
"Nanti, ya, Sayang. Mommy menabung dulu. Sayang kalau pakai uang kamu. Tenang saja Mommy pasti akan mengusahakan yang terbaik supaya kamu bisa secepatnya bertemu dengan Daddy," ucap Shanum, sekali lagi dia harus kembali berbohong.
Arsenio mengangguk setuju. Semua kejanggalan yang baru ditemukannya itu sudah cukup membuat dia mengerti jika Mommy-nya saat ini sedang berbohong. Demi menghindari kecurigaan, Arsenio hanya bisa mengangguk menuruti apa yang Shanum katakan padanya. Jika dia mengajukan semua pertanyaan yang dianggapnya sebagai kejanggalan, maka akan susah baginya untuk mencari tahu karena pasti Mommy-nya akan lebih berhati-hati lagi.
"Baiklah, Mom, kuharap Mommy bisa secepatnya menempati perkataanmu itu," ucap Arsenio, menatap wajah Mommy-nya yang memancarkan aura kelelahan. Harapan besar yang Arsenio pasang di wajahnya seketika menyurut saat dia tak sengaja melihat ada luka di dahi Mommy-nya.
Kain kasa putih yang tampak sengaja ditutupi dengan anak-anak rambut Shanum yang tebal. Arsenio yang mulanya menyandarkan punggungnya di tembok, langsung menegakkan tubuhnya.
"Ada apa, Sayang? Kamu merasa kurang nyaman? tanya Shanum, memperhatikan gerak-gerik putranya yang semakin mendekati wajahnya.
"Seharusnya,. Arsen lah yang bertanya pada Mommy. Mommy kenapa? Apa yang terjadi, Kenapa ada bekas luka di dahi Mommy?" tanya Arsenio, menatap lekat wajah Shanum, tidak berpaling sedikit pun. Seakan tidak memberikan ruang untuk Shanum berbohong, atau pun merangkai sebuah alasan lain lagi.
Shanum tertawa sumbang, dia membuang muka ke arah lain. meletakkan piring yang masih dipegangnya ke lantai.
"Mommy tidak apa-apa, Sayang. Kamu jangan terlalu khawatir," ucap Shanum, membenarkan rambutnya supaya lebih menutupi lukanya lagi.
"Mom, apa Mommy lupa dengan nilai-nilai kejujuran yang selalu Mommy ajarkan padaku? Mommy mengatakan Arsen harus selalu bersikap jujur kepada siapa pun dan dalam keadaan apa pun. Lalu, kenapa sekarang malah Mommy yang berbohong? Mommy tidak berniat memperlihatkan luka itu padaku?" rengek Arsenio, menangkup wajah Shanum. Memaksa Mommy-nya itu untuk menatapnya.
Shanum tersenyum, dia memang tidak bisa menyembunyikan apa pun dari putranya. Sudah semaksimal mungkin menyembunyikan luka itu, tetap saja terlihat oleh Arsenio yang jeli. Jadi, sudah sampai ke tahap ketahuan dan dipaksa mengaku begitu, mana mungkin Shanum masih berusaha untuk menutup-nutupi lukanya itu.
"Cuma luka kecil saja, Sayang. Kamu tidak perlu khawatir. Lagipula, tadi juga sudah diobati oleh teman-teman sekantor Mommy," ucap Shanum. "Kamu yakin mau lihat?" tanya Shanum sekali lagi dia memastikan.
Arsenio menggelengkan kepalanya. "Arsen tidak bilang mau melihat luka itu, Mom. Arsen hanya mau mendengar penyebab luka itu terjadi. Itu saja," ucap Arsenio.
"Lanjutkan makanmu, ya. Mommy mau bersih-bersih dulu," ucap Shanum, menepuk-nepuk pelan pundak Arsenio kemudian berlalu ke belakang.
"Iya, Mom." Arsenio buru-buru menghabiskan makanannya. Sebab, setelah ini ada sebuah hal besar yang harus dia lakukan. Dan harus diselesaikan sesegera mungkin. Satu dua bukti sudah ada di tangannya, bukti yang membuat Arsenio semakin gampang untuk menjangkau semua bukti lain, dan bisa memperluas informasi yang akan dia dapatkan.
Namun, semua yang Arsenio lakukan harus dihitung berulang kali. Tidak boleh sampai menggaet rasa curiga Mommy-nya. Harus biasa saja, tapi juga harus cepat.
Sesudah menyelesaikan makannya, Arsenio mulai mengotak-atik gadget miliknya. Dia membuka lagi foto yang sengaja dikirimkan tadi. Melihat lagi foto Arthur yang memang sangat mirip degan wajahnya.
