
"Ka--kalian sedang apa?" tanya orang itu menatap tajam Shanum dan Arthur.
Shanum malu, dia langsung menurunkan bajunya, menolak Arthur sampai pria itu hampir terjatuh.
Melihat keberanian Shanum, seseorang yang sedang berdiri menatap mereka dengan tajam, tangan yang terlipat pun semakin mengerutkan dahinya.
"Arthur, apa yang sedang kamu lakukan pada cleaning servis ini? Kamu mau melecehkannya?" desak Kenya, menatap Shanum yang berdiri diam dengan kepala tertunduk. Ya, bagi Kenya Shanum memang cantik. Tetapi, Kenya juga tidak menyangka, kecantikan wanita itu bisa memikat putranya sampai membawa dampak perubahan yang lumayan besar.
"Ma, kami tidak melakukan apa-apa yang melanggar norma sosial kok," jawab Arthur setengah kesal. Rencana yang sudah dirancangnya tadi harus gagal karena kedatangan sang Mama yang pasti akan berlama-lama di kantornya.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa kau membuka sedikit bajumu di depan putraku barusan?" Pertanyaan itu kini beralih pada Shanum. Mendapatkan pertanyaan begitu, Shanum kebingungan.
'Apa yang harus aku jawab? Apa aku harus menjelaskan yang sebenarnya terjadi? Tetapi, bukankah itu terlalu memalukan?' batin Shanum, bimbang. Saat kegelisahan kembali menghantuinya, Shanum meremas jari-jemarinya seraya memilin ujung pakaiannya.
"Kenapa kamu malah diam? Apa dia memaksamu? Atau kalian sama-sama mau?" Kenya tidak terlalu jauh berpikir karena melihat kotak P3K di atas meja. Namun, yang tidak Kenya mengerti, kenapa Arthur mau mengoleskan obat pada seorang wanita, hanya cleaning servis pula. Sejak kapan Arthur menghilangkan keketusannya dan menurunkan harga dirinya untuk mengoleskan obat?
Arthur melirik sedikit pada Shanum, memperhatikan remasan jemari wanita itu.
"Ma, sudahlah. Kenapa harus diperpanjang? Lagipula, hal yang wajar jika aku mengobati karyawanku," ucap Arthur menengahi.
Kenya tersenyum mengejek ke arah Arthur. Memang wajar jika membawanya ke rumah sakit. Tetapi ini, mengundangnya masuk ke ruangan CEO, mengoleskan obat secara langsung, hal ini tentu tidak wajar bagi Kenya.
"Cepat pergilah!" ucap Arthur sedikit ketus, meminta Shanum segera pergi dari sana untuk menyembunyikan Shanum dari tatapan menyelidik Kenya.
"Tuan muda, Nyonya, saya permisi dulu," ucap Shanum, baru saja tangannya memegang handle pintu. Seruan Kenya mengagetkan sekaligus mencengangkan wanita itu.
"Arthur, kamu ini sudah memiliki seorang istri, punya anak. Bagaimana bisa kamu bermesraan dengan wanita lain seperti ini? Apa kamu tidak kasihan pada Istri dan anakmu?" ucap Kenya lantang, matanya masih tertuju pada Arthur. Namun, ucapannya itu bermaksud untuk memperingatkan Shanum.
Shanum bertingkah seolah tidak peduli. Dia langsung keluar tanpa melihat siapa pun lagi. Menulikan pendengarannya, berpura-pura tidak mendengarkan seruan Kenya yang cukup besar itu.
"Ma! Apa yang Mama katakan? Anak dan Istri? Mama sedang membual?" tanya Arthur, dia memandangi lekat wajah Kenya yang melukiskan senyuman simpul di wajahnya. "Apa Mama lupa aku ini belum menikah?" ucap Arthur tidak terima. Terlebih, Kenya mengatakannya di depan Shanum. Pasti Shanum akan memikirkan ucapan Kenya. Mengira jika pernyataan Mamanya barusan itu benar adanya.
Kenya mulai menyadari sesuatu di sini. dia membenarkan tas jinjingnya, berjalan mendekat ke arah Arthur.
