
"Rara, aku sudah melihat anak kita. Kenapa wajahnya sangat tidak mirip denganku, atau pun denganmu. Sebenarnya, dia mirip siapa? Jangan-jangan dia mirip dengan selingkuhanmu? Jawab aku, anak siapa ini?!" bentak Rio tanpa mempedulikan tatapan beberapa orang perawat yang masih berada di sana.
"Rio, apa maksud kamu? Itu anak kamu, anak kita. Mana mungkin tidak mirip sama kamu. Aku masih kesakitan, tolong jangan mengada-ada," jawab Rara, tentu dia kesal dituduh yang aneh-aneh oleh suaminya. Padahal, selama ini Rara selalu menjaga kesetiaannya.
"Halah! Jangan berbohong kamu, ya. Jelas-jelas itu bukan anakku. Semua keluargaku tidak seperti itu, kenapa anakku bisa berkulit hitam?" sergah Rio, dia merasa anaknya tidak memiliki kemiripan sedikit pun dengan dirinya.
"Cuma karena itu, Rio? Mungkin ada keluarga jauhmu yang memiliki kulit yang gelap. Aku tidak pernah melakukan sesuatu yang menyimpang. Kalau kamu tidak percaya, tes DNA saja, aku tidak takut!" tantang Rara, air matanya mulai berjatuhan. Sakit hatinya lebih perih ketimbang luka bekas operasi cesarnya saat ini.
"Aku menyesal menikahimu. Anak itu bukan anakku. Aku tidak akan melarikan tes DNA, buang-buang uang saja!" ketus Rio, pergi meninggalkan Rara yang menangis dalam diam. Saking sakitnya, Rara sampai menggigit bibir bawahnya hingga bibir bawahnya ikut berdarah.
'Apa yang kamu katakan, Rio? Itu anak kamu. Aku tidak pernah melakukan pengkhianatan apa pun di belakangmu, Rio! Kenapa kamu setega itu menuduhku melakukan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehku sedikit pun?'
***
Tiga tahun sudah berlalu, selama ini Shanum benar-benar merawat Arsen seorang diri. Tidak ada campur tangan siapa pun, kecuali orang-orang terdekatnya. Selain Shanum, Arsen paling dekat dengan Ibu kost, karena setiap kali Shanum pergi bekerja, Arsen pasti akan dititipkan sama Ibu kost.
Usia Arsenio sudah beranjak tiga tahun. Agar tidak terlalu merepotkan Ibu kost yang sudah sepuh, Shanum sengaja menitipkan Arsen di Day Care. Arsen juga sudah lancar berbicara, dia sangat pintar, seperti anak diusianya pada umumnya. Namun, terkadang Shanum kaget sekaligus terkagum-kagum melihat kepintaran putranya yang melebihi anak seusianya.
"Arsen, apakah selama ini kamu menutupi kepintaran kamu dari Mommy, Sayang?" setiap kali Shanum bertanya seperti itu, Arsen selalu menjawab dengan jawaban yang sama pula.
"Tidak, Mommy. Aku memang sangat pintar. Mommy saja yang jarang memperhatikan putra Mommy ini!" celetuk Arsen, jawaban yang sangat tidak disangka-sangka selalu saja keluar dari mulutnya. Justru, Ibu kost juga sering melaporkan kepintaran-kepintaran Arsen pada Shanum.
Namun, Shanum sukar untuk mempercayainya. Shanum mengira, itu hanyalah pujian Ibu kost untuk anaknya karena Ibu kost terlalu menyukai Arsenio.
"Maafkan Mommy, Sayang. Kamu tahu, Mommy harus bekerja, bukan?" Shanum mengusap lembut kepala putranya.
"Mom, kenapa tidak membeli Papi untuk Arsen? Arsen sangat ingin dipeluk Papi, Mom!" rengek Arsen, dia pasti selalu meminta Shanum untuk membelikannya Papi.
"Kata nenek, kalau Arsen menginginkan Papi, harus bersikap baik. Memangnya, selama ini Arsen kurang baik apa, Mom?" setiap kali membahas ini, Shanum selalu kebingungan. Jika salah berucap, Arsen pasti akan langsung murung. Dia selalu memanggil Ibu kost dengan sebutan nenek.
__ADS_1
"Arsen Sayang, yang nenek katakan itu benar. Selama ini, Arsen juga sangat baik kok. Hanya saja, mungkin Tuhan masih memilih Papi yang baik untuk kita. Arsen harus sabar, dong! Ingat, kan, orang sabar itu pasti disayang...?"
"Disayang Tuhan!" jawabnya semangat.
"Ya sudah, ayo Mommy antar kamu ke sekolah, ya! Belajar yang rajin, ya, Sayang!" Shanum mengecup pipi gembil putranya.
"Siap Mommy!" Arsen tersenyum senang. Saat-saat seperti ini yang membuat Shanum sangat senang. Senyuman Arsen menghilangkan segala duka lara di hati Hot Mommy itu. Sering dia dipandang sebelah mata karena sudah bertahun-tahun suaminya tak kunjung terlihat. Namun, Shanum memilih abai akan pandangan orang lain terhadapnya.
