
"Ba--bagaimana, Tuan?" Shanum tersenyum senang. Dia tidak menduga, Bosnya masih mau membantunya, walaupun mobil pria itu sendiri yang mengalami kerusakan.
"Tidurlah denganku!" ucap Arthur tanpa malu atau pun merasa bersalah setelah itu.
Mendengar penawaran Bosnya, Shanum membisu, tubuhnya seakan terikat oleh sebuah tali besar tak kasat mata yang membelenggunya, pikirannya tiba-tiba kosong, pandangan Shanum tertuju pada Arthur yang masih tersenyum.
Shanum sendiri tidak mengerti, senyuman Arthur merupakan senyuman mengejek atau hanya senyuman manis biasa.
"Kenapa kau malah termenung? Tidurlah denganku maka semua hutang biaya perbaikanmu akan lunas. Tidak akan tersisa satu perak pun. Bagaimana? Aku tidak akan memaksa, kalau kau menolaknya juga tidak masalah." Arthur mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja.
Suara ketukan jari Arthur terdengar seperti waktu yang meneror Shanum untuk segera memberikan jawaban. Namun, setelah Shanum bisa membuka tali tak kasat mata yang membuatnya sesak, Shanum meraup udara sebanyak mungkin. Tangannya terkepal erat, dadanya membusung disertai dengan wajahnya yang memerah. Wajah Shanum merah bukan karena dia sedang tertipu malu, tetapi karena sedang menahan gejolak amarah yang sudah meletup-letup.
"Maaf, Tuan, saya menolak tawaran itu. Saya memang melakukan kesalahan dan harus menggantikan biaya kerusakan pada mobil mewah Anda. Tetapi, bukan berarti harus menjual diri, kan?" ketus Shanum, penawaran Arthur serasa mengoyak harga diri Shanum, membuka lembaran kusam masa lampau yang seharusnya sudah mampu dia lupakan sejak lama.
Arthur keliru, dia pikir mentang-mentang Shanum miskin dan memiliki gaji yang kecil, Arthur bisa menawarkan untuk menukar semua biaya perbaikan itu dengan harga diri wanita itu? Tentu saja dugaan itu meleset jauh. Sejak dulu Shanum sangat menjunjung harga dirinya.
"Lalu, kau mau membayar dengan apa? Tetap bersikukuh ingin meminjam uang padaku?" Arthur tersenyum miring, senyuman yang tercetak jelas di wajah tampan pria itu memang senyuman sinis dan mengejek.
"Tidak," jawab Shanum cepat.
Shanum memperhatikan, Arthur memang sangat tampan sekali. Hidungnya mancung, rahangnya begitu tegas, matanya begitu tajam, serta dadanya yang bidang membuat semua wanita pasti sangat menyukainya. Postur tubuhnya yang tinggi dan tegap, menambah nilai plus tersendiri. Namun, mengapa sikap pria itu sangat buruk?
"Beraninya kau menatapku seperti itu? Kau pikir, dirimu siapa?!" sentak Arthur, wajah dinginnya langsung bertukar dengan senyuman saat melihat secepat kilat Shanum menundukkan kepalanya.
"Maafkan saya, Tuan. Tapi, saya mau meminta kesempatan, saya berharap Anda mau menambah waktu untuk saya sampai beberapa hari lagi," ucap Shanum, memilin ujung bajunya sampai kusut.
"Kenapa aku harus memberikanmu waktu? Mobil itu harganya sangat mahal, jika tidak segera diperbaiki maka akan--"
"Ya, saya tahu, Tuan. Saya mohon, berikan waktu, sedikit lagi saja." Shanum terus memelas.
"Aku akan memberikanmu waktu, tapi harganya naik, bagaimana? Apa kau menyanggupinya?" tanya Arthur, dia berusaha menahan senyum melihat Shanum yang terkaget.
"Na--naik menjadi berapa? Tolong, jangan jadi rentenir kikir!" ucap Shanum, setelah mengumpulkan keberaniannya.
"Baiklah-baiklah, aku akan memberikan waktu untukmu. Tiga hari, tidak lebih. Jika dalam waktu tiga hari kau tidak mampu melunasinya, maka jangan salahkan aku!" ancam Arthur.
Shanum menjura, berterima kasih sebanyak mungkin. Waktu tiga hari masihlah sangat sedikit, bahkan di mana uang tersebut pun Shanum belum memiliki bayangannya sama sekali. Tetapi, masih lumayan daripada besok.
