Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Jalan Bayi


__ADS_3

Sudah tak sabar rasanya Shayu menunggu putranya lahir dan bisa menimang lalu memakaikan pakaian yang lucu-lucu untuknya. Nama pun sudah dipersiapkan oleh suaminya yang kini semakin sibuk bekerja karena di detik-detik kelahiran putra mereka, Satria memutuskan untuk di rumah. Tetap bekerja tetapi harus menjadi suami siaga.


Semakin kesini semakin perut Shayu membesar. Dia pun mulai melakukan senam dengan panduan YouTube. Shayu malas keluar rumah, terlebih cuaca sekarang yang sangat panas. Apa-apa ia lakukan di dalam rumah.


Seperti pagi ini, setelah Satria berangkat kerja. Shayu sengaja mengepel lantai kamar. Bukan tanpa alasan. Kata ibu mertua bisa mempermudah jalan bayi. Sebenarnya Shayu tak begitu paham, hanya menurut saja agar tak kualat.


"Hay baby, ini Mamah sudah nungging-nungging loh. Ayo jalan, Sayang! Mamah carikan jalan, atau mau pakai gps? Harusnya begitu ya. Bayi jaman now tuh sudah pandai membaca maps. Tidak harus nungging-nungging seperti ini. Ngerjain ini namanya."


Shayu menggelengkan kepalanya tetapi masih terus mengepel lantai meski sambil menggerutu. Terus bergerak mundur dengan goyang-goyang dan bernyanyi ala-ala yang penting happy.


"Ayo Le... Jalan Le... Ibu mu wis pegel Le.."


Shayu mengusap keringatnya yang membasahi kening juga tubuhnya. Di rasa sudah cukup, dia pun segara beranjak lalu melangkah menuju cermin. Melihat bagaimana penampilannya dan perutnya yang sudah agak turun.


"Kamu jalan tidak sich sebenarnya? Kok sama saja." Shayu bergerak miring ke kanan dan kiri melihat perutnya. "Sudahlah, mungkin dia lelah."


Shayu segera membersihkan diri lanjut meminta Si Mbok membuatkan jus melon. Rasanya di siang yang terik, minum jus melon pakai es segar rasanya. Dia pun segera melangkah menuju dapur dengan memegang pinggangnya.


"Mbok.."


"Iya Non. Mau Si Mbok buatkan apa? Makan siang sudah siap, apa mau yang lain?"


"Mau jus melon, Mbok. Pakai es biar seger ya Mbok. Aku capek abis nge-dj," ucap Shayu dengan memperagakan gaya DJ tetapi tak membuat si Mbok. paham.


Si Mbok menggelengkan kepalanya dengan wajah bingung lalu memutuskan untuk segera membuatkan jus untuk Shayu. Tak butuh waktu lama, sat set sat set jadi. Pesanan Shayu siap diserusup.

__ADS_1


"Makasih Mbok cantik," ucap Shayu dengan tersenyum manja.


"Sama-sama Non, kalau butuh apa-apa panggil Si Mbok ya. Mau cuci baju dulu di belakang mumpung panas," ucap si Mbok pamit.


"Siap Mbok."


Shayu pun segera menikmati jus buatan si Mbok lanjut makan siang. Tak ada kegiatan lagi, setelah itu dia melangkah menuju kamar baby yang sudah disiapkan olehnya dan sang suami.


Menghabiskan waktunya disana dengan menata ruangan yang belum selesai. Tema biru mendominasi karena sesuai dengan jenis kelamin bayi mereka. Shayu pun menata ulang mainan yang masih terlihat berantakan hingga ketiduran di sana.


Satria pulang lebih cepat dari bisanya. Sengaja ingin membuat kejutan pada sang istri yang akhir-akhir ini sudah biasa melihatnya pulang malam.


"Kemana istriku? Kok tidak ada, apa pergi? Tapi tidak ada ijin." Satria menghubungi ponsel Shayu tetapi suara deringnya tak jauh dari dia berdiri. Satria menoleh ke arah meja rias kemudian mematikan panggilannya.


"Ponselnya ada, berarti dia tidak jauh. Mau buat kejutan malah aku yang dibuat bingung." Satria kembali keluar kamar. Dia mencari ke kamar calon bayinya. Ada kemungkinan di saat setiap sudut ruangan tak ada, dan benar saja. Shayu tengah tertidur pulas di atas karpet tebal dengan di kelilingi bantal tayo dan teman-temannya.


"Mas sudah pulang?" Shayu melirik jam dinding. "Tumben sudah pulang, Mas?" tanyanya lagi kemudian bangun dari tidurnya lalu bergelayut manja pada Satria.


"Iya, aku kangen kamu. Ke kamar yuk! Aku mau mandi. Mau ikut sekalian tidak?"


"Mau...." Dengan manjanya Shayu mengiyakan. Dia pun rindu bisa memiliki waktu berdua. Hanya sekedar mandi saja merupakan momen yang langka karena kesibukan suaminya.


Keduanya melangkah menuju kamar beriringan. Sesekali Satria mengecup gemas pipi Shayu. Dalam hati dia bersorak gembira kala gayung bersambut. Istrinya dengan semangat mengiyakan ajakannya. Tidak sia-sia pulang cepat karena bisa iya-iya tanpa memaksa.


"Ayo Sayang!" Satria bersemangat sekali. Lelahnya hilang melihat wajah sumringah sang istri. Ototnya seketika melemas setelah tadi begitu kaku memikirkan pekerjaan.

__ADS_1


Keduanya masuk kamar mandi, tak lupa Satria menutup pintu rapat-rapat.


"Mau buka sendiri apa aku bukain, Sayang?"


"Enaknya gimana, Mas?"


"Enaknya sama-sama buka-bukaan."


"Ikh Mas, aku juga tau. Ya sudah lah, aku buka sendiri aja. Sudah tidak sabar juga. Kamu nich malah pakai tanya," ucap bumil yang mendadak sewot.


Baru ingin memulai saja sudah ribut, hingga akhirnya keriwehan mereka berganti dengan suara-suara manja dan erangan yang membuat hawa semakin panas. Bergerak berirama dengan tempo sedang. Membantu jalan lahir yang katanya bisa mempermudah sang istri melahirkan.


"Mas..."


"Iya Sayang, sebentar lagi ya. Masih nanggung."


"Tapi aku rasanya sudah mau meledak, Mas."


"Dikit lagi, Sayang..."


"Mas aku tidak tahan," lirih Shayu dengan suara mendayu. Satria menangkap tubuh Shayu lalu mendekapnya dengan erat, takut Shayu ambruk dan terjatuh. Satria pun mengerang seiring sesuatu yang melegakan ia rasakan.


"Mas kok keluarnya banyak gini, aku seperti pipis?"


"Mungkin lagi beda, Sayang. Lebih puas karena begitu menginginkan"

__ADS_1


"Eh beda beneran, Mas. Ini aman tidak, Mas?"


__ADS_2