
Shayu memejamkan mata dengan jantung berdebar kencang. Sang suami ngadhi-ngadhi sekali, bahkan sekarang memanggil seperti keduanya memiliki hubungan yang sangat akrab. Sedangkan yang kedua sahabatnya tau jika hubungan mereka tidak seakur itu.
Buru-buru Shayu melangkah mendekati Satria, membuat pria itu mengerutkan keningnya. Sedangkan ketiga sahabatnya membuka mata lebar-lebar melihat aksi dari Shayu.
"Bapak manggil saya? Shay... Shayu kan?" tanya Shayu dengan memamerkan senyum. "Jadi benar Bapak ini kakak dari sahabat saya, Cakra?" tanya Shayu lagi. Bahkan kini matanya mulai bermain.
Satria menghela nafas kasar melihat tingkah istrinya, terlebih mata Shayu yang kini seperti orang cacingan. Dia tau sang istri tak ingin statusnya diketahui oleh kedua sahabatnya yang lain. Sampai sini Satria paham, jika dibalik tingkah nakal sang istri yang terkesan bar-bar, Shayu bukan orang yang mudah percaya dengan orang lain.
"Ya, Cakra adik saya."
Topan dan Arita menganga dibuatnya, sedangkan Shayu puas dengan jawaban sang suami. Namun, berbeda dengan Cakra yang kini tengah memijit pelipisnya. Dalam hati Cakra merutuki sikap Shayu yang menjadikannya tumbal.
Topan dan Arita bersedekap dada menoleh ke arah Cakra dengan wajah kesal dan tatapan mata menajam. Habis sudah dia akan kena amuk oleh keduanya. Selama ini Cakra enggan memberi tau pada mereka karena memang tak ingin membanggakan diri dengan statusnya yang merupakan adik dari guru idaman sekolah. Belum lagi jika boror dan para fans Satria mengejarnya untuk meminta informasi tentang sang kakak. Hidupnya auto ribet dan Cakra tidak mau terkenal gegara sang Kakak.
Sementara kini Shayu menatap garang sang suami yang hampir membongkar hubungan mereka. Namun di luar dugaan gadis itu, di saat topan dan Arita menghakimi Cakra dan sibuk dengan iparnya. Satria justru menarik tangan sang istri dan membawanya masuk menuju dapur.
"Mas ngapain bawa aku kesini sich? Bagaimana nanti jika mereka tau? Bisa-bisa..."
"Apa kamu malu menjadi istriku?" tanya Satria dengan wajah datar.
Pertanyaan Satria sontak membuat Shayu bungkam. Dia menatap wajah suaminya yang tampak berbeda. Marah? Mungkin, tetapi dia begini karena menjaga. Setidaknya sampai ujian nasional selesai karena Shayu takut jika ada pihak yang memanfaatkan dan membuatnya yang tinggal selangkah lagi lulus sekolah terhalang karena status pernikahan.
"Mas kenapa tidak bisa mengerti akan posisi aku? Mana ada anak sekolah boleh menikah? Jika ketahuan pihak sekolah pasti akan menjadi masalah. Meski umurku sudah cukup tapi aku tidak mau hal itu menjadi penghalang kelulusaku! Katanya mau lihat aku lulus tahun ini? Kamu sudah sangat menunggu dan tidak tahan jika mundur lagi? Terus kanapa malah jadi keras kepala? Atau kepala yang lain pun ikut mengeras hingga mendadak gelisah?"
Satria menghela nafas berat, perkara ucapan Arta membuatnya terganggu. Mungkin karena pernah mengalami kegagalan karena orang ketiga. Ada rasa trauma hingga otaknya tak bisa berpikir jernih.
Satria menarik tubuh sang Istri dan memeluknya erat membuat tubuh Shayu tersentak dengan mulut terbuka.
Belum terbiasa mendapatkan sentuhan dari sang suami, ditambah di depan ada teman-temannya yang datang membuat jantung Shayu bergetar hebat. Ingin berontak tapi kali ini mode kalem sepertinya lebih aman dari pada ketahuan.
__ADS_1
"Maaf," lirih Satria.
Kedua mata Shayu mengerjap berulangkali mendengar kata maaf dari suaminya. Pria itu tidak salah mengapa harus meminta maaf.
"Sebenarnya ada masalah apa, Mas?"
"Tidak ada," jawab Satria singkat dengan merenggangkan pelukannya. Dia merapikan rambut Shayu yang sedikit berantakan dan tersenyum menatapnya. "Belajar yang giat ya! Aku mau lihat kamu menjadi lulusan terbaik tahun ini."
"Banyak sekali maunya," jawab Shayu dengan menyipitkan kedua mata dan bibir mengerucut.
"Akan ada hadiah dari aku jika kamu berhasil mewujudkan itu."
