Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Pemaksaan Arthur


__ADS_3

"Apa-apaan ini, Tuan! Kumohon, jangan lakukan apa pun lagi padaku. Lepaskan aku!" Shanum mengiba.


Arthur tidak peduli, dia mengendurkan dasinya, berjalan ke arah Shanum.


"Layani aku, Istriku!"


"Tidak. Aku tidak mau!" Shanum beringsut sampai tubuhnya membentur ke sandaran ranjang. Situasi sulit itu datang lagi, Shanum cuma bisa menangis. Tetapi, jika dia menangis pasrah, tetap tidak akan ada jalan keluar yang akan didapatkannya.


'Tenang Shanum, kau harus tenang. Mungkin, ini hanya permainan Tuan Arthur saja. Jangan panik. Semakin kau, maka dia akan semakin terpancing.' batin Shanum.


Namun, melihat keberingasan Arthur yang sudah membuka semua kancing kemejanya, memperlihatkan otot-otot perutnya, Shanum semakin cemas. Dia menggigit bibir bawahnya, jari-jemarinya saling meremas. Melihat gelagat Shanum, Arthur bisa menebak jika wanita itu sedang dalam keadaan panik.


"Tu--tuan, kumohon jangan lakukan ini padaku. Kenapa aku harus melayanimu lagi? Semua urusan di antara kita sudah selesai, bukan? Lantas, mengapa kamu masih saja memintaku untuk melayanimu--"


"Karena kau masih berstatus sebagai istriku!" ucap Arthur. Kini, dia sedang membuka ikat pinggangnya, merangkak naik ke atas ranjang.


Tepat saat Arthur sedang merangkak naik ke atas ranjang, Shanum memanfaatkan kesempatan itu untuk bergegas turun dari ranjang, cepat dia berlari ke arah pintu. Baru saja Shanum memegang handle pintu, tangan kekar Arthur sudah memeluk pinggangnya. Saat itulah Arumi menangis sejadinya. Ketakutan beberapa tahun silam kembali menggerayanginya.


Suasana yang sama, gelap, dan hendak ditiduri secara paksa, persis sekali. Keringat dingin di tubuh Shanum bercucuran. Kepalanya terus menggeleng, menolak untuk disentuh oleh Arthur.


Arthur menggenggam kedua tangan Shanum, tubuh mereka menempel.


"Jangan bermimpi bisa pergi dari sini, Shanum!" ucap Arthur, ketika suara baritonnya menusuk telinga Shanum, wanita itu semakin ketakutan.


Arthur membalikkan tubuh Shanum menghadap ke arahnya, menelisik setiap inci wajah Shanum yang berurai air mata. Ada rasa senang saat Shanum menolak dan memohon padanya.


"Kenapa kau menangis? Kita ini sudah menikah, ya walau secara siri. Kau harus bersedia menyerahkan dirimu kapan pun suamimu ini memintanya. Bukankah memang sudah seharusnya seperti itu?" Arthur menyusuri lekuk tubuh Shanum dengan tangannya.


Shanum begitu kesal. Memang dia yang menyuarakan pernikahan satu malam itu. Tapi, ya hanya untuk satu malam, bukan untuk memuaskan hasrat Arthur kapan pria itu menginginkannya. Sesalnya tidak lagi bermakna. Tetapi, Shanum masih berusaha untuk memberontak.


"Tuan, aku tahu kau orang yang pintar. Pernikahan itu cuma untuk satu malam, karena aku tidak mau tidur dengan pria yang bukan suamiku, satu malam! Tapi, kenapa kau memanfaatkan keadaan seperti ini?" Shanum buang muka saat tangan Arthur menangkup wajahnya, mendekatkan wajah pria itu seperti hendak melumaat bibirnya.


Arthur tersenyum miring. "Aku memang bukan orang yang bodoh. Itu sebabnya kenapa aku memintamu untuk melayaniku lagi dan lagi!"


Jawaban Arthur menyesakkan Shanum. Sekarang, dia sudah sepenuhnya sadar kalau dirinya telah jatuh dalam kubangan hitam yan dibuatnya sendiri. Kubangan yang menarik Shanum terus menerus tanpa berniat untuk melepaskan.


Jebakan yang pria itu buat membuatnya menyesal. Bukan ini tujuan dari pernikahan yang sempat mereka langsungkan.


