
Entahlah, Mom, Arsen tidak bisa melihat wajahnya. Wajahnya tertutup kabut. Tapi, Arsen tidak mirip sama Mommy. Arsen pasti sangat mirip dengan Daddy, kan?" Arsenio memegang wajahnya sendiri.
Shanum mengangguk sambil tersenyum.
"Entahlah, Sayang, Mommy juga tidak tahu seperti apa rupa Daddymu itu. Tapi, satu-satunya pria yang sangat mirip denganmu hanyalah Tuan Arthur. Apakah benar-benar dia?'
"Ya, kamu benar. Wajah kamu memang sangat mirip dengan Almarhum Daddymu sayang," jawab Shanum, entah sudah berapa banyak kebohongan yang Shanum ucapkan. Kebohongan demi kebohongan selalu tumpang tindih. Berkali-kali Shanum terpaksa harus membuat alasan-alasan palsu supaya putranya bisa mempercayainya.
"Mommy tidak berbohong, kan? Usiaku sudah tiga tahun lebih, Mom. Jangankan keberadaan makam Daddy, foto Daddy pun tidak pernah Mommy tunjukkan pada Arsenio," ucap Arsen sedih, menundukkan wajahnya dengan setetes air mata yang menitik. "Apa Arsen benar-benar tidak boleh melihat seperti apa rupa Daddy?" sambungnya, meremas jemarinya yang berada di bawah selimut.
"Bukan seperti itu, Sayang. Mommy bukan tidak mau memberikannya padamu. Tetapi, Mommy--"
Shanum membisu, dia tidak tahu alasan apa lagi yang harus dikatakan pada Arsenio. Sudah sangat banyak kebohongan yang wanita itu buat sehingga dia bingung sendiri untuk memikirkan kebohongan lainnya.
Sesungguhnya, dia juga sangat bingung mau membawa Arsenio ke makam siapa. Dan, entah foto siapa yang harus Shanum tunjukkan pada Arsenio yang akan diakui sebagai Daddy-nya.
"Selamat sore, jagoan! Kenapa menunduk? Apa kamu sedang bersedih?" tanya Rexa, masuk bersama seorang suster. Jam untuk berkeliling memeriksa para pasien sudah tiba. "Apa ada sesuatu yang sakit? Katakan saja pada Pak Dokter," lanjut Rexa, berusaha untuk menghibur Arsenio.
"Tidak ada yang sakit, Dok. Arsen cuma tidak nyaman berada di sini," jawab Arsen berbohong, dia tersenyum saat bercengkrama dengan Rexa. Benar-benar anak yang sangat dewasa. Tahu situasi.
"Benarkah? Tapi, boleh Dokter periksa, kan?" tanya Rexa bergurau.
Arsenio menganggukkan kepalanya. "Boleh, Dok."
Rexa tersenyum lagi, dia mulai memeriksa keadaan Arsenio. Setelah memeriksa dengan teliti, akhirnya Rexa bisa menyimpulkan keadaan pria kecil itu sehat.
"Kamu sudah sehat sekali. Mau pulang hari ini atau besok?" tanya Rexa, berharap Arsenio mau menginap satu malam lagi di rumah sakit.
"Terserah Mommy saja," jawab Arsenio, melihat Shanum yang mengawasi dari samping.
Karena namanya disebut, Shanum pun ikut tersenyum pada Rexa dan suster yang mendampingi Dokter tampan itu. Dia melihat jam di pergelangan tangannya, sudah pukul setengah lima sore, sudah terlalu sore bagi mereka untuk pulang ke rumah. Apalagi, jalanan yang mereka lewati adalah hutan gelap. Banyak sekali yang Shanum takuti jika melewati jalanan. Sebab, dia hanya berdua dengan Arsenio.
"Arsen, bagaimana kalau kita pulangnya besok pagi saja. Malam ini, kita menginap satu malam lagi di sini, ya. Besok, Mommy yang akan meminta izin pada Miss Alea," tanya Shanum, menanyakan pendapat putranya. Membuatkan Arsen ikut menyuarakan apa yang dia mau.
"Iya, Mom. Kita menginap saja satu malam lagi di sini, ya." Arsenio setuju. Dia tahu, jalan apa yang harus dilewati. Saat petang nanti, terlalu mengerikan jika lewat satu jalan gelap itu.
Mendengar kesepakatan Mommy dan putranya, Rexa tersenyum senang. Memang itulah yang dia harapkan. Diam-diam, Rexa menaruh perasaan pada Shanum yang diketahuinya sebagai single mother.
