Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Dia Sangat Mirip Denganmu!


__ADS_3

Arthur membisu dan mematung, matanya menatap ejaan huruf-huruf di depannya dan membacanya dalam hati yang mulai memanas karena kesal.


"Tuan, hutangku padamu sudah lunas. Hubungan pribadi kita juga cukup sampai di sini. Cukup atasan dan bawahan saja, kembali seperti dulu, tidak saling mengenal. Jangan lupa talak aku, Tuan." Itulah pesan singkat yang Shanum kirimkan.


Arthur menggengam ponselnya sangat erat, api kemarahannya mulai meledak-ledak. Rasa tidak terima seakan dicampakkan sangat mendominasi. Arthur ingin marah, tapi dia memiliki caranya sendiri untuk membuat Shanum tunduk padanya.


"Wanita ini, selalu saja membuatku kesal. Berbuat seperti ini, apa dia kira dirinya sangat keren? Mau mencampakkan aku? Cih, jangan harap!" Arthur melempar ponselnya ke sembarang arah, dia memilih tidur daripada memikirkan sesuatu yang menurutnya tidak penting tapi berhasil membuatnya pusing.


***


Pagi datang menyapa, sinar keemasannya membangkitkan semangat setiap insan. Ada yang tersenyum saat sang bagaskara bersinar, ada juga yang memilih bermalas-malasan, menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya. Embun mulai kering, dedaunan yang mulanya layu pun seketika tumbuh subur lagi.


Kicauan burung yang bersahut-sahutan dengan kokokan ayam, membuat indra pendengaran semakin nyaman.


"Mom, kenapa senyam-senyum sendiri, sih?" tanya Arsenio, dia heran melihat Mommy-nya yang sedang berjongkok untuk memakaikan pakaiannya, tapi malah senyam-senyum sendiri.


"Ada yang membuat Mommy senang?" tanya Arsen lagi, dia bukan tipe orang yang suka menebak-nebak.


Shanum mengangguk mengiyakan penuturan putranya. "Tentu saja ada, dong! melihat putra Mommy tumbuh sehat dan pintar, itu juga merupakan sebuah kebahagiaan yang luar biasa!" seru Shanum, tersenyum lagi sambil menaik turunkan alisnya.


"Mommy sedang menggodaku?" Arsen menangkup wajah Shanum, kemudian mengecup pipi Mommy-nya.


"Nah! Kamu, Kenapa tiba-tiba mengecup pipi Mommy? Ikut merasa senang?" tanya Shanum. "Atau, ada sesuatu yang ingin Arsen inginkan?" tanya Shanum lagi, dia sudah sangat hafal dengan tingkah laku putranya.


Arsen terdiam, mata bulatnya berbinar-binar. Menandakan, memang ada sesuatu yang dia inginkan, tapi sukar untuk diungkapkan oleh pria kecil itu.


"Mommy, bolehkah Arsen minta gadget?" Arsen menunduk, dia takut jawaban Shanum mengecewakan harapannya.


"Gadget?" Shanum mengulangi, ditatapnya wajah Arsen yang penuh ketegangan. Seperti sedang menanti jawaban yang membuatnya bisa menyunggingkan senyum senang.


"Arsenio melihat teman-teman yang lain, ya?" tanya Shanum, mengusap puncak kepala putranya.


Arsenio menganggukkan kepalanya. "Benar, Mommy. Tapi, Arsen berjanji. Gadget yang Mommy dibelikan nanti bukan cuma Arsen gunakan untuk bermain game saja!" Arsen menunjukkan dua jarinya sebagai bentuk sedang mengikat janji.


"Lalu, bawa Arsen gunakan untuk apa lagi?" tanya Shanum, seolah sedang menyelidiki putranya itu.


"Sekarang Arsen belum tahu fitur-fitur gadget, Mom. Nanti, setelah Arsen memilikinya, Arsen pasti tau, Mom." Arsen berusaha meyakinkan Mommy-nya.


"Baiklah, nanti Mommy belikan, ya. Kamu tepati janji, kan?"


"Iya, Mom!" Arsen memeluk Shanum, pelukan yang sangat erat dan hangat.


"Ayo, kita berangkat sekarang!" ajak Shanum, menggandeng tangan putranya dan keluar dari kamar kosnya.


Seperti biasanya, Shanum mengendarai sepeda motornya. Saat berada pagar dan hendak pergi, ada seseorang yang menghalangi laju motor Shanum. Terpaksa wanita itu berhenti, alisnya berkerut ketika tahu siapa yang sedang menghadangnya.


"Sha, akhirnya aku benar-benar menemukanmu. Kamu tahu, sudah seminggu ini aku selalu mencari keberadaanmu," ucap Rio, binar-binar kebahagiaan terpatri jelas di wajahnya.

__ADS_1


"Rio, tolong minggir!" Shanum tidak mau mendengar basa-basi dari pria di depannya itu. Sudah cukup sekali, tidak ada yang perlu diulangi lagi.


