Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Hayo


__ADS_3

Shayu buru-buru melangkah mendekati keduanya membuat Satria kalang kabut mengejar sang istri. Istrinya seakan lupa jika sedang membawa perut yang besar. Seperti tak peduli dan tak merasa berat. Jalannya masih begitu lincah hanya demi mendekati adik dan sahabatnya.


"Sayang pelan-pelan jalannya!"


"Tidak bisa to Mas, kalau pelan nanti keburu mereka kabur."


Shayu seakan tak perduli, terus berlari hingga ia mampu meraih kerah keduanya membuat langkah mereka terhenti. Shayu ngos-ngosan dengan sedikit menunduk, sedangkan kedua orang tersebut segera menoleh ke arahnya dengan wajah sewot. Namun, tak lama wajah keduanya berubah tegang.


"Shayu!" lirih Cakra dan Arita.


Shayu mengangkat kepala dengan menyeringai. Dia kembali berdiri tegak menatap keduanya dengan mata menyipit.


"Nah, kalian mau kemana berduaan? Hayo hayo hayo hayo...." Shayu bergoyang dengan tatapan menyelidik.


Sementara Satria tercengang menatap istrinya yang bergerak tak ada lelah. Pria itu menoleh ke kanan dan kiri takut ada yang memperhatikan. Meski bumil Shayu cukup menggoda. Jika dari belakang istrinya tak seperti orang hamil karena perutnya maju membuat bentuk tubuhnya masih nyata terlihat.


Arita dan Cakra pun sama. Mereka ternganga melihat tingkah bumil satu ini. Sungguh sangat meresahkan dan membuat gelisah tetapi mendadak keduanya saling melangkah berjauhan. Cakra ke arah kanan dan Arita ke arah kiri memberi jarak membuat Shayu melongo melihatnya.


"Kok ada aku kalian mendadak musuhan? Kenapa? takut aku minta pajak jadian? Iya? Atau takut ketahuan sedang pacaran? Takut aku aduin ke orang tua kalian?" tanya Shayu dengan bersedekap dada. "Tenang saja, hari ini aku kenyang tetapi entah besok. Pastinya akan aku tagih. Tapi yang jadi permasalahan disini. Kenapa kalian mendadak bisu? Semua serba mendadak, seperti tahu bulat. Ayo jawab!" titah Mashayu dengan wajah datar. Dia menghela nafas berat menatap keduanya yang masih diam.


"Jawab!" ucap Shayu dengan gemas.


"Apa yang mau dijawab? Mana dulu yang kamu mau? Orang disuruh ngomong tapi kamu dari tadi bicara terus tidak bisa diam. Sudah seperti petasan kawinan. Andai ada kucing lewat sudah dipastikan kejang-kejang mendengar pertanyaan kamu yang tiada hentinya," sewot Cakra.


"Cakra!" Satria menatap tajam wajah adiknya. Dia seakan tak terima Shayu dikasar padahal sudah biasa mereka begitu, tetapi Satria yang bucin jelas kesal. Pria itu menarik pinggul sang istri lalu memeluknya dengan posesif sedangkan Shayu sendiri cuek mendengar ocehan Cakra.


"Bojomu Mas!"

__ADS_1


"Kamunya juga biasa saja!"


"Iya-iya."


Cakra menggelengkan kapala dan kembali menatap Shayu dengan mata menyipit. Sementara Arita hanya diam dengan memijit pelipisnya.


"Kamu berharap kita jadian atau menuduh kita ada hubungan?"


"Jelas ada hubungan, iya kan adik iparku yang comel?" Shayu mencolek dagu Cakra dengan gemas karena wajah pria itu ditekuk.


"Sayang!"


"Dikit doang, Mas."


Satria benar-benar harus menekan sabar melihat tingkah sang istri. Ada saja kelakuannya yang membuat Satria pusing kepala.


"Really?" tanya Shayu dengan tatapan menyelidik. Kok aku tidak percaya. Bau-bau baru jadian tuh beda."


Cakra mengendus-endus dirinya hingga ke ketiak membuat Shayu gemas. Begitupun dengan Arita yang malah memukul kepala Cakra karena lama-lama pria itu begitu meresahkan. Mengendus mendekati tubuhnya.


"Auwh... Sakit Ikh!"


"Nyapo? Mau nyusu?" tanya Arita dengan kedua mata melotot.


"Boleh kalau dikasih. Mau banget malahan, seperti Mas Satria yang sekarang makin jadi badannya. Susunya jadi otot ya, Mas? Lihat Masku makin gotot kan?" ujar Cakra dengan santai. Dia membuat kedua mata Arita hampir copot dengan mulut menganga.


"Cakra!" sewot Arita

__ADS_1


Mulut Cakra benar-benar tak ada remnya membuat Satria menggelengkan kepala. Sementara Arita jadi malu sendiri karena ada mantan gurunya yang memperhatikan.


"Ck, kalian menghabiskan waktuku tau tidak? Harusnya sekarang aku sudah sampai di rumah tapi gegara kalian berdua yang lama menjawab membuatku semakin lelah.


"Ck, sudah kamu tuh doakan saja agar kami cepat halal." Cakra merangkul pundak Arita dengan Hata santainya tetapi Arita justru menjauhkan wajah Cakra darinya.


"Bohong Shay, kamu seperti tidak tau saja bagaimana dia. Omongannya suka ngawur," sahut Arita.


"Ngawur itu kamu. Diajak nonton tidak mau. Mana sudah beli tiket. Pakai acara malu segala. Padahal malem Minggu kemarin juga biasa saja."


"Cakra!"


"Ha ha.. Ketahuan. Kalian suka jalan kan?"


"Shay, itu .. "


"Ais sudah Ta! Ucapan Cakra sudah mewakili semuanya. Ya sudah aku mau pulang. Lagian sudah tau jawabannya. Dadah..." Shayu melambaikan tangannya lalu memeluk lengan sang istri. Satria awalnya bingung menatap Shayu, tetapi kemudian menuruti langkah Shayu yang segera ingin pulang.


"Jadi intinya kamu menghentikan kami hanya mau tau itu saja? Padahal belum jelas loh jawabannya," seru Arita.


"Sikap kalian sudah membuatku tau bagaimana perasaan kalian. Ku doakan cepat menuju pelaminan. Bye bye..."


Arita tercengang mendengar ucapan Shayu. Sahabatnya yang satu itu membuatnya semakin sulit. Perlahan Arita menoleh ke arah Cakra yang terus menatapnya dengan menyeringai.


"Cie, dibilang ayo pacaran malah tidak mau. Maunya langsung dilamar po? Ayo!"


"Wegah!"

__ADS_1


"Wegahmu cuma sebatas di mulut tetapi hatimu itu mau. Aku tau Ar," sahut Cakra, dia tertawa melihat Arita yang memutuskan segara pergi.


__ADS_2