Shanum melajukan sepeda motornya di jalanan yang cukup macet. Shanum buru-buru harus segera ke kantor. Namun, dia tetap harus berhati-hati. Takut jika putra semata wayangnya itu terjatuh dan celaka karena kecerobohan Shanum sendiri. Jika hal itu sampai terjadi, dia pasti akan sangat menyesali hal itu.
Shanum memilih untuk melajukan sepeda motornya perlahan-lahan, mengantarkan Arsen sampai ke Day Care. Entah sudah kali keberapa Shanum melirik jam di pergelangan tangannya. Dia sudah telat, telat sekali lagi Shanum pasti akan dimarahi habis-habisan oleh seniornya. Dia tidak mau hal itu terjadi lagi. Jadi, tidak ada jalan lain selain harus agak mengebut.
"Arsen, peluk Mommy, Nak! Mommy harus mengebut supaya kita tidak terlambat, ya!" ucap Shanum agak berteriak agar Arsen dapat mendengar suaranya yang terbawa angin.
"Baik, Mommy!" Arsen balas berteriak, dia juga takut Mommy-nya tidak mendengar dengan baik karena mengenakan helm.
Shanum melajukan sepeda motornya. Tidak butuh waktu lama, dia sudah sampai di Day Care tempat Arsen biasa dititipkan.
"Jangan telat lagi, ya, Mommy!" Arsen mengaitkan kelingkingnya di kelingking Shanum. Membuat janji dengan Mommy-nya. Shanum hanya tersenyum getir, mengingat entah sudah berapa kali dia mengingkari janjinya sendiri. Bukan tanpa alasan, Shanum terpaksa lembur karena dia terlambat. Anehnya, Arsen tetap memilih untuk percaya meski Shanum sering ingkar.
Setelah memastikan anaknya masuk ke dalam, Shanum berpamitan dan segera melajukan sepeda motornya lagi menuju perusahaan. Di Arthur Group, Shanum bekerja sebagai cleaning servis. Sudah tiga tahun dia membaktikan diri di sana. Walaupun gajinya tidak seberapa, tapi selalu cukup untuk membiayai dirinya dan Arsen.
Shanum berpacu dengan waktu. Tidak ada Arsen lagi yang perlu dikhawatirkan. Untuk mempercepat dia sampai di perusahaan sesegera mungkin, Shanum mengebut sampai tidak terkendali. Dia menarik habis gas motornya, sangat kencang lajunya kini.
Saking mengebutnya dia, Shanum sampai tidak bisa melihat dengan jelas banyak kendaraan yang berjejer di jalanan, semua kendaraan itu berhenti karena lampu merah. Shanum mulai kelimpungan saat sepeda motornya sudah sangat dekat dengan jarak lampu merah, karena kaget dia lupa untuk menekan rem.
"Ji--jika aku menerobos, pasti aku akan menabrak para pejalan kaki itu. Bagaimana ini?" gumam Shanum. Belum sempat dia berpikir panjang, motornya sudah menabrak sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik.
Brakk!!
__ADS_1
Suara dentuman yang cukup keras menggait perhatian semua orang. Sudah menabrak body mobil pun, motor Shanum masih memaksa jalan karena wanita itu masih saja menarik gas.
"Ahhhh!" Shanum berteriak keras. Tubuhnya lemas, apalagi saat didatangi oleh seorang pria yang diduganya sebagai pemilik mobil.
"Nona, kau harus ganti rugi!" ucap pria itu.
"Tu--tuan, bolehkah saya mencicilnya? Sekarang saya sedang buru-buru. Kamu bisa menghubungi nomorku nan--"
"Kami juga buru-buru, Nona. Tapi, tolong selesaikan tanggung jawabmu terlebih dahulu!" ucap pria itu.
"Be--berapa yang harus aku bayarkan?" tanya Shanum, bibirnya bergetar. Dia bukan orang bodoh yang tidak tahu mobil semewah apa yang sudah ditabraknya itu.
"Kau harus membayar sembilan puluh lima juta." Pria itu mengambil kartu nama dari dompetnya. "Hubungi aku secepatnya jika kau sudah menyiapkan uangnya! Berikan kartu tanda pengenalmu!"
"Sembilan puluh lima juta? Kenapa tidak digenapkan menjadi seratus juta saja?" sungut Shanum bermaksud menyindir.
"Ah, itu memang ide yang cukup bagus. Deal! Biaya perbaikannya digenapkan menjadi seratus juta, ya!"
"Aku hanya me--"
"Nona, cepatlah! Sebentar lagi lampu merah akan berganti," desak Leo.
"Baiklah." Shanum mengeluarkan kartu tanda pengenalnya. Dia hanya ingin semuanya cepat selesai untuk sementara waktu dan bisa sesegera mungkin ke kantor.
Arthur yang hanya memperhatikan dari kaca spion mobil, merasa tidak sabar.
Dia membuka kaca mobilnya untuk memanggil Leo.
"Leo, cepatlah!"
__ADS_1
Shanum tertegun, "Ternyata kamu bukan pemilik mobil itu, ya? Tapi, aku merasa tidak asing dengan wajah dan namamu, Tuan. Apakah sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Shanum, matanya menyipit. Menelisik wajah Leo.
****