Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Tidak Sabaran


__ADS_3

"Aku sudah memaafkan Anda. Saya masuk dulu, Dok." Shanum kembali masuk menemui Arsenio yang tampak asik memakan buah jeruk.


"Kenapa susah sekali mendekatimu? Kau sengaja memberi jarak karena tak ingin ada yang mengganggumu, atau karena kau mengalami sesuatu di masa lalu yang membuatmu sejak awal sudah menarik garis sekat?" batin Rexa, menatap punggung Shanum yang perlahan menghilang dari pandangan matanya.


"Mom, apa Mommy sedang kecewa dan sedih?" tanya Arsenio. Masih memakan jeruk, buah kesukaannya.


Shanum menggeleng pelan, tersenyum kecil seraya mengusap puncak kepala Arsenio dan mengacak-acak pelan rambut putranya itu. Hatinya menghangat, putranya terlalu peka. Sangat mengerti situasi serta keadaan yang terjadi.


"Tidak, Sayang. Mommy tidak bersedih. Cuma ngantuk, jadi matanya berair," jawab Shanum, berbohong lagi. Terkadang, Shanum kerap merasa bersalah pada putra kecilnya itu. Dia selalu menanamkan dan menerapkan kejujuran pada Arsenio. Tapi, dia sendiri yang sering mengucapkan kebohongan hanya agar Arsenio mempercayai semua ucapannya dan tidak sedih.


"Tidurlah, Mom, maafkan Arsen yang membuat Mommy merasa kerepotan," ucap Arsen, dia merasa Mommy-nya kelelahan karena dia yang sakit.


"Tidak, Sayang. Mommy lelah karena selalu bekerja. Sekali-kali libur begini, malah mengatuntuk. Maafkan Mommy, ya. Harusnya Mommy yang minta maaf sama kamu."


Arsenio tersenyum manis.


"Ayo, kita tidur. Besok, pagi-pagi sekali kita harus segera kembali. Nenek dan Tante Rima sangat mencemaskan kamu, padahal Mommy sudah bilang kamu baik-baik saja," ucap Shanum, terkekeh pelan. Mengambil buah jeruk di atas pangkuan Arsenio dan meletakkannya lagi di atas nakas.


"Baik, Mommy."


Shanum tersenyum, dia mengecup singkat pipi Arsen kemudian ikut merebahkan tubuhnya di atas sofa di dalam ruangan itu.


***


Arthur masih memakai Bathrobe putih, berdiri di balkon sambil melihat pemandangan malam. Ponselnya masih dia genggam erat, perasaan cemas yang tadi menghantui pun perlahan mulai mereda. Terkadang, ada segelintir pertanyaan yang muncul dalam benaknya. Kenapa dia sering mendadak merasakan cemas, khawatir, dan terkadang sedih yang tidak dapat ditahan.


Arthur sudah datang ke psikolog. Memberikan dirinya mungkin mengalami Generalized Anxiety Disorder (GAD). Tapi, dia semakin bingung saat dia dinyatakan baik-baik saja.


"Tuan, apa Anda mengalami hal yang sama lagi?" tanya Leo, dia menunggu perintah satu Arthur untuk menjemput Shanum. Sudah setengah jam dia menunggu perintah, tapi Bosnya itu tetap diam membelakanginya.


Leo tahu pasal kecemasan yang mendadak melanda Arthur. Leo yang sering mengantar pria itu datang ke psikolog. Pria itu juga sering menceritakan hal-hal ganjil yang kerap dia rasakan pada Leo.


Mendengar pertanyaan Leo, Arthur hanya berdehem.


"Tuan, mungkin ... itu ikatan batin," ucap Leo, sudah lama dia membungkam mulutnya. Tapi, kali ini mulutnya terasa gatal.


"Ikatan batin? Apa maksudmu?" tanya Arthur, masih menikmati hembusan angin malam yang begitu dingin menerpa kulitnya.