__ADS_1
"Saya permisi, Tuan." Setelah mendapatkan anggukan dari Arthur, Shanum bergegas keluar. Baru saja dia menutup pintu, dia kembali dikejutkan oleh kehadiran Sena yang berada persis di depan pintu, seperti orang yang sedang menguping.
"Apa saja yang kalian bicarakan? Kenapa lama sekali di dalam?" tanya Sena mengintrogasi, melipat tangannya di dada seraya menatap Shanum sinis.
"Tidak ada, Nona Sena. Terima kasih sebelumnya," ucap Shanum, hendak pergi namun tangannya dicekal oleh Sena.
"Jangan berbohong, deh! Kalau emang tidak membahas apa pun, kenapa kau lama sekali di dalam sana?" sentak Sena, dia tidak terima jika ada seseorang yang berusaha mendekati Arthur.
"Maaf, Nona." Shanum melepaskan cekalan tangan Sena dengan cara menepisnya. Dia sadar, pertanyaan Sena sudah menjurus keluar konteks, melingkupi hal-hal pribadi yang tidak seharusnya wanita itu ketahui.
"Nona Sena, Anda hanyalah sekretaris CEO. Jangan beralih profesi menjadi penguntit dengan menguping pembicaraan orang lain. Aku dan Tuan Arthur sedang menegosiasikan sesuatu yang bersifat pribadi," ujar Shanum, memperingatkan.
"Kau sedang mengguriku? Hal apa yang kau negosiasikan dengan Tuan Arthur?" Sena masih saja penasaran, semakin lama jawaban Shanum makin menggerogoti rasa penasarannya.
"Tidak semua masalah pribadi orang lain bisa Anda ketahui. Tolong, jaga sikap Anda terhadap saya. Walaupun saya hanya seorang cleaning servis, bukan berarti Anda bisa berbuat kasar," ucap Shanum.
Sena sangat kesal, dia mengepalkan tangannya seerat mungkin. Jika saja mereka berada di luar area kantor, mungkin sekarang Sena akan meninju wajah Shanum. Tapi, semuanya tidak bisa dia lakukan sesukanya ketika mereka berada di area kantor. Bisa-bisa, citranya sebagai seseorang yang baik dan pegawai teladan hancur berantakan karena kecerobohannya sendiri.
"Kau harus ingat sesuatu, Tuan Arthur tidak mungkin tertarik denganmu. Jadi, jangan terlalu banyak berharap dan sadar dirilah!" ketus Sena, tersenyum sinis kemudian berlalu pergi.
"Entahlah. Tetapi, dia sudah mengajakku untuk tidur bersama dengannya tadi," gumam Shanum, kembali ke ruangan khusus yang diperuntukkan untuk pekerja cleaning servis seperti dirinya.
Shanum tersenyum sambil menggelengkan kepala pelan. Dia hanya bisa tersenyum kecut, karena apa yang Shanum pikirkan sangat jauh berbeda dengan yang terjadi tadi.
"Dia tidak bersedia meminjamkan uang untukku, Rim. Mungkin, karena waktu pembayarannya terlalu lama, ya?" Shanum terkekeh kecil, menertawakan nasibnya sendiri yang dirasa begitu miris.
"Duh... Sha, kita harus bagaimana? Aku juga tidak memiliki uang sebanyak itu." Rima cemas, dia menggigit ujung kukunya, menggambarkan kecemasannya.
Shanum tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. Rima benar-benar memperlihatkan kekhawatiran akan kondisi Shanum. Lagipula, jika Rima sampai memberikan uang tabungannya, Shanum pasti akan langsung menolak keras. Dia sangat tahu, semua uang tabungan milik Rima adalah uang yang sengaja disimpan untuk keperluan pernikahan Rima sendiri.
"Rima, tidak perlu ikut pusing seperti itu. Meskipun Tuan Arthur tidak memberikan pinjaman uang, tapi dia memperpanjang waktu," ucap Shanum.
"Memperpanjang waktu?" Rima tak mengerti.
"Ya. Mobil yang tidak sengaja aku tabrak, ternyata mobilnya Tuan Arthur," terang Shanum.
"A--apa?" Rima berteriak, membuat semua orang yang berada dala ruangan tersebut ikut tersentak.
__ADS_1
"Rima, jangan berteriak seperti itu. Kamu mengagetkan semua orang."