"Sebegitu khawatirnya kamu dia akan salah paham? Kenapa? Kamu takut wanita cleaning servis barusan akan sedih karena tahu kamu sudah punya istri? Iya?" cecar Kenya.
"Sejak kapan Mama suka membeda-bedakan kasta seperti ini?" tanya Arthur, dia tau jiwa sosial Mamanya tinggi. Tidak termasuk seseorang yang pemilih dalam segala hal apa pun kecuali suami. Wkwk!
"Membeda-bedakan apanya, Arthur? Mama cuma bertanya. Lagipula, Mama tidak tahu nama wanita itu makanya memanggil dia wanita cleaning service!" ketus Kenya membela diri. Sebab, memang begitu adanya. Bukan alasan yang dibuat-buat.
"Namanya Shanum, Ma!" ucap Arthur, berjalan ke meja kerjanya. Kembali berkutat dengan banyak pekerjaan yang menumpuk. Berkali-kali pula Arthur memijat pelipisnya. Dia pusing dan lelah dengan semua pekerjaan itu.
'Harusnya aku bisa menghilangkan rasa lelahku dengan mencicipi tubuh wanita itu. Tetapi, Mama malah dan datang menggagalkan semuanya,' batin Arthur bergemuruh.
"Tumben kamu bisa mengingat nama wanita itu." Kenya memasang tersenyum, duduk dengan melipat kakinya. Kenya bukan tidak tahu kelakuan putranya yang kerap kali mengganti-ganti pasangan. Meski Arthur sangat pemilih. Tetap saja, ketakutan itu terus berkubang di hati Kenya.
"Arthur, sudahi main-mainmu. Bagaimana kalau kamu sakit? Itu sangat mengerikan. Cari istri dan Anakmu, hiduplah menjadi keluarga yang bahagia," ujar Kenya, harapannya pada Arthur memang sangat besar.
sekarang Arthur sangat sadar. Ternyata, Istri yang Mamanya katakan barusan adalah wanita yang sudah mengandung dan melahirkan anaknya. Dia juga sedang berusaha mencari. Tetapi, terkadang perhatiannya tertuju pada Shanum. Semuanya terpecah belah.
__ADS_1
"Di depan banyak sekali wahana mainan anak-anak. Apa kamu sedang memancing anak itu?" tanya kenya tepat sasaran.
Arthur mengangguk mengiyakan. "Benar, Ma."
Sementara itu, Shanum sedang membuatkan teh hangat untuk salah satu karyawan perusahaan. Dia termenung memikirkan perkataan kenya tadi. Bukan karena dia menyukai kantor dan takut harapannya pupus. Melainkan, Shanum terus berpikir keras. Jika Arthur sudah memiliki seorang Istri dan anak, Kenapa masih sangat senang mempermainkannya.
"Apakah karena aku cuma mainannya saja? Tapi, aku tidak suka berada di posisi sulit ini. Jika aku bisa mengungkapkan penyesalan, aku benar-benar menyesal telah mengusulkan pernikahan satu malam itu. Ternyata, pernikahan itu awal dari kerumitan ini," gumam Shanum, termenung seorang diri. tangannya mengaduh teh sepelan mungkin.
"Sha, kamu kenapa termenung? Masih memikirkan rundungan mereka, ya?" tanya Rima, berdiri tempat di samping Shanum.
Shanum menoleh, gerakannya mengaduk teh pun semakin dipercepat. Hal itu membuat Rima membenarkan dugaannya kalau Shanum benar-benar sedang termenung.
Shanum menggelengkan kepalanya. "Tidak, Rim. Aku hanya sedang memikirkan Arsenio," jawabnya berbohong. Shanum meminta rekannya yang lain untuk mengantarkan teh yang baru dibuatnya.
Shanum sudah menduga, jika dia yang mengantarkan teh itu, tatapan tajam seraya sinis para karyawan lainnya pasti akan membuatnya tertekan. Makanya Shanum memilih untuk menghindar saja. Terlebih lagi, Shanum juga tidak tahu tiga wanita yang habis dihajarnya di toilet tadi berada di divisi mana. Dia belum siap mendengar cacian dan sindiran pedas orang-orang itu untuknya.
"Kenapa dengan Arsenio?" tanya Rima, kembali ke topik awal.
