Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Bobo Sendirian


__ADS_3

Tubuh Shayu luruh ke lantai setelah mendengar suara kamar tertutup dengan kasar. Tangisnya kembali pecah mengingat Satria yang memilih pergi di saat hati sedang runyam. Ingin sekali mengejar tetapi hatinya tak seberani itu. Terlebih kemarahan Satria yang menjadi-jadi. Tak seperti biasanya dan itu membuat nyali Shayu menciut.


"Maaf Mas hiks... Hiks... Hiks..."


Shayu benar-benar tidak tau harus bagaimana dan memilih yang mana. Otaknya seketika tak bisa diajak berpikir setelah melihat kemarahan Satria. Sesak sekali rasanya dibentak-bentak dengan orang yang dia Sayang.


"Papah, Shayu tidak tau harus gimana Pah. Harus mengambil keputusan yang mana. Shayu tidak mau berpisah, tetapi cita-cita aku... Hiks... Hiks..."


Ketukan pintu kamar membuat tangis Shayu tiba-tiba terhenti. Dia mengusap kasar wajahnya dan segera berdiri. Shayu tau siapa gerangan yang mengunjungi kamarnya. Wanita paruh baya yang sangat ia sayangi dan ia anggap seperti Ibu kandungnya sendiri.


"Nduk," panggil Ibu.


Shayu membuka pintu kamar dan segera memeluk beliau dengan erat. Rupanya Ibu sedikitnya tau jika keduanya sedang ada masalah, beliau sengaja menghentikan langkah putranya yang pergi dalam keadaan marah.


Memang perdebatan keduanya tidak terdengar, tetapi wajah Satria sejak tadi Ibu perhatikan hingga beliau memutuskan untuk turun tangan. Bukan untuk ikut campur tetapi untuk menenangnkan kemarahan putranya karena tidak baik pergi saat hati tidak baik-baik saja.


"Mas Satria pergi, Bu. Maafin Shayu, Shayu salah tidak menjelaskan sampai membuat Mas Satria marah. Shayu bingung Bu. Shayu harus bagaimana? Hiks...Hiks..." Shayu kembali menangis. Namun, kali ini ia menangis dipelukan Ibu mertuanya. Menumpahkan segala keresahan hati dan kesedihannya.


"Sabar Nduk! Tenang! Kalian sedang sama-sama emosi. Ibu pun tidak tahu pastinya masalah yang kalian hadapi tetapi sebagai orang tua. Ibu hanya ingin kalian tenang, turunkan ego dan emosi dulu. Satria pergi pun hanya ingin meredam emosinya, bukan untuk meninggalkan kamu. Mungkin dengan begini kalian bisa tenang dan sama-sama berpikir jernih. Bukan perkara mudah memutuskan suatu pilihan, tetapi semua akan menjadi sulit jika tidak ada yang mengalah dan keras kepala."


Setelah mendapat wejangan dari Ibu, hati Shayu sedikit tenang. Dia membersikan diri lanjut rebahan. Berulang-kali Cakra memanggilnya meminta dia untuk makan malam tetapi Shayu enggan. Bagaimana bisa makan jika hati saja sedang galau dan pikiran ruwet. Tidak mungkin bisa ketelan nasi yang sudah capek-capek di masak.

__ADS_1


Sepanjang malam Shayu tak kunjung memejamkan mata. Dia pun enggan untuk turun dari atas ranjang. Shayu terus kepikiran dengan pilihan yang Satria berikan. Selain itu dia pun mencemaskan sang suami. Hingga pagi Shayu memutuskan untuk mencari Satria yang pergi tanpa kabar.


Jika ditanya dia sudah ada pilihan atau belum? Tentunya belum, Shayu masih bimbang dan belum berani memutuskan. Padahal jika dipikir perceraian sudah di depan mata. Namun, Shayu masih berharap bisa berbicara tenang dengan suaminya dan bisa mendapatkan solusi yang terbaik berdua.


"Mau kemana to, Nduk?" tanya Bapak saat melihat Shayu pagi-pagi sudah rapi, menuruni tangga dengan mata sembab.


"Mau mencari Mas Satria, Pak. Shayu pamit ya Pak. Tolong bilang Ibu, takut Ibu mencari." Shayu meraih tangan Bapak dan menyalami beliau dengan takzim.


