Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Rengekan Arsenio


__ADS_3

"Siapa nama Daddy, Mom? Arthur?" tanya Arsenio, sambil membaca nama yang berada di kolom pencarian Shanum.


Saat pertanyaan itu meluncur dari bibir arsenio, Shanum terkejut bukan main. Dia lupa anaknya pintar dan sangat teliti. Karena sudah ditanyai begitu, tidak mungkin shanum menggelengkan kepalanya untuk menyangkal. Sudah pasti dia harus mengiyakan, walaupun ragu dan suaranya terbata-bata.


"I--iya, Nak. Ka--kamu tau dari mana?" Shanum tersenyum canggung. Dia tidak siap Jika Arsenio mencacarinya dengan banyak pertanyaan.


'Tuhan, kenapa aku bisa seceroboh itu, sih? Bagaimana jika Arsenio sadar kalau itu foto terbaru? Dia pasti tahu kalau pria itu masih hidup. Padahal, aku belum tahu lagi Tuan Arthur benar-benar Ayah kandung putraku atau bukan,' batin Shanum. Sesekali melirik putranya yang malah melihat banyak foto Arthur yang tersedia di media sosial.


Arsenio senyam-senyum melihat foto Daddy-nya. Dia mengusap-usap layar ponselnya Shanum, bertingkah seperti sedang mengusap wajah Arthur. Ada kerinduan yang bersarang di dadanya. kerinduan yang ditahan berakhir menjadi untaian air mata yang menganak di pelupuk matanya.


Setetes demi setetes air matanya mengalir. Menangis sambil tersenyum itu sangat menyakitkan, percayalah. Itulah yang sedang Arsen rasakan saat ini. Hanya bisa memandangi foto almarhum Daddy-nya tanpa bisa bersua secara langsung atau pun berbincang dengan hangat seperti anak-anak kebanyakan pada umumnya.


Bukannya tidak memiliki keinginan untuk bertemu dan saling mengakrabkan diri. Tetapi , tidak bisa. Tuhanlah yang tidak memberikan izin, begitu pikir Arsenio.


"Sayang, kamu kenapa menangis?" tanya Shanum, mengusap lembut puncak kepala putranya dengan sangat lembut. Usapan lembut itu semakin menyesakkan dada Arsenio.


"A--aku kangen Daddy, Mom!" jawab Arsenio, isakannya semakin terdengar.


"Merindukan Daddy?" Shanum terenyuh. Perasaannya begitu kacau ketika rasa rindu itu Arsenio ungkapkan pada Daddy-nya.


"Doakan saja, ya, Sayang. Doa kamu pasti akan sampai pada Daddy. Daddy pasti sangat senang mendapat kiriman doa dari putranya." Shanum berusaha menghibur, walaupun semuanya hanya rekayasa dia semata.


Arsenio mengangguk patuh. Dia kembali melihat foto Arthur yang lainnya. Kemudian, Arsenio mematung. Matanya tertuju pada tanggal foto yang di upload. Mata Arsenio menyipit, dia memperhatikan dengan seksama dan ternyata dugaannya memang benar. Foto itu di-upload baru-baru ini. Arsenio semakin merasa ada yang janggal dengan semuanya.


Mengapa orang yang sudah tiada bisa meng-upload fotonya sendiri? Jika hanya untuk kenangan, tidak akan mungkin dilakukan. Sudah selama itu, mengapa masih bisa meng-upload foto terbaru? Arsenio yang jeli mulai menemukan kejanggalan demi kejanggalan yang terjadi.

__ADS_1


'Sepertinya ada yang Mommy sembunyikan dariku. Apakah Mommy asal-asalan memilih foto orang lain yang sekiranya mirip denganku? Atau, sebenarnya ini memang foto Daddy kandungku, tapi Mommy berbohong mengenai kematian Daddy karena tidak mau aku bertemu dengan Daddy?' batin Arthur, firasat dan kejadian pria kecil itu sangat kuat.


melihat Arsenio yang terdiam, Shanum agak takut. Terkadang, kepintaran putranya itu membuat Shanum sangat senang. Namun, terkadang kepintaran Arsenio menjadi boomerang tersendiri untuk Shanum. Contohnya hari ini, dia ketakutan sendiri karena kepintaran putra kecilnya itu.


"Mommy, Arsen lapar. Ambilkan Arsen makanan beserta lauk pauknya, Mommy!" rengek Arsenio, memohon pada Shanum sambil tersenyum manja. Berharap Mommy-nya itu menuruti apa yang dia mau.


"Baiklah. Berikan ponsel Mommy, Sayang!" pinta Shanum, melihat ponselnya lama-lama di genggaman Arsenio membuat Shanum merasa cemas.