"Huuffttt!" Shanum menghela nafas panjang. Wajahnya memperlihatkan kelelahan yang mendalam.
"Semakin lama, Arsenio akan beranjak dewasa, Rim. Saat itu, dia pasti akan semakin sering mempertanyakan keberadaan Daddy-nya. Disaat-saat itu pula lah, dia akan tahu kalau dia sebenarnya tidak memiliki Daddy. Identitas Daddy-nya tidak jelas." Tanpa diminta air mata Shanum meleleh. Memikirkan masa depan putra semata wayangnya benar-benar membuat perasaan Shanum terenyuh sekaligus khawatir.
Ketakutan terbesarnya ketika Arsenio tahu jati dirinya, menganggap dirinya sendiri sebagai anak haram. Jangankan Arsenio, Shanum sendiri tidak tahu bagaimana rupa pria yang merenggut kesuciannya malam itu.
Shanum mulai bisa menebak-nebal setelah Arsenio lahir ke dunia. Wajah putranya itu tak memiliki kemiripan dengan wajah Shanum, hingga membuat orang-orang yang melihat langsung bisa mengatakan jika Arsenio mirip dengan Daddy-nya. Begitu pula dengan Shanum, dia juga memiliki pemikiran yang sama dengan orang-orang itu.
Dulu, ketakutan Shanum tidak sebesar ini. Setelah dia lebih dekat dan perlahan-lahan tau bagaimana sikap asli Bos-nya itu, ketakutan Shanum mulai menjalar membelenggu dirinya.
"Apalagi, sekarang Arsenio mulai meminta diperlihatkan foto Daddy-nya. Aku tidak mungkin menunjukkan foto palsu, kan, Rim? Cuma karena mau menenangkannya sesaat," ujar Shanum, kegelisahan terpatri jelas di wajahnya. "Dia memintaku untuk membawanya ke makam Daddy-nya. Aku pusing, Rim. Aku juga tidak mungkin asal memilih makam," sambung Shanum lagi.
"Kamu yang sabar, ya. Aku yakin, setiap kesusahan pasti akan ditemukan jalan baiknya, Sha. Tidak mungkin Arsenio akan marah dan kecewa padamu, jikalau kamu bersedia memberikannya pengertian, jujur padanya setelah dia dewasa, Sha. Ya, itu memang sesuatu yang berat. Tetapi, memang begitulah keharusannya," ucap Rima. Dia juga tidak mampu mencarikan solusi terbaik untuk sahabatnya. Sebab, semua yang Shanum katakan memang benar.
Bahkan, semuanya pun sudah tergambar jelas di pikiran Rima.
"Daripada kamu sibuk memikirkan semua yang belum terjadi dan menenggelamkan kamu dalam ketakutan, lebih baik kamu mulai memikirkan solusi untuk ke depannya, Sha."
"Berikan saja foto Pak Arthur. Arsenio anak yang sangat pintar, Sha. Jika kamu memperlihatkan foto orang lain, dia pasti akan menemukan celah-celahnya. Tidak ada kemiripan di wajahnya dengan Daddy-nya yang di foto," ujar Rima.
"Lalu, bagaimana dengan makamnya? Makam siapa yang harus aku datangi? Tidak mungkin aku asal-asalan, kan? Itu hanya akan meninggalkan keributan jika keluarganya tau," ucap Shanum merasa frustasi dan lelah memikirkan semua ini.
Rima terdiam. Terlebih karena apa yang dikatakan Shanum memang benar adanya. Mereka sama-sama terdiam sampai Bu Reka datang mengejutkan keduanya.
"Kenapa malah termenung di sini? Cepat kembali bekerja!" titah Bu Reka dan langsung mendapat angkutan dari Rima dan Shanum.
"Maafkan kelalaian kami, Bu," ucap Shanum sambil tersenyum.
Mereka berdua lanjut bekerja. Sampai tidak terasa, jam pulang sudah tiba. Jam-jam seperti inilah yang paling ditunggu oleh semua pekerja. Karena bisa mengistirahatkan tubuh yang sudah seharian dibuat penat bekerja.
Shanum naik sepeda motornya, menjemput putranya yang pasti sudah menunggu bersama Miss Alea.
