Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Apakah Aku Anak Haram?


__ADS_3

Saat manik Shanum bersitatap dengan seseorang itu, secara refleks Shanum langsung menyembunyikan Arsen ke belakang tubuhnya.


"Shanum, ini kamu? Benar-benar kamu?" pekik seseorang itu, menatap Shanum dari atas sampai ke bawah.


Shanum buang muka ke arah lain, ada perasaan getir yang merujamnya. Hanya segelintir perasaan kerinduan, sebab sakit dan kecewanya lebih terasa. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa, hanya terdiam sambil mendengarkan wanita di depannya bicara.


"Shanum! Kenapa kamu diam saja? Anak kecil yang kamu sembunyikan itu, anak kamu?" tanya wanita itu lagi, berusaha mengintip tapi Shanum langsung menghalangi dengan tubuhnya. Tak sekali pun dia membiarkan Arsen terlihat atau tersentuh dengan orang yang jelas-jelas membencinya, tidak akan!


"Bu, aku pergi dulu." Shanum hendak pergi, tapi Mia langsung berdiri tepat di depan Shanum untuk menghalangi wanita itu pergi. "Bu, kenapa? Aku harus bekerja, nanti aku telat," tukas Shanum, dia agak kesal dengan perlakuan Mia.


"Memangnya sekarang kamu kerja di mana? Bagian apa? Berapa gaji kamu?" cecar Mia, memandangi Shanum dari atas sampai ke bawah. Dia tidak bisa melihat seragam cleaning servis Shanum karena wanita itu mengenakan jaket hitam.


"Bu, aku pamit." Shanum malas untuk menanggapi Mia. Lama tidak bertemu bukannya menanyakan kabarnya, malah menanyakan mengenai gaji pekerjaannya.


"Kamu ini kenapa tidak ada hormat-hormatnya sih sama orang tua? Mentang-mentang sudah hebat jadi menyepelekan aku, Ibu yang melahirkan dan membesarkan kamu?!" Mia sengaja mengeraskan suaranya, membiarkan orang mendengar semua kejelekan Shanum. Padahal, nyatanya tidak seperti itu.


"Arsen, tutup telinga kamu, ya. Ada banyak ucapan yang belum boleh kamu dengar," bisik Shanum, menoleh ke belakang sebentar.


"Baik, Mommy," jawab Arsen, menutup kedua telinganya dengan tangan.


"Oh, ini anak haram yang dulu kamu bawa? Anak haram yang akhirnya menggagalkan pernikahan kamu dengan Rio?" sungut Mia, berusaha mengintip rupa Arsen, namun terus saja dihalangi oleh Shanum.


"Bu, tolong jaga tutur kata Ibu. Jangan menghina putraku, Bu. Dia masih kecil, belum sepantasnya dia mendengar celaan-celaan yang dituju untuknya," tegur Shanum, hatinya semakin teriris. Meski Arsen sudah menutup telinganya, Shanum masih takut putranya itu dapat mendengar selintingan ucapan Mia yang menyakitkan.


"Kenapa? Yang aku katakan itu benar, bukan? Kenapa kamu melarangku untuk bicara?Apa karena malu orang-orang di sini mendengarnya? Memang kenyataannya seperti itu, kan? Dia anak haram!" Mia melipat tangannya di dada sembari tersenyum sinis, belum puas dia mencela Shanum. Dia sangat kesal, gara-gara Shanum ketahuan tidur dengan pria lain sampai hamil, pernikahan wanita itu dengan Rio pun harus batal. Mia gagal punya menantu kaya yang bisa dibanggakan pada orang-orang.


"Cukuplah, Bu! Jangan hina putraku. Jika Ibu tidak tahu kenyataannya, jangan asal-asalan bicara, mengakibatkan orang berasumsi sendiri dan berujung dengan fitnah yang keji. Aku menghormatimu sebagai Ibuku, makanya aku tak akan melawan apa pun yang kamu katakan!" tegur Shanum, matanya berkaca-kaca. Bagaimanapun dia sakit hati terhadap perlakuan Ibunya, Shanum tetap tak bisa mencaci atau pun mengumpati wanita itu. Sadar, surganya masih ada pada wanita di depannya ini.


"Halah! Jangan sok-sokan baik kamu. Kalau kamu memang wanita baik-baik, mana mungkin kamu tidur dengan pria lain sebelum malam pernikahan! Kenapa kamu menutupi wajah anakmu? Pasti karena dia sangat jelek dan burik, kan? Sampai kamu malu untuk memperlihatkannya pada orang lain?" sarkas Mia, masih saja mengolok-olok Shanum dan putranya.


