Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Merubah Sikap


__ADS_3

Meskipun terkejut dengan kenyataan dan merasa seperti tidak mempercayai. Mereka semua memilih diam, menonton apa yang akan terjadi selanjutnya. Jika bertanya sekarang, pasti semuanya akan runyam. Tetapi, jika melihat, pasti semuanya akan jelas tanpa harus sibuk bertanya.


Arthur terdiam, menatap semua pintu yang sebagian terbuka dan sebagiannya lagi tertutup. Dia bingung, tidak ada pergerakan yang dilakukan seorang bocah kecil meskipun dia sudah berteriak-teriak begitu. Arthur menghela nafas, dia sangat lelah tapi tidak menyerah. Harapannya untuk segera bertemu dengan putranya semakin melambung tinggi.


"Shanum, di mana putraku? Katakan padaku sekarang!" Arthur menaikkan oktaf suaranya. Dia memang tidak pernah sabar dalam menanti sesuatu. Apalagi sekarang, ingin bertemu dengan seseorang yang sudah dia cari selama bertahun-tahun. Mulai dia mengalami kontraksi sampai saat ini.


Semua orang juga merasa tidak sabaran dengan apa yang mereka lihat. Rima yang tahu di mana keberadaan Arsenio pun memilih diam. Dia tahu ketakutan apa yang Shanum simpan dalam dadanya hingga memilih membungkam mulutnya sendiri. Sejak dulu, Rima memang menilai tindakan sahabatnya itu sebagai sesuatu yang egois. Tetapi, dia juga tidak bisa menyalahkan Shanum untuk hal itu.


"Tuan, sudah kukatakan, dia tidak akan mau bertemu denganmu. Usahamu tidak akan membuahkan hasil apa-apa. Lebih baik pergilah dari sini! Jangan membuat keributan!" tegas Shanum, meski agak lega karena Arsenio tidak kunjung muncul. Tetapi, ada ketakutan lain yang memenuhi hatinya. Bagaimana jika tiba-tiba putra kecilnya itu keluar karena mendengar keributan.


Arthur tersenyum sinis. Dia tidak akan menyerah sebelum bisa menemukan keberadaan putranya. Tapi, ucapan Shanum barusan sudah cukup membenarkan jika Arsenio memang putranya. Itulah yang ingin Arthur dengar, bukan penyangkalan-penyangkalan seperti yang lalu-lalu.


"Dia tidak akan mau bertemu denganku? Kenapa? Apa yang sudah kau katakan untuk meracuni pikiran putraku?" sarkas Arthur, sekali lagi, ucapan pria itu menyadarkan Shanum jika dia sudah salah berkata lagi.


"Apa maksudmu?" Shanum menantang. "Bisakah berhenti untuk mengatakan bahwa Arsenio adalah putramu, Tuan?!" Shanum menatap tajam, tampaknya dia mulai emosi dengan pengakuan yang Arthur lakukan.


"Ckckck!" Arthur berdecak, dia sengaja mengulur waktu, berharap Arsenio akan keluar dan bertemu dengannya.


Meskipun dia seseorang yang berkuasa, dia juga tahu aturan. Tidak mungkin dia masuk dan memeriksa satu persatu kamar kost itu, demi mencari keberadaan Arsenio. Itu semua tempat pribadi. Jika dia dilaporkan, mungkin bisa bebas dengan mudah dengan kekuatan uang. Tetapi, tindakannya itu seolah mencoreng namanya sendiri.


"Pergilah!" usir Shanum lagi. Semua pegawai Arthur Group merasa tindakan Shanum cukup berani, mereka semua menebak, besok pagi Shanum pasti akan mendapat surat pemecatannya.


"Aku akan pergi. Tapi, aku juga akan membawamu bersamaku!" Arthur menggendong Shanum ala bridal style dan membawa wanita itu masuk ke dalam mobil. Shanum berontak habis-habisan. Memukul-mukul dada Arthur dengan sangat kuat. Tetapi, semua pukulan yang Shanum layangkan seolah tidak memberikan efek apa pun.

__ADS_1


Pria itu tetap gagah, mengambil langkah besar supaya cepat sampai di mobilnya. Melihat kejadian itu, semua orang berseru tidak percaya. Berusaha mengejar Shanum dan Arthur, termasuk Rima dan juga Nenek kost, yang berjalan cepat sambil memegangi pinggangnya yang terasa ngilu.


"Nek, jangan dikejar. Tuan Arthur tidak akan menyakiti Nona Shanum, saya bisa memastikan hal itu," ucap Leo menghadang langkah mereka semua tepat di depan pagar.


"Kamu jaminannya? Kamu anak buahnya pria itu. Bagaimana saya bisa percaya? Shanum itu wanita yang baik, kenapa ada saja orang jahat yang menghakiminya?" Nenek kost itu berujar dengan mimik sedih. Dia sangat tidak mau Shanum disiksa. Apalagi sekarang dia tahu, yang membawa Shanum barusan itu adalah Daddy kandung Arsenio.