"Tiga tahun silam, Anda mengalami kontraksi, bukan? Mungkin, sekarang anak itu sudah besar. Perasaan yang mendadak muncul itu karena terjadi sesuatu pada anak itu, Tuan." Leo menyuarakan pendapatnya. Dia melihat Arthur yang masih bergeming, di posisi awal.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Aku sendiri tidak yakin dengan apa yang kau katakan. Memangnya ada yang seperti itu?" Arthur masuk ke dalam, duduk di atas sofa sambil menenggak wine.


"Apa saya harus menjemput Nona Shanum sekarang?" tanya Leo, menatap Tuannya masih dilanda kecemasan.

__ADS_1


"Tidak perlu. Katanya, putranya sedang sakit. Dia tidak bisa meninggalkan putranya sendirian. Beginikah rasanya menikah dengan Hot Mommy? Harus menjadi yang kedua?" Arthur tersenyum kecut, menenggak lagi minumannya.


"Dan, anehnya Anda menerima itu, Tuan," timpal Leo, membuat Arthur tersadar akan sesuatu. "Biasanya, Anda selalu minta diutamakan, dalam hal apa pun. Sekarang, Nona Shanum lebih memilih menemani putranya tapi anda menerimanya dengan pasrah," lanjut Leo, mengendikkan bahunya dengan keanehan sikap Arthur.


Arthur turut menyadari akan hal itu. Jika berhadapan dengan Shanum, dia mulai cerewet. Walaupun terkesan ketus dan jahat, tapi Arthur selalu akan bersikap lunak dan mengalah pada akhirnya. Keanehan itu tidak terlalu dia rasakan. Karena, Arthur berpikir mungkin saja sikapnya memang sudah berubah karena dia ingin menjadi pribadi yang lebih baik.


"Jangan seperti itu. Aku memang sudah berubah menjadi orang baik."


"Ya. kebaikan itu hanya untuk Nona Shanum," pungkas Leo, sambil memainkan gadgetnya untuk mencari tahu keberadaan Shanum.


"Diamlah!"


"Tuan, Nona Shanum memang menemani putranya di rumah sakit yang berada di kawasan pantai. Tapi, kurasa ada seorang pria yang sedang mencoba mendekatinya," ucap Leo, menilik perubahan raut wajah Arthur.


"Apa katamu? Mendekatinya? Siapa?" cecar Arthur, dia begitu tidak sabaran mendengar jawaban Leo.


"Seorang Dokter yang bekerja di rumah sakit, Tuan," jawab Leo.


Wajah Arthur semakin masam, perasaannya bergemuruh. Dia begitu kesal setelah mendengar laporan dari Leo. Arthur merasa dadanya terbakar, ada sesuatu yang mendidih salam darahnya. Ada rasa ketidakrelaan.


"Statusnya masih menjadi istri siriku. Tapi, beraninya dia dekat-dekat dengan pria lain!" sergah Arthur.


"Tuan, bukan Nona Shanum yang mendekati pria itu. Dokter itulah yang mendekati Nona Shanum, Anda jangan salah paham," cegah Leo, dia tidak mau Shanum menerima kemarahan dai Bosnya. Padahal, nyatanya Shanum tidak seperti yang Arthur pikirkan.


Arthur menyandarkan punggungnya, matanya terpejam. Dadanya masih memanas, dia sangat kesal. Entah kenapa, padahal tidak ada perasaan spesial yang dikhususkan untuk wanita itu.


"Kapan pekerjaan kita selesai?" tanya Arthur.


"Diperkirakan besok sore baru selesai, Tuan. Jika kita langsung kembali, malam baru tiba di mansion," jawab Leo


"Leo, selesaikan semua pekerjaan sesegera mungkin! Aku ingin secepatnya pulang!" ucap Arthur, rasa kesalnya sudah mendominasi hingga Arthur mendesak untuk segera pulang dan menemui Shanum untuk memenuhi hutang wanita itu.


"Baik, Tuan."