'Lalu, apa bedanya denganmu, Bu? Kamu merebut Pak Lukman dari istri pertamanya. Sampai kau dicaci oleh para tetangga. Namun, haruskah aku membuka aibmu itu di sini? Tentu tidak akan, aku memilih untuk menjaga lisanku, tak ingin menyakitimu lebih banyak. Walaupun kecewa, kamu tetap Ibuku. Hubungan darah kita tidak akan bisa digantikan dengan apa pun!'


Shanum sudah tidak tahan lagi. Semakin dia berdiri diam di sana, maka semakin ringan pula mulut Mia untuk mengatai, mencaci dia san Arsen, putranya. Malahan, Shanum yang semakin teriris pun tidak tahan untuk membuka mulutnya. Namun, untuk keseribu kalinya Shanum sadar, dia tak boleh melakukan itu.


Shanum mengangkat Arsen, tidak peduli pada uang kembalian yang belum dia ambil. Menaikkan putranya itu ke atas sepeda motornya.


"Sayang, tutupi wajahmu!" pinta Shanum, bukan karena malu, tapi dia memiliki alasan dan tujuannya sendiri.


"Baik, Mommy."

__ADS_1


"Lihat! Sampai sekarang kau masih menutupi wajah putramu itu! Aku yakin anak haram itu memang sangat jelek untuk diperlihatkan!" teriak Mia, tak peduli tatapan orang-orang padanya.


Shanum menstater motornya, langsung pergi dengan membawa segenap luka dan beberapa titik air mata yang sudah menganak di pelupuk. Bukan dia tidak bisa melawan, mulutnya sudah bergerak tapi seakan tertahan di tenggorokan. Sosok yang harus dilawan itu Ibunya, Ibu kandungnya.


"Mommy, wanita itu tadi siapa? Kenapa dalam dua hari ini kita banyak sekali bertemu dengan orang jahat?" tanya Arsen, dia memeluk Mommy-nya erat-erat, seakan sedang menyembunyikan diri dari ketakutan.


"Nanti Mommy beritahu ya, Sayang. Sekarang terlalu berbahaya jika kita mengobrol. Pekik Mommy, ya, Sayang!" pekik Shanum, berteriak lebih kencang agar suaranya tak terbawa angin.


Shanum harus memacu kendaraannya lebih cepat, sudah banyak waktunya yang terbuang karena meladeni ucapan Mia yang begitu frontal mengatai Arsen. Namun, Shanum pun harus ekstra hati-hati, memperhatikan jalanan agar kejadian dua hari yang lalu tidak terulang lagi. Dan, dia juga harus menjaga makhluk kecil yang sedang memeluknya itu, supaya tidak terjatuh karena kurang keseimbangan. Sangat banyak yang harus Shanum cermati dalam waktu yang bersamaan.


Setibanya di Day Care, Arsen mencium punggung tangan serta mengecup pipi Mommy-nya.


"Mom, siapa wanita tua tadi? Bisakah memberitahukan Arsen sekarang?" desak Arsen. Shanum tahu, pasti putranya sudah mendengar kata-kata menyakitkan itu. Makanya dia mendesak Shanum untuk segera mengatakan yang sebenarnya.


"Arsen, wanita tua tadi itu Ibu kandung Mommy, Nenek kandung kamu. Dia ... memang begitu. Mungkin, karena sudah terlalu lama tidak bertemu, jadi dia marah dan bersikap seperti itu. Maaf kalau kata-katanya ada yang menyakiti hati kamu, ya, Sayang." Shanum mengusap-usap lembut pipi gembul putranya yang menatap Shanum dengan netra polosnya.


Karena Arsen masih terdiam, Shanum mengusap lagi lengan putranya. "Meskipun kamu mendengar banyak kata-kata kotor darinya, kamu tidak boleh menirunya, ya. Itu tidak baik. Kamu harus tetap menjadi Arsenio Mommy yang tampan, baik, dan juga cerdas, oke?" Shanum tersenyum.


"Apa ... Arsen harus menghormati Ne-nek seperti Arsen menghormati dan menyayangi Mommy?" tanya Arsen dengan suara lirih.


Shanum tersenyum. "Lebih baik, iya. Tapi, Arsen tetap harus lebih menyayangi Mommy!"


"Baik, Mommy." Arsenio berlari masuk ke dalam.


Di dalam, saatnya bermain-main dengan temannya, Arsen hanya duduk termenung. Banyak teman-temannya yang mengajak Arsen bermain seperti biasanya, tapi Arsenio menolaknya. Walaupun Arsen sering diam di pojokan, tangannya yang terampil tidak pernah diam. Selalu ada saja yang dibuat menjadi kreativitas. Entah itu menggambar, melukis, banyak yang Arsen lakukan. Dia juga sangat gemar belajar sendiri. Berbeda dengan hati ini, Arsen termenung tanpa melakukan apa pun.