"Nanti saja Mommy. Arsen masih mau menatap wajah Daddy yang sudah meninggalkan kita untuk selamanya. Arsenio sangat rindu. Usia Arsenio sudah hampir empat tahun, baru kali ini melihat foto Daddy. Wajar jika Arsenio merindukan Daddy, kan, Mom?" ucap Arsenio, pria kecil itu terlalu pintar mengolah kata supaya Mommy-nya mempercayai apa yang dia katakan.


Shanum tersenyum, mengusap rambut Arsen. Mengecup singkat pipi gembul anaknya itu.


'Benar juga apa yang dia katakan. Biarkan saja dulu dia menatap foto seseorang yang sangat mirip dengannya. Kasihan jika aku harus mengganggunya,' batin Shanum. Merasa kasihan jika harus mengganggu Arsenio.


"Jadi, kamu mau makan dulu?" tanya Shanum, bersiap menaruh makanan untuk putranya itu.


"Iya, iya." Shanum bergegas ke dapur. Biasanya, sebelum berangkat kerja, Shanum akan bangun lebih cepat untuk membereskan segalanya. Termasuk memasak untuk mereka berdua. Shanum membiasakan Arsenio memakan makanan rumahan yang lebih sehat. Membekali putranya itu dengan air putih dan buah-buahan yang banyak. Sejak kecil pun, Arsenio sudah terbiasa memakan sayur-sayuran. Dan, pria kecil itu juga tidak suka pilih-pilih kalau soal makanan.


Setelah memastikan Shanum menghilang dari pandangannya, barulah Arsenio bereaksi. Dia men-screenshot foto Arthur beserta dengan media sosial pria itu. Kemudian, Arsenio mengirimkan hasil Screenshot-nya ke ponselnya. setelah berhasil melakukan aksinya, tidak lupa arsenio menghilangkan jejak dengan menghapus foto hasil Screenshot-nya dan riwayat chat yang dia kirimkan.


"Selesai!" seru Arsenio, tersenyum manis dan meletakkan kembali ponsel Shanum di atas meja.


"Apanya yang selesai, Sayang?" tanya Shanum, di tangannya ada nampan yang berisikan makanan dan segelas air putih.


"bukan apa-apa, Mom. Arsen hanya baru selesai melihat foto Daddy saja. Rasanya, rindu ini sedikit terobati, Mom," ucap Arsenio, tersenyum manis untuk meyakinkan Mommy-nya.

__ADS_1


"Benarkah? Sudah terobati?" tanya Shanum.


Arsenio mengangguk. "Sudah, Mom."


"Tapi, Arsenio juga mau tau di mana makam Daddy, Mom!" Arsenio masih saja merengek. Dia yakin, ada sesuatu yang ditutupi oleh Shanum. Tidak mungkin baginya untuk bertanya, sehingga dia harus turun tangan sendiri.


"Sayang, maafkan Mommy. Mommy bukan tidak mau membawamu ke makam Daddy. Hanya saja, makam Daddy sangat jauh. Daddy dimakamkan di kampung halamannya. Jauh sekali, kalau kita mau ke sana, kita harus menyiapkan uang yang banyak terlebih dahulu. Ongkosnya sangat mahal, Arsen," ucap Shanum kembali berbohong. Entah sudah berapa banyak kebohongan yang terucap dari bibirnya.


Setiap kali mengucapkan kebohongan, dalam hatinya Shanum langsung meminta maaf pada putranya itu.


"Arsen punya tabungan, Mom. Pasti cukup kok untuk datang ke kampung halaman Daddy. Kalau memang begitu, berarti bagus, kan. Arsenio juga bisa bertemu dengan Kakek, Nenek, dan keluarga Daddy yang lainnya. Mom, Arsen tidak sabar untuk datang ke sana!" seru Arsenio kegirangan.


Arsenio cukup tahu, Mommy-nya sedang merangkai kebohongan yang lain.


Mendengar ucapan Arsenio, Shanum mematung. Kampung halaman suaminya? Suami saja dia tidak memilikinya.


Jika Arsen bersikeras untuk datang ke sana, ke kampung halaman siapa Shanum harus membawa putranya itu. Rasanya, pria kecil itu semakin pintar saja.


"Mommy kenapa termenung? Kapan kita ke sana? Uang tabungannya Arsen pasti cukup kok. Arsen tidak apa-apa kalau uang tabungan Arsen digunakan untuk datang ke sana, menemui Daddy!"


Shanum tercekat lagi. Dia terjebak dalam kebohongannya sendiri.


"Nanti, ya, Sayang. Mommy menabung dulu. Sayang kalau pakai uang kamu. Tenang saja Mommy pasti akan mengusahakan yang terbaik supaya kamu bisa secepatnya bertemu dengan Daddy," ucap Shanum, sekali lagi dia harus kembali berbohong.


*****

__ADS_1


Kalau suka sama novel ini berikan vote, Like, komentar, hadiah, dan juga ulasan bintang lima 🙏😍😊😍


__ADS_2