Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Si Jago


__ADS_3

Malam ini Shayu begitu serius belajar dengan dibimbing sang suami. Satria dengan sabar membantu apa-apa yang istrinya tidak tau. Menjadi guru serta suami dari Mashayu Rengganis sangatlah menyenangkan. Meski kadang berasa menikahi bocah tetapi beberapa bulan semakin dekat dan saling mengutarakan rasa membuat hidup Satria semakin berwarna.


"Kita beneran menginap disini, Mas?"


"Iya, sebelum tidur kan mau berkenalan lebih dalam dengan si jago. Dia diam-diam sudah menanti. Siapa tau setelah berkenalan ujian semakin lancar. Terlebih jika bisa..."


Shayu mengerutkan keningnya, dia menatap Satria dengan wajah serius. Tangannya yang masih memegang pulpen ia ketuk-ketuk ke kening seraya menunggu jawaban dari Satria.


"Jika apa, Mas?"


"Jika bisa membuat si jago keluar," lirih Satria dengan semburat merah diwajahnya. Dia menyesal telah membuat sang istri terus penasaran dan bertanya. Andai tak menjelaskan pun sang istri pasti penasaran dan tetap saja akan mencecarnya. Kadung bicara ya jelaskan sekalian.


"Keluar? Malu donk, Mas! Tidak aneh-aneh ya Mas! Awas kalau kamu keluar kamar tidak pakai celana. Aku tempeleng nanti si jago."


Satria tercengang mendengar ucapan sang istri. Ternyata Shayu memiliki pemikiran lain. Syukurlah dirinya tak perlu menjelaskan tentang proses si jago keluar. Namun, mengapa pemikiran istrinya benar-benar jauh dari ekspektasi.


"Tidak Sayang, sudah teruskan belajarnya. Mas mau ke bawah dulu sebentar. Minta si Mbok buatkan susu untuk kamu."


"Kamu jangan ikut minta buatkan dengan si Mbok ya, Mas!"


"Siap!" Satria mengecup bibir Shayu dan segera melangkah keluar kamar. Sementara gadis itu kembali menyelesaikan materi yang sedang ia pelajari.


Suara ponsel berdering membuat Shayu reflek mengambilnya. Tanpa ia sadar yang diambil itu ponsel milik Satria bukan miliknya. Mungkin karena sedang konsen dengan pelajaran membuat Shayu lupa dengan nada dering ponsel miliknya sendiri.


"Halo assalamualaikum Satria. Ini aku Kinayu, maaf malam-malam menghubungi kamu. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."


Shayu menutup mulutnya, dia melihat layar ponsel yang tertera nama Ayu, kemudian membalik ponselnya. Shayu menepuk keningnya sendiri setelah sadar mengangkat panggilan di ponsel Satria. Namun, tak lama keningnya mengerut. Dia mengingat-ingat siapa gerangan yang menghubungi.


"Ini kan mantannya Mas Satria. Jadi mereka masih..."


"Hallo Satria, kamu mendengar suaraku?" tanya wanita diseberang sana yang bingung kenapa Satria tak kunjung bicara.

__ADS_1


Shayu mendadak panas mengetahui mantan suaminya masih menghubungi. Pikirannya berkecamuk membuatnya merengut. Terlebih saat mendengar suara pintu terbuka. Tatapannya menyorot tajam pada si pelaku utama.


"Kenapa Sayang? Ini susunya di minum dulu!" Satria bingung dengan tatapan tajam Shayu, dia tak merasa melakukan sesuatu mengapa sang istri terlihat merajuk? "Eh ini handphone Mas. Ibu menelpon ya?" tanyanya dengan menyematkan senyuman.


Namun, Shayu segera memberikan ponselnya pada Satria dengan mendengus kesal. "Ini! Ibu Kinayu yang menelpon," jawabnya ketus kemudian beranjak dari duduknya, membereskan semua buku dan memilih untuk naik kasur lalu masuk selimut. Dia tak peduli dengan susu yang Satria bawakan. Hatinya kesal dan tak ingin melihat Satria.


Satria melirik layar ponselnya. "Kinayu..." Dia segera menempelkan ponsel tersebut di telinga kemudian melangkah mendekati sang istri yang sudah dipastikan sedang merajuk.


"Halo Kinayu, ada apa?"


"Eh akhirnya kamu bicara juga. Aku tadi menganggu ya. Sepertinya aku mendengar suara perempuan tadi."


"Oh itu, istri aku." Satria membuka selimut yang menutupi tubuh istrinya dan duduk di pinggir ranjang dengan mengusap kepala sang istri yang sengaja tisur membelakanginya.


