Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Dinner


__ADS_3

Shanum mematung dalam pelukan hangat Rima. Ingin menjelaskan, Rima kembali berceloteh panjang lebar mengungkapkan kesenangannya, karena akhirnya Shanum bersedia keluar dari katerpurukan masa lalunya yang menyakitkan. Pada akhirnya Shanum tidak bisa mengatakan apa pun.


"Sha, aku senang sekali!" seru Rima.


"Rim, bukan seperti itu! Aku hanya membantu Dokter Rexa untuk bertemu dengan kedua orang tuanya, karena dia--"


"Bertemu dengan kedua orang tuanya? Secepat ini? Lihatlah! Dia benar-benar menyukaimu, Sha! Benar, kan, apa yang aku katakan semalam? Prediksiku tidak salah, kan? Aku bisa melihat sikap dan tatapannya padamu," ucap Rima, dia benar-benar kegirangan. Apalagi, setelah mendengar Shanum akan dikenalkan pada orang tua Dokter Rexa. Dia berpikir, keseriusan untuk menikah bisa berjalan secepat itu.


"Tenang saja, aku pasti akan menjaga Arsen dengan baik. Kamu tidak perlu buru-buru pulang, karena aku membawanya tidur bersamaku. Setelah kamu pulang nanti, baru dipindahkan, ya!" ucap Rima.


"Sha, aku mau lanjut bekerja dulu." Rima pergi tanpa mendengarkan penjelasan Shanum terlebih dahulu.


Setelah sahabatnya menghilang dari pandangan, Shanum luruh ke atas sofa kecil. Shanum benar-benar menyayangkan karena Rima tidak mau mendengarkan penjelasannya tadi.


Shanum melanjutkan pekerjaannya, sambil menunggu malam tiba. Bukan karena tidak sabar mau bertemu dengan Dokternya Rexa lagi. Tetapi, Shanum hanya mau semuanya cepat berlalu. Supaya janjinya pada Dokter pemaksa dan tukang minta maaf itu cepat tertunaikan. Mengikat janji pada orang lain rasanya seperti berhutang, membuat Shanum seringkali tidak nyaman.


***


Jam kerja sudah habis, Shanum membereskan semua pekerjaannya sampai selesai. Tadi, Rima juga meminta untuk menjemput Arsenio. Alasan yang wanita itu berikan juga membuat Shanum geleng-geleng kepala. Kendati demikian, Shanum tetap menyetujui permintaan sahabatnya itu. Hitung-hitung bisa meringankan pekerjaannya dan mempercepat waktu.


Baru saja Shanum berjalan ke parkiran, ponsel wanita itu berdering. karena rima yang menghubunginya, Shanum buru-buru menjawab panggilan dari sahabatnya itu. Takut sesuatu terjadi pada Arsenio, mengigat putranya sedang bersama Rima.


"Rim, ada apa?" Shanum cemas, suaranya yang bergetar menggambarkan suasana hatinya saat ini.


"Tidak apa-apa, Sha. Aku hanya mau menginfokan, ada dua orang wanita yang sedang menunggumu di depan kamar kost-mu. Katanya, mereka makeup artist yang akan mendandani kamu," ucap Rima. "Sepertinya mereka sudah cukup lama menunggu. Sekarang kamu di mana?"


Shanum mengingat kembali apa yang dikatakan Dokter Rexa tadi. Dia baru ingat, orang-orang itulah yang dimaksud Dokter Rexa tadi.


"Sha, kamu di mana?" tanya Rima dari balik telepon, mengagetkan Shanum yang sedang termenung.


"Aku masih di parkiran kantor, Rim. Aku usahakan untuk pulang secepatnya, ya," ucap Shanum sambil memakai helmnya.


"Baiklah, Sha. Hati-hati. Jangan terlalu mengebut. Jam segini jalanan pasti sangat ramai," ucap Rima memperingatkan.


Shanum melajukan motornya secepat mungkin. Jalanan yang macet membuatnya kesal, tapi mau bagaimana lagi. Hanya jalan utama inilah yang bisa membuatnya cepat sampai di rumah. Shanum berulang kali melihat jam di pergelangan tangannya, berulang kali juga dia berdecak karena kemacetan malah semakin parah.


"Kenapa semakin macet. Tumben-tumbenan di jalan ini macet. Biasanya, walaupun sangat ramai tapi tidak pernah sampai macet seperti ini," gumam Shanum, melewati setiap celah kecil supaya bisa lewat. Untung saja, sepeda motornya berukuran kecil, jadi gampang baginya untuk lepas dari kerumunan orang dan gumpalan asap hitam yang berasal dari kendaraan lain.