***


Seperti yang Arthur katakan semalam, semua pekerjaan langsung mereka selesaikan dalam waktu singkat. Siang semua pekerjaan mereka sudah terselesaikan. Tanpa mau menunggu lama lagi, Arthur langsung kembali ke kotanya. Dia sudah greget untuk menemui Shanum dan menggagahi wanita itu sebagai penebusan hutang.


"Setelah tiba di apartemen, jemput wanita itu sesegera mungkin. Aku mau tidur," ucap Arthur dengan suara tegasnya.


"Baik, Tuan."


Arthur memejamkan matanya. Tiba-tiba, perasaannya menjadi hangat. Dia bisa tidur dengan tenang, menghilangkan kelelahan akibat memaksakan diri untuk menyelesaikan pekerjaan sesegera mungkin supaya bisa bertemu dengan Shanum.

__ADS_1


Setibanya di apartemen, Arthur masuk dan langsung mandi. Menunggu kedatangan Shanum yang sedang dijemput oleh Leo.


"Kenapa dia menjemputku mendadak begini, sih? Sudah petang, untung saja aku bisa segera menemukan alasan untuk meninggalkan Arsen pada Rima. Arsenio, maafkan Mommy!" Shanum merasa bersalah karena harus meninggalkan Arsenio lagi. Tapi, mau bagaimana. Shanum juga ingin segera menuntaskan semuanya.


Sorot terang mobil yang dibawa Leo menyilaukan pandangan Shanum. Dia ingat, saat pertama kali diculik oleh orang tak dikenal saat itu, keadaannya juga sama.


Shanum berusaha menepis semua perasaan kalut yang mulai menjalar, sebisa mungkin dia bersikap biasa saja untuk mengahadapi Arthur yang mungkin akan menggila.


"Mana mungkin dia menggila. Dia kan sering melakukannya."


Shanum melirik kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang melihatnya masuk ke dalam mobil.


Sepanjang jalan Shanum maupun Leo tidak ada yang berbicara. Keduanya kompak terdiam.


Setibanya di apartemen, Leo hanya mengantarkan Shanum sampai ke depan pintu saja. Setelah pintu tertutup, Leo check-in hotel untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sangat kelelahan.


Shanum berjalan perlahan dalam ruangan temaram. Shanum melirik ke kiri dan ke kanan untuk memastikan suasana.


"Duduk!" suara bariton Arthur mengagetkan Shanum yang sedang waspada.


"Di ... mana?"


"Di atas ranjang!" Arthur ketus.


Shanum mengangguk, dia berjalan ke arah ranjang dan mendudukkan bokongnya di atas ranjang.


Tiba-tiba, tubuh Shanum di dorong ke belakang sampai dia terjatuh di atas ranjang dengan kaki yang masih menggantung di pinggir ranjang.


"Aw!" Shanum kaget, walaupun ranjangnya sangat empuk, Shanum tetap merasakan sakit di bagian belakangnya.


"Kau ingat apa statusmu sekarang, hum?" Wajah Arthur tepat berada di atas Shanum. Arthur menumpu tubuhnya dengan kedua tangannya.


"Status? Apa maksudmu, Tuan? Aku memang hanya cleaning service, kamu tahu itu kan. Jadi, untuk apa mempertanyakannya lagi?Sengaja mau merendahkan aku?" Shanum menatap wajah Arthur.


"Apa kau bodoh? Bukan itu yang aku maksudkan!" Arthur menggeram.


"Siapa pria itu?" mendengar pertanyaan yang aneh, Shanum hanya bisa mengerutkan dahinya.


"Pria? Yang mana?" tanyanya heran.


"Pria yang mengejarmu. Kau menyukainya makanya berusaha untuk menutupinya? Ingatlah! Kau masih istriku. Aku tidak akan mengampunimu!" ucap Shanum, mata elangnya berkilat-kilat karena kemarahan.


*****

__ADS_1


__ADS_2