Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Bujukan Kenya


__ADS_3

"Nyonya Kenya? A--apakah ada sesuatu?" tanya Shanum, dia tergeragap dengan kehadiran Kenya di depannya.


Kenya mengangguk. "Ada. Kita harus bicara," jawab Kenya sambil menganggukkan kepalanya.


Shanum langsung menatap Arsenio yang juga menatapnya. Mengerti akan apa yang Shanum pikirkan, Kenya langsung tersenyum simpul.


"Kita tidak bicara sekarang, nanti saja selesai kalian makan," ujar Kenya, membuat Shanum langsung tenang sambil mengangguk.


Kendatipun menampakkan ketenangan, Shanum tetap was-was. Hati dan pikirannya sibuk menerka-nerka, kira-kira apa yang mau dibicarakan oleh Kenya sampai harus memilih waktu dan takut didengar Arsenio.


"Oma, mau makan bersama kami juga?" tanya Arsenio, dia begitu senang dengan kehadiran Kenya di sana. Kali ini, dia tidak mengerti suasana hati Shanum yang merasa kurang nyaman karena sedari tadi terus-menerus ditatap tanpa jeda oleh Kenya, terang-terangan pula.


"Apakah Arsen sangat suka makan nasi goreng di sini?" tanya Kenya, dia melirik Shanum kemudian menatap Arsenio lagi. Entah apa arti lirikan matanya barusan, Shanum pun tidak paham.


'Kenapa Nyonya Kenya melirikku seperti itu? Apa dia keberatan aku membawa cucunya makan di pinggir jalan begini? Tapi, walaupun pinggir jalan, tempat ini juga higenis, enak pula,' batin Shanum.


"Arsenio sangat suka, Oma. Dulu, Tante Rima yang pertama kali membawa kami ke sini, Oma!" jawab Arsenio, bercerita ini dan itu pada Omanya, Kenya.


"Tante Rima?" Alis Kenya saling bertautan, dia kembali melirik Shanum.


"Rima, temanku, Nyonya. Dia juga bekerja di Arthur Group, cleaning servis juga," jawab Shanum rinci.


Kenya manggut-manggut. Pesanan nasi goreng mereka ditambah menjadi dua porsi. Satu untuk Kenya, dan yang satunya untuk supir Kenya. Setelah makan, Shanum dan Arsenio pulang ke rumah. Diikuti oleh mobil Kenya dari belakang. Jujur, Shanum merasa sangat tidak nyaman.


Setibanya di rumah, Arsenio meminta untuk langsung tidur. Katanya lelah, entah benar atau tidak, Shanum pun tidak tahu. Tetapi, dia menuruti permintaan putranya itu.


Kenya ikut masuk ke dalam kamar kost Shanum, lihat-lihat kamar kost yang tidak terlalu luas itu. Jika ditinggali dua orang, masih cukup. Tetapi, Kenya tetap merasa tidak rela cucunya tinggal di tempat seperti itu, hatinya teriris. Bagaimana mungkin, Oma dan Daddy-nya tinggal ditempat yang serba mewah, sedangkan Arsenio dan Shanum tinggal di tempat yang sempit.


"Nyonya, Arsenio sudah tidur. Apa Anda mau bicara sekarang?" tanya Shanum, tersenyum manis pada Kenya yang berdiri di depan pintu.


"Apakah cucuku benar-benar sudah tidur?" tanya Kenya memastikan.


"Iya, Nyonya. Arsenio sudah tidur."


"Baiklah. Ayo kita berbicara di mobil saja. Ini masalah pribadi, aku tidak mau ada yang mendengar percakapan ini, tidak baik untukmu dan Arthur, bukan?" ucap Kenya, wajahnya yang datar itu membuat Shanum bingung. Tetapi, dia hanya mengangguk, mengikuti kemauan sang Nyonya.