Saat Shanum masih meratapi nasibnya, tiba-tiba Arthur merobek pakaiannya. Belum sempat Shanum memberikan reaksi,

__ADS_1


Arthur sudah mengangkat tubuh wanita itu dan melemparkannya ke atas ranjang.


"Aw!" Suara Shanum memekik kesakitan.


"Kalau kau mau naik sendiri, Aku tidak akan bersikap kasar dengan melemparkanmu seperti itu," ucap Arthur, menindih tubuh Shanum dan mulai melancarkan aksinya.


Arthur menyusuri setiap inci tubuh Shanum dengan mulutnya, sesekali menjilati area sensitif Shanum sampai wanita itu merasa geli dan tidak sengaja mengerang.


"Tolong hentikan, Tuan!" Shanum gemetar, dia menangis sejadinya saat Arthur memaksanya dengan sangat keras. Traumatis yang masih mendiami tubuhnya mulai memberikan reaksi yang.


Shanum menangis karena ketakutan, berbeda dengan Arthur yang malah senang dan semakin bersemangat untuk meniduri wanita itu. Tidak peduli dengan tangis serta raungan Shanum, Arthur terus melakukan foreplay sampai pria itu merasa puas.


"Hummm!" Arthur mengerang, dia mulai memasuki Shanum. Membelah inti wanita itu.


Sekali lagi Shanum hanya bisa menangis. Posisinya sungguh tidak menguntungkan. Tangannya terikat dan dia dipaksa untuk melayani hasrat pria itu. Hasrat yang padahal bisa dilampiaskan pada semua wanita, tapi kenapa hanya dia yang dikukung.


"Huhhh!" Arthur menghela nafas panjang setelah mencapai puncaknya. Dia memeluk tubuh Shanum yang masih menangis dengan bekas kissmark di mana-mana.


"Sudah selesai, kenapa masih menangis?" Arthur menjauhkan tubuhnya dari Shanum.


"Hasratmu memang sudah terlampiaskan. Tapi, rasa sakitku masih membekas sampai kapan pun. Aku tidak menyangka, seseorang yang sangat kaya raya sepertimu, bisa meniduri wanita rendahan sepertiku!" ucap Shanum, kilatan kebencian melekat di hati dan relungnya.


"Terserah apa katamu. Aku tidak akan menceraikanmu. Pulanglah, pekerjaanmu akan diselesaikan oleh para satpam di depan!" selesai mengenakan kembali pakaiannya, Arthur meninggalkan Shanum begitu saja.


Kewanitaan Shanum begitu perih, dia berjalan tertatih mengambil sepeda motornya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Shanum bergegas pulang.


"Sudah selesai lemburnya, Nona?" sapa seorang satpam, agak aneh melihat mata sembab Shanum.


Shanum mengangguk pelan, memaksakan senyumannya supaya para satpam tidak terlalu mencurigainya. Kendati demikian, para satpam yang masih melempar tatapannya pada Shanum menaruh curiga pada wanita itu. Penampilan wanita itu yang acak-acakan, serta matanya yang sembab, sungguh mengasihankan.


"Jangan-jangan, Nona Shanum dan Tuan Arthur ...." ucapan mereka menggantung. Jika diingat, sungguh tidak mungkin jika Arthur melakukannya pada Shanum. Mereka hanya tidak tahu kejadian yang sebenarnya.


Sepanjang jalan, Shanum menangis. Perbedaan kasta mereka yang cukup jauh, seharusnya tak membuat Arthur sembarangan memaksakan kehendaknya pada Shanum. Nyatanya, Arthur tak melihat perbedaan itu. Dia tetap suka meniduri Shanum.


"Apa aku harus lapor polisi?" gumam Shanum, setelahnya dia menggelengkan kepalaku. "Tidak mungkin aku bisa melakukannya."


"Jika aku melaporkannya, sangat banyak konsekuensi yang akan aku dapatkan. Bukan hanya aku, tapi Arsenio juga akan terkena imbasnya. Kekuasaan Tuan Arthur sangat mengerikan. Kemudian, pernikahan siri kami akan terbongkar. Mereka semua pasti hanya merundungku, menghinaku, sampai mengataiku menjual tubuhku." Shanum berpikir panjang akan konsekuensi yang akan dia terima jika salah mengambil keputusan.


Shanum sudah pernah berada di posisi tidak mengenakkan itu, makanya sekarang dia sangat tidak siap jika harus kembali ke kondisi yang sama. Apalagi, jika putranya, Arsenio harus terbawa dan ikut dirundung.

