
Shanum mematung, otaknya mulai berpikir, alasan apa yang harus dirangkai untuk membatalkan kemauan Arthur. Banyak sekali yang harus Shanum pertimbangan, mengingat kemiripan wajah Arthur dan Arsenio yang sangat-sangat mirip.
"Walaupun terlihat tidak mungkin, aku tidak bisa sembarangan. Bagaimana pun caranya, aku harus membuktikan terlebih dahulu. Aku harus test DNA. Jika Arsen dan Arthur tidak memiliki hubungan apa pun, aku aman. Tapi, jika prasangka ku selama ini benar adanya, aku harus segera menyembunyikan diri. Aku tidak mau, Arthur mengambil putra semata wayangku,' batin Shanum, lama terdiam memikirkan segalanya sambil mengigit ujung kukunya.
"Hey wanita! Kenapa kau diam? Aku sedang bicara padamu!" sentak Arthur kesal dari balik telepon. Mengagetkan Shanum yang sejak tadi mematung, sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Ma--maaf, Tuan, aku...."
"Jangan banyak bicara!" sela Arthur, tidak mau mendengar alasan-alasan Shanum yang memuakkan baginya.
"Tuan, aku tidak bisa datang ke sana untuk menemuimu. Pu--putraku sedang sakit. Sekarang pun masih berada di rumah sakit. Aku ... tidak bisa meninggalkannya seorang diri," ucap Shanum, nada suaranya sedikit memelas. Dia takut Arthur tidak mempercayainya dan tetap mengirim Leo untuk datang menjemput.
Mendengar penuturan Shanum, Arthur merasa hatinya terenyuh. Entah mengapa, sejak tadi dia merasa gelisah, ketakutan, dan cemas. Perasaannya terus-menerus merasakan gelisah, tapi Arthur tidak tahu mengapa. Saat Shanum mengatakan putranya sedang sakit, ada perasaan s
tenang sekaligus sedih yang dia rasakan. Jika ditanya alasannya mengapa, tentu saja Arthur tidak tahu.
Arthur memejamkan matanya erat. Sebenarnya, karena keresahan itulah dia meminta Shanum untuk datang. Padahal, dia bisa mencari wanita mana saja untuk menemaninya. Tetapi, hati Arthur tetap memilih Shanum.
"Baiklah. Lusa aku pulang. Jangan ingkari janjimu lagi. Aku tidak suka dengan orang yang ingkar," ucap Arthur, memperingatkan Shanum. "Kau yang berhutang, malah aku yang mengemis," cibir Arthur kemudian mengakhiri panggilan telepon.
Bertepatan dengan itu, Shanum sampai di rumah sakit. Saat diparkiran, Shanum menyempatkan diri untuk mengirim pesan singkat pada Rima agar wanita itu dan ibu kos mereka tidak khawatir karena shanum tak kunjung pulang.
Setelahnya, Shanum masuk, melihat Arsen yang sedang tertidur pulas. Perlahan-lahan Shanum menarik kursi di samping ranjang Arsen, dia duduk di samping putranya yang sedang terlelap.
'Maafkan Mommy, Arsen. Mommy belum bisa menjadi malaikat terbaik untukmu. Kamu harus berada dalam kesendirian, tidak bisa bersama Daddy-mu yang Mommy sendiri tidak mengetahui di mana keberadaannya. Namun, jikalau Mommy tau pun, Mommy tidak akan mempertemukan kalian. Maaf untuk keegoisan ini. Mommy hanya takut kamu dibawa meninggalkan Mommy, Arsen.'
__ADS_1
Shanum menangis sesegukan sambil menggenggam tangan Arsenio seerat mungkin. Ada rasa takut kehilangan dan kasihan melihat Arsenio yang tumbuh tapa kasih sayang seorang Ayah yang harusnya dia dapatkan. Namun, lagi-lagi keegoisan logikanya mengalahkan rasa kasihan Shanum.
"Tidak apa-apa. Aku bisa menjadi sekaligus Ayah yang tangguh. Aku tidak membutuhkan itu," ucapnya disela-sela tangisnya.
Shanum ketiduran saat dia masih menangis, tertidur sambil memeluk tangan putranya. Tanpa terasa malam mulai merangkak naik. Shanum terbangun, Arsenio masih terlelap dalam mimpinya. Shanum mengambil pakaian gantinya yang dia pikir akan dikenakan setelah basah-basahan di pantai tadi. Setelah menggantinya di kamar mandi, Shanum membangunkan Arsenio untuk berganti pakaian juga.
"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Shanum.
Arsenio menggeleng. "Tidak apa, Mom. Arsen makan makanan rumah sakit saja. Lagipula, cafe di sini pasti jauh. Arsen takut Mommy kenapa-napa," jawab Arsenio, lebih mementingkan keselamatan Mommy-nya daripada apa yang dia inginkan.
"Selamat malam," ucap seseorang, berjalan masuk ke dalam sambil menenteng sekantung makanan dan beberapa macam buah-buahan.
"Dokter?" Mata Arsenio berbinar-binar melihat apa yang dibawa Dokter Rexa.
Tatapannya terus tertuju pada Shanum, wanita itu buang muka ke arah lain. Rexa tidak sadar, Arsen sejak tadi selalu memperhatikannya.
"Terima kasih, Om," ucap Arsenio sambil tersenyum.
"Sama-sama, Sayang."
Shanum pikir, Rexa akan lama berbincang dengan putranya. Shanum yang merasa butuh udara segar, memilih keluar dan meninggalkan Arsen bersama Dokter Rexa.
"Arsen, Mommy keluar sebentar, ya. Mommy mau mencari kesejukan," ucap Shanum pada putranya.
Tanpa berpikir panjang, Arsenio langsung mengiyakan dengan anggukan. Rexa tahu, Shanum berusaha untuk menghindarinya.
__ADS_1
'Dia pasti masih marah karena kelancanganku tadi. Bodohnya aku, bisa-bisanya menanyakan sesuatu yang jelas-jelas akan menyingung,' batin Rexa.
"Arsen, Om menyusul Mommy dulu, ya. Ada yang ingin Om bicarakan dengan Mommy. Kamu makan apa saja yang kamu mau, ya!"
"Baik, Om." Rexa mengelus punggung Arsenio, kemudian barulah dia menyusul Shanum yang sedang berdiri bersama di dinding sambil menatap lurus ke depan.
"Hum... maaf," ucap Rexa, mengagetkan Shanum yang sedang termenung.
"Dok, kenapa tidak di dalam?" tanya Shanum, merasa terkejut dengan suara Rexa yang tiba-tiba terdengar.
"Kamu kaget, ya?" tanya Rexa, terkekeh pelan melihat raut wajah Shanum.
"Haha. Sudah tau, masih nanya," ucap Shaum sambil tertawa sumbang.
"Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung kamu. Aku hanya mau memastikan saja," ucap Dokter Rexa.
"Tidak apa-apa, Dok. Lagipula, apa yang Dokter pikirkan itu juga benar kok." Shanum tersenyum.
"Bukan begitu." Rexa terdiam cukup lama.
"Aku sudah memaafkan Anda. Saya masuk dulu, Dok." Shanum kembali masuk menemui Arsenio yang tampak asik memakan buah jeruk.
"Mom, apa Mommy sedang kecewa dan sedih?" tanya Arsenio.
*****
__ADS_1