Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Jawaban Shanum


__ADS_3

"A--apa, Ma? Shanum? Siapa dia?" tanya Clarissa. Baru ini dia mendengar nama wanita itu. Dan, sampai Mamanya yang datang dan meminta wanita itu untuk menikah dengan Kakaknya? Hebat sekali wanita itu.


"Calon istri Kakakmu. Sebentar lagi akan menjadi Kakak iparmu. Lebih tepatnya Mommy-nya Arsenio," jawab Kenya, matanya masih menatap Arthur.


"Mama pulang selarut ini hanya demi membujuk wanita itu menikah dengan Kak Arthur? Ma, sadarlah! Belum tentu bocah kecil itu pun benar-benar putranya Kak Arthur! Jangan gegabah, Ma!" Clarissa berusaha menggentarkan keyakinan Kenya. Namun, tampaknya keyakinan Kenya tidak bisa diluruhkan dengan apa pun.


"Clarissa, Mama heran sama kamu. Kenapa sampai sekarang kamu masih saja tidak menyukai Arsenio? Dia itu keponakan kamu, Cla!" bentak Kenya, dia sangat tidak suka Clarissa berucap seperti itu.


"Aku tidak peduli. Bagiku, tidak ada yang menggantikan Kak Key!" Clarisa memberenggut, dia berlalu masuk ke dalam kamarnya. Berharap Kenya akan memanggilnya dan membujuknya, mengatakan akan membatalkan pernikahan Arthur dengan wanita yang tidak dia ketahui rupanya itu.


"Mama tidak mengejar putri kesayangan Mama?" Arthur menghampiri Kenya, dia kembali duduk di sofa, ingin mendengar penuturan sang Mama.


"Tidak. Ada sesuatu yang jauh lebih penting yang harus kita bicarakan." Kenya duduk di samping Arthur.


"Mengenai Shanum?" tanya Arthur sambil mengerutkan keningnya.


"Apa kamu mencintai wanita itu?" pertanyaan Kenya tidak langsung dijawab oleh Arthur. Pria itu malah menelisik wajah Mamanya, gerangan apa yang membuat sang Mama mengajukan pertanyaan semacam itu.


"Atau, kamu mengajaknya menikah cuma karena Arsenio?" tebak Kenya lagi.


Arthur terdiam cukup lama, menghembuskan nafas panjang berulang kali. Pikiran dan hatinya sedang bergelut, antara mau mengakui semua pertanyaan Kenya, atau malah mau berbohong.


"Belum ada perasaan apa pun, Ma. Aku ... mengajaknya menikah karena Arsenio," jawab Arthur yang akhirnya memiliki jujur.


"Benar-benar karena Arsenio?" tanya Kenya lagi. "Masalah yang dia harus ganti rugi menabrak mobilmu?" tanya Kenya.


Sesungguhnya Kenya hanya tahu mengenai hal itu. Karena itu pula lah Arthur dan Shanum kembali bertemu. Namun, Kenya tidak mengetahui, Shanum harus mengganti rugi mobil Arthur dengan pernikahan siri dan tubuhnya, karena sampai sekarang Arthur tidak pernah mengikrarkan kata talak pada wanita itu. Dan, malahan sekarang Arthur sendirilah yang mengajak Shanum untuk menikah secara sah.


"Apa yang Mama tahu tentang itu?" Tubuh Arthur menegang, jika sang Mama tahu dia telah mempermainkan Shanum, bisa habis dia. Itulah mengapa dia tidak suka tinggal bersama Kenya dan Clarissa. Merasa hidupnya selalu terancam setiap saat.


"Mama cuma tahu, itu momen pertama kalian bertemu setelah empat tahun," jawab Kenya apa adanya. "Dugaan Mama benar, kan, Arthur. Kamu suka membeli wanita hanya untuk kepuasan semalam," tukas Kenya, matanya berkaca-kaca.


"Apa kamu lupa, Mama dan Clarissa adalah seorang wanita. Bagaimana jika hal itu terjadi pada Clarissa?"


"Bukakan Ibunya Clarissa dulu juga seperti itu? Sifatku diturunkan dari Papa, Ma. Jadi, Mama jangan menyalahkan aku. Jikalau pun Clarissa menjual dirinya pada para pria bajingan itu, jangan menyalahkan aku. Mungkin saja itu sifat yang diturunkan dari Ibunya!" tandas Arthur, dia tidak ingin gaya hidupnya dikomentari oleh siapa pun, termasuk Kenya.