"Arsenio, kamu kenapa?" tanya seorang pengasuh Arsen. Dia lah yang selalu memperhatikan semua kegiatan Arsen dan memfotokan apa saja yang Arsen lakukan, kemudian mengirimkan semua foto dan video Arsen pada Shanum. "Kenapa tidak bermain dengan teman-teman? Atau, kamu mau buat pesawat dan perahu dari kertas?" tawar pengasuh itu sambil menyodorkan beberapa lembar kertas berwarna.


"Tidak apa, Miss. Arsen hanya sedang mengantuk makanya termenung," bohong Arsen, tersenyum manis tapi terkesan dipaksakan.


"Arsenio, Miss tahu kamu anak yang sangat aktif dan kreatif. Arsenio yang sediam ini, membuat Miss cemas. Jika Arsenio punya masalah, bisa ceritakan sama Miss atau Mommy," ucap Miss Alea sambil tersenyum.


"Terima kasih, Miss. Arsenio baik-baik saja kok." Arsenio kekeuh untuk menyembunyikan semua yang dia rasakan.


"Baiklah. Miss tinggal dulu, ya. Arsenio jangan lupa main sama teman-teman yang lainnya, ya!"


"Baik, Miss."


Arsenio masih sama seperti tadi, memilih berdiam diri tanpa melakukan apa pun. Bahkan, dia juga tidak berselera makan.

__ADS_1


***


Sepulang dari bekerja, Shanum menjemput Arsenio seperti biasanya. Tadi, Miss Alea juga sudah menceritakan diamnya Arsen secara singkat pada Shanum melalui pesan singkat. Shanum cukup kaget, dia juga tidak mengerti mengapa Arsen sampai memilih diam dan menyindir seperti itu.


"Kenapa, ya? Apa Arsen mendengar kata-kata tak mengenakkan yang dilontarkan Ibu?" Shanum bertanya-tanya, karena Arsen tak pernah seperti itu.


Sesampainya di Day Care, Arsen memang terlihat diam. Biasanya, dia akan memanggil Mommy dengan suara yang lantang, lari ke dalam pelukan Mommy-nya dan mengucapkan terima kasih karena tidak telat menjemputnya. Dia juga tidak lupa melambaikan tangan perpisahan pada Miss Alea. Namun, hari ini Shanum turut menyaksikan perubahan sikap Arsen yang membuatnya bingung sekaligus sedih. Percuma Shanum menerka-nerka, dia tidak akan mendapatkan jawaban apa pun dari sikap Arsen yang sulit ditebak.


"Sayang, kamu tidak mengucapkan terima kasih sama Mommy?" tanya Arsen.


"Terima kasih, Mom!" suaranya begitu lirih, seperti orang yang terpaksa. Tapi, Shanum memaklumi sikap putranya.


"Terima kasih, Miss Alea sudah menemani Arsenio," ucap Shanum pada Miss Alea yang membalas dengan anggukan.


"Sama-sama."


Shanum memasangkan helm untuk Arsen. Lagi dan lagi, tidak ada ucapan terima kasih yang terucap dari bibir putra kecilnya. Shanum mengecup pipi gembul putranya, tak ada perlawanan seperti biasanya. Shanum pasrah, dia melajukan sepeda motornya sambil bersenandung, biasanya Arsen akan ikut menimpali. Tetapi, kali ini dia membungkam mulutnya rapat-rapat.


Dari kejauhan Shanum melihat penjual ice cream di pinggir jalan. Dia menepikan sepeda motornya, dan mengajak Arsenio untuk turun.


"Arsen mau rasa cokelat, kan? Biasanya, cokelat bisa membuat kita jadi lebih bahagia," ucap Shanum sambil tersenyum.


"Ya, Mommy." Arsen mengangguk.


Shanum memesan dua porsi ice cream rasa coklat. Setelahnya, Arsenio memakan ice cream cokelat itu dengan lahap.


"Bagaimana, apa kamu sudah bahagia?" tanya Shanum.


Arsen hanya mengangguk kecil.


"Nah! Kalau begitu, Arsen sudah bisa menceritakan apa yang Arsen pikirkan? Kenapa hari ini Arsen hanya diam saja tanpa mau melakukan apa pun, Sayang? Biasanya anak Mommy ini tidak sependiam ini, bukan?"


Arsen menatap Shanum.


"Miss Alea sudah memberitahu Mommy mengenai hal ini," ucap Shanum.


"Mommy, apa Arsenio ini benar-benar anak haram seperti yang dikatakan ... Ne--nek?" tanya Arsenio.


*****

__ADS_1


__ADS_2