
"Leo, putar balik ke tempat tinggal wanita ini! Aku harus menemui putraku!" titah Arthur, tidak peduli dengan penyangkalan Shanum. "Cepat!" Arthur tidak sabaran, ingin sesegera mungkin menemui anak kecil yang diyakini sebagai putranya.
"Ti--tidak, Tuan, barusan aku hanya asal-asalan bicara saja. Mungkin karena sedang emosi dengan paksaanmu sampai mengatakan hal-hal aneh," sanggah Shanum, jika biasanya Shanum sangat tidak mau dipegang oleh Arthur, kali ini dia yang menggenggam tangan Arthur, tanpa sadar.
"Aku tidak mempercayai ucapanmu, Shanum. Lebih baik jangan banyak bicara, sebab aku tidak akan mempercayainya!" ketus Arthur, tidak melepaskan genggaman Shanum.
Semua alasan yang Shanum katakan malah membuat Arthur semakin yakin, jika putra Shanum memanglah anak kandungnya yang selama ini Shanum sembunyikan.
"Tuan, aku benar-benar cuma asal bicara saja. Mana mungkin aku pernah mengandung anakmu. Bertamu saja belum pernah, jadi tidak mungkin itu semua terjadi." Shanum terus-menerus menyangkali.
"Aku mempercayainya, Shanum!" ucapan tegas Arthur membuat Shanum menarik nafas panjang kelegaan. Dia tersenyum simpul karena berpikir semuanya sudah selesai. Arthur benar-benar percaya dengan penyangkalannya. Namun, senyuman manis Shanum seketika langsung menghilang saat mendengar kalimat yang Arthur katakan lagi.
"Aku percaya pria kecil yang kau beri nama Arsenio itu adalah putraku. Aku sangat yakin, pria kecil yang saat itu datang ke kantor untuk menemui Mommy-nya, adalah putramu, anak kandungku. Arsenio? Nama yang bagus," ucap Arthur, diakhiri dengan pujian.
"Sudahlah, Shanum, aku tidak akan mempercayai segala macam bantahanmu. Aku sudah melihat sendiri seberapa miripnya anak itu denganku. Selama ini aku sedang mencarinya ke mana pun. Yang tidak aku duga, ternyata kau adalah Mommy dari putraku!" ucap Arthur lagi, mereka semakin dekat dengan jangkauan kos-kosan Shanum. Semakin berdentam kuat pula jantung Shanum, tak karuan sampai rasanya dia ingin menangis.
Shanum sangat sadar, semua ini terjadi karena kelancangannya dalam bicara. Karena emosinya yang menggebu sampai mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya dia ucapkan. Penyesalan terus mencambuk relungnya, meski sesadar itu dia tau penyesalan tidak akan membuahkan hasil apa pun. Tidak akan menghentikan Arthur yang ingin menemui putranya.
Arthur melirik Shanum yang membisu seraya mematung. Lelehan air mata wanita itu yang menjelaskan suasana hati Shanum. Diamnya Shanum seolah-olah menjadi jawaban tersendiri bagi Arthur.
Shanum diam karena memikirkan alasan apa yang sekiranya dapat membuat Arthur mempercayainya. Jangan sampai Arthur bener-bener menemui Arsenio.
Dugaannya dulu tentang Leo yang akan mengadu mengenai kemiripan wajah Arsenio dengan Arthur memang benar, bukan? Shanum memicingkan matanya pada Leo, kemudian dia menghela nafas panjang, mulai sadar.
'Aku tidak bisa melawannya. Tapi, aku tetap tidak boleh membiarkan Tuan Arthur bertemu dengan Arsenio. Tuhan... tolong tunjukkan jalan. Aku ... sangat kebingungan dan tidak lagi menemukan alasan yang tepat,' batin Shanum, menghapus air matanya.
Shanum memang tidak pernah pintar berbohong. Apalagi jika harus merangkai kata yang dapat menipu semua orang. Terlebih, yang ingin dia tipu adalah seorang Arthur Harisson, seorang kaisar di dunia bisnis. Sudah cukup lama Arthur menyelami dunia bisnis, sudah sangat lama Arthur berkecimpung dalam dunia bisnis. Hingga pria itu sudah bisa melihat wajah-wajah mana yang sedang menyimpan kebohongan.
__ADS_1
"Kenapa kau diam? Ayo turun!" desak Arthur, tanpa Shanum sadari mereka suda berada di depan kos-kosannya.
"Tuan, kumohon... dia bukan anakmu. Jika kau mencurigai dia sebagai anakmu, wajah bisa mirip dengan siapa saja, bukan? Mengapa kau bisa mengclaim jika putraku juga anakmu? Sedangkan kita...." Shanum menghentikan ucapannya, dia melirik Leo lagi. Rasanya terlalu malu untuk mengatakan hal yang demikian.
