Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Panas Yang Semakin Panas


__ADS_3

"Lagi membicarakan apa?"


Uhuk


Uhuk


Arita yang sedang minum begitu terkejut karena kedatangan mantan gurunya. Terlebih dirinya yang baru saja menghasut Shayu dengan mengiming-imingi cogan kampus. Bisa mampuuus jika Pak Satria mendengarnya. Sementara Shayu dan kedua sahabatnya tengah menahan tawa karena melihat ekspresi Arita dengan wajah yang pucat.


"Sayang.." Seakan tak puas dan sekelebatan mendengar pembicaraan yang mengusik hatinya Satria segera meminta sang istri untuk mengikutinya menuju kamar. Dengan mengkode nampaknya Shayu sudah paham.


"Iya Mas," jawab Shayu dengan menyunggingkan senyum. Dia melihat suaminya yang sudah melangkah menuju kamar. Perlahan beranjak dari duduknya dengan menatap wajah Arita yang memelas.


"Makanya kalau ngomong lihat jam!" ucap Shayu.


"Mana tau suamimu pulang cepat."


"Mungkin firasatnya buruk karena tau istrinya kamu hasut. Ya sudah aku ke kamar dulu. Bisa repot jika paksu ngambek. Kamu harus tanggung jawab! Ini habiskan semua makanannya. Jangan menunggu aku karena aku tak yakin bisa keluar kamar setelah ini!"


Shayu segera melangkah menuju kamar sedangkan Arita dan Topan menggelengkan kepalanya lalu menatap Cakra yang tampak santai dengan ponselnya.


"Masmu bucin akut Cak, tatapannya itu loh menyeramkan sekali," ucap Arita dengan bergidik ngeri.


"Iya, beruntungnya jadi Shayu. Aku ikut senang sahabatku mendapatkan suami yang serius sayang dan cinta dengannya." Topan tersenyum menatap pintu kamar Shayu yang sudah tertutup rapat.


"Mas Satria memang begitu, dia kalau sudah cinta warasnya hilang setengah," celetuk Cakra yang kemudian berdecak lalu kembali fokus dengan layar ponselnya.

__ADS_1


"Apa kamu juga gitu? Kan biasanya nurun. Tapi kok aku ragu," sahut Arita dengan tatapan menyelidik. Dia menatap Cakra yang kini meletakkan ponselnya di meja.


"Kamu mau coba? Ayo jadian!" jawab Cakra santai lalu mengambil serabi lalu memakannya dengan lahap.


"Wegah! Seperti tidak ada yang lain saja. Cigan di kampus masih banyak." Arita kembali meminum es kelapa yang ia beli tadi. Dia memasang wajah masam pada Cakra yang tak digubris oleh pemuda itu.


Sementara di kamar Shayu tengah berdiam diri menunggu Satria keluar dari kamar mandi. Suaminya diikuti malah langsung mandi. Mungkin gerah mendengar ucapan Arita yang menyulut api cemburu.


"Lama sekali sich, Mas? Kamu nggak gitu-gitu dulu kan?" tanya Shayu saat melihat Satria keluar dengan rambut yang basah. Dia curiga karena Satria begitu lama terlebih keluar-keluar dengan rambut basah.


Mendengar pertanyaan Shayu membuat daya tarik tersendiri bagi Satria. Pria itu mendekat lalu memeluk tubuh Shayu dengan erat.


"Gitu-gitu apa, Sayang? Kamu lama-lama membuat aku takut. Tadi membicarakan apa sama teman kamu?" tanyanya. Ternyata pembahasan tentang pembicaraan sahabat sang istri yang tadi sempat membuatnya kesal kembali meminta konfirmasi. Maka dari itu Satria harus mendengar sendiri dari yang bersangkutan sedangkan Shayu tertawa mendengar pertanyaan Satria.


"Kamu takut aku selingkuh?"


"Ikh apa sich, Mas!" Shayu memukul tangan Satria yang masih mendekapnya tepat dengan erat. Gemas sekali mendengar peringatan yang seakan meragukan kesetiaannya.


"Kamu tuh mikirnya begitu. Aku nggak mungkin tertarik dengan jago yang lain jika yang aku punya saja sudah sangat meresahkan. Membayangkannya saja aku tidak mau apa lagi mencari yang baru. Memang bisa gitu main dengan dua jago sekaligus?"