Menurut apa yang Rima katakan padanya selama ini, dan ditambah lagi dengan perseteruan kecil yang terjadi barusan, tampaknya Shanum memang tidak mau memberitahukan keberadaan Arsenio pada pria itu. Makanya, Nenek kost juga turut mendukung keputusan Shanum.


"Nek, saya bisa menjamin semuanya. Dia, dan beberapa orang di sini bekerja di Arthur Group. Mereka semua tahu bagaimana sikap Tuan Arthur. Mohon anda mempercayainya." Leo menatap Rima, berharap Rima mau membantunya bicara. Tapi, Rima terlalu enggan.


Rima juga sama seperti Nenek kost, tidak suka mereka membawa Shanum pergi seperti itu. Tetapi, apa yang bisa wanita lemah seperti dia lakukan? Jika dia pergi, siapa yang akan menemani Arsenio dan memastikan anak itu tetap aman?


"Aku percaya padamu. Jika terjadi sesuatu yang buruk padanya, aku pastikan kau akan menanggung semuanya! Aku akan melaporkan kalian ke pihak berwajib supaya cepat ditangani!" ancam Nenek kost.


Di dalam mobil, untuk membungkam Arumi agar wanita itu tidak berteriak, Arthur melumatt bibir Shanum dan tidak melepaskannya barang sedetik pun. Dia mengunci tangan Shanum ke atas, dia terus menciumi wanita itu tanpa ampun walaupun Shanum sudah menangis dan beberapa kali menggigit bibir Arthur.


Setelah Leo masuk ke dalam mobil pun, Arthur tidak melepaskan ciumannya. Dia masih memainkan lidahnya di dalam mulut istrinya itu dengan tangan yang mulai nakal.


Shanum berusaha memberontak sekuat tenaga, walaupun tenaganya tentu akan kalah dengan pria yang sedang mengukungnya itu.


"Leo, ke apartemenku!" titah Arthur.


Shanum menggelengkan kepalanya. Walau baru beberapa kali bersama, tapi Shanum tahu. Jika sudah datang ke apartemen itu, maka habislah dia malam ini.

__ADS_1


"Tuan, kenapa kau masih saja membuatku seperti budakmu?" Shanum berteriak, dia sangat kesal dengan dirinya yang begitu lemah. Tidak bisa melawan orang seperti Arthur.


"Karena kau istriku. Terlebih, kau juga Mommy dari putraku. Bagaimana bisa aku melepaskanmu? Bukankah, hubungan kita berdua seharusnya menjadi semakin erat?" Arthur tersenyum mengejek, dia mengelus lembut wajah Shanum. Membiarkan wanita itu menangis.


Entah mengapa, ada perasaan senang yang menghinggapi Arthur. Bukan hanya senang karena sudah menemukan putranya dan mengetahui di mana keberadaannya saja. Tetapi, dia juga senang karena Mommy dari putranya adalah Shanum. Entah ini memang takdir Tuhan yang mengikat mereka berdua, dia pun tidak tahu pasti. Yang pastinya, sejak tadi dia menahan senyumnya.


Berbeda dengan Shanum yang terus merasakan keresahan, membenci dirinya sendiri yang tidak bisa melawan.


Shanum memang menguasai ilmu bela diri. Tapi, dalam kesempatan itu dia tidak diberikan kesempatan untuk melawan balik.


Tiba di depan apartemennya, Arthur kembali menggendong Shanum, membawa wanita itu masuk ke dalam. Shanum tidak lagi meronta. Lagipula, percuma saja dia menangis, pria beringas itu tidak akan melepaskannya. Jadi, Shanum merubah cara bermainnya. Dia mau menjadi kucing jinak. Tetapi, jangan lupa, seekor kucing sewaktu-waktu juga bisa mencakar dan menggigit.


Arthur merebahkan tubuh Shanum. Dulu, pria itu pasti melemparkan Shanum ke atas ranjang.


"Malam ini, aku memang menghentikan pencarianku. Tapi, besok pagi aku pasti akan menemukan Arsenio! Shanum, jangan remehkan kekuasaanku! Malam ini, aku akan membuatmu mengingat kenangan empat tahun silam. Menangislah! Tangisanmu dulu membuatku semakin bersemangat untuk menggagahimu!" ucap Arthur, mulai membuka jasnya dan kancing kemejanya satu persatu.


"Tunggu!" Shanum menghentikan Arthur yang sudah memegang ikat pinggangnya.


Shanum turun dari ranjang, dia berjalan dan menghampiri Arthur. Merapatkan tubuh mereka sambil tersenyum manis.


"Biar aku saja yang membukanya," ucap Shanum dengan suara lirih, mulai membukakan ikat pinggang Arthur dan kancing celana pria itu. Kemudian, dia juga memeloroti celana pria itu sampai ke bawah.


"Ayo, kita mulai bermain!" Shanum mengelus-elus senjata laras panjang Arthur yang sudah menegak. "Ajari aku bermain dengan baik, ya, Suamiku!" ucap Shanum dengan penuh penekanan dan kelembutan.

__ADS_1


*****


__ADS_2