__ADS_1


"Tuhan, berikan aku jalan. Apakah aku cukup diam, menelan semua kepahitan. Menganggap semuanya tidak ada, dan berpura-pura tidak mengenalnya?" Shanum menitikkan air matanya lagi. Dia benci dengan keadaannya yang berada diposisi lemah dan tidak bisa melakukan banyak hal seperti kemauannya. Melawan kekuasaan Arthur yang mengekangnya untuk tetap menjadi istri siri pemuas hasrat.


"Entahlah, aku hanya ingin hidup tenang dengan putraku. Kenapa sulit sekali aku lakukan? Tuan Arthur digelapkan oleh kekuasaannya sendiri," gumam Shanum, dia masuk ke area kos-kosannya.


"Rim, di mana Arsen?" tanya Shanum, menemui Rima yang duduk di teras depan kamar kos Shanum. Seperti sedang menunggu kepulangan wanita itu.


"Di dalam, Sha. Arsen sudah tidur," jawab Rima. Dia melihat penampilan Shanum yang terlihat kumal.


"Sha, ke mana seragam kerjamu?" tanya Rima. Biasanya, ujung seragam Shanum tetap akan keluar dari balik jekat hitam yang biasa Shanum pakai.


Mendapat pertanyaan seperti itu, Shanum langsung membekap seluruh tubuhnya sendiri. Dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan. Melihat gelagat Shanum, Rima merasakan ada sesuatu yang berbeda dari sahabatnya itu. Sesuatu yang disembunyikan wanita itu.


"Kamu pasti kelelahan, beristirahatlah, Sha." Rima menepuk pelan pundak Shanum sembari berlalu pergi.


Shanum hanya mengangguk, berusaha keras untuk menahan tangisnya dengan membungkam mulutnya. Satu patah kata saja terucap dari mulutnya, bisa dipastikan isakan pasti akan ikut keluar.


"Tumben dia tidak mengucapkan terima kasih," gumam Rima. Wanita itu bukan mengharapkan pamrih ucapan terima kasih.


Hanya saja, Shanum memang tak pernah lupa untuk berterima kasih kepada orang-orang yang sudah membantunya. Makanya, sifat itu juga diajarkan pada Arsenio. Sedikit saja perubahan Shanum, akan sangat menghawatirkan Rima. Dia mengerti bagaimana susahnya menjadi seorang single Mommy seperti Shanum.


Setibanya di rumah pun, Shanum langsung mandi, kemudian merebahkan tubuhnya di samping Arsenio.


***


Setelah mengantarkan putranya, Shanum langsung menuju kantor. Dari awal dia memarkirkan sepeda motor, banyak sekali orang yang menatapnya sinis. Meskipun merasa tidak nyaman, Shanum hanya tersenyum seraya menyapa orang-orang yang dia lalui. Tidak seperti biasanya, orang-orang itu akan dengan senang hati membalas sapaan Shanum. Kali ini, mereka membalasnya dengan tatapan sinis.


"Ada apa dengan mereka?" gumam Shanum, berjalan sambil menunduk. Sebab, semua pasang mata sedang mengarah padanya. Dia benar-benar tidak nyaman dengan situasi ini.


"Sha!" Rima menarik lengan Shanum, mereka masuk ke pantry. Di sana, sudah ada beberapa rekan sesama cleaning servis yang ikut mengerubungi Shanum.


"Ada apa?" tanya Shanum keheranan melihat mereka yang menatapnya kasihan.


"Kamu merasa tidak, pagi ini ada yang berbeda?" tanya Rima.


Shanum langsung mengangguk. "Ada. Semua karyawan kantor menatapku dengan sinis, Rim. Aku kurang nyaman dengan tingkah mereka yang berbeda seperti itu. Biasanya, jika aku menegur mereka ikut tersenyum. Sekarang kok tidak, ya?" Shanum menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kamu belum tahu?" rekan sesama cleaning servis menyahuti.


"Tahu apa? Aku tidak tahu apa-apa," Shanum mengendikkan bahunya.

__ADS_1


*****


Ada yang nungguin Double Updatenya ga nih?🤭🤭 Jangan lupa kasih like, komentar, vote, dan hadiah, ya. Agar author tambah semangat update lagi 🙏🥰


__ADS_2