***
Hari sudah menjelang sore. Waktunya untuk pulang. Sebelum pulang, Shanum singgah ke toko kue yang berada dekat dengan kantornya. Shanum ingat, Arsen pernah meminta cake cokelat pada Mommy-nya itu. Namun, baru sekarang lah Shanum bisa memberikannya. Walau sedang diterjang ombak permasalahan yang memusingkan, Shanum memilih untuk melupakannya sejenak, berusaha tersenyum di depan Arsenio, putranya.
Shanum menunjuk cake cokelat berukuran sedang, meminta pegawai toko tersebut untuk menggambarkan emoji senyum dan bentuk love di atas cake tersebut.
"Shanum? Ini kamu, kan?" sapa seseorang yang suaranya masih familiar di telinga Shanum.
Shanum menoleh untuk memastikan. Tidak menyangka, prasangkanya memang benar. Orang tersebut memanglah Rio.
Shanum tidak menjawab, dia menyibukkan diri dengan berbincang pembahasan yang tidak penting dengan pegawai toko tersebut. Dengan senang hati juga sang pegawai meladeni apa pun yang Shanum katakan.
"Sha, kamu masih ingat aku, kan? Baru tiga tahun kita tidak bertemu, kamu pasti mengingatku dengan jelas. Atau, mungkin masih mencintaiku?" Rio tersenyum, tidak ada perbedaan dari diri Shanum. Hanya ... terlihat semakin cantik dan memikat.
"Sha, bagaimana kabarmu?" tanya Rio, terus saja bercerocos tapi tak sekali pun Shanum menanggapinya. Sudah dari lama sekali Shanum menganggap kehadiran Rio yang pernah mengisi kekelabuannya, mencerahkan warna hidupnya, menceriakan kesedihan yang selalu melanda, hanyalah mimpi belaka. Mimpi yang tidak patut untuk dikenang.
Bagaimanapun, mengenang mimpi yang berujung menyayat diri, tidak mungkin elok untuk dirasakan. Bagi Shanum, semuanya sudah terlupakan. Sejak awal kenangan kelam itu terjadi, Shanum benar-benar tersuruk dalam jurang luka, yang membuatnya tak berani merajaut asa dan hanya bisa menangisi nasibnya yang tak seindah angan. Susah sekali untuk Shanum bangkit pada saat itu, jadi mana mungkin dia berani menengok pada sang pembuat luka. Tak mau lagi dia menjerumuskan diri pada lubang luka yang sama.
"Terima kasih," ucap Shanum pada pada pegawai toko itu. Setelah membayar, dia bergegas pergi sambil menenteng cake cokelatnya yang khusus dibeli untuk sang pangeran.
Namun, ternyata Rio tidak membiarkan Shanum pergi begitu saja. Dia mencekal lagi lengan Shanum, menghadang langkah wanita yang telah menjadi masa lalunya itu.
"Sha, kenapa kamu tidak peduli padaku? Kamu tidak mungkin lupa denganku, kan? Aku tau, kamu hanya berpura-pura. Tolong, jangan seperti ini, Sha!" Rio memohon, menggenggam erat tangan Shanum.
Shanum memperhatikan tangannya yang digenggam pria yang pernah menjadi pujaannya itu. Dulunya, Shanum langsung tersenyum ketika Rio menggenggamnya begitu. Sekarang, hanya ada rasa jijik yang menjalar dan kebencian yang mengakar. Rasa cintanya sudah pupus, hatinya tak lagi mengagungkan nama Rio yang sudah dianggapnya sebagai bajingan.
"Maaf, bisakah Anda melepaskan tanganku? Jangan membuat orang lain salah paham." Shanum menarik tangannya, tidak memberikan kesempatan apa pun pada Rio.
"Kenapa kamu menghindar dariku?" Rio menanyakan sebuah pertanyaan yang sudah jelas sekali jawabannya. Yaitu kebencian.
"Memangnya Anda siapa? Kenapa aku harus berbincang akrab denganmu?" pertanyaan Shanum membuat Rio menganga.
"Sha, jangan jadi orang lain!" mohon Rio.
'Pria bajingan sialan! Kau yang membuatku seperti ini. Kau yang mengikis rasa percayaku sampai habis!'
__ADS_1
"Sha, selama ini kamu ke mana saja? Sudah lelah aku mencarimu. Saat bertemu, kamu malah bersikap asing denganku. Hatiku perih, Sha! Aku sangat merindukanmu!" ucap Rio, Shanum sendiri tidak mengerti. Mengapa Rio tiba-tiba mengubah sikapnya seperti ini.
*****