
"Ini kalian mau pada jadi apa coba? Menjauh Cakra! Kamu bau sekali. Kenapa aku memiliki sahabat seperti ini? Minggir aku mau lewat. Tak tau sakitnya habis disobek dan dijahit ulang," sewot Shayu.
Ketiga sahabatnya menyingkir dan mempersilahkan Shayu melangkah masuk. Topan dan Arita segera mengikuti karena begitu penasaran dengan baby Biru. Maklum saat berada di rumah sakit Topan dan Arita tidak bisa datang karena kesibukan mereka.
"Gantenge ginuk-ginik. Ikut Tante saja yuk Biru! Biarkan Mamah dan Papahmu mencetak yang baru," ucap Arita dengan menggoda Biru yang kini sedang terjaga.
"Sembarangan! Kamu lah buat sendiri. Jangan ambil cetakanku. Rasakan sana gimana rasanya mengeluarkan kepala manusia. Ma-nu-sia. Camkan itu! Bukan kepala yang lain oke!"
"Haish otakmu itu sudah terkontaminasi, Shayu. Aku paham, tapi mau sama siapa? Nikah saja belum, mau mencetak generasi penerus. Yang ada aku ditudung minggat sama Bapakku."
"Itu dua orang ada. Siapa cepat dia dapat."
Arita menoleh ke arah Topan dan Cakra yang sedang sibuk membuat sesuatu yang akan di kalungkan dikaki Biru. Yang isinya bangle dan teman-temannya.
"Seperti tidak ada yang lain saja."
"Lah, yang mau memang hanya mereka," sahut Shayu membuat Arita mendengus kesal dengan tatapan mata sengit.
"Sekata-kata kamu kalau bicara," ucap Arita yang memilih fokus pada Biru. Namun, tak lama baby Biru diambil oleh Ibu untuk dipindahkan ke kamar. Shayu sengaja masih diam di sana memberikan kesempatan pada sahabatnya untuk bisa mengobrol sedangkan Satria lebih dulu masuk kamar membereskan semua barang-barang yang dibawa dari rumah sakit tadi.
"Nih nanti kalungkan di tangan atau Kaki ponakanku!" Cakra memberikan benda penangkal jin, setan, demit dan semacamnya. Shayu pun hanya menatap datar lalu meletakkannya di meja.
"Kalian sudah makan?"
"Sudah," sahut Topan.
"Pantas tak merengek minta jajan. Terimakasih ya sudah datang. Terimakasih juga untuk kadonya. Jangan lupa basok datang di acara aqiqah Biru. Siapa yang sok sibuk aku doakan cepat menyusulku menikah."
__ADS_1
"Aamiin," jawab ketiganya serentak membuat Shayu menatap jengah ketiganya.
"Ya sudah balik sana! Sudah kenyang kan? Aku mau minta Paksu untuk kelonin aku. Bye..." Shayu dengan santai beranjak dari duduknya sedangkan ketiga sahabatnya tercengang dengan apa yang Shayu katakan.
"Katanya habis disobek terus dijahit ulang, tapi kok mau kelon? Nggak bahaya ta? Kok aku jadi ngilu," ujar Arita.
"Aish... Jangan berpikir terlalu kesana, Sayang! Sesuai permintaan Shayu tadi. Mendingan kamu pulang. Aku antar yuk!" ucap Cakra. Pemuda itu segera merangkul pundak Arita dan mengajaknya segera pulang.
"Eh aku berangkat sama Topan ya pulang sama dia."
"Topan itu menjemput kamu atas permintaan aku karena tadi aku disuruh bantu Ibu antar ke pasar. Sekarang sudah free. Kamu pulang sama aku! Ayo!" ajak Cakra dengan memaksa.
Sementara Topan hanya menggelengkan kepalanya menatap tingkah Cakra yang terang-terangan mendekati Arita. "Sabar Mblo! Kalau jodoh nggak kemana. Agak ditarik ulur biar dapat!" seru Topan yang kini menaiki motornya lalu melaju meninggalkan keduanya yang masih saja berdebat.
Sementara Shayu begitu ceria dan menikmati perannya menjadi Ibu baru. Wanita itu sedang menyusui putranya seraya membelai sayang kepala Biru.
"Lelah ya, Sayang? Mandi terus istirahat ya! Sudah aku siapkan airnya."
"Iya Mas, sebentar lagi. Ini Biru masih nen. Katanya susu Mamah enak."
"Begitu? Boleh coba dong?" tanya Satria dengan tatapan mata menggoda.
"Tidak boleh untuk Papah. Kata Biru nanti rasanya jadi hambar karena sedotan Papah bisa membuat manis-manisnya hilang."
"Bilang saja Biru pelit. Oh iya Sayang. Semua teman sudah diundang untuk acara besok?" Satria mengusap kepala sang istri lalu mengikat rambut Shayu agar tidak jatuh menutupi wajah putranya.
"Sudah Mas. Teman-teman sekolah yang sempat hadir diacara nujuh bulan juga sudah aku undang. Minta tolong Arita tadi. Mas aku mau es kelapa. Siang-siang gini seger banget ya. Sariku habis disedot Biru. Aku butuh ion tubuh, Mas."
__ADS_1
"Boleh nanti Mas carikan. Sekarang kamu mandi biar segar lanjut istirahat."
"Makasih ya, Mas. Kamu the best. Boleh kiss nggak, Mas?"
"Boleh dong Sayang."
Dengan semangat Shayu segera bangkit dari tidurnya lalu mengecup kedua pipi, kening, dan bibir Satria. Shayu mengukir senyum menatap wajah kalem suaminya.
"Makasih untuk semuanya Papahnya Biru. Aku sayang kamu, Mas."
"Sayang banget?"
"Kebangetan malah, apa lagi jika kamu kasih uang. Aduuuhhh ada uang Mas aku sayang."
Satria terkekeh mendengar jawaban istrinya. Gemes sekali lalu mengangkat tubuh sang istri dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
"Cepat mandi, Sayang!"
Setelah menurunkan Shayu di dalam bathtub, Satria segera melangkah keluar kamar mandi. Namun dengan cepat Shayu menarik tangan Satria.
"Ikh Mas, mau kemana?"
"Keluar Sayang, katanya mau es kelapa. Bentar aku belikan dulu ya!"
"Sini aku bilangin, Mas!" Shayu membisikkan sesuatu pada Satria yang membuat kedua mata suaminya berbinar. Satria buru-buru menutup pintu kamar mandi lalu menguncinya.
"Aman Sayang!" Dia menyusul sang istri masuk ke dalam bathtub.
__ADS_1