"Tapi, Mommy harus mengambil sepeda motor kita yang tertinggal di sana. Supaya besok memudahkan kita untuk pulang, Sayang. Arsen tinggal sama Tante suster dulu tidak apa-apa, ya?" izin Shanum, supaya Arsenio tidak mencarinya nanti.
"Baik, Mommy. Tidak apa-apa, pergilah!"
__ADS_1
Mendapat kesempatan emas, Rexa yang sudah menyelesaikan tugasnya menawarkan diri untuk mengantar Shanum mengambil sepeda motornya di area pantai.
"Bu, hari sudah mulai gelap. Sulit menemukan taksi di sini, saya antar saja, ya?" tawar Rexa.
"Maaf, Dok, saya bisa sendirian kok. Saya tidak mau merepotkan siapa pun. Takutnya, nanti Dokter dibutuhkan oleh pasien lain," tolak Shanum, berbicara selembut mungkin agar tidak menyinggung Dokter Rexa yang memiliki maksud baik untuk membantunya.
"Jam kerja saya sudah selesai, Bu. Saya juga mau pulang. Suatu kebetulan vila yang saya tinggali berada di kawasan pantai juga, Bu. Dekat kan cuma beberapa menit, tidak masalah," ucap Dokter Rexa, sedikit memaksa Shanum supaya mau diantar olehnya.
Saat Shanum masih berbincang dengan dokter Rexa, banyak pasang mata yang menatapnya tak suka. Bahkan, banyak juga yang terang-terangan mencibir, termasuk beberapa orang suster yang kebetulan melihat kebersamaan mereka. Merasa kurang nyaman, Shanum pun memilih untuk menerima tawaran Dokter Rexa. Sejak tadi dia berdiri di sana, tidak ada satupun taksi yang melintas. Sudah bisa dipastikan, apa yang Dokter Rexa katakan barusan memang benar adanya.
"Baik, Dok. Sebelumnya, terima kasih untuk tumpangan Anda," ucap Shanum, merasa canggung.
mendengar ucapan terima kasih Shanum, Dokter Rexa tertawa. "Hahaha."
mendengar suara tawa dokter di sampingnya, Shanum hanya melirik sekilas kemudian menundukkan kepalanya. meskipun heran, tapi wanita itu tidak berniat untuk bertanya alasan Dokter Rexa tertawa.
"Terima kasih kamu terlalu cepat, Num," ucap Dokter Rexa sambil menatap wajah Shanum, mereka tiba di depan mobil Dokter Rexa.
"Num?" Shanum mengerutkan dahinya.
"Namamu Shanum Mahira, kan? Aku sudah melihat data-datamu dan Arsenio tadi, maaf aku lancang. Tapi, aku hanya penasaran saja, sih!" ujar Dokter Rexa, buang muka untuk menyembunyikan wajah meronanya.
"Ah iya! Benar juga," potong Dokter Rexa, terkekeh pelan untuk menutupi kegugupannya.
Shanum hanya tersenyum. Walau agak aneh dengan sikap dokter Rexa yang terkesan canggung, tapi, Shanum memilih untuk tidak ambil pusing.
Dokter Rexa sengaja melajukan mobilnya sepelan mungkin. Entah apa maksudnya, hanya dia seoranglah yang tahu. Sepanjang jalan pun, Dokter Rexa terus menerus mengajak Shanum mengobrol.
Selama obrolan mereka masih terkesan normal, Shanum merasa nyaman dan menanggapinya.
"Ehem!" Dokter Rexa berdehem keras, menstabilkan suaranya. Agar pertanyaan yang akan dia ajukan terdengar jelas di telinga Shanum.
"Bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?" tanya Dokter Rexa.
"Tentu saja boleh," jawab Shanum, tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya.
"Aku lihat di datamu tadi, kamu masih single dan tidak pernah menikah. Tapi, Arsenio menggunakan ujung namamu. Apa ... Daddy-nya...?" Rexa ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Takut jika ucapannya akan menyingung Shanum.
Shanum terdiam, sungguh pertanyaan seperti itu membingungkannya. Shanum tidak tahu harus merajut kalimat seperti apa untuk menjelaskan. Setiap kali mendapatkan pertanyaan yang sama, Shanum hanya mampu terdiam sambil tersenyum kecil. Dia tidak mau menjelaskan sesuatu yang sebenarnya sudah orang lain pahami. Apalagi, mengclaim jika Arsenio anak tanpa Daddy dari mulutnya secara langsung, dia tidak menginginkan itu.
