
"Baiklah. Kau boleh pulang. Dua hari ini aku ada perjalanan bisnis. Setelah aku pulang, aku ingin melihatmu di sini. Layani dan puaskan aku! Ingat, kau masih istriku dan hutangmu belum lunas!" Arthur kembali menekankan.
Shanum menelan kasar salivanya. Hanya bisa manggut-manggut tanpa berpikir panjang. Lagipula, kegagalan semalam memang karena dirinya yang hampir saja demam. Untungnya, Arthur masih memiliki rasa welas asih, bersedia menghangatkan ruangan dan memberikan kehangatan dari pelukannya.
Mengingat hal itu, wajah Shanum bersemu merah. Dia merasa malu. Baru kali ini dia dipeluk seorang pria secara sadar dan Shanum juga tak menolaknya. Itulah mengapa Rio memilih berkhianat dengan Rara, sahabat Shanum. Sebab, Shanum selalu menentukan garis keras dalam hubungan mereka. Menegaskan apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan.
Kendati tak menerima apa yang dilakukan Shanum, Rio tak bisa menolak penegasan itu. Hingga lama kelamaan dia bosan, dan memilih wanita lain yang rela memberikan apa pun untuknya termasuk harga diri.
"Kenapa wajahmu memerah? Kau demam lagi? Pulanglah! Jangan merepotkan di sini. Tidak perlu masuk ke kantor, Leo yang akan mengambilkan cuti untukmu,"ujar Arthur dengan nada ketusnya, seperti biasa.
Shanum masih diam, dia menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona. Arthur memperhatikan gelagat Shanum dengan dahi yang mengkerut. Merasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Arthur berbalik dan hendak pergi.
"Tunggu!" Shanum memegang ujung jas Arthur. Pria itu berbalik, memperhatikan tangan Shanum yang masih memegangi tangannya.
"Apa?" keketusan Arthur sudah melekat, sulit baginya untuk berbicara lembut pada orang lain.
"Terima kasih," ucap Shanum, dia tersenyum manis sebagai ucapan terima kasihnya.
"Cuma ini imbalanku?" Arthur berbalik sempurna, menatap wajah Shanum lagi.
"Jadi, apa yang Anda inginkan? Barang berharga? Aku tidak bisa memberikannya. Hutangku saja harus aku lunasi dengan cara ... menukar harga diri," pungkas Shanum, menggigit bibir bawahnya. Rasanya menyesal dia sudah mengucapkan terima kasih pada Arthur.
'Habislah aku jika dia menginginkan barang-barang mewah!' batin Shanum.
Arthur mengangkat dagu Shanum supaya menatapnya. Dia mengusap bibir wanita itu. "Jangan mengigit bibirmu. Jika terluka, aku tidak bisa mencicipinya."
Shanum mengerucutkan bibirnya, matanya mendelik tajam melihat Arthur.
"Kenapa setiap kata-katamu terdengar mesum? Apa kau tidak bisa berbicara sesuatu yang baik?" Shanum begitu kesal. Rasanya, setiap kali Arthur berbicara, Shanum pasti ingin menutup telinganya.
"Kenapa? Aku mesum dengan istriku sendiri." Arthur memandangi tubuh Shanum dari atas ke bawah. Kemudian, dia menarik pinggang Shanum, mendekap wanita itu dan membisikkan sesuatu yang begitu memalukan bagi Shanum.
"Semalam, aku sudah melihat semuanya. Tubuhmu sangat indah. Aku tidak yakin kau memiliki seorang putra. Semakin mengingatnya, aku semakin ingin melahapmu sekarang juga. Bodoh sekali mantan suamimu, mencampakkan wanita bertubuh menggoda hasrat sepertimu!" bisikan Arthur membuat Shanum meremang. Memaksanya untuk segera melepaskan dekapan Arthur dan segera melarikan diri.
Shanum tidak seberuntung itu. Makin kuat Shanum berusaha melepaskanmu diri, makin kuat pula dekapan Arthur. Pria itu menarik Shanum sampai tubuh keduanya menempel dan Shanum terpaksa mendongak.
__ADS_1
"Kau harus bekerja, kan, Tuan? Kenapa malah memelukku di sini? Apa pelukanku senyaman itu sampai kau enggan untuk melepaskannya?" Shanum membelitkan jemarinya di dasi Arthur. Senyumannya sinis menggoda. Tapi, semua keberanian yang tampak tak selaras dengan suasana hatinya yang begitu menderu ketakutan.
"Kau menggodaku?" Arthur tak peduli dengan apa pun. Sebelah tangannya lagi memegangi tengkuk Shanum, tanpa basa-basi dia melabuhkan ciuman di bibir manis istri sirinya itu.
Ciuman Arthur semakin dalam, menikmati setiap inci bibir istrinya. Jiwa senior Arthur sebagai playboy seakan tertantang karena dia berciuman dengan seorang wanita yang masih buta akan hal-hal yang berbau sek*s. Bahkan, kerap kali Shanum menggigit bibir Arthur tanpa sengaja karena dia benar-benar masih awam dalam hal berciuman dan yang lain sebagainya itu.
"Sebutan istri semalam tak berlaku lagi untukmu. Pernikahan kita sudah melewati batas waktu dari semalam. Apa kita harus membuat kesepakatan untuk--" Belum juga Arthur selesai berbicara, Shanum langsung memotongnya.
"Tidak." Shanum cepat menanggapi. "Setelah semuanya selesai, cepat talak aku, Tuan!" pintanya.
"Kau tidak berniat mengikat kontrak denganku?" Arthur kembali menggoda Shanum.