__ADS_1


'Aku dan Tuan Arthur sudah menikah secara siri. Apakah aku bisa memanggil Nyonya Kenya dengan sebutan Mama mertua?' Shanum terkekeh dalam hati, menertawakan dirinya sendiri.


Mereka berdua masuk ke mobil. Shanum gugup, terang-terangan sekali Kenya menatapnya seolah sedang menilai sesuatu. Apakah mungkin sedang menilai kelayakan dirinya menjadi Mommy Arsenio, seorang anak dari CEO Arthur Group? Namun, meskipun dia tidak layak sekalipun, takdir tetap tidak bisa dirubah. Dirinya tetaplah Mommy kandung Arsenio.


Shanum belum mengenal kepribadian Kenya, sehingga dia takut dan mulai terpikirkan yang aneh-aneh. Takut Kenya akan memberikan segepok uang dengan nilai fantastis supaya Shanum mau menyerahkan Arsenio pada mereka sepenuhnya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Kenya.


"Ti--tidak ada, Nyonya." Shanum menggelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul.


"Jangan panggil aku Nyonya, itu terdengar terlalu baku," ujar Kenya, terkekeh pelan. Baru kali ini Shaum melihat senyum yang terukir di wajah wanita paruh baya itu.


"Lalu, a--apa?" tanya Shanum benar-benar dibuat bingung.


"Sebentar lagi kau akan menjadi menantuku. Arthur dan Clarissa memanggilku dengan panggilan Mama. Jika kau mau menyamakan dengan mereka, tidak masalah. Tetapi, kalau kamu mau membuat panggilan yang berbeda, juga bukan ide yang buruk," pungkas Kenya, tersenyum manis pada Shanun.


Kenya menggenggam tangan Shanum yang masih tercenung. Wanita itu benar-benar tidak menduga hal ini sebelumnya. Dari sikap Kenya yang judes sejak awal, Shanum tidak akan menduga, wanita itu akan bersikap lembut padanya.


"Ca--calon menantu?"


"Tapi, aku--"


"Maafkan sikapku yang ketus. Kamu pasti mengerti, aku tidak tahu, Mommy Arsenio itu adalah kamu. Aku takut ada wanita lain yang menggoda Arthur, membuat putraku itu lupa pada Mommy-nya Arsenio yang seharusnya dia nikahi," ujar Kenya, raut penyesalan tergambar jelas di wajahnya.


"Menikahlah dengan Arthur, Shanum. Putraku itu bukan orang jahat. Aku sudah tahu kenapa ada Arsenio di antara kalian. Maafkan kenakalan putraku empat tahun lalu," ucap Kenya, dia tahu seperih apa hati Shanum. Kenya pun bisa menebak, sampai saat ini Arthur belum meminta maaf atas apa yang pernah dia lakukan empat tahun lalu pada Shanum.


"Tuan Arthur juga sudah membicarakan ini denganku, Nyo ... Ma. Aku sedang memikirkan hal ini juga," jawab Shanum jujur. Karena bingung harus memanggil Kenya apa, akhirnya tercetuslah panggilan itu tanpa sengaja.


"Lalu, apa keputusanmu? Apakah kamu mau menikah dengan putraku?" tanya Kenya, menatap lekat wajah Shanum yang memperlihatkan kebimbangan.


Shanum hanya tersenyum tipis. "Aku sedang memikirkannya. Belum bisa memberikan jawaban ... Ma!"


Kenya menghela nafas panjang, kecewa. Tetapi, itu semua keputusan Shanum. Mana bisa dia memaksakan wanita itu agar bersedia menikah dengan Arthur, putranya.


"Pikirkanlah Arsenio, Shanum. Dia membutuhkan figur Daddy-nya. Kesalahan kami karena tidak menemukan kalian lebih awal. Tetapi, bukan berarti kami tidak peduli. Kami sudah berusaha mencari kalian sejak empat tahun yang lalu, saat insiden itu terjadi," terang Kenya, dia tidak mau membuat Shanum salah paham. Ingin meluruskan semuanya.