"Berhentilah mengatakan hal itu, Arthur. Kamu dan Clarissa adalah anak Mama!" Selalu seperti itu jawaban Kenya. Dia menganggap Clarissa seperti anak kandungnya sendiri, meskipun Clarissa lahir dari seorang wanita yang telah membuat Kenya menangis darah, dan mencabik-cabik perasaan Kenya kala itu.


"Benar. Tapi, itu hanya menurut Mama. Mama tetap tidak akan bisa mengganti darah Ibunya Clarissa menjadi darah Mama. Jadi, stop! Berhenti untuk memperlakukan anak itu berlebihan!"


Kenya terdiam. Selama ini, Arthur tidak peduli dengan apa yang dilakukan Kenya selama itu membuat Mamanya bahagia. Namun, jika sudah berkaitan dengan sikap Kenya yang berlebih pada Clarisa, Arthur sanggup berbicara sepanjang apa pun hanya untuk menasehati Mamanya itu.


"Apakah ini ... yang membuatmu memilih berjauhan dengan Mama, Arthur?"


Arthur meraup kasar wajahnya. Dia paling tidak bisa melihat Mamanya seperti itu. Rasa cintanya, sayangnya, hormatnya, sangatlah besar pada Kenya. Berbeda dengan Papanya yang sifat dan sikapnya sangat bertentangan dengan sang Mama. Sifat kedua orang tuanya seakan berasal dua dimensi yang berbeda. Sialnya, malah sifat sang Papa lah yang tertanam dalam diri Arthur.

__ADS_1


"Maafkan Mama Arthur. Mama terlalu senang, karena shanum. Dan, sebentar lagi rumah ini akan ribut dengan suara Arsenio." Kenya terkekeh pelan, membayangkan semua hal itu saja sudah membuatnya bahagia.


"Apakah Shanum menyetujui permintaan Mama?" tanya Arthur, suaranya kembali dingin.


Kenya menggelengkan kepalanya. "Dia mau memikirkan semuanya dengan matang," jawab Kenya.


"Sudah kuduga."


"Besok malam aku akan menagih jawabannya, Ma. Aku tidak bisa membiarkan Arsenio terlalu lama bersedih karena tidak memiliki Daddy!"


"Besok malam?" Kenya mengulang dengan pertanyaan.


"Ya, besok malam. Aku memiliki janji dinner dengan Arsenio dan Shanum. Makanya sekarang aku buru-buru menyelesaikan semua pekerjaan," jawab Arthur.


"Mama ikut!" seru Kenya sambil tersenyum.


"Ikut?"


***


Hari berlalu begitu cepat. Sebenarnya, Shanum enggan menuruti permintaan dinner ini. Tetapi, karena Arsenio yang terus merengek, membuat Shanum terpojok dan tidak bisa menolak. Terpaksa dia menuruti apa kemauan Arsenio.


Sore tadi, Leo datang menjemput Shanum. Membawa wanita itu untuk dirubah penampilannya menjadi secantik mungkin. Bukan hanya Shanum, tapi juga Arsenio. Ibu dan anak itu sudah mirip layaknya ratu dan putranya.


"Mommy sangat cantik," puji Arsenio, tersenyum senang melihat Shanum yang sudah pangling. "Daddy pasti akan sangat menyukainya!" tanpa sadar ucapan itu tercetus begitu saja.


"Daddy pasti akan sangat menyukainya, Mom!"


"Jangan berbicara seperti itu, Arsenio, tidak baik."


"Maafkan Arsen, Mom!"


"Tidak apa-apa."


Shanum dan Arsenio sama-sama keluar. Menemui Leo yang sudah menunggu mereka di luar. Leo terkesima dengan cantiknya Shanum, calon Nyonya-nya. Dia langsung menundukkan pandangan, takut perasaannya tidak terkendali pada wanita yang sebentar lagi akan menjadi Istri sah Tuannya itu.


"Uncle, ayo!" seru Arsenio, pria kecil itu benar-benar tidak sabaran mau bertemu dengan Daddy.


"Baik, Tuan muda."


Mobil melaju dengan sangat cepat, membelah dinginnya malam. Lampu-lampu yang berkelap-kelip bagaikan bintang menyita perhatian Shanum. Malam ini, dia sudah menyiapkan jawaban, yang pasti akan Arthur tagih padanya.