"Sha, jangan begini. Sudah cukup kamu menghukumku. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu, Sha!" Rio memohon, wajahnya memelas berharap Shanum mengasihaninya.


Hati Shanum sudah tertutup untuk orang-orang di masa lalunya. Jika untuk memaafkan, tentu dia bisa melakukannya. Tetapi, jika untuk kembali bersama atau sekedar mengobrol seakrab dulu, hal itu tidak akan dia lakukan lagi. Goresan luka yang pernah mereka sematkan masih menganga lebar. Perihnya juga masih sangat kentara. Dipermalukan, dicaci, dihina sebagai pelacur, cukup membuat Shanum menderita. Bahkan, mungkin sampai sekarang cap menjijikkan itu masih melekat pada namanya.


"Tuan Rio, tolong pergilah. Aku haus mengantar putraku. Aku juga harus berkerja, mohon pengertiannya." Shanum berucap dengan wajah datar, memalingkan mukanya saat berbicara dengan Rio.


Hal itulah yang membuat kepercayaan diri Rio meningkat. Dia mengira, Shanum enggan melihatnya karena masih menyimpan perasaan seperti dulu. Nyatanya, hanya ada kebencian yang tak akan pernah padam meski tersiram dengan air mata permohonan sekali pun.


"Jangan seperti itu, Sha. Aku tahu, masih ada perasaan yang tersisa untukku. Karena kemarahanmu, makanya seakan kau sangat membenciku. Aku yakin, semuanya bisa terlupakan seiring berjalannya waktu," ucap Rio, dia tidak mau tahu jika kata-katanya sangat tidak pantas untuk di dengar oleh anak-anak seusia Arsenio.


"Kamu tampan sekali," puji Rio, hendak memegang tangan Arsen tapi langsung ditepis oleh pria kecil itu.


"Jangan menyentuhku, Om. Kita tidak saling kenal!" ketus Arsen, mengambil tissue dalam tasnya dan langsung mengelap bekas pegangan Rio di tangannya. Setelahnya, Arsen membuang tissue itu tepat di ujung sepatu Rio.


Sebenarnya melihat sikap Arsen, Rio sangat meradang. Ingin sekali dia mengumpati Arsen yang dianggapnya sebagai anak haram itu. Namun, sebesar apa pun rasa kesalnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Harus ingat, tetap berbuat baik untuk mengambil hati Shanum dan putranya.


"Mommy, ayolah! Nanti Mommy telat bekerja," desak Arsen. Meski dia tidak kenal siapa Rio. Namun, Arsen cukup tahu, Mommy-nya tidak nyaman bertemu dengan pria bernama Rio itu.


"Nak, Om hanya mau berbincang sebentar dengan Mommy kamu, bolehkan?" Rio memasang senyum semanis mungkin. Tetap mengelus dada setelah melihat wajah tak bersahabat Arsen.


"Mommyku tidak suka berbicara denganmu, Om. Kenapa kau masih saja memaksa. Kau mengganggu waktu kami. Tolong menyingkirlah!" ketus Arsen.


"Mommy, ayo! Tabrak saja dia. Bukan salah Mommy kok, salahnya karena menghalangi jalan di saat kita sedang terburu-buru," ujar Arsenio.


"Baik, Sayang." Shanum menghidupkan sepeda motornya. Dia menarik gas, benar-benar menabrak Rio yang masih tak mau memberikan jalan untuk Shanum pergi.


***


Jam istirahat siang pun tiba, Shanum bergegas menuju ke rumah sakit terdekat untuk melakukan test DNA. Meski sangat penasaran dengan hasilnya, Shanum tetaplah harus menunggu. Hasilnya akan keluar satu atau dua hari ke depan.


Shanum membawa rambut yang ditarik paksa dari Arthur, beserta dengan beberapa helai rambut Arsen yang sudah dia siapkan. Shanum juga sudah menyiapkan hatinya untuk segala kemungkinan dari hasil yang keluar nanti. Apa pun hasilnya, Shanum lah yang harus terima, bukankah semuanya tidak akan pernah bisa dirubah? Walaupun harus menghabiskan separuh uang tabungannya, Shanum tetap harus melakukannya.


"Tuhan, aku hanya berharap, bukan Pak Arthur lah Daddy biologis anakku. Aku belum siap untuk kenyataan itu. Entah bagaimana jika memang dia lah Daddy biologis putraku. Aku takut kehilangannya," gumam Shanum, harap-harap cemas dalam perjalan pulang dari rumah sakit.


Di perjalanan, Shanum menyempatkan diri untuk membelikan gadget untuk Arsen. Meski bukan gadget keluaran terbaru, tapi Shanum membelikan yang sangat bagus untuk putranya. Shanum percaya, Arsen tidak akan mengingkari janji dengan hanya bermain game saja.


"Arsen, Mommy sudah membelikan gadgetnya!" Shanum berseru dalam hatinya.