__ADS_1


"Insiden apa?" tanya Shanum.


"Selama sembilan bulan Arthur merasakan mual muntah parah. Moodnya uring-uringan, sering marah-marah dan menginginkan makanan yang aneh-aneh. Mirip seperti orang hamil pada umumnya. Dan, tepat suatu hari, dia merasakan mules yang luar biasa. Bahkan, dia sampai mengejan dan berkeringat dingin. Mirip seperti orang--"


"Orang yang sedang lahiran?" timpal Shanum yang begitu serius mendengarkan penuturan Kenya mengenai kejadian lampau putranya.


Kenya mengangguk mengiyakan. "Aku tahu kamu pasti sudah bisa menebaknya," ucap Kenya.


"Sejak saat itulah kami menyadari, Arthur pasti memiliki seorang anak. Makanya kami mati-matian mencarinya, sayangnya tidak bisa menemukannya. Sekarang, Arthur pasti tidak akan melepaskan tanggung jawabnya begitu saja. Dia sangat menyayangi Arsenio," ucap Kenya.


"Be--benarkah?" tanya Shanum, suaranya tercekat. Rasanya begitu sulit untuk mempercayai.


"Benar, Shanum." Kenya mengangguk sambil terkekeh pelan. "Jika tidak melihat langsung, mungkin tidak bisa langsung mempercayainya," ucap Kenya.


"Sudah malam, Mama pulang dulu. Mama harap, kamu bisa mempertimbangkan semuanya dan menerima Arthur, Sha." Kenya tersenyum manis. Setelah meminta anak buahnya menyelidiki tentang Shanum, dia tau Shanum memang wanita baik-baik.


***


"Ma, dari mana saja?" tanya Clarissa, sedangkan Arthur hanya melirik sekilas ke arah Mamanya yang baru pulang.


"Dari tadi Cla telepon terus, Mama tidak jawab. Cla sama Kak Arthur khawatir, Ma. Tidak biasanya Mama pulang semalam ini," celoteh Clarissa.


"Ma!" sentak Clarissa memanyunkan bibirnya karena Kenya malah tampak tidak mendengarkannya bicara.


Arthur membereskan beberapa berkas dan laptop miliknya. Tadi, Clarissa lah yang mendesaknya untuk menemaninya menunggu Kenya di ruang bawah. Wanita itu sangat cemas karena sang Mama belum kunjung pulang padahal jam sudah menuju setengah dua belas malam. Yang membuat Clarissa begitu khawatir karena tidak biasanya Kenya pulang selarut itu, dan tidak memberikan kabar apa pun.


"Kak, kamu ke mana kamu? Tegur, Mama, Kak! Jangan sampai Mama seperti ini lagi!"


Arthur tidak perduli dengan permintaan Clarissa. Dia berjalan naik ke lantai atas, menuju kamarnya. Namun, baru beberapa anak tangga yang dia naiki, langkahnya terhenti kala mendengar ucapan Kenya yang memaparkan alasan, kenapa dia bisa pulang setelat itu.


"Mama baru habis meminta Shanum untuk menikah dengan Kakak kamu. Berbincang banyak, makanya sampai setelat ini," jawab Kenya, matanya memperhatikan Arthur yang langsung berhenti dan berbalik arah, menatap Kenya.


"A--apa, Ma? Shanum? Siapa dia?" tanya Clarissa. Baru ini dia mendengar nama wanita itu. Dan, sampai Mamanya yang datang dan meminta wanita itu untuk menikah dengan Kakaknya? Hebat sekali wanita itu.


"Calon istri Kakakmu. Sebentar lagi akan menjadi Kakak iparmu. Lebih tepatnya Mommy-nya Arsenio," jawab Kenya, matanya masih menatap Arthur.

__ADS_1


*****


__ADS_2