Shanum tersenyum senang karena usahanya tidak sia-sia. Sekarang dia hanya tinggal melewati dua mobil lagi di depan. Setelah itu, dia mengebut supaya cepat sampai ke kost-kostannya.

__ADS_1


Shanum memasuki area kosnya. Kamarnya berada di urutan kelima. Dia bisa melihat dua orang wanita sedang bercengkrama, mungkin membicarakannya yang terlalu lama.


"Maaf membuat kalian menunggu lama," ucap Shanum, berdiri di depan dua orang tadi yang langsung mengalihkan perhatian mereka padanya.


Kedua orang yang berprofesi sebagai makeup artist itu menilai Shanum dari atas sampai ke bawah. Terutama, penampilan Shanum yang hanya mengenakan seragam cleaning servis di sebuah perusahaan raksasa. Penampilan Shanum yang kucel karena kelelahan seharian bekerja menjadi poin utama mereka. Walaupun Shanum cukup cantik dengan kulit putih tapi agak kusam karena setiap hari bertemu debu jalanan, tetap saja dua orang wanita itu menganggap Shanum tidak pantas dengan Dokter Rexa. Dokter senior di sebuah instansi ternama.


"Kamu ... Nona Shanum yang akan kami rias?" tanya seorang makeup artist dengan lipstik nude. Penampilan glamournya cukup menyilaukan mata.


Shanum mengangguk, dia tersenyum kecil pada kedua orang itu.


'Tatapan mereka bisa menjelaskan, mereka sedang mengata-ngataiku dalam hati. Pasti tidak salah lagi. Lagian, kenapa Dokter Rexa mengirim dua manusia ini ke sini? Merepotkanku saja. Padahal, aku bisa merias diriku sendiri. Atau, aku juga bisa datang ke salon dekat kost,' batin Shanum, rupanya dia juga sadar dan cukup paham akan arti dari tatapan dua orang itu.


"Baiklah. Apakah kita bisa memulainya sekarang? Kata Dokter Rexa, dia akan menjemput kamu tepat pukul tujuh malam nanti," ucap mereka, melihat lagi jam di pergelangan tangannya. Tampang mereka yang menunjukkan raut kesombongan dan sok sibuk sungguh membuat Shanum sangat tidak nyaman sekali.


Shanum mengangguk, dia membukakan pintu kamar kosnya. Mempersilakan dua orang itu masuk ke dalam. Shanum lagi-lagi merasa bersyukur karena Rima membawa Arsenio pergi bermain. Jika saja pria kecilnya itu ada di sini, pasti mulutnya akan sibuk mengoceh, menanyai ini dan itu.


Shanum membuatkan jus jeruk dingin untuk dua orang songong itu. Kasihan juga mereka sudah menunggunya lama, panas sampai berkeringat.


"Saya mandi dulu, ya." Shanum tersenyum seramah mungkin.


Dua orang itu cuma mengangguk. Jadilah, tanpa menunggu lagi, Shanum segera kabur ke kamar mandi. Mandi sebersih mungkin, jangan sampai ada kuman yang tertinggal. Malu kalau sampai terlihat jorok.


Sesudah mandi, Shanum mulai dirias. Shanum tidak diizinkan melihat cermin, hanya boleh memejamkan matanya selama proses merias dilakukan.


'Buang pikiran jelekmu itu, Shanum. Mana mungkin mereka sama seperti perias tahun tujuh puluhan. Meski metodenya sama, tidak mungkin hasilnya seperti itu. Ingatlah, mereka ini makeup artist. Mana mungkin asal-asalan. Lagipula, sekelas Dokter Rexa, mana mungkin asal-asalan memilih,' batin Shanum. meredupkan kekhawatirannya. Menegaskan dirinya sendiri untuk tidak perlu banyak berpikir.


"Nona Shanum, Anda cantik sekali," puji tukang makeup, merasa puas dengan hasil goresan tangannya di wajah Shanum.


"Terima kasih." Shanum masih memejamkan matanya, bayangannya mulai berkelana ke hasil makeup tahun tujuh puluhan yang juga dianggap cantik pada masanya dulu.


"Nona, bukalah mata Anda." Setelah mendapatkan perintah, barulah Shanum membuka matanya.


Perlahan tapi pasti, Shanum mulai membuka mata dan melihat wajahnya di pantulan cermin.


Shanum tertegun, benar apa yang mereka katakan, Shanum memang sangat cantik sekali. Sudah lama sekali dia tidak pernah melihat wajahnya dirias begini, pangling dan sangat cantik.


"Sekarang ganti pakaiannya, ya. Sebentar lagi Dokter Rexa akan menjemput Anda."