"Memang sangat mirip dengan wajahku," gumam Arsenio, memperhatikan lagi dengan benar-benar jelas.
Arsenio mulai menuliskan nama Arthur pada kolom kecil pencarian. Dia memperhatikan banyak wajah yang berbeda-beda. Seluruh pemilik nama Arthur mulai keluar. Arsenio tersenyum karena melihat beberapa wajah Arthur. Kemudian, ada banyak kolom baru yang menuliskan nama Arthur Harisson.
Banyak informasi mengenai kedua orang tua Arthur, informasi tentang perusahaan pria itu, bahkan sampai tipe gadis ideal yang Arthur sukai.
__ADS_1
Arsenio mulai meng-klik semua bibit informasi yang didapatkannya. Dia tersenyum karena wajah Daddy-nya sangat tampan. Semakin Arsenio mencari dan melihat lebih banyak lagi, semakin banyak pula foto-foto yang bermunculan. Arsenio menyamakan wajahnya dengan Arthur, benar-benar seperti anak kembar berbeda generasi.
"Apakah dia benar-benar Daddy-ku? Atau, Mommy asal-asalan memilih seseorang yang mirip denganku untuk dijadikan Daddy-ku supaya aku tidak merajuk lagi?" gumam Arsenio mulai menerka-nerka.
Arsenio menelusuri gambar serupa, memunculkan orang-orang yang berkemungkinan memiliki wajah yang mirip dengan Arthur Harisson. Di sanalah dia bisa menilai, apakah masih ada orang lain yang wajahnya lebih mendekati kemiripan dengannya melebihi dari Arthur Harisson atau tidak. Jika ada, maka Arthur akan dijadikan sebagai kemungkinan kedua. Tujuan kedua jika setelah Arsen menyelidiki pria yang lebih mirip itu tetapi tidak membuahkan hasil yang memuaskan untuknya.
Nyatanya, dari sekian banyak foto orang-orang yang hampir mirip dengan Arthur, hanya Arthur Harisson sajalah yang wajahnya sangat mirip dengan Arsenio Thafta Mahira.
Arsenio tersenyum. Dia mulai memiliki titik terang mengenai siapa Daddy-nya, di mana keberadaan pria itu. Dan, mengapa Mommy-nya sampai mengakui jika Arthur sudah mati. Padahal, jika dilihat dari informasi yang beredar luas, pria itu kelihatan masih segar bugar dan baik-baik saja.
"Jika aku lihat semua background fotonya, tampaknya dia ini orang yang sangat kaya. Fotonya berada di luar negeri, area golf terkeren, di salju, bahkan di perusahaan-perusahaan elit bernama Arthur Group," gumam Arsenio.
"Apakah Daddy-ku juga seorang cleaning service, sama seperti Mommy?" gumam Arsenio lagi. Tapi, tidak mungkin. Kembali dia melihat dengan jelas, semua background itu bukanlah palsu.
"Tidak mungkin. Jika dilihat dari penampilannya saja, tidak mungkin dia seorang cleaning service." Arsenio berbicara dengan suara yang begitu lirik. Takut jika Mommy-nya menguping atau mengintip, tiba-tiba mengetahui apa yang sedang pria kecil itu cari tahu.
Arsenio mematung, dia menepuk jidatnya sendiri. Kemudian, tersenyum kecut.
"Dasar bodoh. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan fakta sebesar itu," ucapnya sambil terkekeh pelan.
"Arthur Group? Nama Daddy-ku adalah Arthur Harisson. Berarti, besar kemungkinan Daddy-ku adalah pemilik perusahaan itu? Benarkah begitu?" Senyuman Arsenio semakin mengembang. Fakta-fakta yang baru saja dia temui membuatnya bahagia.
"Tapi, jika hanya sebuah kesalahpahaman, sepertinya sudah menjadi tugasku sebagai anak mereka berdua untuk meluruskan kesalahan itu. Berusaha untuk mendekatkan keduanya lagi," gumam Arsenio lagi. Pemikirannya sudah seperti orang dewasa yang berniat untuk mencomblangkan kedua orang tuanya sendiri.
"Mommy dan Daddy juga berada dalam satu kantor yang sama. Bisa dipastikan mereka sering bertemu dan berinteraksi. Aku harus mencari tahu semuanya sampai tuntas," ucap Arsenio berjanji pada dirinya sendiri.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu di luar kamarnya mengganggu kefokusan Arsenio dalam mencari informasi. Arsenio malas untuk memperdulikan orang di luar, Karena dia sudah tahu siapa yang bertandang ke kamar kosnya malam-malam begini.
