
"Kamu belum tahu?" rekan sesama cleaning servis menyahuti.
"Tahu apa? Aku tidak tahu apa-apa," Shanum mengendikkan bahunya.
Rima sudah menduga ini. Shanum tipe orang yang sedikit cuek dengan pemberitaan yang menurutnya tidak penting. Dia hanya tidak tahu, dia juga sudah masuk ke pemberitaan yang dimuat di media sosial sampai memicu kesalahpahaman orang-orang padanya.
"Memangnya ada apa, sih?" tanya Shanum lagi, dia kebingungan karena semua teman-temannya menatap dirinya dengan tanggapan yang tak biasa.
"Lihat ini!" Rima memberikan panselnya pada Shanum, memutar sebuah video berdurasi pendek. Shanum melihat itu, alisnya mengernyit karena tidak terlalu mengenali siapa orang yang di video itu.
"Ini siapa? Apa hubungannya denganku?" tanya Shanum, mengembalikan ponsel Rima pada sang empunya.
"Kamu tidak mengenali orang di dalam video itu?" tanya rekan kerja Shanum yang lain.
Shanum menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Aku tidak mengenalinya. Lagipula, gelap sekali, aku mana tau," jawabnya lagi.
"Sha, semalam kamu ke mana?" tanya rekannya yang lain yang sejak tadi memilih diam dan hanya mendengarkan saja.
"Tadi malam aku lembur. Bu Reka memintaku untuk membersihkan ruangannya. Katanya, Senin ada pemeriksaan," jawab Shanum seadanya. Sesungguhnya, Shanum masih sangat bingung karena teman-temannya terus mencecarinya dengan serentetan pertanyaan yang menurutnya tidak berkesinambungan dengan masalah yang sedang dihadapi saat ini.
Masalah yang sedang Shanum hadapi, tentu saja mengenai tatapan sini karyawan kantor yang lainnya.
"Biar aku jelaskan, ya, Sha. Orang yang ada di dalam video itu tuh kamu!" seru rekannya.
"Aku? Bagaimana mungkin bisa itu aku?" tanya Shanum, dia menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal. Sekarang, Shanum menghadap ke arah Rima, sahabatnya.
"Rima, tolong jelaskan secara rinci padaku. Aku benar-benar kebingungan!" Malam tadi, Shanum kurang tidur karena kebanyakan menangis. Pagi ini saja, matanya bengkak. Niatnya, di kantor Shanum hanya akan mengurus pekerjaannya saja. Selebihnya, waktu yang tersisa akan Shanum gunakan untuk termenung.
Tetapi, rencananya itu tidak kesampaian. Shanum dipaksa untuk berpikir keras, dituntut untuk menggunakan logikanya walaupun dia tidak sampai.
"Sha, apa yang dia katakan itu memang benar. Orang yang ada di dalam video itu memang kamu," ucap Rima. Shanum terkejut, tapi dia berusaha tenang. Mendengarkan apa lagi yang Rima katakan padanya.
"Pagi ini, video ini viral di media sosial, Sha. Video ini terekam saat kamu masuk ke ruangan CEO kita, Pak Arthur. Video ini juga membandingkan waktu yang berbeda. Antara kamu masuk di jam setengah delapan malam, dan dia juga memuat saat kamu keluar di jam sembilan malam," terang Rima, menatap lekat wajah Shanum yang menunjukkan kekagetan sekaligus cemas.
"Lihat ini captionnya. 'Cleaning servis tidak tahu diri yang menggoda CEOnya!" ucap Rima, sudah hafal di luar kepala.
"Begitu, ya ...." Shanum terdiam, dia tersenyum getir. Jika bisa diceritakan, di sini dia lah korbannya. Sekarang, mengapa ada video berdurasi singkat yang memojokkannya? Mengatainya tidak tahu diri dan menyebarkan video yang membuat banyak orang salah paham.
Sekarang Shanum tahu, mengapa mereka semua melihatnya sinis. Tentu saja karena mereka percaya, dan menganggap Shanum hanyalah seseorang yang sok baik dan sok suci.