"Sayang, pertanyaan macam apa itu? Kamu mau aku hukum?" ucap Satria dengan gemas. Pertanyaan yang diajukan sang istri sungguh membuat kepalanya mendalam pening. Bayangan akan itu membuat Satria tidak bisa mengabaikan pertanyaan Shayu. Terlebih hati lagi panas-panasnya. Sepertinya mengeksekusi sang istri di saat begini dengan memberi sedikit hukuman itu lebih mujarab sebagai pengobat hati yang gelisah.


"Mas kamu mau apa?" pekik Shayu.


Satria yang sadar jika kamarnya tak kedap suara segera membungkam mulut Shayu yang kini tengah berada dalam gendongan. Membawa wanita hamil itu ke tempat yang semestinya dan mulai membuai sayang dengan kedua tangan menggenggam erat tangan sang istri.

__ADS_1


Sudah sewajarnya memang ketika ada sesuatu yang meresahkan maka di tuntaskan di atas ranjang. Tak mengapa derit ranjang terkesan ramai yang terpenting bisa mengutarakan emosi di tempat yang halal.


"Eh itu tadi suara teriakan Shayu kan?" Arita yang sedang menikmati soto seketika terdiam. Matanya mengarah pada kamar Shayu dan Pak guru yang tertutup rapat. Tampak aman tetapi entah mengapa begitu membuat penasaran.


"Biarkan saja, mungkin pertarungan sudah akan dimulai. Pas dengan cuaca yang panas, tambah panas, semakin nggobyos," jawab Cakra santai. Dia yang sudah paham dengan kegiatan sepasang pasutri yang berujung gitu-gitu saja membuatnya tak heran.


Sama halnya dengan Topan yang malah cekikikan karena paham dengan apa yang Cakra maksud. Dia menoleh ke arah Arita yang masih diam dengan pemikirannya.


"Sudah jangan dipikirkan apa lagi dibayangkan. Nanti kamu pengen malah repot! Pacar saja belum punya apa lagi suami. Mau kamu adu dengan apa, hhm? Kambing?" tanya Topan yang semakin tertawa geli.


"Kamu nich bicara apa? Ya aku paham sekarang. Tapi yang aku pikirkan, bukannya tadi Pak Satria sedang dalam mode galak? Kok bisa begitu di saat emosi. Eh nanti kalau Shayu keluar-keluar babak belur bagaimana?"


"Hay Mas ku bukan monster! Kamu jika belum paham dilarang membayangkan yang tidak-tidak! Atau mau aku ajarkan melampiaskan emosi pada istri bagaimana?" sahut Cakra dengan menatap sengit wajah Arita.


"Ikh, apa tidak ada yang lain selain kamu! Atau jangan-jangan kamu ini sudah sering ya? Sudah sering mengintip dan sering menonton film ncak ncuk? Meresahkan sekali kamu tuh. Aku adukan pada Ibumu baru tau rasa kamu!" sewot Arita pada Cakra.


"Terserah, jika tidak mau ya tidak apa-apa. Aku tidak memaksa," sahut Cakra yang kemudian beranjak dari sana.


"Eh mau kemana, Cak?" tanya Topan saat melihat Cakra beranjak dari duduknya.


"Pulanglah! Aku mau mendengar live music dari tetangga sebelah. Mumpung stok sabun masih banyak. Jadi aman tidak dicurigai Ibu," seru Cakra yang kemudian menaiki anak tangga.


"Aku ikut woy!"


"Pulang! Kamu mau main perang-perangan sama aku?" celetuk Cakra yang kini menghentikan langkahnya di undakan tangga dengan menatap sengit wajah Topan.

__ADS_1


Sebenarnya dia ingin tidur siang karena otaknya masih ngebul setelah tadi mengerjakan banyak tugas, tetapi jika benar kamar sebelah mengeluarkan suara-suara mengerikan. Mungkin kali ini akan dia dengarkan.


"Mumpung gabut, dari pada berdebat terus dengan Arita lebih baik aku angkrem di kamar," gumam Cakra dengan senyum menyeringai.


__ADS_2