" Iya, hati-hati ya Nduk. Jika belum ketemu, langsung pulang saja. Nanti juga Satria pulang, tidak mungkin dia ngabur meninggalkan istri cantiknya," sahut Bapak dengan sedikit menggoda.


"Bapak bisa saja, ya sudah Shayu berangkat dulu ya Pak."


Pencarian di mulai dari rumah mertuanya, Shayu pikir mungkin saja Satria pulang dan tidur di sana. Jika dipikir tidak mungkin Satria sudah berada di sekolah karena tidak ada jadwalnya hari ini. Berhubung anak-anak kelas XIII tinggal menunggu hasil.


Benar saja, setelah Shayu mencari kemana-mana dan bertanya dengan tetangga sebelah. Tidak ada anggota keluarga yang pulang. Alhasil dia harus pergi dari sana dengan tangan hampa.


Shayu segera masuk mobil, selanjutnya dia akan mencari ke bengkel. Dia menghela nafas berat dengan kedua tangan mencengangkan kuat setir mobil. Entah harus mencari kemana lagi andai di bengkel pun tidak ada, karena setaunya Satria tak banyak teman. Terbukti dia yang tak pernah telat pulang ke rumah dan hanya pergi untuk urusan pekerjaan.


"Kamu dimana sich, Mas? Kamu mau dendam sama aku atau bagaimana? Begini ternyata rasanya mencari, galau puuuooollll!"


Sampai di bengkel Shayu disambut baik oleh para keryawan suaminya. Mereka tampak ramah membuat Shayu betah membalas sapaan.

__ADS_1


"Ada apa to Mbak pagi-pagi sudah berkunjung? Untung saya sudah bangun, kalau belum kan Mbaknya ndak bisa masuk to?"


"Saya kesini mau mencari Mas Satria, suami saya kesini tidak ya, Mas?"


"Oh Mas Satria, sudah dua hari tidak datang Mbak. Kemarin juga harusnya bertemu klien malah tidak ada batang hidungnya. Kok mencari kesini to Mbak? Bukannya harusnya saya yang mencari ke rumah Mbak?"


Shayu menghela nafas kasar, rasanya Shayu menyerah karena tak tau lagi akan mencari kemana. Dia memijit pelipisnya enggan menjawab pertanyaan karyawan yang kini memperhatikannya.


"Ya sudah Mas, saya pamit. Terimakasih dan permisi." Shayu pamit dari sana lalu segera masuk ke dalam mobil. Dia melajukan lagi mobilnya dengan tetasan air mata yang jatuh ke pipi. Bingung, itulah yang ia rasakan saat ini. Dia tidak tau kemana ia harus pergi, hingga akhirnya Shayu memutuskan untuk menepi di alun-alun kota.


"Sendirian dalam keadaan begini sudah seperti orang hilang."


Shayu duduk disalah satu kursi taman dan memikirkan kembali semua yang terjadi. Ibaratnya mencari hilal yang tak kunjung terlihat. Katakan dia labil, tapi bukannya lebih baik masalah dirembug bareng? Bukan hanya satu pihak yang memutuskan.


Hampir sore Shayu baru pulang ke rumah. Mengabaikan makan, bahkan hanya minum air putih saja. Dia melangkah gontai memasuki kamar dengan Ibu dan Bapak yang hanya diam menatap iba. Mereka kasihan dengan kedua putra putrinya, pernikahan baru seumur jagung tetapi sudah banyak sekali ujian yang menyambut.


Malam ini Satria kembali tak pulang, dan itu membuat Shayu semakin semerawut. Rasanya ingin sekali berteriak dan memanggil suaminya dengan sekuat tenaga, agar orang yang ia cari ntah berada di pelosok mana bisa mendengar suaranya.


"Malam kedua bobo sendirian, kamu dimana to Mas. Apa tidak rindu dengan istri gemoymu ini?"


Shayu tertidur di sofa kamar, dia enggan tidur di kasur sendirian. Menunggu sampai ketiduran, hingga pagi menyapa dia terusik dengan suara lemari yang terbuka. Shayu terjaga melihat siapa gerangan yang pagi-pagi merusuh kamarnya. Membuka mata dengan lebar sampai ia melihat Satria yang sedang mengambil pakaian ganti dengan handuk terlilit di pinggul.

__ADS_1


"Mas, kamu pulang?" tanya Shayu yang segera melangkah mendekat. Dia memeluk Paksu dari belakang dan menempelkan tubuhnya di punggung polos pria itu.


__ADS_2