Shanum kembali ke kantor. Dia bekerja seperti biasa, tapi lebih sering masuk lewat pintu belakang. Alasannya, supaya aksesnya bisa lebih cepat. Shanum sangat senang bekerja di Arthur Group, semua orang yang dia kenal sangat baik dan perhatian, Bu Reka misalnya. Walau kerap mengomel karena dia telat, Shanum rasa itu memanglah hal wajar yang harus atasan lakukan untuk mendisiplinkan bawahannya.


Jika Shanum memerlukan sesuatu, Bu Reka dan rekan Shanum yang lainnya pasti akan senang membantu.


Jarum jam berputar sebagai mana mestinya. Tiga puluh menit lagi sudah waktunya pulang, kemudian menjemput Arsenio. Dia tidak tau, Miss Alea sudah membawa Shanum ke Arthur Group.


Hari ini, Miss Alea tidak bisa menemani Arsen menunggu Mommy-nya. Karena kasihan dan merasa bertanggung jawab pada bocah kecil pintar itu, Miss Alea memutuskan untuk mengantarkan Arsenio pulang.

__ADS_1


"Arsen, Miss antarkan kamu pulang saja, ya," tawar Miss Alea.


"Miss, antarkan Arsen ke tempat Mommy bekerja saja, ya?" pintanya. "Arsen ingin melihat Mommy bekerja. Lagipula, kan tidak menganggu, Arsen akan duduk patuh."


"Baiklah, ayo!" ajak Miss Alea mengiyakan.


Setibanya di lobi, Miss Alea duduk di samping Arsen, menggenggam tangan pria kecil itu dengan erat. Takut Arsen pergi dan menghilang.


Kebetulan, Leo yang baru menyelesaikan urusannya di luar, datang untuk menjemput Arthur. Matanya tak sengaja menoleh pada Arsenio yang duduk diam menunggu Miss Alea menghubungi Mommy-nya.


'Siapa anak itu? Kenapa wajahnya sangat mirip dengan Tuan Arthur? Sembilan puluh persen! Wajahnya, matanya, sikap tenangnya.'


Leo melihat ke sekitarnya. Tampaknya, beberapa orang di sana juga merakaan kemiripan antara Arsenio dengan Arthur, CEO mereka. Sebelum menghampiri anak kecil itu, Leo memotret dulu untuk dijadikan barang bukti.


"Hay, kamu sedang menunggu siapa?" tanya Leo, pura-pura bersikap ramah pada Arsenio.


Arsenio yang merasa tidak mengenal Leo pun terdiam, menatap sekilas kemudian buang muka ke arah lain. Dia tidak berniat menjawab pertanyaan Leo sama sekali.


'Sikap dingin dan sombongnya juga sama dengan Tuan Arthur.'


"Apa dia Ibumu?" tanya Leo lagi, tapi Arsenio masih tidak peduli.


"Maaf, Tuan, aku bukan Ibunya. Hanya pengasuhnya di Day Care dan sedang menunggu Mommy-nya," ucap Miss Alea. Sudah beberapa kali menghubungi Shanum, tapi tidak ada jawaban apa pun dari wanita itu. Miss Alea tetap berpikir positif, mungkin Shanum menyimpan ponselnya di loker.


"Mommy-nya? Siapa dia?" tanya Leo.


"Aku lupa siapa namanya. Soalnya, aku selalu memanggilnya dengan sebutan Mommy," jawab Miss Alea, tersenyum ramah.


'Lebih baik aku menunggu di sini saja supaya bisa melihat siapa Mommy-nya,' pikir Leo.


Namun, Leo tidak seberuntung itu. Dering ponselnya menggema. Panggilan dari Arthur dan dia harus segera menjawabnya.


"Leo, di mana kau? Apa masih belum beres urusanmu?" omel Arthur.


"Sudah Tuan, sekarang saya sedang berada di lobi," jawab Leo.


"Cepat ke sini!" Arthur memutuskan sambungan telepon mereka.


"Duh! Sudahlah, lagipula kan ada cctv," ucap Leo.


Dia berjalan cepat ke arah lift, naik ke lantai paling atas dan berjalan cepat masuk ke ruangan Arthur.


"Tuan, aku menemukan sebuah info penting!" seru Leo, dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Apa? Kenapa kau seperti orang terkena penyakit?" Arthur berucap tanpa menatap lawan bicaranya, masih membuka beberapa dokumen yang belum diselesaikannya.


Leo meletakkan ponselnya di atas meja kerja Arthur. "Lihatlah anak itu, wajahnya sangat mirip denganmu. Bukan hanya sekedar, tapi sangat-sangat mirip sekali, Tuan!" seru Leo, meminta Arthur untuk melihat foto Arsenio.

__ADS_1


"Bukan hanya rupanya saja yang mirip, tapi juga sifat dan perilakunya, dingin dan ketus sepertimu!" seru Leo lagi, menggebu-gebu.


*****


__ADS_2