
"Selamat, kalian sudah sah menjadi sepasang suami istri."
Ucapan selamat dari penghulu tersebut disambut tepukan tangan dari beberapa kerabat dekat yang ikut berbahagia dengan pernikahan Arthur dan Shanum. Menyatukan dua orang tua untuk sama-sama mendidik Arsenio. Membuang keegoisan agar putra semata wayang mereka bisa merasakan kehangatan dari keluarga seutuhnya.
Shanum terdiam, bukan karena sedang merasa haru karena sekarang dia sah menjadi istri dari seorang Arthur Harisson. Namun, ada kejanggalan yang harus dipertanyakan olehnya agar mendapatkan kejelasan dan menghilangkan beribu pertanyaan yang tiba-tiba muncul dalam kepalanya.
"Selamat Sayang. Kamu sudah sah menjadi Istri Arthur dan sah menjadi menantu Mama. Kita harus saling bahu membahu dalam urusan Arsenio, ya. Mama sangat senang sekali," ucap Kenya, mengagetkan Shanum hingga wanita itu terperanjat. Shanum tersenyum kikuk sambil mengangguk pelan. Dia bisa melihat mata Kenya yang memerah dan basah karena air mata. Wanita setengah baya itu benar-benar menangis haru dalam pelukan Shanum yang masih belum sepenuhnya sadar.
"Terima kasih, Ma." Cuma satu kalimat itu yang terucap dari bibir Shanum.
Dia membalas pelukan hangat Kenya, mengusap-usap punggung mertuanya itu, ikut menitikkan air mata. Tentu saja Shanum terharu akan semua kebaikan Kenya padanya.
"Sama-sama, Sayang." Kenya tersenyum manis pada menantunya itu.
Kenya duduk di samping Shanum, membiarkan Arthur melakukan proses resmi setelah mereka sah menjadi suami istri. Semalam Arthur sudah mendapat arahan dari Kenya untuk melakukan ini dan itu setelah mereka sah. Dan, tampaknya Arthur akan mempraktekkan arahan Mamanya itu.
Arthur mendekat pada Shanum, menarik pelan tengkuk Shanum dan mulai melabuhkan ciuman pertamanya sebagai suami.
Tepukan tangan menggema mengiringi ciuman mereka. Arsenio yang berada dalam pangkuan Leo langsung menutup wajahnya dengan tangan, dia tidak mau melihat sesuatu yang belum pantas untuk dia lihat, sesuai ajaran Shanum selama ini.
Shanum terdiam, hatinya berdetak kencang. Memang bukan pertama kali bibir Arthur berlabuh di bibirnya, tetapi kali ini rasanya berbeda. Apalagi disaksikan oleh semua orang. Shanum tidak bisa menggambarkan suasana hatinya sendiri.
__ADS_1
Shanum dan Arthur naik ke atas pelaminan mewah yang telah dipersiapkan.
"Boleh aku bertanya sesuatu, Mas?" Shanum buka suara. Arthur yang sedang menatap ke depan langsung menoleh pada istrinya.
"Mas?" Arthur mengulangi panggilan yang terdengar asing baginya dengan tanda tanya besar.
Shanum mengangguk sambil menatap suaminya. "Kenapa? Ada yang salah dengan panggilan itu? Kurasa, itu lebih sopan saja," tutur Shanum.
"Tidak ada. Aku … suka panggilan itu," ujar Arthur, blak-blakan.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu, Mas." Shanum kembali ke topik awal. Rasa penasarannya tidak bisa dia hilangkan begitu saja.
"Seingatku, mahar yang kamu berikan bukan yang kamu sebutkan saat akad pernikahan kita tadi. Mahar yang sudah diambil oleh Ibuku, hanya berupa uang, sebuah villa, dan…."
"Aku sengaja," sela Arthur memotong ucapan Shanum.
"Sengaja bagaimana?" Shanum mengerutkan dahinya. Dia tidak mengerti apa yang Arthur ucapkan.
"Uang, villa, dan beberapa barang berharga lain yang aku berikan pada Ibumu hari itu tidak aku anggap sebagai mahar pernikahan kita, Shanum. Itu semua aku anggap sebagai hadiah karena dia telah membesarkan kamu, itu saja. Mahar yang sebenarnya adalah yang aku sebutkan tadi. Tapi, itu belum semuanya." Arthur menjelaskan panjang lebar sambil tersenyum pada Istrinya. Arthur merasa gemas saat melihat keterkejutan di wajah Shanum.
"Be–belum semuanya?" Shanum semakin terkejut sampai mulutnya menganga. Dia tidak bisa percaya uang fantastis itu, masih ada mahar lainnya lagi.
__ADS_1
Arthur mengangguk mengiyakan.
"Mas, kurasa uang lima milyar itu kebanyakan," ucap Shanum, merasa dia tidak seberharga itu. Lima milyar ditambah dengan barang-barang berharga lainnya, membuatnya merasa terlalu tinggi. "Aku tidak se–"
"Kamu lebih berharga dibandingkan nilai uang dan barang-barang itu, Shanum. Jangan merendahkan dirimu sendiri," sanggah Arthur tidak suka.
"Mas …." Mata Shanum berkaca-kaca. Hatinya terenyuh, dia sangat tersentuh dengan ucapan Arthur.
Arthur mendekatkan dirinya pada Shanum. Wajah mereka sangat dekat, deruan nafas saling mengenai wajah masing-masing.
Arthur menarik pelan pundak Shanum.
"Tapi, setelah ini kamu harus bersiap-siap untuk malam pertama kita. Bercinta setelah menikah resmi, sensasinya pasti berbeda," bisik Arthur.
*****
Selamat membaca...
Maaf nih udah kelamaan enggak update, hehe.... Soalnya ada kendala sedikit.
Inginnya update 4 bab, tapi yang sanggup cuma 2 😙😙😙🙏🙏🙏
__ADS_1