"kamu tidak seperti itu, kan, Sha?" tanya rekannya yang lain, menggenggam tangan Shanum yang langsung dingin. Jika video itu viral, seluruh dunia akan mencemoohnya. Seperti dulu.
Shanum menggeleng. "Aku tidak seperti itu. Kalian ... tidak percaya padaku?" tanya Shanum, memperhatikan satu persatu raut wajah rekan-rekan kerjanya sesama cleaning servis.
__ADS_1
"Mana mungkin kami tidak mempercayaimu, Sha. Meskipun kita baru berteman selama tiga tahun, tapi kami sudah cukup mengenal kebaikanmu," ucap rekan kerjanya. Satu kalimat itu saja sudah cukup membuat Shanum merasa tenang dan bahagia. Setidaknya, masih ada yang mempercayainya.
"Terima kasih," ucapnya, menitikkan air mata haru.
"Sha, kamu dipanggil ke ruangan Bu Reka!" seru rekan kerja Shanum lainnya yang baru saja bergabung.
"Baik."
Setelah berpamitan pada rekan-rekannya, Shanum menemui Bu Reka di ruang kerjanya.
Wanita itu masuk dengan kepala tertunduk di depan Bu Reka. Dia takut, pemecatan akan dilakukan karena Shanum dianggap sudah mencemarkan nama baik perusahaan.
Bu Reka menyodorkan sebuah amplop putih ke depan Shanum. Hal itu pula yang memperkuat dugaan Shanum akan pemecatannya.
"Bu, maaf," ucap Shanum, suaranya begitu lirih menyapa telinga.
"Tidak apa-apa, Ibu percaya padamu," ucap Bu Reka. "Itu bayaran lembur kamu, Sha." Sebenarnya, semenjak mengetahui ada video viral Shanum yang masuk ke dalam ruangan Arthur, perasaan Bu Reka menjadi tidak tenang. Kegelisahan mendatangi hatinya.
Arthur yang meminta Shanum untuk lembur. Bisa saja, apa yang orang-orang pikirkan mengenai video itu benar adanya. Namun, bukan Shanum lah yang menggoda Arthur melainkan kebalikannya. Setiap kali terpikirkan hal itu, Bu Reka merasa sangat bersalah. Secara tidak langsung, dirinya sudah ikut andil membiarkan Shanum dilecehkan oleh Bosnya itu.
Kendatipun Bu Reka sudah bisa menebak pasti kejadian yang sebenarnya terjadi, alih-alih buka suara untuk membela Shanum, dia lebih memilih bungkam untuk menempatkan dirinya sendiri dalam ruang aman.
Shanum mendongak, semua bayangan-bayangan mengenai pemecatan pun perlahan menghilang dari pikiran Shanum.
"Saya kira Ibu akan memecat saya," ucap Shanum jujur mengutarakan pemikirannya tadi.
"Terima kasih, Bu." Shanum memasukkan amplop uang itu ke dalam sakunya.
"Tapi, Apa saya boleh bertanya sesuatu?" tanya Bu Reka, menatap Shanum yang mengangguk sebagai tanda setuju.
"Sebelumnya maaf, Sha. Saya memang mempercayai kamu. Tapi, selaku atasan kamu, saya juga butuh klarifikasi langsung dari orang yang bersangkutan." Mendengar ucapan Bu Reka, Shanum kembali gelisah. Dia seakan sudah bisa menebak apa yang ingin ditanyakan oleh Bu Reka padanya.
"A--apa, Bu?" tanya Shanum, berusaha bersikap setenang mungkin.
"Setelah kamu berada di dalam ruang Pak Arthur, kenapa lama sekali baru keluar. Apa yang kamu lakukan di dalam?" tanya Bu Reka, menatap Shanum yang sudah dilandasi kegelisahan. Tidak mungkin dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, bukan?
Shanum *******-***** jari-jemarinya. Kegugupan mulai menghinggapinya, dia tidak tahu apa yang harus dikatakan sebagai alasan.
