Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Merasa Terganggu


__ADS_3

"Sha, selama ini kamu ke mana saja? Sudah lelah aku mencarimu. Saat bertemu, kamu malah bersikap asing denganku. Hatiku perih, Sha! Aku sangat merindukanmu!" ucap Rio, Shanum sendiri tidak mengerti. Mengapa Rio tiba-tiba mengubah sikapnya seperti ini.


Shanum menghempaskan tangan Rio. Ingin sekali dia mencaci, mencakar, serta menginjak-injak batang ******** Rio. Namun, tentu dia tidak bisa meluapkan emosinya yang sudah menggebu itu di depan umum. Sudah pasti, pada akhirnya yang akan disalahkan adalah Shanum. Dia sudah cukup mengenal Rio, seorang pria yang pintar melakukan playing victim.


Tatapan tajam Shanum mengintimidasi, giginya yang bergemelatuk sudah cukup mengisyaratkan kemarahannya.


"Tuan Rio yang terhormat, tolong jaga sikap dan ucapan Anda. Tolong sekali, jangan buat orang salah paham dengan ucapan-ucapanmu yang tidak masuk akal. Biarkan aku hidup tenang. Setelah ini, jika bertemu denganku di mana pun, anggap saja aku sebagai sampah yang tak sanggup kau lihat!" ketus Shanum, setelah mengungkapkan apa yang dipendamnya sejak tadi, Shanum melengos begitu saja.


"Sha, kenapa kamu berubah sedrastis ini? Tolong, jangan bersikap seperti ini padaku!" Rio memohon, namun tak sekalipun dia mengungkit kesalahannya di masa lampau.


"Maaf, aku harus pergi sekarang!"


"Biar aku antar, ya!" Rio menimpa punggung tangan Shanum.


"Sepeda motorku masih kuat kok." Shanum langsung menarik gas dan melajukan sepeda motornya, meninggalkan Rio yang masih meneriaki namanya berulang kali.


Sepanjang jalan, Shanum meluapkan emosinya dengan menarik dan menghembuskan nafas panjang berulang kali. Mulutnya tidak henti-hentinya menggerutu dan mengumpati Rio yang masih saja mengganggunya.


"Apa sih maunya dia? Kenapa dia masih menggangguku? Sudah tiga tahun berlalu, kenapa dia masih belum bisa melepaskanku. Apalagi yang dia mau? Dasar pria bajingan sialan!" umpat Shanum, berulang kali menggemerutu.


Saat Shanum masih saja mencaci tanpa henti, dia dikejutkan dengan suara klakson panjang dari sebuah mobil di belakangnya.


Tin! Tin!


Setelah mengklakson Shanum, mobil itu langsung mengebut ke depan. Shanum menoleh, melihat siapa yang menegurnya barusan padahal dia tidak melakukan kesalahan apa pun. Saat Shanum memperhatikan ada penyok di bagian belakang mobil itu, dia langsung mengenali siapa pemilik mobil tersebut.


"Tuan Arthur? Dia sengaja kah?" kekesalan Shanum semakin memuncak.

__ADS_1


Shanum semakin mengebut, supaya cepat sampai ke Day Care. Setibanya di sana, Arsenio sudah menunggu Shanum di bangku taman. Ditemani oleh seorang guru pengasuh Arsen.


"Terima kasih, Bu." Shanum tersenyum hangat.


"Terima kasih Mommy, Arsen senang karena Mommy tidak telat," ucap Arsenio.


"Sama-sama, Sayang. Maaf karena selama ini Mommy sering telat jemput kamu." Shanum mengusap puncak kepala putranya.


"Tidak apa-apa, aku mengerti Mommy bekerja," ucap Arsenio.


"Mom, itu apa?" Arsen menunjuk pada sebuah paper bag berlogokan toko cake yang didatangi Shanum tadi. Mendapat pertanyaan seperti itu, Shanum pun tersenyum.


"Ini cake cokelat permintaan kamu, Nak! Maaf, Mommy baru punya uang sekarang," Shanum masih memperlihatkan senyum manisnya pada sang buah hati.


Arsenio sangat senang, dia meminta gendong pada Shanum dan memeluk serta mengecup dahi Mommy-nya hingga beberapa kali.


"Sha! Shanum!" suara seorang pria yang tidak ingin dilihatnya lagi kembali terdengar. Shanum kesal, dia segera mendudukkan Arsen di motornya, berniat langsung pergi.


"Sha! I--ini anak kamu?" tanya Rio, entah sejak kapan pria itu sudah berada di sana.


Arsen diam, dia tidak mengenal siapa pria yang sedang berbicara dengan Mommy-nya itu.