"Oh kamu sudah menikah? Syukurlah, kenapa tidak undang-undang? Tau gitu kan aku main ke Semarang sekalian silaturahmi sama Ibu Bapak."


"Memang belum resepsi, baru ijab. Nanti jika sudah resepsi aku akan mengundang kamu dan Pak Yudha. Ngomong-ngomong ada apa menelpon aku?"


Di seberang sana Kinayu menanyakan tentang kesediaan Satria untuk menghadiri acara khitanan putra pertamanya. Acara yang dibuat sang suami cukup mewah maka dari itu Kinayu pun mengundang banyak teman lama dari SMA hingga kuliah.


Satria sibuk menjawab pertanyaan Kinayu dengan terus bertingkah manja dengan sang istri. Memberi kecupan lembut di pipi, telinga hingga leher membuat Shayu tak tahan mengeluarkan lenguhannya. Mungkin wanita diseberang sana mendengar suara manja sang istri, karena tak lama dia mengakhiri panggilan mereka.


Satria meletakkan ponselnya di dekat tangan Shayu, tanda dirinya mengijinkan gadis itu mengecek ponselnya. Agar tak ada kecurigaan apapun yang akan mengganggu rumah tangga mereka.


"Sayang, cemburu ya? Dia hanya mengundang aku diacara khitanan putranya. Kamu juga, datang nanti ya temani aku. Kita ke Jakarta jika waktunya sudah tiba. Sekalian jalan-jalan hitung-hitung honeymoon di ibu kota."


Shayu tak menjawab, ntah mengapa rasanya kok masih mengkel dihati. Hingga Satria yang gemas kembali menghujaninya dengan kecupan lembut dan tangannya yang mulai nakal meraih gundukan yang menantang di bagian belakang tubuh sang istri.


"Mas..."


Akhirnya suara Shayu kembali terdengar dengan manja membuat Satria mengulum senyum. Dia sudah tau sekarang, istri kecilnya sangat mudah terpancing. Sudah pasti mulutnya akan berisik mengeluarkan suara manja yang membangkitkan gairah.

__ADS_1


"Jangan ngambek, Sayang!"


"Siapa yang ngambek? Cuma terkejut saja setelah tau ternyata masih ada komunikasi dengan mantan terindah."


"Baru ini setelah beberapa tahun terakhir, itu pun hanya sebatasnya. Jangan marah! Aku suka kamu cemburu, itu tandanya kamu benar-benar mencintaiku tapi aku tidak nakal Sayang, cuma kamu sekarang dan sampai nanti."


Satria kembali mengecup pipi Shayu dan membalikkan tubuh sang istri hingga kini keduanya saling berhadapan. Dia tersenyum melihat bibir Shayu yang mengerucut dan mengecupnya dengan memberikan sensasi hisapan yang membuat Shayu memukul dadanya.


"Kencang sekali! Sakit tau!"


"Jadi tidak kenalan sama si jago? Mas sudah ganti loh, biar lebih mudah. InsyaAllah besok lancar mengerjakan soal-soalnya karena sudah bersilaturahmi dengan baik dengan si jago."


"Begitu? Mana?" tanya Shayu menantang, padahal dalam hati dia ketar ketir sendiri. Telapak tangannya sudah basah dengan wajah yang sudah pasti merona dan jantung berdegup tak beraturan. Mau bersilaturahmi saja serasa akan meriang.


Dengan semangat Satria membuka kain bagian bawah dan menanggalkannya begitu saja tanpa sungkan dan membuang kesempatan arah.


Mata Shayu terbelalak saat tangannya diarahkan dan mulai menyentuh daging berotot dan berurat secara langsung. Hingga desiran yang diciptakan oleh benda itu membuat jantung Shayu terasa ingin lepas.


"Mas, ini si jago? Kok tegang? Dia deg-degan juga ya seperti aku?"


Satria menghela nafas berat, entah akan menyesal atau malah suka tetapi dirinya merasa tidak sanggup jika Shayu berlama-lama menyentuhnya. Padahal sang istri saat ini saja terlihat takut dan tak berani melihat si jago.


"Iya Sayang, dia tegang kenalan sama kamu. Minta dilihat katanya, tidak sopan jika berkenalan tanpa bertatap muka," jawab Satria dengan suara tertahan.


"Lihat?"


"Hhmm..."


Perlahan mata Shayu turun dan menurut. Dia hampir menjerit melihat si jago untuk pertama kalinya. Tak mengira bentuknya membuatnya ingin loncat dari tempat tidur.


"Emoh aku Mas, kok serem gitu. Lucu sich, tapi aku takut. Dia besar sekali, Mas! Ototnya pun... Gusti, iki makhluk opo to?"

__ADS_1


__ADS_2