'Kenapa Bu Reka menanyai hal ini? Apa yang harus aku katakan? Mungkinkah sebenarnya Bu Reka tidak mempercayaiku? Tidak mungkin aku bilang, kalau aku membantu pekerjaan Tuan Arthur, kan? Aku tidak mengerti apa-apa tentang pekerjaan pria itu,' batin Shanum, belum menemukan alasan yang tepat.
"Sha?" Bu Reka memanggil lagi. Melihat Shanum yang termenung, membuat wanita itu yakin jika ada sesuatu yang terjadi semalam.
"Ambil ini." Bu Reka menyerahkan foundation pada Shanum. Awalnya wanita itu tidak cukup mengerti, jadi dia tidak langsung menerima pemberian Bu Reka.
__ADS_1
"Ambil, Sha. Jangan buat orang semakin salah paham padamu," ucap Bu Reka.
"Maksud Ibu?" Shanum memandangi wajah wanita di depannya.
Bu Reka juga mengambil cermin kecil dari lagi mejanya. Kemudian, dia menunjuk ke arah lehernya di beberapa tempat. Memberitahukan Shanum ada sesuatu di leher wanita itu.
Shanum tercenung, buru-buru dia mengambil cermin pemberian Bu Reka dan melihat apa yang ada di lehernya. Dugaannya benar, banyak tanda kissmark buatan Arthur yang bertebaran di lehernya.
Pagi tadi Shanum buru-buru karena terlambat bangun. Dia tidak sempat berkaca dan melihat dengan detail karena takut telat.
"Kamu sudah bertemu siapa saja?" tanya Bu Reka lagi.
Shanum memejamkan matanya. Bagaimana bisa dia melupakan teman-temannya yang sudah ditemuinya tadi. Mereka pasti sudah melihat tanda merah kissmark di lehernya.
"Aku sudah menemui teman-temanku, Bu," jawab Shanum.
"Semoga mereka tidak melihat tanda itu. Atau, mereka pasti akan semakin salah paham padamu," ucap Bu Reka.
'Ya semoga saja mereka tidak melihatnya,' batin Shanum.
"Terima kasih, Bu. Aku akan mengembalikannya nanti," ucap Shanum, membawa foundation seraya cermin kecil Bu Reka ke kamar mandi. Wanita itu terlalu malu jika harus menggunakannya di depan Bu Reka.
Sementara itu, Leo tergesa-gesa masuk ke dalam ruangan kerja Arthur. Bosnya sedang fokus bekerja. Leo berdiri di depan Arthur.
"Ada apa? Kau sudah menemukan putraku?" tanya Arthur, tanpa mengalihkan perhatiannya dari komputer.
"Bu--bukan, Tuan. Ada berita lain yang sedang heboh di perusahaan kita. Berita mengenai Anda dan Nona Shanum," ucap Leo.
Arthur terkekeh kecil. "Beritahu dengan wanita itu? Ckck. Mana?!"
Leo memberikan tablet di tangannya. Arthur melihat video itu dengan senyuman miring yang tercetak di wajahnya. Dia merasa senang karena video itu beredar. Dia mengharapkan sesuatu dari viralnya video tersebut.
"Hanya terkenal di kantor kita saja?" tanya Arthur, dia menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.
Leo mengangguk mengiyakan. "Benar, Tuan. Tenang saja, saya akan segera men-takedown video itu dan menghapus dari akun gosip yang mungkin saja sudah menerbitkannya," ucap Leo, berusaha sikap membereskan setiap masalah Tuannya.
"Aku juga akan mencari tahu siapa dalang yang sudah berani menyebarkan video hoax ini."
"Hahaha! Kenapa malah di takedown? Biarkan saja!" Arthur berucap sambil tersenyum.
"Biarkan saja?" Leo terkaget.
"Ya. Biarkan saja. Bila perlu, bantu sebarkan video itu ke akun-akun gosip supaya di upload. Aku mau semua orang di dunia ini mengetahui berita ini. Aku mau lihat wanita itu datang memohon padaku untuk menghentikan semua pemberitaan!" ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Cari orang yang sudah menyebarkan video itu. Aku mau berterima kasih padanya," ucap Arthur lagi.
*****