Shanum mengangguk, dia terkesima melihat sebuah gaun berwarna merah dengan v neck yang lumayan panjang. Gaun bertabur berlian yang sangat indah, sangat memukau setelah dikenakan di tubuh Shanum.

__ADS_1


Saat Shanum memakai gaun itu, dress tersebut sangat melekat di tubuhnya, sangat bagus. Seakan-akan, gaun itu dirancang khusus intimnya.


Tidak berselang lama setelah Shanum memakai dressnya, Dokter Rexa datang menjemput wanita itu.


Baru berada di ambang pintu, Dokter Rexa suda terkesima dengan penampilan cantik Shanum yang begitu memukau.


"Aku memang tidak salah dalam memilih pasangan," ucapnya sambil tersenyum.


Shanum juga tersenyum. "Ini berkat mereka," kata Shanum yang tidak mau dipuji berlebihan.


"Memang sudah menjadi mimpi setiap pria memiliki pasangan yang cantik dan mumpuni," ucap Dokter Rexa.


Dokter Rexa membukakan pintu untuk Shanum. Mobil yang mereka tumpangi melaju, membelah jalanan. Malam ini langit bertabur bintang, sangat menarik untuk dipandang. Namun, selama dalam perjalanan, Dokter Rexa malah tidak henti-hentinya menatap wajah Shanum yang sangat cantik dengan riasan flawsless.


"Kamu sangat cantik," puji Dokter Rexa lagi. "Daripada sinar bintang, cahaya kamu lebih menyilaukan, lebih menarik perhatian semua orang," ucapnya sedikit menggombal.


"Jangan membual, Dok. Aku tidak suka. Setiap pria sama saja, cuma manis di awal," ketus Shanum, hanya melirik Dokter Rexa yang malam ini juga sangat tampan. Shanum tidak tahu, untuk memilih sebuah jas yang cocok dengan dress Shanum malam ini, Dokter Rexa menghabiskan banyak uang dan tenaga.


"Aku tidak sedang membual, Nona Shanum. Aku sedang berkata jujur, karena kamu memang sangat cantik." Dokter Rexa tidak hentinya mengatakan kalimat pujian.


"Terima kasih." Hanya itu yang bisa Shanum katakan.


Mereka memasuki sebuah restaurant berbintang. Restauran yang sangat mewah membuat Shanum agak gugup. Dia menghela nafas, meremas jari-jemarinya untuk menetralkan rasa gugupnya. Meskipun dia bukan wanita dari kelas atas, tetapi harus menjaga penampilannya supaya enak dipandang mata oleh orang lain.


"Kamu gugup?" tanya Dokter Rexa. "Tenang, gandeng tanganku supaya kamu bisa lebih percaya diri," ucap Dokter Rexa sedikit berbisik sambil tersenyum ketika tidak sengaja bertemu dengan rekan-rekan seprofesinya atau pasien yang sangat mengenalnya.


"Sedikit gugup," jawab Shanum.


Karena Shanum tidak kunjung menggandeng tangannya, Rexa berinisiatif untuk menggenggam tangan Shanum. Setelah menggenggam tangan Shanum, Rexa berusaha menahan senyumnya. Merasakan keringat yang sudah membanjiri telapak tangan Shanum. Rexa tahu, Shanum sangat gugup, bukan sedikit seperti yang wanita itu katakan tadi.


"Ingat, panggil saja namaku, Rexa. Jangan sampai salah. Orang tuaku sangat jeli," ucap reksa memperingatkan Shanum. Sudah sampai di sana pun, Rexa masih membohongi Shanum mengenai kedatangan orang tuanya. Nyatanya, ajakan makan malam itu hanya akal-akalan Rexa supaya Shanum bersedia meluangkan sedikit waktunya untuk mereka berdua.


Banyak sekali yang ingin Rexa katakan. kalau tidak menggunakan cara berbohong ini, mungkin entah kapan Shanum baru bersedia meluangkan sedikit waktunya. Apalagi, pembicara yang mau dia bicarakan, tidak pantas jika sampai didengar oleh Arsenio.


"Aku mengerti, Rexa," jawabnya sambil tersenyum.


Dari sudut meja yang lain, Leo dan Arthur sedang menemui client mereka. Pertemuan itu sudah hampir rampung. Leo tidak sengaja melihat Shanum. Meski susah mengenali Shanum yang sudah berubah menjadi sosok yang sangat cantik, mata Leo masih tetap jeli.


"Tuan, aku melihat Nona Shanum bersama seorang pria, dia di sini juga," bisik Leo sengaja agar Arthur menyudahi pertemuan itu. Leo sudah sangat bosan, pantatnya panas karena terlalu lama duduk.

__ADS_1


******


Ada yang nungguin kelanjutannya ga nih? Wkwk🤭


__ADS_2