"Nyonya, kita sudah sampai," ucap Leo, menyadarkan Shanum yang sibuk dengan pemikirannya sendiri.


"Tuan Leo, panggil aku Shanum saja, seperti biasanya. Panggilan Nyonya barusan itu terlalu baku untukku. Lagipula, tidak pantas," ucap Shanum, merasa keberatan.

__ADS_1


Leo tidak menjawab, dia mempersilakan Shanum masuk ke dalam restaurant bintang tujuh milik Kenya. Atas permintaan dari Kenya jugalah, makanya mereka akan makan malam di sini.


Shanum menggandeng tangan Arsenio, mereka berjalan beriringan. Dipandu seorang karyawan menuju ke lantai atas, di sana Kenya, Arthur, dan Clarisa sudah menunggu.


Clarissa yang notabenenya tidak menyukai Shanum dan Arsenio, sengaja mau ikut karena ingin melihat, secantik apa rupa Shanum sampai membuat Kakak dan Mamanya tergila-gila seperti itu.


"Shanum!" Kenya langsung berdiri, menyambut calon menantunya itu dengan hangat. Kenya memeluk Shanum dengan erat, tidak ada perasaan asing yang wanita itu berikan pada Shanum. Merasa nyaman, itulah yang Shanum rasakan.


"Ayo duduk!" ajak Kenya senang.


"Ckck, Mama terlalu berlebihan!" gumam Clarissa, tidak suka Kenya memperlakukan Shanum sehangat itu.


"Terima kasih ... Ma."


Arthur dan Clarissa sama-sama tertegun mendengar panggilan Shanum pada Kenya.


Melihat Shanum yang berjalan dengan anggun, Clarissa merasa semakin illfeel dan berulang kali berdecih.


"Kukira, secantik apa wanita yang akan dinikahi Kak Arthur, ternyata hanya modelan begini? Harapanku terlalu tinggi!" cibir Clarissa sambil tersenyum sinis.


"Maaf?" Shanum tidak mengenali Clarissa, dia pikir Clarissa berbicara dengan siapa, karena wanita itu tidak menatapnya. Tetapi, di depan Kenya, dia tetap harus bersikap sopan.


"Dia Clarissa, adiknya Arthur,'" ucap Kenya memperkenalkan Clarissa.


"Mommy, lebih baik Jangan berbicara pada Tante ini. Mulutnya pedas, Arsenio yang tidak suka," celetuk Arsenio sambil melirik Clarissa dengan ekor matanya.


"Hey, bocah, mulutmu yang terlalu pedas. Bukan aku!" sangkal Clarissa, dia memperlihatkan ketidaksukaannya tanpa ragu.


"Clarissa, bisakah duduk diam saja? Jangan membuat onar di sini!" tegur Kenya, Kenya takut Shanum merasa tidak nyaman.


Shanum hanya diam saja. Arthur tahu, wanita yang duduk di sampingnya itu merasa tidak nyaman, diam-diam pria itu menggenggam tangan Shanum di bawah meja. Memberikan kehangatan dan ketenangan tanpa mengatakan apa pun. Shanum cukup paham, dia menerima genggaman tangan pria itu.


"Sebelumnya, maaf, sebelum kita mulai makan malam, aku ingin menyampaikan sesuatu," ucap Shanum, menatap Kenya yang langsung antusias mendengarnya.


"Shanum, apakah kamu mau memberikan jawaban mengenai pernikahan kamu dan Arthur?" tanya Kenya lagi. "Mama harap, Mama tidak mendapat kekecewaan," ujar Kenya, tersenyum manis.


"Benar, Ma, Shanum sudah menyiapkan jawaban."


"Jadi, apa jawabanmu?" tanya Arthur, tampaknya pria itu juga tidak sabaran. "Apakah kamu mau menikah denganku?"


"Ya, aku mau menikah denganmu." jawaban Shanum, membuat Kenya dan Arthur tersenyum. Namun, tidak dengan Clarissa, wanita itu menatap tajam Shanum.


Shanum juga menatap Clarissa. Dia tersenyum samar sambil menaikkan sebelah alisnya, seolah menantang Clarissa yang tidak menyukainya dan Arsenio.


*****

__ADS_1


Tungguin satu bab lagi, ya! Jangan lupa like, komentar, vote, dan ulasan sebanyak-banyaknya supaya author semangat, ya!😍😍


__ADS_2