"Sha, kamu kenapa, sih? Tolong, jangan seperti ini padaku. Aku--" Rio meraih tangan Shanum dan hendak mencium punggung tangan wanita itu. Shanum yang mengerti dengan gelagat Rio, langsung menarik paksa tangannya.


"Tuan, bukankah kita sudah bicara tadi? Kenapa Anda masih mengikutiku sampai ke sini? Tolong bersikap sopanlah di depan anak kecil!" ketus Shanum.


"Mommy, Arsen haus...." keluh Arsen.

__ADS_1


"Menyingkirlah, Tuan! Suamiku menunggu di rumah," ucap Shanum. Rio menggeser tubuhnya ke samping, barulah Shanum bisa pergi dengan leluasa.


"Suami? Benarkah Shanum sudah memiliki suami? Anak itu ... benar-benar anak yang dikandungnya saat itu?" gumam Rio, memikirkan segala kemungkinan. Masih ragu jika Shanum memang sudah menikah.


"Tidak, dia pasti berbohong. Shanum masih sangat mencintaimu, tidak mungkin dia menikah dengan pria lain," gumam Rio, tingkat kepercayaan dirinya sangatlah tinggi.


Rio pulang ke rumah, sepanjang perjalanan Rio memasang wajah penuh senyum karena melihat mantan kekasihnya yang semakin cantik dan memikat. Namun, Rio segera merubah raut wajahnya ketika dia sudah tiba di depan rumah. Rio memasang wajah sangar, menarik garis pembatas dengan Rara, istrinya.


"Rio, kenapa kamu baru pulang? Mana kue pesananku? Nabil menunggunya!" tanya Rara.


"Rara, bisa tidak kamu diam? Aku lelah. Suami baru pulang kerja malah diminta ini itu. Lagipula, kenapa dia tidak meminta sama Ayah kandungnya saja? Kenapa harus meminta padaku, sih?" omel Rio, sampai sekarang dia menganggap Nabil, anak yang dilahirkan Rara tiga tahun lalu bukanlah putri kandungnya.


"Rio, mau sampai kapan kamu menyakiti hati putri kita? Sudah tiga tahun berlalu, sampai sekarang kamu tidak pernah menyentuhnya, selalu menatapnya dengan tatapan jijik, bahkan selalu saja menyebutnya anak haram. Dia itu darah dagingmu, Rio. Kenapa kamu seketerlaluan ini?!" cerca Rara, hatinya teramat sakit menerima semua perlakuan tak mengenakkan yang selalu Rio berikan pada putrinya.


"Diamlah! Jangan menyebut dia putriku! Memang kenyataannya dia anak haram, mau sampai kapan pun, dan sebanyak apa pun kau mengatakan dia anakku, itu semua tidak akan membuatku percaya!" sergah Rio. Tatapannya tak kalah tajam.


Rara mengepalkan tangannya, rasa amarahnya yang sudah dipendam selama tiga tahun sudah membuncah, wajahnya sudah merah padam.


"Penyesalan terbesarku adalah menikah denganmu. Dulu, aku sangat buta bisa mencintai pria seburuk kamu, sampai mengkhianati sahabatku sendiri. Kau ... pria sialan bajingan!" pekik Rara, air matanya luluh lantak.


"Halah! jangan mengataiku pria bajingan. Nyatanya kau juga sama sepertiku. Memang pada dasarnya kau pengkhianat. Kalau kau memang tipe orang yang setia, sekuat apa pun aku merayumu, kau tidak akan pernah terlena. Buktinya, kau yang melemparkan dirimu sendiri padaku seperti wanita murahan. Aku sangat yakin, kau juga bersikap seperti itu pada semua pria. Jadi, jangan sok menyangkal, kau memang murahan! Harga dirimu pantas untuk diinjak-injak!" ucap Rio, senyuman sinisnya semakin melukai Rara.


"Rio! Kenapa kata-katamu sekasar itu? Ternyata benar yang Rara katakan, selama ini kamu selalu merendahkannya? Kamu juga tidak mengakui Nabil sebagai putrimu? Suami dan Ayah macam apa kamu? Kenapa tega memperlakukan keluargamu seperti itu?!" sergah Peni, berjalan masuk ke dalam.


"Sudah cukup Shanum saja yang kamu perlakuan seperti itu, kenapa kamu berperilaku kasar juga sama istri kamu?" sentak Peni lagi, dia geleng-geleng kepala dengan sikap putranya yang sudah sangat terlampau.


"Ma, aku sudah bertemu dengan Shanum. Dia sudah sangat cantik, aku mau mengajaknya kembali padaku, Ma. Aku mau menikahinya. Mama pasti setuju, kan?" Rio tak peduli dengan apa yang Mamanya katakan barusan, yang ada dipikirannya saat ini hanyalah Shanum.

__ADS_1


*****


__ADS_2