buru-buru menangkap mangga yang dijatuhkan istrinya dari atas.


HAP


"Sayang sudah ayo turun!"


"Iya Mas, satu lagi. Baru dapat tujuh yang mulus."


"Tidak! Ayo cepat turun jika tidak ingin aku jual mangga-mangga ini!" ancam Satria yang pusing sendiri melihat ulah istrinya. Dia berharap Shayu mengerti dan mau turun dari atas pohon. Sungguh melihatnya saja Satria sudah ngeri. Terlebih mengingat ada anak di dalam kandungan sang istri.


Shayu merenggut saat ancaman Satria layangkan. Dia yang sudah bersusah payah dari pagi bangunin orang tidur karena kepingin mangga muda eh malah mau dijual seenaknya.


"Mas tangkap aku!"


Satria tercengang, tadi di suruh menangkap mangga sekarang menangkan istrinya. Sungguh Shayu membuatnya harus ekstra bersabar. Shayu sudah turun di dahan terakhir yang tak begitu tinggi. Bukannya kembali turun dengan hati-hati malah ingin loncat dan memintanya untuk menangkap.

__ADS_1


"Hati-hati, Sayang!"


HAP


Kembali Satria menangkap sesuatu yang membuat tubuhnya hampir jatuh. Kali ini bukan mangga muda tapi istri cantiknya yang pagi-pagi sudah membuat ulah.


Shayu tersenyum melihat wajah suaminya yang merona lalu mengecup pipi Satria dengan gemas kemudian dia turun dari gendongan. Sementara Satria menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Mashayu.


"Ayo kita pulang, tapi sebelumnya aku harus membersihkan dulu semua kekacauan ini." Satria segera mengambil sapu kemudian membersihkan halaman rumah milik tetangganya sedangkan Shayu duduk tak jauh darinya.


"Sayang jangan digigit makannya! Ayo pulang! Kamu ini..." Satria kembali menggelengkan kepala melihat istrinya yang bar-bar. Menggandeng tangan Shayu dengan membawa satu kresek besar buah mangga dari pohon tetangga.


"Kamu belikan aku nasi pecel, Mas?"


"Iya Sayang, kita sarapan dulu baru kamu makan itu mangganya. Jangan seperti ini!" Melihat Shayu menggigit mangga muda itu seketika air liur Satria banjir. Dia tidak membayangkan bagaimana masamnya mangga itu.


"Tapi sayangnya aku sudah tidak ingin, Mas. Mau makan nasi uduk aja. Mampir dulu ya Mas baru pulang."


Mampir, padahal rumah sudah ada di depan mata. Satria memutar balik motornya demi menuruti keinginan sang istri.


"Mas makan sini saja ya. Ramai, enak makan bareng-bareng. Eh tapi tunggu dulu!" Shayu menghentikan pergerakan Satria kemudian melihat penampilan suaminya dari atas sampai bawah. Dia baru sadar jika Satria hanya mengenakan kaos oblong dan celana kolor. Bahkan si jago begitu ketara membuatnya menelan salivanya dengan kasar.


"Kenapa Yank?"


"Dari mana saja tadi kamu, Mas?" tanya Shayu dengan tatapan menyelidik.


"Mencari kamu, beli pecel juga tadi. Kenapa?"

__ADS_1


"Kanapa? Aku yang harusnya bertanya Mas, kenapa kamu memamerkan semua milikku secara cuma-cuma? Ayo pulang! Aku mendadak kenyang," sahut Shayu yang kemudian mengajak Satria pulang. Gemas sekali melihat penampilan suaminya yang menjadi pusat perhatian kamu hawa.


__ADS_2