Shayu mengulum senyum dengan memikirkan sesuatu. Kepalanya mendadak dipenuhi banyak pernak pernik yang mungkin akan Satria berikan sebagai hadiah kelulusan. Dia mendadak lupa dengan sahabatnya yang kini mulai masuk ke dalam rumah mencari keberadaannya. Sampai dimana seruan dari Arita membuat kedua matanya terbelalak.
"Shayu!"
Shayu mendadak panik, terlebih bayangan akan seseorang yang berjalan mendekat membuatnya dengan sigap menarik tubuh Satria dan menyembunyikannya.
"Awh.." Kelakuan sang istri membuat kepala Satria terbentur meja dapur. Saat ini dia berjongkok di bawah dekat kaki Shayu. Satria menghela nafas berat, dia harus menekan sabar saat hubungan masih disembunyikan.
"Shay kamu ngapain disini?" tanya Arita yang melangkah mendekati Shayu. Sedangkan Shayu berdiri dibalik meja dapur dengan senyum terukir diwajahnya yang tampak kaku.
"Eh ini Ta, aku mendadak haus, makanya masuk lebih dulu. Kamu mau minum? Aku buatkan sekalian ya buat yang lainnya juga."
Arita mengerutkan keningnya, dia melihat pergerakan Shayu yang begitu lincah seakan berada di dapurnya sendiri. Arita melangkah mendekati tetapi Shayu tiba-tiba menghalangi.
"Aw_"
"Awh awh awh... Kamu disana saja! Terima beres pokoknya. Jangan kesini-kesini, sempit!" titah Shayu melarang Arita untuk mendekat. Perlahan kakinya terangkat karena tak sengaja menginjak kaki Satria hingga pria itu memekik tertahan. Namun, dengan cepat Shayu membungkam mulut pria itu dengan teh celup yang baru ia ambil untuk membuatkan minum.
__ADS_1
Satria mendengus kesal dengan wajah merona sebab menahan ngilu dan sakit di kakinya. Belum lagi mulut yang di bungkam tiga buah teh celup oleh sang istri.. "Kalau bukan istri sudah aku usir, tidak sopan sekali!"
Perlahan Arita mengangguk patuh, dia menggaruk tengkuknya merasa aneh melihat sikap Shayu. Arita melihat kesekitar dapur lalu bergidik mengingat tadi ada suara lain sebelum Shayu berbicara.
"Ya sudah aku ke depan dulu. Kamu baik-baik di sini ya! Jangan lama-lama! Ingat ini bukan rumah kamu sendiri!" ucap Arita mengingatkan sebelum dia berlari keluar dapur.
Shayu bernafas lega melihat Arita yang berjalan menjauh. Hampir saja dia ketahuan tangah menyembunyikan gurunya di balik meja. Tak lama kedua mata Shayu melebar mengingat Satria yang berada di bawah.
"Mas!"
"Hhmm..." Satria menatap jengah wajah sang istri yang meringis ke arahnya. Satria menghela nafas kasar kemudian memberikan poket teh celup kepada sang istri.
Tiga teh celup bergelantungan dengan tali dan merk yang masih terpasang rapi. Shayu melihat ke arah benda yang ia gunakan untuk membungkam mulut Satria tadi dan meraihnya.
"Maaf!"
"Gunakan untuk membuatkan minuman teman-temanmu sana!" ketus Satria dengan berdecak kesal kemudian keluar dari persembunyiannya lalu melangkah menuju kamar.
Shayu menatap Satria yang berjalan tertatih menaiki tangga, kemudian melihat kakinya sendiri yang belum sempat melepas sepatu sekolah karena tadi Satria membawanya masuk tiba-tiba.
"Haish Shayu, durhaka sekali kamu. Marah deh dianya. Huhff.... Gampanglah, dirayu-rayu nanti juga luluh ."
Shayu segera membuatkan minuman untuk sahabatnya lalu membawanya ke ruang tamu. Disana teman-temannya sudah mulai membuka buku. Shayu pun segera bergabung setelah meletakkan nampan berisi minuman di atas meja.
"Lama sekali," celetuk Cakra.
"Iya, berasa rumah sendiri ya?" sahut Topan.
"Kalian ini, bukannya diminum dan mengucapkan terimakasih! Malah komentar saja seperti netizen!" ketus Shayu. Gadis itu segera membuka sepatunya dan meletakkan di rak sepatu. Shayu tidak merasa jika sejak tadi Arita memperhatikan. Menatap Shayu aneh, terlebih saat ini sahabatnya melangkah santai ke arah kamar mandi tanpa bertanya dan permisi.
__ADS_1
"Kamu seperti sudah hafal dengan rumah ini, padahal sebelumnya kita kesini hanya sebatas duduk dihalaman. Kok sikap kamu mengalahkan tuan rumah, Shay?" tanya Arita membuat kedua sahabatnya menoleh ke arah Shayu yang kini menghentikan langkah mendengar pertanyaan itu.