"Apa?" sentakan Arthur memaksa Shanum untuk melanjutkan ucapannya lagi.
"Sedangkan ... kita baru bertemu dan baru saja berhubungan intim. Bagaimana mungkin bisa memiliki anak sebesar itu?" ucap Shanum dengan suara lirih yang hampir tidak terdengar.
Mendengar penuturan Shanum yang lagi-lagi berupa penyangkalan, Arthur tertawa mengejek. Sudah sampai ke tahap ini, dia tidak menyangka wanita itu masih saja mengelak.
"Bisakah kau tidak lagi menyangkali?" Arthur kesal dengan wanita di sampingnya ini.
"Bagaimana mungkin aku mengiyakan sesuatu yang jelas-jelas salah? Kau mengclaim putraku sebagai anakmu, apakah aku harus ikut mengiyakan?" sentak Shanum, mengeraskan suaranya.
"Jangan berbelit-belit Shanum. Waktuku habis hanya untuk berdebat denganmu saja!" sinis Arthur, tatapan tajamnya tak menyurutkan keberanian Shanum untuk tetap melawan dan menyangkal.
"Leo!" Saat namanya dipanggil oleh Bos-nya, Leo sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Dia turun dan membukakan pintu untuk Bosnya.
"Tuan ...." Leo memanggil Bosnya itu. Sebab, banyak pasang mata yang sudah menyoroti mereka. Apalagi, posisi Shanum dan Arthur juga bisa memicu kesalahpahaman orang-orang. Makanya, terpaksa dia menganggu keduanya yang masih mematung dalam posisi Arthur menindih setengah badan Shanum.
"Tu--tuan, banyak yang melihat ke arah kita," ucap Leo, matanya berpendar ke segala penjuru. Mau menutup pintu, sebelah kaki Bos-nya masih bergelantungan di luar. Pasti kecepit.
Mendengar ucapan Leo, Shanum langsung menolak tubuh Arthur.
"Kau!" Arthur menahan kesal.
Dia membenarkan jasnya, langsung turun tanpa mempedulikan teriakan-teriakan Shanum yang memekakkan telinga. Shanum juga buru-buru turun, menyusul Arthur, berlari-lari kecil di belakang pria itu.
__ADS_1
"Tuan! Tuan Arthur!" Teriakan Shanum menyita perhatian orang-orang.
"Nona, di mana kamar Anda?" tanya Leo, mereka berdiri di tengah-tengah kos. Dengan penghuni kos yang sudah mengelilingi mereka bertiga, termasuk Rima dan Ibu kost.
Shanum diam saja. Dia tidak mau memberitahukan letak kamarnya. Dia juga berharap, tidak akan ada teman-teman kosnya yang akan memberitahu Arthur dan Leo.
Arthur berdecak, dia kesal dalam situasi ini.
Beberapa pegawai perusahaan Arthur Group yang juga mengekos di tempat yang sama, saling bersitatap dengan temannya yang lain. Apalagi karena mereka juga sudah termakan gosip yang sedang santer.
"Di mana kamarmu?" tanya Arthur.
"Lihatlah! Pak Arthur bersama dengan Shanum. Bukankah tadi Shanum dijemput oleh seorang Dokter tampan? Kenapa sekarang dia bisa bersama dengan Pak Arthur?" banyak yang mulai berbisik-bisik ria. Jika mereka tidak takut terhadap atasannya, sudah pasti akan merekam kejadian itu dan menyebarluaskannya.
Lumayan, bisa dijadikan sebagai bahan gosip baru yang mungkin saja akan lebih panas.
Leo mendatangi Ibu pemilik kost. Kemudian menanyai keberadaan Arsenio. "Maaf, Nyonya, apakah Nona Shanum memiliki anak berusia empat tahun?" tanya Leo.
Ibu kost hanya mengangguk. Kenyataan itu tidak mungkin bisa dia sembunyikan.
"Boleh aku tahu di mana keberadaan putranya itu?" tanya Leo lagi.
Ibu kost itu melirik ke arah Shanum, pertanda meminta pendapat melalui sorot mata.
Shanum yang mengerti segera menggelengkan kepalanya.
"Arsenio ... di mana kamu, Sayang? Arsenio ... ini Daddy, Nak! Keluarlah! Daddy sangat merindukanmu." Tidak Shanum sangka, Arthur akan berteriak demi meminta putranya keluar dari persembunyian. Teriakan Arthur juga mengagetkan semua orang, terutama para karyawannya di Arthur Group. Mereka semua tercengang dengan mulut yang menganga.
__ADS_1
"Ar--arsenio, putranya Pak Arthur? Bagaimana bisa?"
*****