"Tidak sama sekali. Aku sangat-sangat tidak menginginkan mengingat kontrak apa pun segala macam denganmu," jawab Shanum yakin.
'Kalau bisa, aku malah tidak mau melihat wajahmu lagi!'
"Tuan, aku harus cepat pulang. Putraku pasti sudah menungguku di rumah. Sekali lagi terima kasih, aku permisi!" Shanum mengambil tas jinjingnya di atas sofa, berlari keluar dan menemukan sepeda motornya di depan.
"Sigap sekali," ucapnya lirih. Pagi tadi, Shanum diberikan baju ganti oleh Arthur. Walaupun bukan gaun yang sangat indah, tapi Shanum sangat suka. Ini sesuai dengan karakternya.
Shanum melihat jam di pergelangan tangannya. "Sudah jam delapan. Rima pasti sudah mengantar Arsen ke Day Care," guna Shanum.
***
"Mommy!" teriak Arsen, dia menubruk tubuh Shanum dan memeluk erat tubuh Mommy-nya. Seakan sudah lama tidak bertemu, tidak mau kehilangan lagi.
"Terima kasih, Miss Alea," ucap Shanum sambil tersenyum.
"Sama-sama, Mom. Hari ini Arsenio lebih ceria. Seperti biasanya," ucap Miss Alea, mengusap puncak kepala Arsen.
Shanum memasang helm Arsenio. Arsen selalu menyunggingkan senyum manisnya. "Mommy, semalam kenapa tidak pulang? Arsenio kangen," ucap Arsenio, memeluk pinggang Mommy-nya.
"Nanti kita cerita-cerita, ya, Nak. Sekarang, kita pergi ke suatu tempat dulu. Kamu pasti sangat senang datang ke tempat ini," ujar Shanum, mulai melajukan sepeda motornya ke tujuannya.
"Ke mana, Mom? Apakah kita akan datang ke pantai?" tanya Arsenio, dia mulai menerka-nerka. Karena, tempat itulah yang paling ingin dia kunjungi.
__ADS_1
"Ke mana, ya?" Shanum pura-pura berpikir, kemudian dia tertawa lepas. "Nanti kamu pasti tahu!" sambung Shanum.
"Baiklah. Arsen akan menuruti perkataan Mommy. Arsen harap sih kita ke pantai," ucapnya sambil cengengesan.
Shanum melajukan sepeda motornya. Sesekali mereka bersenandung lagu anak-anak kesukaan Arsen, tertawa lepas menikmati momen kebersamaan. Kata orang, menjadi single Mommy itu berat. Namun, bagus Shanum malah kebalikannya. Asalkan kita bisa menghargai setiap momen kebersamaan dengan buah hati, tidak merasa diberatkan, menikmati setiap momen bersamanya. Mensyukuri setiap kepintaran dan mengabadikan momen tumbuh kembang si kecil, tidak ada rasa berat sama sekali.
Dari kejauhan, Arsen dapat melihat ombak laut yang bergelung. Sejuknya angin laut yang menggoyangkan daun kelapa, teriknya panas matahari yang membuat air laut semakin berkilau. Itulah yang ingin dilihat Arsen. Berapa senangnya dia karena Mommy-nya membawa dia ke tempat yang paling ingin dikunjungi.
"Mommy! Terima kasih!" ucap Arsenio, berteriak di belakang tubuh Shanum.
"Kamu suka, kan?" tanya Shanum, mengelus punggung tangan Arsen yang masih memeluknya.
"Tentu saja, Mommy!" jawab Arsen berseru.
Shanum memarkirkan sepeda motornya. Baru saja dia mau melangkah sambil menggandeng putranya, ponselnya berdering. Shanum mengerutkan dahinya karena tidak mengenali si penelepon. Kendati demikian, dia tetap menjawab panggilan dari orang tak dikenal itu.
"Di mana kamu?" tanya seorang pria, suaranya langsung dikenali Shanum.
"Tu--tuan Arthur?" tanya Shanum untuk memastikan. Dia tidak mau salah sangka.
"Ya. Di mana?" tanya Arthur, masih saja mempertanyakan keberadaan Shanum.
"Saya sedang berada di pantai bersama putra saya, Tuan," jawab Shanum apa adanya.
"Pantai? Kirimkan fotomu. Aku curiga kau pergi bersama dengan pria lain. Ingat, sekarang statusmu masih menjadi istriku. Jadi, jangan berani untuk macam-macam!" kecam Arthur mengancam.
"Tuan, jangan lupa, status kita hanya sementara. Setelah aku membayar semuanya, maka kita akan berce--" Shanum menggantung kalimatnya, dia baru sadar sejak tadi Arsenio memperhatikannya.
"Apa? Kenapa kau diam?"
Shanum kesal dia langsung mematikan sambungan teleponnya. Memotret dirinya sendiri dengan wajah ketus. Entah mengapa dia sangat penurut dengan Arthur.
"Lihatlah! Aku di sini hanya bersama putraku saja. Setelah ini kita akan bercerai, tidak ada hakmu untuk mengaturku. Aku berhenti bicara karena putraku mengawasi!" tulis Shanum dalam pesan singkatnya sambil mengirimkan foto.
Pesan beserta foto tersebut masuk ke ponsel Arthur. Dia memandangi wajah Shanum, kemudian membaca pesan singkat yang ditulis wanita itu.
__ADS_1
"Sialan kau! Kenapa wanita itu sangat pembangkang? Wanita lain selalu memohon untuk berada di sampingku? Tapi dia? Lihat saja! Aku akan membuatmu terus berada di bawah kukunganku. Kau harus tahu, siapa dirimu!" ucap Arthur kesal sampai meremas ponselnya.
*****