__ADS_1
Dari awal Shanum menjemput, wajah Arsenio cemberut tidak bersahabat. Shanum yang kebingungan, memilih bertanya kepada Miss Alea.
"Miss, kenapa Arsen cemberut terus, ya? Apakah ada sesuatu yang terjadi tadi?" tanya Shanum. Saat dia mengantarkan Arsenio ke Day Care, wajah putranya itu berseri-seri. Sekarang kenapa malah mirip seperti orang yang sedang merajuk?
Miss Alea menggelengkan kepalanya. "Saya juga tidak tahu, Mom. Tidak ada sesuatu yang terjadi, Arsenio juga bermain bersama teman-temannya seperti biasa. Saya juga bingung. Saat melihat Anda dari kejauhan tadi, disaat itulah wajahnya mulai cemberut," terang Miss Alea.
Shanum manggut-manggut. Sekarang dia sudah tau, Arsenio ngambek karena dirinya. Tapi, kesalahan apa yang dia perbuat sampai membuat putranya itu tidak senang. Entahlah Shanum begitu bingung dan pusing.
"Arsen, ternyata kamu sudah memakai helmnya, ya? Pintar sekali. Kenapa tidak menunggu Mommy yang pakaikan?" tanya Shanum basa-basi. Sebetulnya, putranya itu memang sudah sering menggunakan helm sendiri. kalau sedang manja saja baru minta Mommy-nya yang pakaikan.
"Kan memang suda sering Arsen pakai sendiri, Mom. Ayolah! Panas, Mom!"
"Baiklah-baiklah." Shanum tersenyum. Dia mulai melajukan sepeda motornya. Bernyanyi riang seperti biasanya. Disaat-saat seperti inilah dia bisa melupakan semua permasalahannya, meluapkan semua uneg-uneg di hatinya dengan bernyanyi riang bersama putranya.
Shanum semakin menguatkan dugaan Arsen sedang merajuk karena pria kecilnya itu tak ikut bernyanyi. Bahkan, menceletuk nyanyiannya pun tidak.
Shanum menaruh motornya di tempat biasa. Membuka pintu kamar kosnya. Arsenio langsung masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tak biasanya begitu. Biasanya, Arsenio pasti akan menggandeng tangan Mommy-nya.
Shanum menutup pintu, masuk dan menemukan Arsenio sedang menangis.
"Arsen, kamu kenapa?" Shanum sejajarkan tingginya dengan Arsenio.
"Mommy pembohong!" seru Arsen, menatap Shanum dalam tangisnya.
"Bohong? Berbohong apa?" Shanum sungguh tidak mengerti dengan pemikiran putranya.
"Katanya Mommy mau memperlihatkan wajah Daddy pada Arsen. Mana? Sampai sekarang Mommy tidak memperlihatkannya!" celetuk Arsenio, sambil mengusap air matanya yang sudah banjir.
Shanum benar-benar berada dilema. dia kelimpungan karena tiba-tiba Arsenio menagih janjinya.
Tampaknya shanum tidak memiliki pilihan lain. Dia hanya bisa menunjukkan foto seseorang demi membujuk pria kecilnya itu.
"Maafkan Mommy, Sayang. Mommy lupa dengan janjimu Mommy sendiri." Shanum mengusap air mata air senior dengan ibu jarinya.
"Lupa atau sengaja melupakan?" Arsenio bertanya di sela-sela tangisnya.
"Tidak. Mommy tidak sengaja."
"Mana?" Arsenio mendengarkan tangannya, menagihnya saat itu juga.
Shanum terperosok dalam jurang kebimbangan. Dia mengeluarkan gadgetnya, men-search nama seseorang di media sosial. Langsung terpampang wajah seorang pria yang dicarinya.
"Lihatlah! Ini Daddy-mu," ucap Shanum.
"Benarkah ini Daddy?" tanya Arsenio dengan mata yang berbinar-binar. "Benar, dia sangat mirip denganku!" seru Arsenio.
"Siapa nama Daddy, Mom? Arthur?" tanya Arsenio, sambil membaca nama yang berada di kolom pencarian Shanum.
*****
__ADS_1