"Maaf jika pertanyaanku barusan menyinggungmu. Aku tidak bermaksud seperti itu." Sepertinya, Dokter Rexa merasa bersalah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Dok. Aku sudah terbiasa mendapat pertanyaan serupa. Dan, sampai kapan pun aku tidak bisa menjawab sebuah pertanyaan yang sebenarnya orang itu sudah tau jawabannya," sahut Shanum, tersenyum kecut dengan pandangan yang fokus ke depan.
"Apa sekarang kamu masih single?" tanya Rexa, dia hanya mau memastikan status Shanum.
'Aku memiliki suami. Tapi, kami cuma menikah siri saja. Itupun, akan segera berakhir,' batin Shanum.
Shanum menggeleng. "Tidak. Aku tidak punya suami." Shanum terdiam sesaat. "Tapi, bukankah pertanyaan yang menjurus ke personal seperti ini tidak pantas Anda tanyakan pada Ibu pasien? Apa ini tujuan dari Anda mengantar saya, Dok?" Shanum berbicara tanpa menatap wajah lawan bicaranya.
"Jangan salah paham. Aku menanyakan mengenai personal bukan berarti memiliki maksud jahat. Hanya saja aku--"
"Apa pun alasanmu, kurasa tetaplah tidak pantas. Hubungan kita hanya sebatas Dokter dan pasien. Bahkan, temanku pun tak berani menanyakan hal seperti ini," sela Shanum, dia benar-benar sangat tersinggung dengan ini.
"Maafkan aku," ucap Dokter Rexa, mengehentikan mobilnya tepat di depan sepeda motor Shanum. Tadi Shanum sudah memberikan alamat jelas tempat dia menaruh sepeda motornya.
"Terima kasih untuk tumpangan Anda, Dokter." Shanum tersenyum manis sebagai ucapan terima kasihnya. Saat dia keluar dari mobil, wanita itu langsung merubah raur wajahnya menjadi datar.
"Apa-apaan dia? Pantas saja melajukan mobilnya sepelan itu, supaya bisa mengintrogasiku?" gerutu Shanum.
Shanum langsung membawa sepeda motornya membelah jalanan yang mulai sepi. Tidak ada perasaan takut, dia sibuk memikirkan Arsenio. Semakin pria kecil itu tumbuh besar, semakin banyak dia menuntut sesuatu yang jelas tidak bisa Shanum berikan.
"Daddy?" Air mata Shanum menitik, mengeluarkan rasa perihnya.
Arsenio hanya meminta Shanum membawanya mengunjungi makam Daddy-nya, memperlihatkan foto-foto Daddy-nya supaya Arsenio bisa mengenali wajah Daddy-nya. Tapi, dua hal itu sangat berat dirasakan oleh Shanum. Mengapa? Sebab, semua yang dia katakan tentang Daddy Arsen adalah sebuah kebohongan. Tidak mungkin dia membawa putranya itu ke makam orang lain, menunjukkan foto-foto orang lain yang jelas tidak mirip dengannya. Pasti, Arsenio menyadari akan kejanggalan itu.
"Tidak mungkin juga aku memperlihatkan foto-foto Tuan Arthur. Walaupun tidak mungkin Tuan Arthur ayah kandung Arsenio. Tapi, wajah mereka sangat-sangat mirip," gumam Shanum di tengah kebimbangannya. "Lalu, bagaimana jika Arsen tidak sengaja bertemu Tuan Arthur? Kebohonganku akan terbongkar." Shanum menghela nafas panjang.
Disaat wanita itu sedang dalam kebingungan yang merundungnya, ponselnya kembali berdering.
"Tuan Arthur? Kenapa dia menghubungiku?" Shanum menjawab panggilan dari pria itu, dia tidak mau mencari masalah. Hutangnya masih belum lunas.
"Bersiaplah! Leo akan menjemputmu!" titahnya tanpa basa-basi.
"Menjemputku? Ke mana?"
"Aku mau menagih hutangmu sekarang, datanglah ke sini," ucap Arthur, matanya menerawang jauh memperhatikan keindahan malam.
"Maaf, Tuan, bukan aku tidak mau membayar hutang-hutangku. Tapi, bagaimana dengan putraku. Dia sedang sa--"
"Bawa sekalian dia ke sini. Dua jam lagi Leo akan tiba di sana!"
*****
__ADS_1