Karena merasa diacuhkan, tidak dibukakan pintu, wanita kecil yang masih mengetuk pintu itu semakin kesal pula. Dia sangat yakin, Arsenio lah yang tidak mau membukakan pintu untuknya.
"Mommy Shanum! Kakak Arsenio! Bukakan pintu untukku! Aku sudah menunggu di luar!" teriak gadis kecil itu sambil mengetuk-ngetuk pintu dengan keras. "kakak senior ayo kita bermain. Kenapa kau betah sekali berada di dalam sana?!" teriaknya lagi tanpa mengurangi intonasi suaranya.
Di dalam, Shanum yang juga mendengar suara ketukan pintu berulang, melihat Arsenio yang masih fokus dengan gadgetnya. Dia menghampiri Arsenio.
"Arsen, kenapa kamu masih di sini? Ada yang mengetuk-ngetuk pintu dan mengajakmu bermain, Sayang!" ucap Shanum, duduk di samping putranya.
__ADS_1
Arsenio yang mendengar suara Mommy-nya pun terkejut. Dia segera menyembunyikan gadgetnya di balik tubuhnya. Dia duduk, menatap Mommy-nya yang menatap heran padanya.
"Arsen tidak mau bermain dengan dia, Mom. Dia itu sangat menyebalkan." Arsenio mengerucutkan bibirnya sambil bersedekap.
"Menyebalkan? Kenapa? Apa ada sesuatu yang salah Cleo?" tanya Shanum.
"Tidak ada sesuatu yang salah. Tapi, dia memang tidak ada benarnya," sahut Arsenio.
Ucapan putranya mengundang tawa Shanum. Namun, meski merasa lucu, Shanum tidak membenarkan sikap jenius yang seperti itu.
"Sayang, kamu tidak boleh begitu. Neneknya sangat baik sama kita, loh. Kamu tidak ingat?" Shanum berusaha untuk menasihati putranya
"Jadi, apakah Arsen harus bermain dengannya karena mengingat kebaikan Nenek kos?" tanya Arsen lagi, wajah masamnya menggambarkan ketidaksetujuan Arsenio terhadap ucapan Mommy-nya.
"Tidak seperti itu." Shanum mengusap lembut kepala putranya. "Kalau kamu tidak berteman dengan Cleo, Nenek kos pasti akan sedih. Sekarang kamu merasa dia tidak menyenangkan. Tetapi, setelah kamu bermain, pasti pandangan kamu terhadap Cleo langsung berubah.
"Cleo itu gadis yang baik, periang, cantik," ucap Shanum.
"Tapi dia bodoh, Mom! Kalau Arsen berbicara dengannya, dia pasti akan menjawab dengan, ha? ha? ha? Begitu!"
Lagi dan lagi Shanum berusaha menahan tawanya. Ucapan anak kecil memang terlampau jujur, meski terkadang terdengar menyakitkan dan nyelekit. Tetapi, penilaian terjujur adalah anak kecil.
Sudah dua Minggu cucu Ibu kost datang ke sini untuk bermain. Setelah melihat Arsenio, gadis kecil yang bernama geo itu tidak mau pulang. Bahkan, jika Arsenio berada di rumah, setiap menit dia akan bertandang ke tempat Shanum. Ketampanan Arsenio memang tidak bisa diragukan lagi. Turunan dari Daddy-nya yang sangat tampan juga berwibawa terbawa pada Arsenio.
"tidak boleh bersikap seperti itu, Sayang. Sesama tetangga, kita harus selalu bersikap baik pada mereka. Jika ada musibah yang terjadi, mereka lah orang pertama yang menolong kita. Jika kita bersikap sombong, mereka akan benci. Lalu, siapa yang akan menolong kita nanti?" Shanum berusaha memberikan pengertian pada putranya.
Arsenio terdiam, seperti sedang mencerna setiap kata-kata yang terucap dari Mommy-nya.
"Ayo!" Shanum hendak beranjak keluar. Namun, tangannya ditarik oleh Arsenio yang belum beranjak dari tempatnya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Shanum.
"Mom, boleh nggak aku menanyakan sesuatu?" suara Arsenio begitu lirih. saat jantung menetap wajahnya sambil mengangguk, Arsenio buang muka ke arah lain.
"Apa itu? Tanyakan saja!"
"Mommy, kalau Arsen tidak sengaja mencium seorang gadis seusiaku, apakah gadis itu akan hamil? Apakah Arsen harus bertanggung jawab dengan menikahinya? Arsen ... tidak mau menikahi gadis bodoh itu, Mommy!" Arsen meremas jari-jemarinya sendiri. Itulah yang diturunkan Shanum pada Arsenio. Jika sedang gugup atau takut, dia akan meremas jarinya.
__ADS_1
*****